
Tuhan itu baik pada semua orang. Tuhan telah memberi cahaya kasih bagi seluruh umat manusia. Namun ada kalanya kita lupa pada apa yang Tuhan beri. Seringkali ucapan dan tingkah laku kita semakin menjauh dari kasih Tuhan. Saat kita menjauh, maka dunia terlihat gelap. Saat kita lupa, maka dunia serasa hampa.
Tapi pernahkah kita mencoba untuk selalu mengingat Tuhan? Sebab dengan mengingatnya kita akan lebih dekat pada cahaya kasihNya.
Maka mari kita berlomba-lomba untuk mengingatNya. Mari bersama-sama menebar kasih sesama umat manusia. Kasih pada orang-orang yang hidup dalam lingkungan penuh sampah. Kasih pada sungai dan alam yang telah kita kotori. Datanglah pada "terang"!
Dalam suasana kasih Natal tahun ini, Komunitas Peduli Ciliwung mengajak kita semua untuk bisa menebar kasih pada alam dan manusia. Mari kita sama2 turun ke sungai Ciliwung dan membersihkan sampah2 yang menumpuk di sana.
- Hari/tanggal: Sabtu, 26 Desember 2009
- Waktu: pukul 08.00 - 11.30 (kumpul 07.30)
- Lokasi: bantaran Sungai Ciliwung, dekat Kebun Raya Bogor dan Jl. Jalak Harupat, Bogor
gambar Santa Claus diunduh dari sini
Read more
Sabtu, 19 Des 2009
Sabtu (19/12/09) pukul 10:00 WIB tim pemulung KPC ditemani oleh beberapa pemulung kecil lokal yang saat itu sedang tidak bersekolah, karena saat itu sekolah mereka sedang membagi raport siswa. Keberadaan mereka ternyata cukup membantu team KPC yang saat itu hanya berjumlah tujuh orang, mereka ada empat orang, jadi total team pemulung sungai Ciliwung hari itu di lokasi jembatan Kedung Badak berjumlah sekitar 11 orang. Sehingga hingga pukul 11:30 WIB, sampah yang terkumpul berjumlah sembilan karung.
Terlihat pemulung kecil tersebut sangat antusias hingga kegiatan memulung selesai. Hingga mereka mengantarkan karung-karung hasil pulungan sampah mereka ketika dinas kebersihan Pemkot yang datang saat itu.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya mereka bertanya,"Bang kalo kemaren katanya yang ikutan mulung mendapat uang Rp 50.000 untuk tiap karungnya, sekarang dapat berapa bang? Heeeh, terhenyak aku menyimak pertanyaan itu. Setelah ditanya lebih lanjut ternyata mereka anak-anak kecil pemulung tersebut telah mempunyai pengalaman sebelumnya, ketika perayaan kemerdekaan 17 Agustus 2009 lalu KPC mengadakan lomba mulung sungai Ciliwung mengajak masyarakat melalui kelurahan-kelurahan disepanjang sungai Ciliwung. Dan setelah ditanya lebih lanjut ternyata untuk kelurahan Kedung Badak saat itu warganya mendapat penghargaan atas partisipasi mulung mereka dengan mendapatkan Rp 50.000 untuk setiap karung mulung sampahnya.
Kondisi ini membuat saya terhenyak dengan kegiatan yang saya lakukan ini selama ini, ternyata yang menjadi keprihatinan yaitu; kegiatan ke-relawanan untuk kebersihan dan kelestarian lingkungan sungai Ciliwung seperti yang dilakukan komunitas peduli Ciliwung ini menghasilkan pemahaman di kalangan masyarakat terutama pada anak-anak pemulung Kedung Badak, bahwa kegiatan memulung KPC setiap minggunya ini akan mendapatkan kompensasi Rp 50.000 untuk setiap karungnya.
Sungguh menjadi tantangan kedepan dan bagaimana tantangan bersama kedepan berusaha menjelaskan dan meyakinkan kepada masyarakat Kota Bogor bahwa dengan memulung sungai Ciliwung dari sampah sebenarnya membiasakan diri untuk merawat dan menjaga lingkungan, dan itu membawa dampak positif kepada kehidupan mereka atau manusia itu sendiri. Apalagi mereka merupakan generasi penerus kehidupan nanti, sungguh miris meihat kenyataan kesehatan dan nyawa dihargai dengan selember Rp 50.000 untuk setiap karung sampahnya. (agungpsiko)
Read more
Mungkin banyak orang yg bilang tahun baru Hijriyah itu penting. Tapi penting utk apa? Para ustadz dan kyai atau ajengan pastinya banyak yg berceramah soal ini. Agar para umat Islam bisa memperingatinya sebagai tonggak untuk menjadi Muslim sejati. Yang tentunya terkait dengan ibadah dan selalu mengingat Sang Khalik.
Tapi ... apakah ini hanya berkaitan dengan itu? Mudah2an saja tidak. Apakah bisa juga dijadikan sarana pengingat betapa bodoh dan malasnya kita? Bagaimana dengan kebersihan? Hmmm ... memang ini adalah hal tersulit dilakukan oleh kita. Kita bisa saja selalu ingat untuk membersihkan diri dan badan kita. Tapi kita seringkali lupa utk bersihkan lingkungan sekitar kita. Alasannya sederhana ... malas, sudah ada yg melakukannya, dan bukan bukan urusan kita. Benarkah itu?
Kalau tidak salah, kata "bersih" sering juga disampaikan oleh para pemuka agama Islam. Katanya, "kebersihan adalah sebagian dari iman". Jika menilik pada kalimat tsb semestinya bersih lingkungan sekitar juga perlu diutamakan. Bagaimana caranya?
Silakan lihat pengumuman dan ajakan berikut ...
Tak perlu bingung utk melakukan bersih2. Terutama bagi warga Bogor, bisa langsung hadir dalam acara bersih2 setiap hari Sabtu. Sabtu besok acaranya di sini ...

Read more
Saya datang pagi2 ke lokasi kumpul. Di samping jembatan Kedung Badak, Jalan Baru tepatnya. Karena masih pagi, lumayan lah saya habiskan waktu menunggu teman2 lain dengan menikmati kopi dan buras di warung rokok terdekat. Sembari juga memperhatikan kesibukan kendaraan yang melintas. Memperhatikan orang2 di kendaraan yang sibuk mengisi acara akhir minggu. Ada yang berolahraga sepeda. Ada yang siap berwisata. Ada yang berangkat kerja. Dan tak ketinggalan serombongan kendaraan yang berisi mereka2 berpakaian batik yang akan menghadiri acara pernikahan.

Waktu mulung tiba … saya langsung menuju lokasi mulung tepat di bawah jembatan itu. Hari Kikuk datang tergopoh2 dengan motornya. Seperti biasa motornya memuat karung2 plastik dan
banner besar KPC.
“Maaf pak … aku gak enak badan, jadi terlambat nih“, kata si Kikuk berusaha memberikan penjelasan.
Memang … sepertinya sekarang sedang musim flu. Saya pun merasakan badan meriang dan hidung tersumbat saat bangun tidur tadi pagi. Beruntung gejala flu tersebut berangsur menghilang seiring semakin tingginya matahari pagi.
“Jadi kita berdua aja nih mulungnya …”, ucap saya pada Kikuk.
“Kayaknya sih begitu pak … biasa lah mungkin teman2 saat ini sedang punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan“, timpal Kikuk berusaha menjelaskan.
Dalam menit2 awal, kami berdua sempat memperhatikan beberapa aktivitas orang sekitar dari bawah jembatan. Di seberang ada 2 orang yang sibuk mengambil pasir. Di badan air ada orang yang sibuk menebar jalanya, berharap dapat ikan selain jenis sapu-sapu. Sementara tak jauh dari lokasi kami berdiri seorang pengamen “topeng monyet” mempersiapkan peralatan dan monyetnya. Ia bersiap untuk mengamen berkeliling di perumahan2 terdekat.
Beberapa saat kemudian kami berdua pun sudah tenggelam dalam keasikan mulung di Ciliwung. Saya memilih berbasah ria menaklukan beberapa anakonda yang tersangkut pada kawat2 pondasi jembatan. Sementara Kikuk memilih tepian sungai yang kering. Di sela aktivitas kami, seorang warga setempat mengajak kami bercakap2. Ia menyalahkan warga yang masih saja membuang sampah ke sungai. Ia juga berharap Pemerintah Kota bisa membantu membersihkan sungai. Semuanya berisi keluh kesah serta opini pribadinya. Ia terus saja mengajak bicara di tengah kesibukan kami memungut sampah. Sayang semuanya hanya pembicaraan belaka. Ia tak hendak membantu mengotori tangannya dengan sampah. Ia hanya berkata-kata. Sementara kami berdua kotor dan bau karena sampah di sana.
Selama 2 jam mulung, beberapa kali kami melihat kantong2 plastik berisi sampah yang jatuh (dilemparkan) dari atas jembatan. Kantong2 tersebut mendarat dengan keras di permukaan air Ciliwung. “Paaaaakkk …!!!” Rupanya tempat ini tak hanya menjadi tempat tersangkutnya sampah dari daerah hulu. Tapi juga menjadi tempat pembuangan sampah langsung. Rasanya kami berdua tidak melihat plang apapun di sekitar sungai dan jembatan yang bertuliskan “Tempat Pembuangan Sampah”.

Selain kejadian itu, kami berdua ternyata menjumpai kejadian yang serupa tapi tak sama. Kali ini sampahnya bukan dilemparkan. Kami melihat seorang ibu yang dengan ringan menumpahkan isi keranjang sampahnya ke aliran Ciliwung. Tidak ada efek suara yang keras, namun hasilnya sama saja … Ciliwung dianggap tempat sampah. Tak ada rasa malu apalagi was-was. Pembuangan sampah dilakukan tanpa beban. Ibu itu pun tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Ia melakukannya dengan nyaman sekali. Bahkan sampai ketika saya memotretnya [lihat gambar].
Mungkin dunia sudah berubah. Budaya bersih hanya diterapkan pada ruang sempit di dalam rumah atau kamar. Yang penting kamar atau rumah bersih dari sampah, di luar batas itu wallahu ‘alam. Sementara jika sungai terlanjur penuh sampah, tanggung jawab untuk membersihkannya bukan lah pada semua orang yang memiliki sungai. Petugas kebersihan dan pemerintah lah yang harus membersihkan. Selain itu … mungkin hanya orang gila dan aneh yang punya minat dan mau melakukannya. Karena sungai memang “tempat pembuangan sampah”, walau tak ada plang atau papan pengumumannya.
Read more
Musim hujan sudah tiba ... Walau rasanya aneh karena hujan tahun ini datang tanpa bisa diprediksi. Tapi tak apa lah, karena setidaknya hujan bisa jadi membawa banyak pelajaran bagi kita semua. Semoga saja di musim hujan ini kita semakin peduli pada tumpukan sampah di sepanjang Ciliwung. Peduli untuk membersihkannya, dan bukan peduli untuk sekedar membicarakannya.
Kepedulian untuk bergerak secara langsung membersihkan sampah Ciliwung memang agak sulit. Banyak orang bertanya tentang bagaimana caranya ... kadang malah ada yang memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Melakukan sesuatu yang terkait dengan sampah memang seringkali membuat orang merasa enggan.
Nahh ... jika para pembaca masih merasa enggan, maka silakan mencobanya. Jangan tunggu nanti, lakukan segera. Kita tak akan pernah tahu rasanya, jika kita tidak mencobanya. Jika masih ragu juga, silakan ikut bersama2 para laskar karung KPC untuk melakukannya hari Sabtu ini (12 Desember 2009).
Berikut adalah pengumumannya ...
Read more
Berbagai jenis karakter pemilik dan pengguna sandal pada keset sebuah rumah, dapat mencerminkan sebuah kondisi di dalam rumah tersebut, baik anggota-anggota keluarganya, bahkan lingkungan yang dikelola oleh keluarga tersebut. Sama halnya seperti kondisi pada umumnya sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga. Sebuah kondisi rumah tangga dengan seorang pemimpin keluarga serta didukung anggota keluarga lain dan beberapa infrastruktur penunjang lainnya serta ditambah dengan aturan-aturan dan norma-norma serta nilai-nilai tatanan sebuah aturan rumah tangga. Berbagai kondisi permasalahan kerap terjadi di dalam keluarga, karena keragaman kebutuhan, latar belakang budaya serta cara pemenuhan dari kesejahteraan anggota per anggota keluarga itu sendiri untuk pribadi dan keluarganya serta saudara-saudaranya.
.jpg)
Kondisi umumnya seeh anggota keluarga akan menurut seperti apa kata pemimpin keluarga rumah tersebut. Yeah seperti komandan pada anak buah. Anak buah akan melakukan apa yang di instruksikan komandan yang mereka pilih (heaaah komandan dipilih???). Begitulah seperti kepala rumah tangga kita saat ini melalui mekanisme pemilihan kepala rumah tangga setiap lima tahun sekali. Demikian juga kebijakan dan aturan yang mengikutinya tergantung pemimpinnya dan sistem yang akan dikelolanya untuk menjalankan kelembagaan rumah tangga dan dalam pencapaian tujuan hidup berkeluarga dan berumah tangga.
.jpg)
Sehingga diharapkan melalui instruksi kepala rumah tangga tersebut dapat memberikan mamfaat kepada seluruh anggota keluarga, karena pada kesemuanya akan kembali kepada tujuan kelembagaan keluarga atau rumah tangga itu sendiri, yaitu mensejahterakan kehidupan anggota rumah tangga. Semua berjalan dengan baik karena semua yang diatur pemimpin dapat memberikan yang terbaik untuk anggota keluarga, dan anggota keluarga juga memberikan yang terbaik untuk rumah tersebut. Tujuan bangunan dan tatanan rumah tersebut dapat segera tercipta, yaitu anggota keluarga yang adil dan makmur.
.jpg)
Meskipun demikian, merupakan anugerah bila anggota keluarga rumah tangga tersebut terdiri dari berbagai suku / etnis yang tersebar diseluruh penjuru kepulauan Indonsia ini. Kondisi seperti ini merupakan anugerah yang tidak diraasakan oleh rumah-rumah lain di dunia ini, termasuk kekayaan keanekaragaman hayati-nya. Karena itu rumah kita pernah terjajah selama 350 tahun. Bahkan hingga kini, penjajahan itu ada, bahkan saat ini menjajah moral penghuni rumah itu sendiri. Inilah yang paling bermasalah. Dengan beragamnya latar belakang dan budaya itu akan memperlihatkan kebutuhan yang berbeda, sehingga seperti pemilik dan warna sandal gambar selanjutnya ini anggota rumah tangga tersebut. Berbagai macam arah sandal yang ditinggalkan pemiliknya masuk kedalam rumah. Ada yang ingin didepan, ada yang ingin ditengah, di pinggir saja, bahkan dibagian ekor saja. Tetapi sebenarnya arahnya tetap saja, pemiliknya masuk kedalam rumah meninggalkan sandalnya dikeset. Karena mereka berharap tujuan pribadi/ dirinya dengan masuknya beliau terdapat didalam tujuan dibangunnya bangunan rumah tersebut beserta tata nilai dan aturan serta norma yang diharapkan dapat membantu mencapai kondisi yang diharapkan dari kelembagaan keluarga tersebut.
.jpg)
Pemenuhan kebutuhan akan kesejahteraan tersebut sangatlah penting karena berhubungan langsung dengan kepastian hidup, sehingga kadang-kadang anggota keluarga rumah menghalalkan segala cara untuk meperoleh kepastian akan kesejahteraan itu meskipun didalam rumah itu sendiri. Terkadang dengan cara yang paling ekstrem hingga manuver berbalik untuk mengelabui siapa yang dianggap dapat menghalangi tujuannya. Tindih, terkam, makan memakan sudah menjadi modus operandi umum. Bahkan dengan membuat aturan main yang ambigu dan tidak pernah jelas menjadi mainan profesionalisme para anggota keluarga yang pintar, yang artinya telah membiasa dan budaya. Sehingga bila terlihat nyata, malah dianggap wajar. Karena mekanisme dan infrastrukturnya permainan-permainan kotor, serta kompromi politik telah dipersiapkan dengan matang tentunya dengan sepengetahuan pemimpin rumah tangga. Ada saja yang anggota keluarga yang dikambing hitamkan dari sesuatu hal yang dibuat untuk ditutup-tutupi karena mekanisme permainan dan infrastruktur perangkatnya semakin menjadi hal yang dirasakan tidak menjadi biasa dan menjadi fenomena menarik yang segera ingin diungkap kelanjutan dan penyelesaiannya yang tidak akan pernah tuntas.
.jpg)
Akhirnya beberapa anggota keluarga lenyap, atau meninggalkan rumah, karena rumah tidak sesuai lagi dengan keinginannya. Ada yang tidak kuat bertahan dan lenyap, ada yang pindah rumah ke rumah tetangga. Baik dengan jalur resmi maupun yang gelap. Ada yang tetap bertahan meskipun dengan keterpurukan dan ketidakberdayaan.
Meskipun kadang dengan terbalik dan jungkir balik pemilik sandal tersebut anggota rumah tersebut harus masuk kedalam rumah, akan tetapi tetap saja rumah tersebut punya peraturan yang harus tetap diikuti. Berbagai cara harus diikuti agar dipandang manusiawi untuk melakukan pembenaran dalam pemenuhan kesejahteraan. Bangunan kesejahteraan rumah tangga diruntuhkan oleh moralitas dari para anggota keluarga itu sendiri. Bahkan kehidupan akrobatik yang jungkir balik dan ekstrem para anggota keluarga sekalipun dipandang sebagai mekanisme pertahanan kehidupan, sehingga segala sesuatu hal dikatakan dapat dimengerti dan lumrah atau dengan kata lain "itu sudah menjadi hal yang biasa".
Dari dialog dan dinamika serta perguncangan yang timbul menimbulkan nilai, moral dan etika yang baru akan kebiasan pemenuhan kebutuhan yang ekstrem dan akrobatik sekalipun tadi. Semua hal dipandang lumrah, hal ini terbangun tantanan peradababan baru yang baik atau sekedar dari kompromi-kompromi dari durasi kehidupan para anggota keluarga rumah itu sendiri. Serta terkadang intervensi kepentingan tetangga yang mau mendapatkan mamfaat dari situasi yang tidak menguntungkan untuk keluarga itu sendiri.
.jpg)
Sehingga kehilangan berapa generasi anggota keluarga yang masih satu saudara saja dapat juga dikatakan sebagai sesuatu hal yang lumrah. "Itukan seleksi alam?", "Itu kan sudah diprediksi", atau "Itukan sudah diatur?" sampai-sampai yang tidak mengertipun mengatakan "Itukan lumrah?". Lumrah??? Bukan kan kondisi lumrah merupakan kesepakatan dan kompromi serta nilai baru???
.jpg)
Akhirnya terciptalah tatanan sosial baru di keluarga/ rumah tangga sendal jepit ini, sebuah tatanan dengan nama "Chaos Nation". Sebuah tatanan dengan sistem yang dijaga dan dibentuk oleh kepala rumah tangga, yang katanya demokrat. Karena berusaha menampung dan mengakomodir semua aspirasi anggota keluarga. Lengkapnya 'demokrat-kompromi "to" Chaos Nation'. Bahkan anak cucu generasi keluarga rumah tangga telah dipersiapkan untuk menanggung beban generasi dan peradaban pendahulunya. Bahkan hutang sampai dibawa mati. Telah kupersiapkan anak cucu ku untuk menerima hutang beban hidupkoe yang saat ini. Manusia aja dikorbankan apalagi rumah dan lingkungan???
Nah, sandal-sandal tersebut diatas adalah cerminan pemiliknya yang merupakan penghuni sebuah rumah. Dan semoga kondisi rumah kita (Indonesia) tidak seperti yang kondisi rumah tangga tersebut.
Sandal sandal tersebut merupakan produk hiasan daur ulang dari sampah plastik bertebaran diseputaran kota Bogor. Materinya dari plastik kantong bekas dan besi gantungan. Produk ini selain berisi pesan penyelamatan lingkungan Kota Bogor, juga berusaha menimbulkan industry-industry kreatif di Kota Bogor. Produk ini dijual dengan harga Rp 10.000 /item. Semua pemasukan hasil penjualan digunakan untuk terus mendukung gerakan konservasi lingkungan dan semangat menumbuhkan industri-industri kreatif di Kota Bogor.
Produk ini hasil inisiasi KPC didukung atau bekerjasama dengan Unite. Untuk pemesanan dan Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Kapiten Hari the Blackend di (hp) 08561235298. Kedapan KPC dan Unite akan terus mengembangkan produk yang lebih mempunyai bermamfaat secara fungsi dalam kehidupan ini.
Mari kita berbuat dan kembali menata lingkungan kehidupan yang semakin rusak dan membangun rumah kita bersama agar seluruh anggota dapat merasa sejahtera, aman dan memperoleh keadilan rumah tangga yang hakiki.
Read more
Perlakuan manusia terhadap sungai, khususnya sungai Ciliwung mendapat tanggapan dari siswa SMK Tri Dharma 2 Kota Bogor. Perilaku membuang sampah di sungai masih saja hinggap di masyarakat, padahal didekatnya sudah tersedia tempat sampah. Melihat kondisi inilah para siswa itu ikut turun aktif memulung sampah sungai Ciliwung. Aksi mereka merupakan ajakan peduli sungai dengan memberikan contoh secara langsung, agar masyarakat tidak membuang sampahnya ke kali (sungai). Jika seusia mereka saja bisa, kenapa yang lain tidak. Demikian ungkapan Rizky dan Iskandar, ketika ditemui saat aksinya bersama komunitas peduli Ciliwung (KPC).
Menurut kedua anak SMK itu, sampah jangan di buang ke sungai. Toh yang rugi juga manusianya sendiri. Aksi mulung yang dilakukan pada sabtu (5/12) lalu itu merupakan bagian agenda rutin mulung sampah Ciliwung oleh KPC. Keduanya merespon positif kegiatan mulung ini. Melalui kegiatan ini mereka bisa mendapatkan pengalaman unik, dimana mereka saksikan sendiri arogansi manusia (masyarakat) yang tetap membuang sampah kesungai. Meski sungai saat itu sedang dibersihkan. Sepertinya sudah tidak ada rasa malu.
Read more
Sewaktu aku kecil aku sering dilarang melakukan kegiatan ‘ngawangkong sisi susukan’. Kurang lebih karena alasan kegiatan ini hanya menghabiskan waktu dan sesuatu yg tidak berguna. Walau ada benarnya, karena melihat air yg beriak mengalir terus menerus memang melelahkan mata. Tapi kurasa ngawangkong pagi ini di sungai Ciliwung ada juga gunanya .
Pagi ini (5/12/09) kami duduk di tangga semen yg biasa dipakai penduduk pinggiran pasar warung jambu untuk mencuci baju dan keperluan lainnya. Ada Rizki dan temannya dari SMK Tridarma 2. Mereka lagi belajar jurnalistik sama Agung. Beberapa pengarahan dilaksanakan santai sambil mengobrol menunggu petugas kebersihan mengangkut sampah. Mereka berharap bisa mengambil gambar video orang yg sedang buang sampah ke sungai.
Ada beberapa yg berhasil kami saksikan. Baik sampah organik (buangan manusia) atau an-organik (plastik dsb). Baik langsung dari tubuh manusia ataupun sudah dibungkus plastik keresek. Kami melihat beberapa bagian tubuh manusia dibuka agar si buangan itu bisa keluar. Tapi kami juga melihat orang2 yg dengan santai tanpa rasa bersalah membuang ke sungai beberapa keresek sampah pasar dan buangan rumah tangga.
Minggu lalu aku bertemu dua ibu rumah tangga yg dengan sopan melempar sampahnya ke sungai. Puntennya, katanya sambil plung aja sekeranjang sampah dilempar ke sungai. Seorang ibu yg lain sempat kutahan dan kuminta agar dia memasukkan sampahnya ke dalam karung yg sudah kami siapkan untuk mulung.
Hari yg sempat ngobrol dengan seorang penduduk mengatakan bahwa sempat ada tanda plang besi bertuliskan larangan untuk tidak membuang sampah ke sungai. Apa dikata, seseorang mencabut plang besi itu dan melemparkannya ke sungai.
Bapak itu juga menitipkan pesan. Sebuah harapan yg diharap sampai ke Pemda setempat. Katanya kenapa pinggiran sungai di tempat dimana rumahnya dan beberapa rumah penduduk lainnya berada, tidak ditembok. Sedangkan sisi dimana pasar dan mal jambu dua berada, diperkuat dengan tembok. Dia tidak tahu kepada siapa pertanyaan dan harapan itu harus diajukan.
Ngawangkong di sisi susukan pagi ini memberi kami tambahan informasi. Bagaimana masyarakat sepanjang pinggiran sungai Ciliwung bersikap terhadap sungai yg mengalir tepat di pinggiran rumahnya. (seperti dituturkan oleh Rita Mustikasari)
Read more
Berat memang ....
Warung Jambu memang layak dapat predikat sumber sampah. Sama halnya dengan pasar2 lainnya di Bogor ini. Bau menyengat terkadang bisa menurunkan semangat kita.
Tapi jangan ... jangan menyerah dulu kawan. Mbah Tijiliwoeng masih berharap bantuan dari kita para laskar karung. Jangan dulu kita menyerah hanya karena godaan
syaiton sampah yang terkutuk itu. Tebalkan iman kita dan serang terus Warung Jambu.

Read more
Tanggal 28 november 2009 sehari setelah hari raya korban, KPC memulung di sekitar warung jambu. Mulung ya tetap mulung hari raya yaa hari raya, biarlah hari raya menjadi penghias di pemulungan yang di lakukan KPC di Warung jambu, bahkan suasana lebaran korban juga masih terasa kental di sekitar tjiliwoeng, terbukti dengan adanya beberapa jeroan ( usus )dalaman hewan korban yang hanyut di tjiliwoeng.EH ternyata si tukang potong hewan kurban nyuci daging nya di tjiliwoeng he he he. Namun suasana hari raya ini, kami KPC bertekat untuk mengantisipasi dari bahaya yang di sebabkan oleh sampah yang ada di tjiliwoeng, yang mana nantinya sampah tjiliwoeng akan mejadi malapetaka bagi orang-orang yang tinggal di bantaran tjiliwoeng. Dan kami KPC bertekat untuk memerangi sengala sampah anorganic yang ada di tjiliwoeng. Dan kami KPC juga bertekad dengan pemulungan yang kita lakukan untuk meminimalisir terjadinya korban yang di sebabkan oleh amukan tjiliwoeng.
Apalagi musim penghujan mulai datang dan tentunya air tjiliwoeng semakin deras kemungkinan besar acaman banjir menghantui orang-orang di sekitar tjiliwoeng.
Oleh sebab itu KPC bertekad untuk mengajak warga bantaran tjiliwoeng supaya lebih perduli akan sungai dengan spanduk besar nya yang bertuliskan tjiliwoeng ruksak hirup balangsak.


tjiliwoeng ruksak bukan karna sungai nya melainkan karna manusia nya. Sampah buanyak bukan karna sungai nya melainkan penduduk nya yang kurang perduli akan kondisi sungai nya. Kalau kita ngomongin sampah. Sampah kan ada nilai nya, yang nama nya sampah sih memang tidak mahal-mahal amat tapi kalau kita serius hasil dari sampah sih bisa lah kalau hanya untuk beli makan mah. Bahkan kalau serius kita mengelola sampah selain sampah nya bisa di jual, lingkungan kita jadi lebih bersih bebas dari penyakit. oleh sebab apa kok lingkungan kita bebas dari penyakit ya karna memang lingkungan kita bersih dari sampah. Sampah memang barang yang sepele tapi sampah juga punya harga jual yang cukup lumayan tinggi di kalangan nya, dan kalau kita lihat kebanyakan sampah Negara kita kebanyakan sampah an organic. Sampah an organic juga buanyak di maanfaatkan oleh perusahaan –perusahaan besar di Negara kita. Dari ribuan buanyak nya sampah yang tercecer di jalanan atau yang buanyak di buang ke sungai adalah sampah yang menpunyai harga jual. Nah oleh sebab itu mari kita bebaskan diri kita dari penyakit yang di sebabkan oleh sampah. Atau mari kita kelola sampah supaya tidak jadi penyakit.
Read more
Selesai sudah tugas kita di wilayah hulu. Ke mana lagi kita mulung?
Hmmm ... sepertinya daerah2 pasar di hilir sana sudah lama tak kita sambangi.
Warung Jambu lah yang semestinya kita sambangi lagi.
Terbayang sudah bagaimana tumpukan sampah bau wangi di sana. Terbayang betapa tidak pedulinya orang2 yang berjualan, berbelanja, dan melintas di sana. Sudah lah ... mari kita serang sampah2 dari orang2 tidak bertanggung jawab itu.
Waroeng Djamboe ..... we're coming!!!!
Kita turun ke Ciliwung dengan semangat berkorban tenaga ... seperti juga yang kita lakukan saat Hari Raya Haji (Iedul Adha).

Read more
Hari Rabu tanggal 04/11/2009 tanggul instalasi proyek percontohan pengolahan air bersih yang dibangun disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Parigi daerah perumahan Indraprasta Bogor tepatnya di jalan Astrajingga longsor karena dihajar derasnya aliran air sungai.
Menurut Maman salah seorang warga yang longsor tersebut dikarenakan pondasi instalasi tersebut terlalu tegak, dan kurang menyerap air. Selain itu pengaspalan jalan yang dilakukan di pinggir aliran sungai tersebut kurang tebal, sehingga mengakibatkan pondasi bangunan instalasi pananganan air limbah tersebut longsor. Longsor tersebut terjadi pada sore hari kira-kira pukul 15:00 WIB.
Akibat kejadian tersebut bangunan rumah Usman (19 th) warga Rt 02/01 Kawungluwuk kelurahan Tegal Gundil kebanjiran bila aliran kali parigi tersebut semakin deras akibat hujan. Akibat kejadian tersebut Usman kehilangan 10 pasang brung merpati seharga kira-kira Rp 250.000.
Masyarakat meminta agar dinas terkait, terutama dinas Cipta Karya dan Tata Ruang dan pihak terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Sudah hampir dua minggu dari kejadian longsor tersebut belum terdapat pihak-pihak atau instansi yang terkait yang berussaha menyelesaikan permasalahan tersebut. Apalagi kejadian longsor tersebut merusak instalasi milik Pemerintah Kota Bogor.
Banyaknya bangunan hunian tempat tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) mengancam keselematan jiwa penghuninya serta mengancam masyarakat yang tinggal di daerah hilir sungai. Selain mengancam keselamatan jiwa, keluarnya IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) terhadap hunian tempat tinggal di sepanjang aliran sungai tentunya sangat bertolak belakang dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor). (seperti dituturkan oleh Rita Murtikasari/ turis jepang)
Read more
Rasanya masih terasa otot2 di badan yang meregang karena pertempuran melawan Anakonda Katulampa minggu lalu. Siapa sangka coba ... kalau aliran Ciliwung di Griya Katulampa menjadi sarang para ular sampah itu. Aksi mulung hari Sabtu lalu memang penuh kejutan.
Di sela air sungai yang (lumayan) segar di wilayah hulu Kota Bogor, ternyata adalah tempat yang nyaman bagi anakonda Ciliwung. Mereka dengan lihai sengaja bersembunyi di sela tebing2 batu yang tergerus dahsyatnya air Ciliwung. Rupanya mereka malu kalau terlihat nyata. Mungkin juga takut dianggap jadi pengikut para warga kota yang senang mengotori sungai.
Wahai para laskar karung KPC ....
Tak perlu menunggu lama. Sabtu lalu kita telah buktikan bahwa Anakonda Ciliwung tak akan mampu bersembunyi terus hingga ke Katulampa. Sebagai para
trashbuster, sudah menjadi kewajiban kita utk memindahkan para anakonda itu ke habitat sebenarnya. Di mana lagi kalau bukan di TPA Galuga. Jangan biarkan anakonda sampah itu terus mengotori Ciliwung.
Bagaimana dengan Sabtu ini?
Jelas ... kita semua harus serang Griya Katulampa kembali

Read more
Ditemui di kegiatan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) di daerah perumahan Katulampa Bogor Sabtu 14 November 2009, Cindy yang juga merupakan anggota RECIPALA (Pecinta Alam Regina Pacis) menyatakan siap untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya banyak mamfaat yang diperolehnya dengan aktivitas seperti yang dia lakukan saat itu, yaitu memungut sampah non-organik dari sungai.Dengan memungut sampah dirinya terlatih untuk tidak merasa jijik lagi. Cindy sebagai generasi muda mengajak generasi muda yang lain untuk turut menjaga lingkungan, terutama sumberdaya air.
Menurut Hendi, salah satu pembina RECIPLA yang ditemui sedang melakukan pendampingan
setelah ulangan umum pada bulan Desember mendatang, SMA Regina Pacis Bogor akan kembali turun ke sungai Ciliwung untuk membersihkan sungai. Menurutnya lagi, kegiatan ini tentunya akan dilakukan setelah mendapat restu dari kepala sekolah.
Read more
Pernah dengar nama Katulampa? Pernah dengar nama Tajur? Rasa-rasanya kedua tempat ini cukup terkenal dan sering disebut2 orang. Keduanya adalah nama tempat di Bogor yang letaknya berdekatan.
Setiap musim hujan tiba, maka Katulampa menjadi sering disebut-sebut. Katulampa adalah nama sebuah kampung di ujung tenggara Kota Bogor. Di kampung ini terdapat sebuah bendungan tua yang dibangun sejak di jaman penjajahan Belanda (1887) dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1911. Menurut sejarahnya, bendungan ini dibangun untuk mengatasi limpahan air sungai Ciliwung sehingga tidak membanjiri Jakarta. Kini, bendungan tersebut menjadi barometer (ukuran) bagi penentuan terjadinya banjir dari Ciliwung di wilayah Jakarta.
Tajur, adalah nama sebuah kampung yang letaknya berseberangan dengan kampung Katulampa. Kampung ini menjadi pintu masuk umumnya jika kita ingin ke bendungan Katulampa. Tak ada yang aneh memang. Namun ... tahukah teman2 bahwa lokasi penjualan "Tas Tajur" yang terkenal itu letaknya bukan di Tajur, namun di Katulampa. Kalau tidak salah namanya adalah SKI Tas Tajur. SKI itu sepertinya adalah nama perusahaan pembuat tasnya, yaitu Sumber Karya Indah. Alamatnya di Jl. Raya Katulampa No. 6 – Bogor, Telp. 0251.8353685. Bagi para penggemar wisata belanja, tempat tersebut tidak hanya menyediakan tas berbagai ukuran dan model, namun juga beragam makanan serta arena bermain anak2.
Katulampa dan Tajur memang tempat yang terkenal. Namun, apakah anda pernah tahu apa lagi yang bisa ditemukan di seputaran kedua daerah tersebut? Apakah anda pernah tahu apa yang terjadi pada sungai yang membelah kedua tempat tersebut?
Jika anda belum tahu, anda tak usah ragu ...
Komunitas Peduli Ciliwung dengan bangga siap menemani anda untuk mencari tahu hal2 lain tersebut. Caranya gampang ... datang saja ke tepian Sungai Ciliwung di seputaran tempat tersebut. Jika ingin lebih pasti, silakan langsung menuju tepian sungai di Perumahan Griya Katulampa, Bogor. Letaknya berada diantara lokasi SKI Tas Tajur Katulampa dan Bendungan Katulampa. Apa yang bisa anda lakukan di sana, silakan lihat pengumuman berikut ini ...
Read more

Di dunia telah banyak berdiri yang nama nya Bank, ada Bang dunia, ada Bank bumi, ada bank miun. bahkan ada yang nama nya bank sampah. Dari semua bank yang ada di atas masing-masing pegang peranan masing-masing. Kalau bank dunia ya gurusin dunia lah, kalau bank bumi ya gurusin bumi lah, sedangkan bank miun ngurusin badan nya he he he he alis diet bok.
Khusus bank yang satu ini Bank Sampah pastilah gurusin sampah alias tabungan nya sampah yang mana sampah-sampah itu nanti nya di jadikan duit alias menghasilkan duit. Nah kalau kita ngomongin sampah ya monggo kita tanggapi sampah seperti apa sih yang menghasilkan duit alias sampah yang bisa di tabungin atau di simpan di bank sampah itu.
Mah kalau memang serius anda mau nabung sampah, nama sampah kan tergolong dua macam secara garis besar atau sampah yang terkenal ya itu sampah organik dan sampah anorganic alias seng, besi, plastik, almunium, kain,tembaga, emas dan lain lain.
Nah dari dua jenis sampah yang berbeda itu ada sampah yang memang bisa di bank kan ya itu sampah anorganic. Bahkan sampah anorganic ini bisa di uangkan dengan mata uang dolar, euro, pouds, bahkan bisa menjadi emas sampah an organic. ya dari pada sampah anorganic ini di buang ke kali lebih baik kan di buang ke bank, up salah di tabung di bank sampah maksudnya he he he he. nah kalau sampah organic juga bisa di tabungkan di dalam ruangan yang hampah biar gak bau misalnya tokay di tabungkan di septitank hw hwhwhw hn hj.
Read more
Hari Sabtu lalu KPC mulung di Sukamulya. Trus sabtu ini ke mana lagi yaa KPC harus mulung???
Ahh gak usah bingung deh, lihat aja pengalaman dan kebiasaan mulung kita selama ini. Seperti biasa kita mulung 2 kali berturut2 di satu lokasi. Jadi ... Sabtu ini yaa para laskar karung akan kembali mulung di Sukamulya lagi ....
Sabtu lalu ... KPC mulung bareng sama temen2 pecinta alam Regina Pacis, Bogor (RECIPALA). Kalo Sabtu ini KPC dibantu siapa lagi yaa mulungnya?
Sudah lahh ... mulung harus terus berlanjut. Siapa pun yang akan menemani mulung. Ada yang ikutan atau tidak. Berikut adalah pengumumannya ...
Read more
ditoelis oleh Itok, si turis Jepang
Jadwal mulung diubah jadi Sabtu.
Powas (baca: puas) kata
Hari mengungkapkan perasaannya saat banyak anggota Laskar Karung bertanya kenapa jadwal diubah. Kita ingin memfasilitasi teman2 semua atas kebutuhannya untuk menjadikan Hari Minggu sebagai hari keluarga. Atau agar teman2 kristiani bisa tidak terganggu dengan jadwal ibadahnya. Walau ada juga teman muslim yg biasa melakukan pengajian di Minggu pagi. Ndak ada cerita. Sabtu terdengar hari yg baik untuk bisa ikutan mulung.
Menjadi penting kenapa kita perlu dukungan dan kehadiran teman2 anggota Laskar Karung. Dalam salah satu diskusi nongkrong saat nunggu truk sampah dari Pemda menjemput karung2 hasil mulung, terungkap soal fungsi ‘starter’. Topiknya seputaran
Box Takakura pembuat kompos dari sampah organik berupa sisa sayuran yg dibuang oleh setiap rumah tangga setiap harinya. Starter yg biasa diberi merk dagang IM4 bisa didapat dengan mudah di Toko TRUBUS. 20 rb sebotolnya. Bisa juga dibuat sendiri. Campuran serbuk gergaji dengan potongan sampah sayuran, ditambah air gula jika perlu, kata
Mas Joem bersemangat. Starter berfungsi mempercepat proses pembusukan sampah organik. Sehingga segera bisa dihasilkan kompos yg kemudian bisa berguna untuk pupuk dan media tanaman.
Itulah bayangan ku tentang starter dan Laskar Karung. Bahwa kita-kita ini, anggota Laskar Karung perlu hadir setiap Sabtu nya pada acara mulung, karena diharapkan menjadi starter buat dunia. Mereka penduduk sekitaran bantaran sungai yg dengan nyantai membuang sampah ke sungai, penduduk kota Bogor yg masing2 kita punya kontribusi langsung atau tidak terhadap Ciliwung, para pejabat pemerintah yg punya otoritas dan amanat rakyat dalam pengelolaan sungai, mereka para pebisnis yg mungkin menggunakan sungai juga sebagai tempat buangan sampah limbahnya (aih teganya!). Kita tidak membuat mereka menjadi cepat busuk, tapi kita menjadi pegiat agar mereka bergerak ke arah hidup yg lebih baik, seimbang dengan alam.
Dan hari ini kita berduka karena salah satu starter itu telah sepenuhnya memfungsikan dirinya menjadi organik. Tapi aku yakin dia telah melahirkan starter-starter baru lainnya. Tinggal kita mengaduknya sehingga menjadikan proses ini berjalan lebih baik. Selamat jalan Bae...
Read more
Kalau kita coba berhitung sejak awal KPC mulung di Ciliwung, maka jumlah aksi mulung sudah 31 kali. Sungguh jumlah yang luar biasa mengingat ini dilakukan setiap hari minggu mulung perdana tanggal 15 Maret 2009. Rasa-rasanya aksi rutin itu tidak akan pernah terjadi tanpa semangat membara nan tak kunjung padam dari para laskar karung KPC. Semuanya hanya berbekal keyakinan "jangan pernah putus, berapa pun jumlah laskar karungnya". Maka dalam 31 kali pemulungan itu, jumlah laskar karung pun bervariasi dari ratusan orang ... hingga 1 orang. Jumlah orang tidak menjadi masalah.
Naah ... dalam rangka memperbanyak jumlah peminat gerakan mulung ini, maka mulai minggu ini aksi mulung berubah harinya. Hari mulung rutin di Ciliwung selanjutnya berubah dari hari Minggu menjadi hari Sabtu.
Berikut adalah pengumuman aksi mulung untuk hari Sabtu di minggu ini ...

Read more
Dibutuhkan Segera ...- Pria atau wanita,
- Segala usia,
- Diutamakan memiliki kemampuan di bidang perencanaan,
- Bisa mengemudikan kendaraan,
- Bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia,
- Untuk menempati posisi sebagai MUSUH BERSAMA.
Adakah kira-kira yang bakal menjawab iklan pekerjaan macam begini?
Iklan ini sangat serius, tetapi dugaan saya, orang akan menganggapnya sebagai 'guyon', lelucon orang iseng. Padahal sumpah, ini serius. Seserius sumpah yang diucapkan 81 tahun yang lalu. Sumpah para pemuda yang memiliki hasrat kuat untuk bersatu dan merdeka. Dan beneran, 27 tahun kemudian merdekalah negeri ini secara resmi. Ada suratnya, ada tanda tangannya, ada fotonya, bahkan ada rekaman suara dan gambarnya, sah.
Soal sumpah itu, rahayat negeri ini tentu sebagian besar hanya mendengar cerita atau membacanya, tetapi yang pasti semua masih memperingatinya sebagai hari yang luar biasa besar, mungkin setara dengan hari kemerdekaan sendiri. Sumpah para pemuda negeri ini yang menjadi biang dari segala persatuan dan kesatuan bangsa untuk menjadi merdeka jiwa dan raga. Sumpah yang mengalahkan batas nusa, batas bangsa dan batas bahasa. Ya, sumpah itu adalah warisan untuk generasi kini. Tetapi, apakah hasrat kala itu masih awet terjaga? Apakah masih tetap sepanas jiwa muda kala itu, ataukah sudah menjadi warisan yang usang, menghilir terserah arus dan keriput seturut umur?
Saya yakin rasa panas hasrat itu sebetulnya masih tetap ada di mana-mana, hanya kadang bukan berasal dari api persatuan, yang sering saya dengar justru sebaliknya. 28 Oktober tahun ini, semangat persatuan itu bahkan terasa jauh lebih mundur daripada 100 tahun lalu sehingga yang berulang kali diteriakkan merdeka-merdeko itu susah sekali dirasakan sebagian besar anggota negeri.
Saya pernah mendengar ungkapan bijak semacam ini, "persatuan lebih mudah ditemukan ketika hadir musuh yang sama daripada kawan yang sama". Saya pikirkan ungkapan ini, dan itulah kenapa iklan kecik di atas itu rasanya penting untuk mendapat jawaban. Tahun 1928, persekutuan ide, semangat dan tindakan para pemuda jaman itu diyakini mampu melawan musuh bersama, ketidakmerdekaan, penjajahan.
"Persatuan Lebih Mudah Ditemukan Ketika Hadir Musuh yang Sama daripada Kawan yang Sama"
Bogor, masa kini, beruntunglah kita, masih ada gerombolan orang yang menyimpan semangat persatuan dan kemerdekaan itu sepanas 81 tahun lalu. Gagasan-gagasan bergulir dan tindakan-tindakan terus dicobakan untuk memperbaiki keadaan. Beriak, menyodok-nyodok, mengganggu kenyamanan semangat melempem yang sedang nunut menghilir.
Saya bersyukur masih merasa dan sedang diingatkan. Setiap hari sabtu dan minggu pagi, ada pesan pendek yang tetap setia datang, mengajak bebersih Kali Ciliwung, meskipun saya berminggu bahkan berbulan-bulan tidak muncul juga. Dan semangat saya selalu terusik, tapi tidak juga bertindak. Bagi yang belum tahu, itulah yang bernama melempem alias mletho.
Bagi Ciliwung, satu orang demi satu orang dibutuhkan sehingga akan menjadi banyak. Orang-orang itu datang untuk alasan yang lebih dari sekadar setia kawan. Mereka menggenggam mimpi bahwa suatu hari Ciliwung yang jorok itu akan berubah menjadi beranda depan bagi setiap orang, sumber keasyikan bagi mereka masing-masing.
Satu minggu demi satu minggu dilewati sehingga menjadi sering. Tindakan terus-terusan ini bakal menjadi kebiasaan, dan kata orang pinter, kebiasaan yang dilakukan oleh banyak orang pada suatu tempat adalah cikal bakal kebudayaan.
Biar saja keadaan Ciliwung sekarang ini menjadi musuh bersama, karena mungkin hanya itulah cara untuk menjaga semangat tetap hot dan tindakan tetap seirama untuk memerdekakan diri bersama-sama. Ciliwung bersih akan menjadi budaya. Budaya yang memerdekakan orang beserta keturunannya dari bencana dan nasib buruk lainnya. Mari merdeka.
Gambar diambil dari sini
Read more

Anak-anak memang tak bisa jauh dari air. Tidak hanya di kampung yang nun jauh di pedalaman, anak kota pun suka pada air. Tempat-tempat berair telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka. Terlebih jika mereka sudah basah, maka mereka akan semakin senang berbasah-basah. Mungkin ini sudah naluri manusia sejak berada di kandungan. Bisa saja ini hanya sebuah hipotesa “ngawur” tentang naluri manusia, namun saya yakin tak ada satu pun orang yang membantah penyataan bahwa manusia hidup di air (baca: air ketuban) semasa dalam kandungan.
Hari minggu kemarin (25 Oktober 2009) membuktikan kedekatan hubungan anak-anak dengan air. Para laskar karung KPC mendapat kunjungan dari sejumlah anak-anak. Memang jumlahnya tidak sampai puluhan. Namun mereka itu semua adalah anak-anak, bukan 1 atau 2 orang anak. Sebagian besar dari mereka adalah murid-murid SD BPK Penabur Sentul. Selebihnya adalah anak-anak para laskar karung yang rindu akan berbasah ria mengambil sampah di Sungai Ciliwung. Juga ada beberapa anak yang dibawa oleh seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta.
Senang rasanya melihat keceriaan dan antusiasme anak-anak itu. Pada awalnya mereka datang malu-malu. Kaki mereka terasa berat untuk melangkah di atas tanah becek dan berbatu di tepi sungai. Bibir-bibir mungil mereka tampak menyeringai jijik dengan tumpukan sampah yang tersangkut di tepian serta di batu-batu sungai. Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Setelah mendapatkan penjelasan beberapa menit dari Oom Ruby dari tim riset KPC, mereka jadi terbiasa. Rasa ingin tahu yang besar telah menghapus rasa jijik mereka. Uji coba perubahan warna pada kertas lakmus pun jadi sebuah hal baru yang menarik perhatian mereka. Walau terkadang “bengong” dan tidak paham dengan istilah ilmiah yang dijelaskan oleh Oom Ruby, namun mata mereka lekat memperhatikan semua penjelasan itu. Di akhir sessi penjelasan, mereka pun memulai eksperimen kecil untuk mengambil sampel-sampel air sungai Ciliwung yang kotor tanpa ragu. Eksperimen kecil mereka menunjukkan bahwa kualitas air sungai Ciliwung ini tergolong “tidak baik”. Yaa … mereka telah menjadi saksi langsung tentang buruknya kualitas air Ciliwung di Bogor.
Tak cukup dengan eksperimen, anak-anak itu pun diajak serta untuk melakukan aksi langsung. Para laskar karung KPC pun tak segan lagi mengajak anak-anak itu memungut sampah-sampah anorganik langsung dari sungai. Masing-masing anak pun dibekali dengan karung untuk diisi sampah. Tak dinyana, anak-anak itu masih tampak bersemangat dan gembira melakukannya. Beberapa dari mereka bahkan rela membasahi hampir seluruh badannya karena berusaha mengejar sampah plastik yang terapung di sungai.
Sungguh … ini adalah pengalaman menarik bagi semua. Menarik karena anak-anak itu menemukan keceriaan dalam bentuk lain, tak hanya di mal-mal atau tempat rekreasi yang steril. Menarik juga bagi para laskar karung karena anak-anak pun turut ambil bagian dalam upaya menyelamatkan Ciliwung. Bagi orang-orang lain yang menontonnya … hal ini juga menarik. Karena semangat anak-anak yang tidak ragu memulung sampah Ciliwung setidaknya telah menumbuhkan rasa malu dalam diri mereka.
Terima kasih buat para anak-anak yang telah hadir berbasah-basah dalam Aksi Mulung ke-31 di Kedung Halang, Bogor. Semoga kehadiran kalian dapat menjadi awal yang baik bagi kesadaran warga (terutama Bogor) untuk memperhatikan kebersihan Sungai Ciliwung tercinta ini.
Read more
Bogor,18 Oktober 2009
Sejumlah mahasiswa HIMASTER (Himpunan Mahasiswa Profesi) IPB jurusan Sumberdaya Perairan mengadakan kegiatan kunjungan ke bendungan Katulampa Bogor bersama anak-anak panti asuhan, Minggu 18/10/09 pukul 09:00 WIB pagi hingga pukul 12:00 siang.
Kegiatan tanggal 18 Oktober ini merupakan rangkaian Hari Air Untuk Semua (HAUS) ini,sejumlah mahasiswa HIMPRO ini mengadakan kegiatan ini untuk menimbulkan kepedulian masyarakat terhadap perairan, terutama pada anak-anak.
Setelah anak-anak panti asuhan diajak untuk melihat serta mendengar mamfaat bendungan, mereka kemudian diminta untuk menggambar dari pengalaman yang mereka dapat sebelumnya kedalam media gambar.
Berbagai macam rupa gambar yang dihasilkan dari kegiatan kunjungan tersebut dapat merefleksikan gambaran dari pengalaman mereka setelah melihat dan mendengar mamfaat sumberdaya perairan dari bendungan Katulampa Bogor tersebut.
Sejumlah siswa dapat mengerti dan memahami mamfaat keberadaan bendungan Katulampa tersebut bagi kehidupan manusia terutama bencana banjir yang berulang kali terjadi. (agungpsiko)
link
http://www.kotahujan.com/2009/10/himaster-haus-hari-air-untuk-semua.html
Read more
Bogor 19/10/2009
Hampir sepanjang masa hayatnya, Dulloh 63 th bersama ibundanya yaitu mak "Amah" yang umurnya diperkirakan kisaran 100 tahun-an memecah batu yang diambil di sungai Cilwung sebagai materi bahan bangunan.
Bengkel kerja Dulloh dan ibundanya terletak di Pangkalan I disamping lapangan PDAM Bogor.Untuk menghasilkan satu mobil col engkol batu krikil bahan bangunan bersama
dengan ibunya, ia memerlukan waktu selama tiga hari untuk mengumpulkan dari sungai dan memecah batu tersebut satu persatu.
Kemudian batu tersebut di jual seharga Rp. 120.000 satu untuk satu bak mobil col engkol tersebut bila diambil sendiri di tempat tersebut. Bila telah sampai toko material, batu krikil tersebut dijual kisaran Rp. 200.000-an. Kegiatan pemecahan batu tersebut telah berlangsung turun temurun, ungkap pak Dulloh.
Beliau bercerita, dahulu kala air sungai Ciliwung airnya dapat langsung diminum oleh masyarakat. Masa itu saat masyarakat sedang beristirahat makan siang setelah bersawah, mereka dapat langsung meminum air sungai Ciliwung tanpa melalui proses dimasak terlebih dahulu.
Ditengah hiruk pikuk moderenisasi kota Bogor seperti sekarang ini, sosok pak Dulloh beserta ibundanya merupakan sosok masyarakat yang tangguh dan tidak terlalu
banyak terpengaruh, karena pekerjaan mereka adalah type pekerjaan kuno yang hanya mengandalkan tenaga dan kemauan hidup yang keras. (agungpsiko)
link=
http://www.kotahujan.com/2009/10/dulloh-dahulu-air-ciliwung-dapat.html
Read more
Adalah sebuah tempat di mana KPC pernah mendapat pengalaman menarik di bulan Agustus lalu. Kedung Halang, sebuah kelurahan di aliran Ciliwung yang menarik. Dari segi tumpukan sampah, mungkin Kedung Halang tak jauh beda dengan wilayah2 sepanjang aliran Ciliwung lain di Kota Bogor. Namun di tempat ini setidaknya tak hanya sampah yang dapat ditemui. Tapi juga kompleks perumahan kelas menengah yang temboknya langsung berada di bibir sungai. Juga ada tempat pengambilan air (
intake) PDAM untuk memenuhi kebutuhan air minum di Kabupaten Bogor. Kalau kita sedikit jeli, kita juga bisa bertemu dengan orang-orang tua (berusia lanjut) yang masih bekerja keras memecah batu-batu sungai menjadi kerikil.
Itulah sekelumit tentang Kedung Halang, terutama suasana di aliran Ciliwung, di daerah sekitar Lapangan PDAM. Anda ingin tahu lebih banyak .... mudah saja, tak perlu bertanya ... silakan melangkahkan kaki dan bergabung dengan aksi mulung KPC ke-30, seperti pengumuman berikut ini.

Read more

Hari ini aku tidak berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang (walau ndak siang2 banget juga. Walau tidak pagi juga. hehe). Kedua merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita semua, merasa perlu
privacy dan ketenangan di pagi hari.
Lagi2 sepertinya aku salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human rights.
Orang2 itu juga malu2, larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg an-organik.
Nah justru di situ letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik. Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?
Ah kayaknya cuman elo doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.
pengakuan dari Rita Mustikasari, sang turis jepang.
gambar shin-chan diunduh dari sini.
Read more
Suatu agin segar yang menyejukan ketika ada tamu bagi mbah tjiliwoeng dan cucunya.
Minggu tanggal 11/10/2009 pada pemulungan KPC di Padang Beunghar, ada tamu mbah tjiliwoeng dua orang yaitu mbak cindy dan teman nya. Mereka tau KpC dari brosing di internet dan mereka menghubungi saya (hari kikuk) pada hari jumat untuk ikutan mulung di sungai tjiliwoeng.
Dalam hatiku ini orang beneran mau ikut mulung atau hanya mo mengerjai ku. Eh ternyata prasangka ku salah mereka memang ikutan mulung. Dan mereka mulai Tanya akan inisiatif cucu – cucu mbah tjiliwoeng pada diri ku awal mula nya bagaimana dan tujuan nya untuk apa, jawabku oh kalau inisiativif dan tujuan nya pada mulanya cucu –cucu mbah tjilwoeng ini, karna kita dan kawan kawan KpC prihatin akan nasib mbah tjihaliwoeng mbak, tuturku.
Dimana mbah tjihaliwoeng sekarang di jadikan tempat sampah oleh anak cucu nya yang lain. Sampai kapan ini akan di lakukan dan komitmen nya sekuat apa mas, tutur mbak cindy. Wah gawat ni! orang pengen tau banyak tetang ide ini dan komitmen teman – teman KpC dalam hatiku.
Kalau untuk berapa lama aku kurang tau mbak! jawabku. Kalau komitmen nya kita dan cucu mbah tjihaliwoeng yang lain dan teman teman KpC, pengen kalau cucu – cucu mbah cihaliwung menjaga si mbah, sebagai mana si mbah ngasih kehidupan pada mereka. Dan aktivitas ini juga voluntary atau gratisan mbak. Oh ya, iya mbak karna siapa lagi yang akan menjaga si mbah kalau bukan anak cucu nya. jaga dalam hal apa mas Tanya mbak cindy, dalam hal kebersihan nya dan prilaku anak cucu nya si mbah, mbak.
Tapi sayang nya si mbah sama anak cucu nya di perlakukan dengan tidak baik lain hal nya si mbah memperlakukan mereka dengan baik dengan kehidupan lingkungan sekitar nya. ya udah mas aku sekarang mengerti kata mbak cindy kalau ngitu sekarang kita nuju lokasi aja ya mas? Ok mbak jawabku dan mari kita bentangkan spanduk kita Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak dn kita mulai pemulungan kita.
Tapi orang nya mana aja mas? apa udah ada di lokasi, wah kebetulan pada pemulungan minggu ini adalah hari yang kurang menguntungkan bagi kita mbak? Karna minggu ini aku sendirian dan mbak-mbak ini. Loh kan biasa nya buanyak mas orang nya kalau aku baca lewat blok nya, kebetulan minggu ini para cucu mbah tjiliwoeng ada yang kemping, ada yang kondangan. Ada yang ke kampus, dan ada yang siloturahmi ke keluarganya, Dll.
Tapi inilah komitmen nya berapa pun orang nya gak penting yang penting setiap minggu spanduk berkibar. S O P lah mbak, tutur ku
he he he he he hehe hehe hhhhhhhhhhh eeeeeeeeeeee I . Mu aaaaaaaaaaaaah
Read more
Bogor, 9 Oktober 2009
Tiga orang penggiat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Bukit Duri Jakarta, Kamis 17/09/ 2009 mengunjungi Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di daerah Kecamatan Sempur Bogor untuk bersilahturami dan bertukar pengalaman kegiatan seputar isu penyelamatan Sungai Ciliwung.
Menurut Ken salah satu penggiat Ciliwung Merdeka - Jakarta, kegiatan yang sangat sederhana tapi sengat menyentuh yang dilakukan oleh Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC) diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh buat komunitas dan LSM lain serta masyarakat luas untuk lebih peduli kepada sungai Ciliwung.
Komunitas Ciliwung Merdeka yang awal didirikan-nya untuk pendidikan masyarakat. Hingga 2009 ini Komunitas Ciliwung Merdeka mempunyai tiga program kegiatan yang sedang dilakukan yaitu pendidikan masyarakat; pengolahan sampah serta kesehatan.
Read more

Adalah sebuah tempat di seputaran Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Bogor. Entah apa makna sebenarnya dari nama tempat itu. Kata seorang kawan (Sunda),
"beunghar" itu artinya kaya. Namun sayangnya ia tidak tahu soal arti kata
padang. Ia curiga ini bukan istilah dalam bahasa Sunda. Yaa sudah lah ... mungkin saat ini kita tak perlu mencari artinya. Tapi (kadang) benak saya ingin mengartikannya secara bebas ... mungkin itu artinya tempat luas yang pernah dihuni orang kaya, mungkin juga dulu di tempat itu pernah tinggal seorang berdarah Minang yang kaya raya.
Baiklah ... saya tak akan meneruskan pembahasan soal arti kata pada nama tempat itu. Lalu kenapa dengan tempat itu? Ada apa di sana? Mengapa saya mencoba membahas kata
"padang beunghar"?
Jawaban saya singkat saja ...
Soalnya hari Minggu ini, 11 Oktober 2009, para laskar karung KPC dijadwalkan untuk melakukan kegiatan rutin mulungnya di Padang Beunghar, kawasan Pulo Geulis. Ini adalah tempat mulung yang sama dengan yang dilakukan hari minggu lalu. Lokasi tepatnya berada di ujung hulu, sisi Barat Pulo Geulis. Untuk menuju ke sana dapat dilakukan dari Jalan Roda (masuk gang 2), langsung menuju ke RW 9 .... atau ... bisa juga dari Jalan Bangka-Riau, melalui jembatan Pemuda menuju Pulo Geulis, menyusur gang2 kecil di pulau padat tersebut, melintasi jembatan menuju ke jalan roda di RW 9.
Mari ... kita ramaikan acara rutin mulung kita semua, demi terwujudnya Ciliwung yang bersih dan indah, plus (tentu saja) Kota Bogor tercinta yang nyaman. Ini penting, mengingat semestinya membersihkan Ciliwung di Bogor itu menjadi tanggung jawab setiap kepala manusia yang berada di Kota Bogor. Mari ....
Read more

Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.
Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.
Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.
Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.
Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.
Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.
Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.
Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.
Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.
Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.
Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?
Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!
Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?
cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
Read more
Secara Integratif-Partisipatif Berbasis KomunitasMempertanyakan keberadaan sungai Tjiliwoeng (Ciliwung) mengarahkan kita semua untuk berpikir sejenak bagaimana kondisinya saat ini. Selama beberapa tahun berselang, sungai ini sepertinya hanya menyisakan kecemasan bagi penghuni di bantaran sungai dan sebagian warga ibukota Jakarta. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya kita semua mempunyai kewajiban untuk menelusuri segala bentuk permasalahan (
object matters) menyangkut DAS ini khususnya mengenai sumber-sumber ancaman (
hazard potency), yang mengakibatkan menurunnya fungsi ekologi dan rusaknya lingkungan DAS Tjiliwoeng seperti akibat tingginya sedimentasi dan sampah serta perubahan fungsi sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik dan industri. Padahal DAS ini seharusnya memberikan kemanfaatan yang berlebih. Sebaliknya DAS ini kini menjadi salah satu sumber ancaman utama bencana bagi warga ibukota. Oleh karena itu tidak berlebihan bilamana sungai ini dikatakan hanya menyisakan bencana di setiap tahunnya saat musim hujan tiba. Keasrian dan keelokan sungai ini berangsur-angsur menghilang. Sampah kini menjadi penghias bebatuan diantara jeram sungai Tjiliwoeng.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partipatif berbasis komuniti
Sementara itu, sejarah mencatat bahwa Tjiliwoeng memiliki sejarah panjang peradaban manusia yang mengusahakannya mulai dari manusia purba hingga manusia modern. Kehidupan manusia dulu sangat bergantung dari keberadaannya. Peran dan fungsi sungai ini seharusnya memberikan hikmah dan i’tibhar (baca: pelajaran) bagi kita semua untuk selalu mengupayakan kelestariannya. Proses interaksi alamiah, yang didorong tingginya nilai kemanfaatan, antara manusia dan alam menjadikan sungai ini sangat penting kala itu untuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan manusia dan sumber kelangsungan hidup manusia serta sebagai rumah bagi hidupan liar yang ada. Seyogyanya DAS ini memberikan kemasalahan hidup manusia secara luas, baik manusia sekarang maupun yang akan datang serta menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan (sustainability) masa depan makhluk hidup yang secara terus menerus memanfaatkan keberadaannya. Namun sayangnya, saat ini fungsi itu mulai perlahan-lahan terkikis yang kemungkinan sebagai akibat sikap oknum yang tak selaras dan tak mengindahkan kelestarian lingkungan DAS seperti tindakan membuang sampah secara serampangan ke badan sungai. Padahal sungai ini menjadi bagian hidup mereka sendiri- yang membangun sebuah kebudayaan tersendiri. Sayang sekali, kebudayaan itu juga tergeser oleh dinamika perkembangan jaman. Namun nilai-nilai budaya itu masih ada meskipun hanya dalam tutur lisan saja-yang sebagian besar masih tersimpan dalam memori sebagian penduduk kampung Pulo Geulis.
Kampung Pulo Geulis, sebuah perkampungan tua. Benteng terakhir rekam jejak interaksi antara manusia dan lingkungan Ciliwung yang tersisa. Perkampungan yang berada di selatan terminal Baranangsiang. Lokasi perkampungan ini tepat berada di atas sebuah delta yang terbentuk dalam badan sungai Ciliwung. Menurut beberapa informasi yang ada perkampungan ini memiliki sejarah panjang keterkaitan-interaksi (interaksianisme) dengan sungai Ciliwung. Keberadaan benda budaya (cultural artifact) berupa vihara Mahabrahma atau kelenteng Bio Pongkoh. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sebuah sistem religi-budaya yang berkembang antara penghuni-pemukim dan sungai Ciliwung sejak dahulu. Keberadaan sistem religi-budaya memungkinkan adanya sinergisitas dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan yang lestari yang bermuara pada praktek kearifan lokal (local wisdom) masyarakat yang mendiami kampung ini pada awalnya.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partisipatif berbasis komuniti sepertinya menjadikan permasalahan sungai ini tidak ada habisnya. Keberadaan modal sosial menjadi sangat penting untuk menjalin kebersamaan dalam pengelolaan khususnya dalam menjaga kebersihan sungai dari sampah. Minimnya informasi mengenai kondisi sosial budaya masyarakat, karakteristik masyarakat, dan modal sosial menjadikan proses pengelolaan hanya bertumpu pada pemerintah saja, padahal kesemua hal tersebut sangat berperan dalam menciptakan sebuah sistem dan struktur pengelolaan DAS Tjiliwoeng yang holistik dan integratif-partisipatif demi terciptanya sebuah sungai yang bersih, sejuk, elok, dan asri. Pulo Geulis perlu menjadi areal pilot project dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Karena Pulo Geulis adalah lokasi strategis untuk mengembalikan kembali keasrian-keelokan Tjiliwoeng dengan mengembalikan sistem budaya-religi yang sebelumnya pernah ada. Sistem budaya-religi mampu mengikat individu-individu dalam komunitas untuk bertindak dan bertingkah laku secara arif sesuai dengan kesepakatan yang ada. Dengan begitu sampah berangsur-angsur akan menghilang (berkurang) bilamana ada penghargaan pada lingkungan oleh kelompok penerima manfaat (beneficiary group) yang didukung oleh tata kelola lokal yang baik dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang mengatur antar individu-individu dalam komunitas masyarakat ini.
Penulis: Firin
Read more
Telah meninggal dunia bapak Dudi Suhardi Kepala Bidang Kebersihan Kota Bogor pada hari Rabu 23/09/2009 pukul 11:00 WIB di kediaman almarhum di daerah perumahan Ciomas Permai Blok D20, Ciomas Bogor.
Beliau meninggal dunia setelah sebelumnya menderita sesak nafas, dan dilarikan ke RS PMI Bogor. Namum dalam perjalanan, beliau tidak tertolong.
Kantor Berita ASTEKI Bogor, www.kotahujan.com dan komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengucapkan turut belasungkawa kepada keluarga, sanak saudara serta rekan kerja yang ditinggalkan. Almarhumah meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Read more
Akhirnya ..... berhasil juga para laskar karung menuntaskan niatnya utk tetap mulung (walau) di bulan puasa. Sekarang, bulan puasa sudah mau habis ... tinggal beberapa hari lagi lho. Sebentar lagi kita yang muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1430 H.
Kalau kita coba hitung tanggal dalam almanak (kalender), maka Idul Fitri akan jatuh pada hari Minggu atau Senin. Pas sekali dengan hari di mana kita biasa melakukan ritual "mulung" di Ciliwung. Namun, rasanya ada yang kurang jika kita masih juga mulung saat perayaan Idul Fitri. Maka itu, kepada segenap laskar karung KPC di seantero Nusantara, ... kami umumkan bahwa
Kegiatan "mulung" pada hari
Minggu, 20 September 2009 DILIBURKANSelanjutnya .... tak lupa kami ingin mengucapkan ...

thanks to
Ejhonski atas foto anak2 telanjang ini.
Read more

Selain Yus Rusila Noor menceritakan tentang gambut, Obrolan Kamis Sore, 10 September 2009 lalu, diisi oleh Hapsoro dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Ia menceritakan tentang kondisi Sungai Ciliwung di Bogor, dengan tagline
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak” sebagai motto kegiatannya.
Kegiatan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah inisiatif dari warga Bogor untuk Kota Bogor. Inisiatif ini berawal dari mimpi-mimpi Hapsoro dan beberapa temannya. Ia bermimpi bisa memancing dengan enak di Sungai Ciliwung dan anaknya sibuk bermain air di situ. Padahal Ciliwung kini tidak hanya terancam oleh sampah, tapi juga oleh banyaknya pembangunan yang dilakukan di badan sungainya. Walaupun logat Jawa Hapsoro masih kental, KTP Bogornya seakan menyentil dirinya. Dia tidak ingin tinggal di Bogor hanya untuk makan dan buang hajat saja.
Setelah mulai menelusuri dan memetakan titik-titik pembuangan sampah di tepi dan badan Sungai Ciliwung, akhirnya sejak Februari 2009, ia mengajak teman-temannya melakukan bersih Ciliwung, terutama untuk sampah anorganik. Bagi pria berkulit gelap ini, saat ini diperlukan tindakan aksi dalam menyelamatkan Ciliwung.
“Kami adalah segelintir orang yang mau bertindak, dengan memberikan contoh langsung.”
Sejak mulung perdana tanggal 15 Maret 2009 dan diikuti oleh 80 orang, kegiatan ini berlangsung teratur setiap minggu walau pesertanya selalu menurun. Hapsoro menafsirkan bahwa orang Indonesia masih senang melakukan kegiatan berdasarkan momentum hari-hari besar lingkungan. Aksi mulung sampah ini bersifat voluntary, tidak ada paksaan. Makan dan minum pun membawa dari rumah masing-masing. Bahkan, Hapsoro juga menyediakan kotak sumbangan untuk membeli karung yang diedarkan ke peserta mulung.
KPC juga melakukan kegiatan lainnya, seperti pendidikan lingkungan hidup untuk SD di Kp. Rambutan; penelitian tentang kualitas air, herpeto fauna, biota air dan sosial ekonomi; pemutaran film layar tancap (tentang sampah Ciliwung) dan road show ke kampung-kampung; Orkes melayu gerobak dorong, untuk menghubur masyarakat yang tinggal di pinggir sungai; penyebar luasan info melalui radio; dan bahkan penyelenggaraan Lomba Mulung Sampah yang diikuti oleh 10 kelurahan di Kota Bogor dalam rangka perayaan 17 Agustus 2009 lalu.
Untuk kegiatan ini KPC mendapat bantuan dari Dinas Kebersihan kota Bogor dalam pembuangan sampahnya. Saat ini sampah buangan masih dibuang ke TPA Galuga. Di saat-saat awal KPC masih melakukan pemilahan sampahnya, tapi kini kegiatan tersebut sulit dilakukan mengingat diperlukan waktu dan tempat penampungan yang tidak sedikit. KPC masih mencari pihak yang mau menangani pemilahan sampah ini.
Hapsoro juga mengakui bahwa saat ini masih sulit untuk merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Karenanya dengan melakukan pemulungan secara intensif, diharapkan masyarakat bisa berpartisipasi dan malu bila masih membuang sampah ke sungai. Mereka tidak perlu dimarahi bila masih membuang sampah, tetapi perlu pendekatan bagaimana membuat mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai. Juga melakukan pendekatan kepada warga yang memiliki kepentingan dalam menjaga sungai, misalnya pemilik keramba ikan, mereka secara teratur tiap hari membersihkan sampah yang menyangkut di kerambanya.
Setiap hari Sabtu pula, pria pengendara sepeda onthel ini rajin mengirimkan SMS mengajak teman-temannya untuk melakukan mulung sampah di Ciliwung pada hari Minggu. Ketersediaan dana masih merupakan kendala, dan masih belum bisa optimal untuk melakukan komunikasi dan mengajak lebih banyak lagi orang yang peduli. Jika Anda tertarik untuk bergabung membersihkan Sungai Ciliwung, silahkan klik: www.tjiliwoeng.co.cc laman ini memuat semua perkembangan tentang Komunitas Peduli Ciliwung. [irma dana - irma.dana@gmail.com-]
Read more