Dibutuhkan Segera ...

Adakah kira-kira yang bakal menjawab iklan pekerjaan macam begini?
Iklan ini sangat serius, tetapi dugaan saya, orang akan menganggapnya sebagai 'guyon', lelucon orang iseng. Padahal sumpah, ini serius. Seserius sumpah yang diucapkan 81 tahun yang lalu. Sumpah para pemuda yang memiliki hasrat kuat untuk bersatu dan merdeka. Dan beneran, 27 tahun kemudian merdekalah negeri ini secara resmi. Ada suratnya, ada tanda tangannya, ada fotonya, bahkan ada rekaman suara dan gambarnya, sah.
Soal sumpah itu, rahayat negeri ini tentu sebagian besar hanya mendengar cerita atau membacanya, tetapi yang pasti semua masih memperingatinya sebagai hari yang luar biasa besar, mungkin setara dengan hari kemerdekaan sendiri. Sumpah para pemuda negeri ini yang menjadi biang dari segala persatuan dan kesatuan bangsa untuk menjadi merdeka jiwa dan raga. Sumpah yang mengalahkan batas nusa, batas bangsa dan batas bahasa. Ya, sumpah itu adalah warisan untuk generasi kini. Tetapi, apakah hasrat kala itu masih awet terjaga? Apakah masih tetap sepanas jiwa muda kala itu, ataukah sudah menjadi warisan yang usang, menghilir terserah arus dan keriput seturut umur?
Saya yakin rasa panas hasrat itu sebetulnya masih tetap ada di mana-mana, hanya kadang bukan berasal dari api persatuan, yang sering saya dengar justru sebaliknya. 28 Oktober tahun ini, semangat persatuan itu bahkan terasa jauh lebih mundur daripada 100 tahun lalu sehingga yang berulang kali diteriakkan merdeka-merdeko itu susah sekali dirasakan sebagian besar anggota negeri.
Saya pernah mendengar ungkapan bijak semacam ini, "persatuan lebih mudah ditemukan ketika hadir musuh yang sama daripada kawan yang sama". Saya pikirkan ungkapan ini, dan itulah kenapa iklan kecik di atas itu rasanya penting untuk mendapat jawaban. Tahun 1928, persekutuan ide, semangat dan tindakan para pemuda jaman itu diyakini mampu melawan musuh bersama, ketidakmerdekaan, penjajahan.
Saya bersyukur masih merasa dan sedang diingatkan. Setiap hari sabtu dan minggu pagi, ada pesan pendek yang tetap setia datang, mengajak bebersih Kali Ciliwung, meskipun saya berminggu bahkan berbulan-bulan tidak muncul juga. Dan semangat saya selalu terusik, tapi tidak juga bertindak. Bagi yang belum tahu, itulah yang bernama melempem alias mletho.
Bagi Ciliwung, satu orang demi satu orang dibutuhkan sehingga akan menjadi banyak. Orang-orang itu datang untuk alasan yang lebih dari sekadar setia kawan. Mereka menggenggam mimpi bahwa suatu hari Ciliwung yang jorok itu akan berubah menjadi beranda depan bagi setiap orang, sumber keasyikan bagi mereka masing-masing.
Satu minggu demi satu minggu dilewati sehingga menjadi sering. Tindakan terus-terusan ini bakal menjadi kebiasaan, dan kata orang pinter, kebiasaan yang dilakukan oleh banyak orang pada suatu tempat adalah cikal bakal kebudayaan.
Biar saja keadaan Ciliwung sekarang ini menjadi musuh bersama, karena mungkin hanya itulah cara untuk menjaga semangat tetap hot dan tindakan tetap seirama untuk memerdekakan diri bersama-sama. Ciliwung bersih akan menjadi budaya. Budaya yang memerdekakan orang beserta keturunannya dari bencana dan nasib buruk lainnya. Mari merdeka.
Gambar diambil dari sini
Read more
- Pria atau wanita,
- Segala usia,
- Diutamakan memiliki kemampuan di bidang perencanaan,
- Bisa mengemudikan kendaraan,
- Bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia,
- Untuk menempati posisi sebagai MUSUH BERSAMA.
Adakah kira-kira yang bakal menjawab iklan pekerjaan macam begini?
Iklan ini sangat serius, tetapi dugaan saya, orang akan menganggapnya sebagai 'guyon', lelucon orang iseng. Padahal sumpah, ini serius. Seserius sumpah yang diucapkan 81 tahun yang lalu. Sumpah para pemuda yang memiliki hasrat kuat untuk bersatu dan merdeka. Dan beneran, 27 tahun kemudian merdekalah negeri ini secara resmi. Ada suratnya, ada tanda tangannya, ada fotonya, bahkan ada rekaman suara dan gambarnya, sah.
Soal sumpah itu, rahayat negeri ini tentu sebagian besar hanya mendengar cerita atau membacanya, tetapi yang pasti semua masih memperingatinya sebagai hari yang luar biasa besar, mungkin setara dengan hari kemerdekaan sendiri. Sumpah para pemuda negeri ini yang menjadi biang dari segala persatuan dan kesatuan bangsa untuk menjadi merdeka jiwa dan raga. Sumpah yang mengalahkan batas nusa, batas bangsa dan batas bahasa. Ya, sumpah itu adalah warisan untuk generasi kini. Tetapi, apakah hasrat kala itu masih awet terjaga? Apakah masih tetap sepanas jiwa muda kala itu, ataukah sudah menjadi warisan yang usang, menghilir terserah arus dan keriput seturut umur?
Saya yakin rasa panas hasrat itu sebetulnya masih tetap ada di mana-mana, hanya kadang bukan berasal dari api persatuan, yang sering saya dengar justru sebaliknya. 28 Oktober tahun ini, semangat persatuan itu bahkan terasa jauh lebih mundur daripada 100 tahun lalu sehingga yang berulang kali diteriakkan merdeka-merdeko itu susah sekali dirasakan sebagian besar anggota negeri.
Saya pernah mendengar ungkapan bijak semacam ini, "persatuan lebih mudah ditemukan ketika hadir musuh yang sama daripada kawan yang sama". Saya pikirkan ungkapan ini, dan itulah kenapa iklan kecik di atas itu rasanya penting untuk mendapat jawaban. Tahun 1928, persekutuan ide, semangat dan tindakan para pemuda jaman itu diyakini mampu melawan musuh bersama, ketidakmerdekaan, penjajahan.
"Persatuan Lebih Mudah Ditemukan Ketika Hadir Musuh yang Sama daripada Kawan yang Sama"Bogor, masa kini, beruntunglah kita, masih ada gerombolan orang yang menyimpan semangat persatuan dan kemerdekaan itu sepanas 81 tahun lalu. Gagasan-gagasan bergulir dan tindakan-tindakan terus dicobakan untuk memperbaiki keadaan. Beriak, menyodok-nyodok, mengganggu kenyamanan semangat melempem yang sedang nunut menghilir.
Saya bersyukur masih merasa dan sedang diingatkan. Setiap hari sabtu dan minggu pagi, ada pesan pendek yang tetap setia datang, mengajak bebersih Kali Ciliwung, meskipun saya berminggu bahkan berbulan-bulan tidak muncul juga. Dan semangat saya selalu terusik, tapi tidak juga bertindak. Bagi yang belum tahu, itulah yang bernama melempem alias mletho.
Bagi Ciliwung, satu orang demi satu orang dibutuhkan sehingga akan menjadi banyak. Orang-orang itu datang untuk alasan yang lebih dari sekadar setia kawan. Mereka menggenggam mimpi bahwa suatu hari Ciliwung yang jorok itu akan berubah menjadi beranda depan bagi setiap orang, sumber keasyikan bagi mereka masing-masing.
Satu minggu demi satu minggu dilewati sehingga menjadi sering. Tindakan terus-terusan ini bakal menjadi kebiasaan, dan kata orang pinter, kebiasaan yang dilakukan oleh banyak orang pada suatu tempat adalah cikal bakal kebudayaan.
Biar saja keadaan Ciliwung sekarang ini menjadi musuh bersama, karena mungkin hanya itulah cara untuk menjaga semangat tetap hot dan tindakan tetap seirama untuk memerdekakan diri bersama-sama. Ciliwung bersih akan menjadi budaya. Budaya yang memerdekakan orang beserta keturunannya dari bencana dan nasib buruk lainnya. Mari merdeka.
Gambar diambil dari sini
- 11:59 AM
- Budaya, Merdeka, Mimpi, Musuh, Sumpah Pemuda
- 5 comments