Hari Sabtu lalu, beberapa orang laskar karung ciliwung terlihat sibuk di halaman sebuah kantor di kompleks Gedung Alumni IPB – Baranangsiang, Bogor. Tangan mereka kotor karena mengaduk2 tanah. Sekarung lebih tanah dibongkar untuk kemudian dimasukkan dalam kantong2 plastik kecil berwarna hitam.
“Kata orang kantong ini disebut polybag, Mas”, jelas Ririn, salah seorang dari mereka.
“Semaian pohon beringin ini kita kumpulkan untuk selanjutnya nanti ditanam di tepian sungai Ciliwung”, kata Ririn kemudian. KPC memang beruntung memiliki laskar karung seperti Ririn. Sebab ia menjadi inspirator bahkan guru dalam hal tanam-menanam pohon. Ririn adalah seorang anggota sebuah organisasi kampus Fakultas Kehutanan IPB yang bernama TGC (Tree Growers Community).
Kegiatan hari itu ternyata tidak hanya sekali dilakukan. Selama sebulan ini (Desember 2010) para laskar karung sengaja meliburkan aktivitas mulung sampahnya. Mereka menggantinya dengan kegiatan penyiapan bibit2 pohon untuk ditanam di tepi Ciliwung. Entah apa sebabnya, mungkin ini bagian dari cerita2 wangsit dari Mbah Tjiliwung yang mereka dapat dari tepian sungai di Kelurahan Kedung Halang lalu.
Kegiatan penyiapan bibit pohon ini terlihat sedikit berbeda dengan kegiatan serupa yang umumnya dilakukan untuk meyiapkan penanaman pohon. Bibit2 pohon yang mereka siapkan jumlahnya tidak banyak. Hingga posting ini dituliskan jumlahnya masih sebanyak 106 kantong, dengan 5 kantong diantaranya yang siap tanam. Salah seorang dari mereka, Hari Kikuk mengatakan,”Jumlahnya memang gak banyak sih. Kami mengumpulkannya dari semai2 beringin yang tumbuh alami dari indukan pohon beringin yang kami jumpai. Kadang kami menemukannya di pinggir jalan atau di sudut2 pemukiman masyarakat”.
Ini memang sebuah upaya mandiri. Para laskar karung tak hanya secara mandiri berusaha membersihkan sungai dari sampah. Mereka bahkan juga secara mandiri berusaha menanami tepian sungai Ciliwung dengan pohon.
Read more
Setelah sukses dengan penyelenggaraan Kompetisi Mulung Antar Kelurahan II, para laskar karung kini memiliki kegiatan baru. Ide ini pertama kali muncul ketika beberapa orang laskar karung melakukan kegiatan rutinnya di Kelurahan Kedung Halang.
Di tepian sungai Ciliwung yang telah banyak berubah bentuk dan fungsi, beberapa orang laskar karung mendadak dapat wangsit dari Mbah Tjiliwoeng.
“Hey para lasjkar ... Simbah soenggoeh senang dengan soemangat dari kalijan semoea. Namoen kalijan djoega haroes inget bahoewasanja moeloeng sadja beloen temtoe tjoekoep. Kalijan perloe djoega kasie tjonto laennja. Kiranja Simbah anggep jang paling bagoes itoe kalijan moeloeng sambil djoega nanem di tepijan-tepijan Tjiliwoeng. Tjiliwoeng perloe dihijas pake pohon-pohon jang rimboen dan mengasilken moentjoelnja aer jang banjak, tjontonja pohon beringin, njamploeng, trembesi, dan roempoen-roempoen bamboe. Itoe semoea adalah pohon-pohon kehidoepan, boewat jang kasat mata maoepoen jang ghoib”
Walhasil para laskar karung itu pun segera mendiskusikan wangsit yang didapat bersama teman-teman lain. Maka mulai bulan Desember 2010 ini, para laskar karung pun menghentikan sementara aktivitas mulungnya. Bukan berhenti selamanya. Waktu mulung diganti dengan waktu perburuan bibit pohon2 yang diwangsitkan oleh Mbah Tjiliwoeng. Bibit2 pohon tsb lalu dikumpulkan di sebuah lokasi pembibitan sederhana, sebelum nantinya ditanam di tepian2 sungai Ciliwung.
Di awal tahun 2011 nanti, para laskar berharap bibit2 pohon tersebut telah siap ditanam. Dan kegiatan penanaman pohon tsb akan dikombinasikan dengan kegiatan mulung. Maka ... Jika Anda ke Ciliwung, maka pungutlah sampahnya dan tanamlah pohon di tepiannya
gambar di atas diunduh dari laman ini
Read more

Keseriusan upaya, keteguhan hati dan semangat tinggi memang selalu berbuah manis. Setelah (mungkin) ratusan liter peluh dikeluarkan, berpuluh bungkus sabun cuci, sabun mandi, beratus liter air minum, berbungkus2 nasi dan kue dikonsumsi ... akhirnya warga Kelurahan Bantarjati dapat merebut Piala Bergilir Kompetisi Mulung antar kelurahan se-kota Bogor tahun 2010 ini.
Bentuk pengorbanan itu memang masih belum seberapa, mereka punya berbagai cara lain (yang tentu saja sportif) sejak persiapan hingga saat kompetisi ini. Pak Lurah beserta jajarannya sudah jauh2 hari mengumpulkan para ketua RW utk bersatu memeriahkan kompetisi ini. Ada berkali-kali rapat yg telah diselenggarakan di kantor kelurahan sebelum kompetisi berlangsung. BABINSA kelurahan, TAGANA (Taruna Siaga Bencana) tingkat kelurahan, MUI kelurahan, LPM, kelompok2 SAR banjir pemuda, karang taruna, dan ibu2 PKK ternyata juga diikutsertakan. Ini adalah bentuk keseriusan dan kepedulian yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Keseriusan ini pun terjadi tak hanya saat persiapan. Saat kompetisi seluruh warga dan kelompok2 warga tersebut dengan semangat turut terlibat dalam mensukseskannya. Titik pemulungan sampah Ciliwung tak hanya berada di satu lokasi. Warga Bantarjati menyebar merata di tujuh wilayah RW yang dilintasi Sungai Ciliwung, dari mulai Bendungan Cibagoloh hingga depan Pasar Warung Jambu. Pada setiap titik setidaknya dijumpai lebih dari 20-an orang.
Sang Lurah pun turun ke sungai untuk memungut sampah dan menanam pohon. Demikian pula halnya dengan petugas kelurahan, BABINSA, Ketua RW, Ketua RT, MUI Kelurahan dan LPM. Para petinggi kelurahan ini ternyata tak hanya pandai memerintah dan mengintruksikan, tapi juga mengotori tangan mereka dengan sampah dan bermandi keringat.
Pada salah satu titik pemulungan yang berdinding tanggul terjal, para pemuda bahkan membersihkan sampah dengan bersemangat sekalipun harus menempuh resiko tinggi. Mereka bergantungan pada seutas tali plastik sembari membersihkan sampah-sampah yang terserak di dinding sungai itu.
Ibu-ibu PKK dan para warga perempuan tak tinggal diam. Mereka selalu siap sedia menyediakan minuman dan makanan ringan di setiap titik pemulungan sampah, walau tak harus dengan harga mahal. Pada beberapa titik pemulungan mereka hanya menyediakan sekedar air putih dan pisang. Namun apapun bentuknya, dukungan penuh kaum perempuan ini telah memompa semangat yang luar biasa bagi seluruh warga untuk bebersih runtah Ciliwung.
Sementara kelompok pemuda SAR sungai dan TAGANA bersiap dan waspada di titik2 rawan resiko bencana sepanjang sungai. Sehingga jika terjadi kecelakaan atau banjir bandang tiba-tiba, mereka dapat memberi peringatan bahaya ataupun melakukan evakuasi cepat.
Berbeda dengan kelurahan lain, Bantarjati melengkapi kreativitas keikutsertaan kompetisi ini dengan menanam pohon. Bukan sembarang pohon dan bukan sekedar menanam satu dua batang. Kelurahan Bantarjati berhasil memperoleh dukungan dari Kodim berupa 70 batang bibit pohon trembesi yg berguna sebagai peneduh dan penguat tepian sungai Ciliwung. Ketujuh puluh bibit tersebut pun langsung ditanam di sepanjang tepian Ciliwung pada 7 wilayah RW di kelurahan ini.
Rasanya tak ada kata yang paling tepat utk mengungkap apresiasi buat seluruh warga dan jajaran pemerintahan Kelurahan Bantarjati, kecuali ....
LUAR BIASA, SPEKTAKULER, MENAKJUBKAN, dan TOP MARKOTOP!!
Read more

Dimulai dari janji dan komitmen tahun 2009 lalu. Akankah Kompetisi Mulung Sampah Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor II di tahun 2010 ini dapat terlaksana? Memang tak mudah untuk memenuhinya. Jerih payah otak dan otot ditambah doa harus dicurahkan hingga yang direncanakan dapat terlaksana.
Dengan slogan "Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak", alhamdulillah semua itu akhirnya dapat menampakkan hasilnya. Kompetisi ini berhasil terlaksana dengan baik. Hari Sabtu lalu, 30 Oktober 2010, sepuluh kelurahan, dari 11 yang diundang menurunkan warganya sebagai peserta kompetisi ini. Ada ratusan orang yang berkumpul di tepi Ciliwung. Situasi ini terlihat dari mulai Katulampa, Baranangsiang, Sukasari, Babakan Pasar, Sempur, Bantarjati, Tanah Sareal, Kedung Badak, Kedung Halang, dan Sukaresmi.
Tak sekedar berkumpul tanpa hasil. Dengan penuh semangat mereka mengotori tangan, kaki, dan baju mereka karena tumpukan sampah Ciliwung perlu dibersihkan. Sampah plastik, besi, karet, kaca, dan kain yang sebagian besar menyebarkan aroma busuk tak menghambat warga untuk membersihkannya. Wajah mereka lelah, sebagian lagi tampak menyeringai mencoba menghindari sergapan uap busuk sampah itu. Mereka kotor, mereka juga basah kuyup karena air sungai bercampur lumpur.
Tak hanya warga yg turut serta dalam hiruk-pikuk keaktifan dan kepedulian akan sampah Ciliwung. Hari itu hampir di tiap kelurahan didukung langsung dengan kehadiran para lurahnya. Pada beberapa kelurahan bahkan peserta mulung dibantu oleh para ketua RW, ketua RT, LPM, MUI, Babinsa, Babinkamtibmas, karang taruna, penggerak PKK, dan TAGANA. Pihak dinas LH, dinas kebersihan, Polmas, bahkan RRI Bogor pun turut membantu acara kompetisi ini dengan menurunkan sejumlah stafnya.
Lalu ke mana para laskar karung yang biasanya setiap Sabtu mulung sampah di Ciliwung? Apakah mereka sudah bosan mulung? Tidak kawan ... mereka masih ada koq. Kompetisi ini penyelenggara utamanya adalah teman2 laskar karung KPC. Para laskar karung bertugas jadi panitianya. Sehingga pada hari H kompetisi, KPC yang tadinya hanya terdiri atas para laskar karung, kini jadi lebih banyak anggotanya hingga ratusan orang dari 10 kelurahan yang ada di Bogor.
Maka hari Sabtu itu, sampah di sepanjang bantaran Ciliwung di Kota Bogor dibersihkan oleh ratusan warga Bogor. Dibersihkan selama 3 jam sejak pukul 08.00 hingga 11.00. Usai acara, semua peserta dan panitia tampak lelah. Mereka pun beranjak meninggalkan lokasi dengan lega dan puas. Kompetisi telah berakhir. Tinggal menunggu saat2 diumumkannya kelurahan mana yg akan jadi pemenangnya. Dan Ciliwung pun menjadi sedikit lebih bersih dibandingkan sebelumnya.
Beberapa jam setelah kompetisi ini seorang ibu penjual minuman di Lapangan Sempur berseru, ”Mas ... itu Ciliwung yang tadi jadi tempat mulung banjiiirr!”. Saya bergegas menuju ke tepian sungai dan mendapati air bah Ciliwung yang mengamuk menutupi tiga per empat tinggi tebing sungai. Kejadiannya begitu cepat. Syukurlah kompetisi ini telah berakhir hingga kekhawatiran akan bahaya air bah saat kompetisi pun sedikit berkurang.
"Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak"
Read more
Kompetisi Pemulungan Sampah antar Kelurahan di se-Kota Bogor Ke-2Sehubungan dengan Hari Sumpah Pemuda Ke-82, KPC akan menyelenggarakan Kompetisi Pemulungan Sampah antar Kelurahan di se-Kota Bogor Ke-2, yang merupakan sebuah acara tahunan untuk penggalangan kepeduliaan masyarakat Kota Bogor terhadap Sungai Ciliwung. Kompetisi pemulungan sampah di Sungai Ciliwung tahun 2010 mempunyai tema “Generasi Muda Peduli Ciliwung” harapannya generasi muda dapat menjadi “agen perubah” untuk mau peduli dan memperhatikan kebersihan lingkungn di Kota Bogor khususnya Sungai Ciliwung.
Sesuai perencanaan yang kami buat, kami berharap acara ini dapat terselenggara bersama masyarakat di 11 Kelurahan Kota Bogor. Kompetisi Pemulungan sampah ini akan memperebutkan piala (trophy) bergilir dari Walikota Bogor dan sejumlah hadiah menarik berupa uang tunai dari KPC. Diharapakan pula dengan terselenggaranya acara ini dapat menjadi langkah awal kepedulian aktif warga terutama generasi muda di 11 Kelurahan dalam mewujudkan kebersihan, keindahan, dan kelestarian Sungai Ciliwung.
Kegiatan ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Oktober 2010
Waktu : 08.00 – 12.00 Wib
Lokasi : 11 Kelurahan (1) Kelurahan Sindangsari, (2) Kelurahan Katulampa, (3) Bantar Kemang (4) Kelurahan Sukasari (Sukamulya), (5) Kelurahan Babakan Pasar (Pulo Geulis), (6) Kelurahan Baranangsiang (Jalan Riau), (7) Kelurahan Sempur (Lebak Kantin - Kampung Rambutan), (8) Kelurahan Bantarjati (Pasar Warung Jambu), (9) Kelurahan Kedung Badak (Perumahan Kedung Badak Baru), (10) Kelurahan Sukaresmi, dan (11) Kelurahan Kedung Halang (Pangkalan II).
Kegiatan Kompetisi Pemulungan Sampah Ciliwung Antar Kelurahan se-Kota Bogor ini merupakan upaya untuk menggalang dan mengajak warga Bogor untuk peduli terhadap kebersihan sungai Ciliwung dan sekitarnya. Mari kita jaga dan lestarikan Sungai Ciliwung untuk kehidupan saat ini dan masa depan.
Kontak:
1. Sandika Ariansyah: 081511852111 (
sandika.bogor@gmail.com)
2. Hapsoro: 081585719872 (
hapsoro@telapak.org)
Read more


Tjiliwoeng oh tjiliwoeng nasibmoe kini sungguh dahsyat ancaman moe sunguh nyata perbuatan moe memporak porandakan yang ada di bantaran moe setiap musim penghujan datang. Bukan desa bukan kota yang menjadi sasaran moe semua yang kau lalui yang kau ancam. Bukan hanja tjakarta yang menjadi amukan tjiliwoeng, kini mbogor pun seolah menjadi sasaran amukan tjiliwoeng tiap tahun nya. Tempoe doeloe memang sungai ini menjadi primadona akan mbanjir lima tahunan nya yang sangat dahsyat, tapi kini banjir lima tahunan itu telah berubah seiring dengan rusak nya Das tjiliwoeng yang kini banyak beralih fungsi. Tak segan – segan amarah nya kini mulai mengancam tiap kota yang di lalui nya. Termasuk kota Bogor, kota Bogor kini mulai ter usik oleh ancaman dan keganasan Banjir tjiliwoeng. Di tahun 2010 ini saja, tjiliwoeng menunjukan keganasan nya di kota Bogor. Di tahun 2010 ini kota Bogor tersapu Banjir tjiliwoeng sudah 2 kali banjir Besar. Kini tjiliwoeng bukan saja mengancam Jakarta melainkan kota – kota yang dilalui, sekarang mulai terancam akan tjiliwoeng. Kehebatan tjiliwoeng tersohor sampai ke manca Negara. Kehebatan tjiliwoeng bukan hanya terkenal akan banjir nya, melainkan sungai ini juga terkenal akan sungai yang di jadikan TPA ( alias sungai tempat sampah) oleh masyarakat bantaran nya. Kurang nya keperdulian masyarakat akan sungai seolah menjadi tradisi, bahkan masyarakat tak mengubris ajakan yang datang untuk memperbaikin sungai nya. Selamatkan Tjiliwoenkoe? selamatkan saudarakoe yang tinggal di bantaran tjiliwoeng? untuk menjawab pertayaan ini mari kita selamatkan tjiliwoeng kita bersama Komunitas Peduli Tjiliwoeng yang ada di sekitar anda.
Read more
SELAMAT LEBARAN, MOHON MAAF LAHIR BATIN
Kegiatan Mulung Minggu Ini Libur Dahulu, Mengikuti Libur Lebaran Hingga Dapat Dimulai Lagi Pada Hari Sabtu, Tanggal 25/September 2010. Semoga setelah Hati dan Pikiran serta Perbuatan Bersih Kembali di Hari Kemenangan, sungai Ciliwung - pun dapat Bersih dan Sehat seperti yang Kita Impikan Bersama
Read more
Bagi orang Bogor, istilah "ngabuburit" mungkin terdengar sangat akrab. Ini adalah istilah dalam bahasa Sunda yang artinya menghabiskan waktu sebelum saatnya berbuka puasa. Ada banyak cara yang dilakukan, ada yang jalan2 sore putar2 kota, ada yang duduk2 santai sambil berbincang ringan, ada yang menghadiri acara pengajian di mesjid2 atau majlis ta'lim, dsb. Begitu akrabnya istilah ini hingga terkadang juga diplesetkan menjadi ... menunggu saat buka puasa sambil minum kopi dan merokok. Plesetan bentuk lain juga ada, walau terasa jadi guyonan hambar seperti "ngabuburit = ngabubur beurit" alias menyantap bubur daging tikus ... hehehe.
Sejak setahun lalu, sekelompok warga Bogor penghobi kegiatan memulung sampah di Ciliwung telah memulai sebuah cara baru mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka. Bukan dengan berbincang2, bukan sambil menikmati makanan kecil, bukan juga mendengar ceramah. Caranya sangat sederhana, yakni dengan melakukan aktivitas memungut sampah2 anorganik (mulung) di Sungai Ciliwung. Bagi yang belum pernah melakukannya pastilah yang terbayang adalah suasana yang sangat tidak nyaman dan menguras tenaga. Namun kenyataannya tentu tidak seburuk yang dibayangkan. Kelompok warga Bogor yang menamakan dirinya sebagai Laskar Karung KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini menganggap bahwa ngabuburit di Ciliwung adalah kegiatan yang asyik.
"Kalau tidak percaya, coba saja dulu," demikian komentar mereka sambil menambahkan sebuah pepatah "ala bisa karena biasa".
Hari Sabtu sore tanggal 14 Agustus 2010 lalu seakan menguatkan komentar para laskar karung tersebut. Sejak pukul 15.30 sudah ada seorang peserta yang hadir. Ia adalah warga Sukasari yang tertarik ingin ikut serta mulung. Ia duduk di atas sebuah batu kali besar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Saya sudah di bawah jembatan Jalak Harupat, di mana mulungnya Mas?" demikian SMS yang ia kirimkan kepada para laskar karung KPC. Beberapa menit kemudian para laskar itu pun berdatangan satu per satu dan bergabung dengannya di bawah Jembatan Jalak Harupat, Sempur.
Spanduk besar bertuliskan "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" segera dibuka lebar sebagai penandaaksi mulung mingguan ini. Beberapa detik kemudian 10 orang sudah aktif memungut sampah anorganik dan memasukkannya dalam karung2 plastik. Semuanya berjalan dengan otomatis. Tidak ada yang mengeluh, semua melakukan kegiatan ini dengan gembira, walau tanpa adanya seteguk air minum atau segigit makanan ringan apa pun karena sedang berpuasa. Menit2 selanjutnya, para laskar karung pun bertambah jumlahnya. Hampir 20 orang yang kemudian sibuk memungut sampah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa saat berbuka sudah semakin dekat. Kondisi alam pun seakan turut memberi tanda agar para laskar karung segera menghentikan kegiatannya. Hujan gerimis mulai mengguyur para laskar karung. Dan akhirnya aksi mulung ini pun berhenti. Waktu tersisa beberapa menit sebelum saat berbuka pun dimanfaatkan untuk berkemas dan mulai mencari makanan dan minuman pembuka.
"Allahuma lakasumtu wa bika aamantu ... dst" pun terucap di hati masing2 laskar karung, saat terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid terdekat di Lebak Kantin dan Sempur. Selesai lah sudah sebuah kegiatan ngabuburit di bawah jembatan. Alhamdulillaah ... it's a lovely ngabuburit time under the bridge ...
Read more
Ramadhan sudah tiba, sudah saatnya para umat Islam menjalankan kewajibannya untuk berpuasa dan menambah amal ibadahnya. Sebab bulan ini adalah bulan yang penuh berkah.
Bagi para laskar karung, ramadhan adalah bulan dimana kegiatan mulung terasa agak berbeda. Bukan ... kegiatan mulung bukan dihentikan. Sayang rasanya kalau kegiatan mulung ini harus terhenti hanya karena puasa ramadhan. Kondisi fisik memang melemah, tapi tak berarti kita tidak mampu membersihkan Ciliwung. Perut memang lapar dan tenggorokan juga kering. Tapi hal itu semestinya tidak dijadikan alasan untuk menghindar dari tumpukan sampah di Ciliwung. Bedanya ada pada waktu mulungnya. Jika pada hari2 biasa mulung dilakukan pagi hari, maka pada bulan puasa ini mulung dilakukan sore hari, selepas waktu Ashar. Aksi mulung kemudian diakhiri saat menjelang berbuka puasa atau menjelang waktu Maghrib.
Dalam bulan puasa tahun ini, diperkirakan kita akan memiliki sekitar 4 kali aktivitas mulung. Dari hasil urun-rembug sesama laskar karung dan konsultasi dengan Mbah Tjiliwoeng, maka aksi mulung ini akan dipusatkan di 4 titik di Kelurahan Sempur saja. Alasan utamanya karena kemudahan akses menuju lokasi. Berikut adalah lokasi dan tanggal aksi mulung selama bulan puasa tahun ini:
SEMPUR (JEMBATAN JALAK HARUPAT), Sabtu, 14 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK KANTIN), Sabtu, 21 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN KAMPUNG RAMBUTAN), Sabtu, 28 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK PILAR) Sabtu, 4 September 2010
Aksi mulung ini bisa juga dianggap sebagai kegiatan "ngabuburit", sebuah budaya di Bogor untuk menunggu datangnya saat berbuka puasa. Ngabuburit kali ini bukan sambil jalan2 sore dan beli makanan utk buka puasa, tapi ngabuburitnya di Sungai Ciliwung sambil membersihkan sampah2 yang menumpuk di sana.
Jadi ... jangan lupa diingat2 lokasi2 mulung di atas, dan waktunya adalah pukul 15.30 - menjelang buka puasa (Maghrib)!!
Selamat berpuasa ... dan selamat membersihkan Ciliwung, semoga berkah ... amiiin!!!
terima kasih buat Oom Aleco buat editnya, dan buat Oom Ejhon utk sumber fotonya.
Read more
Setelah hampir sebulan tidak ada kabar di blog ini, Mbah Tjiliwoeng banyak dapat pertanyaan dari para pecinta dan pemerhati Ciliwung. Apa sebab? Ada apa gerangan? Apa sudah tidak ada lagi yang mau mulung membersihkan sampah di sana? dst dst ... Mbah Tjiliwoeng terus terang agak keteteran menjawab pertanyaan bertubi-tubi dan datang silih berganti ini. Akhirnya memang Mbah Tjiliwoeng memilih diam karena sebelum sempat menjawab sudah datang lagi pertanyaan selanjutnya. Inti pertanyaan itu semua sama. Mana nih kabarnya?
Naah ... karena kebetulan sudah agak longgar, maka Mbah Tjiliwoeng coba mau jawab. Jawabannya sebenarnya gampang saja. Tidak koq masih ada para laskar karung itu. Mereka masih rajin datang tiap Sabtu untuk mulung. Jadi otomatis kegiatan mulung tiap Sabtu masih ada. Kalo gak percaya coba saja hadir dalam kegiatan mulung Sabtu ini ....
Harinya: tetap hari Sabtu, tanggal 24 Juli 2010.
Lokasinya: Pulogeulis, di bawah Jembatan Pemuda, sisi sungai sebelah kiri (jika kita menghadap ke hulu).
Kumpulnya: jam 07.30, eks-Kantor Depag ujung Jembatan Pemuda, Jalan Riau-Bangka, Kelurahan Baranangsiang, Bogor.
Dijamin bagi para laskar karung tidak akan tersesat untuk mencapai lokasi itu.
Jadi ... usahakan terus untuk bisa datang yaa ... bantu2 Mbah Tjiliwoeng untuk membersihkan sampah kotor yang masih saja datang bertubi2 ini.
gambar asli di atas diunduh dari
laman ini.
Read more
Kampanye Lingkungan Jawa Barat 2010
Sejalan dengan tema kegiatan Baladkuring 2010 "Selamatkan Sungai dan Daerah Aliran Sungai", Baladkuring mengajak Balad sekalian untuk berpartisipasi dalam kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung yang akan diselenggarakan di Kabupaten Bogor pada tanggal 29 Juni 2010 mendatang. Selain membersihkan sungai dari sampah anorganik, akan diadakan berbagai kegiatan lain untuk mengedukasi masyarakat sekitar, di antaranya pengenalan kegiatan Bio-Monitoring, Deklarasi Forum Lingkungan Bogor, dan pemberian penghargaan bagi penggiat lingkungan di Jawa Barat. Tak lupa, akan ada juga kegiatan hiburan.
Acara ini kami selenggarakan dengan menggandeng beberapa komunitas lingkungan di Bogor, di antaranya: Komunitas Peduli Ciliwung, Rimbauan Muda Indonesia, Green Earth, Printing Community, Tree Grower Community, dan Lawalata IPB. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Pemkab Bogor, dan Dinas terkait.
Mari sukseskan acara ini, untuk sungai yang lebih baik di Jawa Barat! :)
Salam BK.
Read more
TRIBUNNEWS.COM, LONDON -- Petugas pemungut sampah di Inggris kini memakai BlackBerry. Biffa, perusahaan pengumpul sampah di negeri itu telah memberikan 1.500 Blackberry buat petugas sampah. "Ponsel ini diberikan agar mereka dapat bekerja denan cepat," kata Vicky Panayioutu, humas Biffa.
Pemungut sampah ini memakai rugged BlackBerry yang khusus dipakai oleh orang yang bertugas di lapangan.
Lewat BlackBerry ini para petugas ini mengambil data sampah pelangggan, melakukan download peta, serta berkomunikasi dengan pimpinan mereka.
Blackberry juga dipakai untuk mengabadikan tempat sampah yang muatannya terlau penuh serta mengontrol sampah basah dan kering.
"Kalau ada hal yang membahayakan keselamatan petugas, kami akan memotretnya."
Blackberry khusus ini bisa melacak lokasi truk sampah. "Dengan alat ini perusahaan kami mampu mengumpulkan sampah secara efisien," ujar sang humas. (Nova/Uda)
Read more
Berbondong masyarakat berasal dari empat kampung yaitu Kampung Munjul, Mekarwangi dan Lalamping, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal Bogor mendemo Kelurahan Kayumanis. Mereka ingin bertemu dengan beberapa pejabat kelurahan tersebut untuk berdialog, tetapi tidak menemukan pejabat yang mereka cari, sama sedianya setelah mereka berdemo di kantor Balaikota Bogor pada Senin 16/ Juni 2010.
Setelah beberapa waktu sebelumnya mendemo Balaikota Bogor pada pukul 10:00 WIb ratusan warga yang menggunakan beberapa kendaraan pick-up dan sepeda motor kemarin hingga pukul 12:00 setelah kecewa tidak dapat berdialog dengan sang Walikotanya. Kedatangan mereka ingin meminta pembantalan pembangunan TPS tersebut dengan membawa segel, yang sedianya diharapkan ditandatangani oleh walikota.Masyarakat yang rata-rata petani pada kawasan empat kampung yang akan dijadikan Tempat Pembuangan Sampah Sementara ini akan mengancaman kelangsungan hidup masyarakat. Ketika mendatangi kantor kelurahan Kayumanis untuk mendemo dan menjatuhkan Lurah, yang bersangkutan juga sedang tidak berada di kantornya.
Beberapa ibu resah yang ditemui disela-sela demonstrasi tuntutan dialog masyarakat dengan pejabat kelurahan. Seperti diungkap Tini dari Parakan Jaya yang merasah resah rencana pengelolalaan TPS tersebut akan dibangun didaerah lahan pemukiman dan pertanian warga dan merupakan kawasan cekungan sungai. Kehidupan masyarakat yang sebagian besar daerah tersebut bertani sayuran seperti bayam, pohon jati, hingga singkong merasa cemas. Masyarkat khawatir limbah tumpukan sampah akan mencemari mata air sungai ciangke dan sungai yang air nya masih mereka mamfaatkan untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sungai ciangke tersebut mengalir hingga perumahan mewah Billabong.
Keresahan juga dipicu oleh permainan beberapa biong tanah yang mengindikasikan pada penggelapan dana ganti rugi masyakat akan rencana pembangunan TPS tersebut. Besaran dana proyek pembangunan TPS tersebut sebesar 32 M. Menurut Kubil yang merupakan salah satu koordinator lapangan kegiatan tersebut, masyarakat telah dibohongi oleh biong atau cukong penjual tanah-tanah mereka. Beberapa lahan warga telah dijual, tetapi masyarakat tidak merasa diajak untuk duduk bersama dalam merembukan dalam proses projek pembangunan TPS ini. Mereka dinyatakan telah bersedia menjual lahan-lahan mereka. Pihak pejabat Kelurahan Kayumanis diminta untuk menjelaskan kepada masyarakat saat sehubungan tandatangan persetujuan pembangunan TPS tersebut yang dipalsu melalui makelaar-makelaar tanah untuk proyek TPS Kota Bogor tersebut.
Dengan bukti-bukti yang berada ditangan masyarakat, Dinas Tata Ruang Kota Bogor dan Bapeda Bogor, Pejabat Kecamatan Tanah Sareal dan Pemerintahan Kelurahan-kelurahan yang berada dikawasan rencana lokasi TPS tersebut hingga makelar tanah yang bermain dicurigai menjadi pelaku dibalik semua ini.
Kedepan TPA Galuga tidak diperpanjang kembali, kota Bogor harus mencari tempat pembuangan sampah kotanya yang berbau kolusi dan manipulatif dimasyarakat dan birokrat tersebut. TPA Galuga yang selama ini menjadi tempat pembuangan sampah Kota Bogor, dalam pengeloaannya telah menimbulkan korban tewas akibat beberapa saat yang lalu. Meskipun pernah Perencanaan Pembangunan kota yang akan membangun TPS yang rencananya 13 Hektar tersebut menggunakan badan sungai dan kawasan pemukiman tersebut telah menyalahi tata raung, karena tidak sesuai dengan prinsip keberimbangan.
Setelah gagal memperoleh Piala Adipura 5 Juli 2010 kemarin, dengan julukan yang pernah mengharumkan julukan "Bogor Kota Beriman" atau julukan Bogor Kota "Bersih, Indah dan Nyaman" semakin pudar saja nampaknya. Kota Bogor semakin dimusuhi masyarkatnya. Hal ini bertambah pilu mengingat kejadian ini didalam proses perayaan Hari Jadi Bogor yang ke 528 yang masih dipenuhi kegiatan Perayaan dibeberapa peringatan HJB di beberapa pusat Kota. (dari www.kotahujan.com)
Read more
Pembangunan Tajur Town Mall milik PT Graha Harmony Jaya atau PT.GHJ berlokasi di Jalan Tajur Nomor 158 Kelurahan Muarasari Kecamatan Bogor Selatan yang sempat dihentikan pada Februari 2008, karena melanggar beberapa Peraturan Daerah oleh pihak Pemerintah Kota Bogor ini dilanjutkan kembali.
Pihak kelurahan Muarasari Kecamatan Bogor Selatan mengatakan sejauh ini tidak mendapatkan informasi tentang keberadaan bangunan dan perijinan bangunan ini. Meskipun pihak kelurahan mengetahui bahwa keberadaan bangunan Tajur Town Mall tersebut menyalahi peraturan daerah, tetapi pihak kelurahan Muarasari Kecamatan Bogor Selatan tidak dapat berbuat banyak.
Seperti telah diketahui proses pembangunan Mall Tajur banyak dikecam dimasyarakat Bogor, baik dari anggota DPRD Kotamadya serta dari Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah/ P4W-IPB Bogor.
Berbagai pelanggaran menyertakan proses pembangunan mall ini, seperti Perwali No. 2 Tahun 2006 GSSB, Perda Kota Bogor No. 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Tahun 1999-2009. Lalu melanggar juga Perda Kota Bogor No. 7 Tahun 2006 tentang Bangunan dan Gedung. Serta Perwali No. 6 Tahun 2007 tentang Penertiban Bangunan Gedung. Ditambah Perda Provinsi Jabar No. 8 Tahun 2005 tentang Sempadan Sumber Daya Air.
Bangunan mall ini berdiri persis di sisi garis sepadan sungai Cibalok. Selain mall ini, disepanjang sungai Cibalok banyak bangunan yang menghadap jalan Raya Tajur dibangun bersisian dengan garis sepadan sungai. Hilangnya kawasan resapan sungai akibat bangunan komersil dan tempat hunian membuat laju hantaran air sungai semakin cepat menuju hulu. Kondisi tersebut semakin berpeluang membuat kawasan di hulu untuk cepat berpotensi banjir.
Aparat kelurahan Muarasari tidak bisa berbuat banyak setelah sempat menegur kepada beberapa pemilik bangunan terserbut atau melakukan sosialisasi peraturan daerah, tetapi mereka tidak pernah mau merespon baik. Menurut Oleh Ibrahim aparat Kelurahan Muarasari mereka, sebagai pihak kelurahan tidak di informasikan kembali bahwa proses pembangunan yang sempat dihentikan karena terjadi penyegelan oleh satpol PP pada Februari 2008 lalu.
Tidak terlihat papan penjelasan proyek pada lokasi di depan proyek Tajur Town Mall tersebut seperti pada umumnya. Masyarakat daerah berasumsi bahwa pembangunan yang menurut Nana, pedagang didepan bangunan Mall tersebut telah menelan enam orang korban jatuh ketika sedang bekerja tersebut dilanjutkan kembali. Nana menduga pemerintah kota telah memberikan ijin kembali proses pembangunan mall Tajur Town Mall dilanjutkan kembali. (sumber asli)
Read more

Begitulah ungkapan seorang kawan dari Jogja. Hasil pengamatannya di beberapa daerah kekeringan di seputaran Jawa Tengah dan DIY. Mereka menganggap bahwa kurang air sebagai bagian dari takdir.
Ah tidak usah di kawasan desa, di Jakarta saja yg menjadi ibu kota negeri ini, krisis air dianggap biasa saja. Kasus kekeringan air di beberapa daerah di Jakarta, saat pasokan bahan baku dari Waduk Jatiluhur ke Palyja menurun beberapa waktu lalu. Di desa. Kalau kurang air tinggal ngumpulin uang, beli satu tangki. Selesai.
Seorang kawan yang lain, dalam sebuah rapat menceritakan hal serupa. Saat
teteh yg bantuin di rumahnya terkena gatal-gatal akibat air sungai yg biasa mereka pakai mandi tercemar polusi buangan rumah tangga. Mungkin pada saat aliran besar, tidak jadi masalah. Saat kekeringan seperti sekarang ini, gatal-gatal menjadi ancaman.
Tidak ada yg perlu ditakuti dalam hidup di Indonesia ini. Semuanya mengalir begitu saja.
"It’s gonna be OK", kata orang Amrik. Sepenuhnya kita meresapi ungkapan sederhana dan mendalam ini. Dan kita memilih diam. Kalau memang air merupakan masalah, tentunya orang akan bereaksi. Berbuat sesuatu. Nyatanya khan tidak.
Salah kaprah memaknai takdir!
tulisan ini dibuat oleh Rita Mustikasari
gambar mandi sampah diambil dari sini
Read more
Sejarah akan sebuah tempat memang menarik untuk dipelajari. Beruntunglah kita jika tahu bagaimana cerita di balik nama sebuah tempat. Kebetulan di sekitar Bogor dan daerah-daerah lain di Jawa Barat, cukup mudah menjumpai nama-nama tempat yang mengandung arti. Umumnya artinya dikaitkan dengan sebuah kejadian ataupun sesuatu yang pernah ada (dahulu kala) di tempat tersebut.
Cibadak dan Kandang Badak adalah dua contoh tempat yang mengandung arti kesejarahan. Konon (mungkin saja memang betul), dahulu kala, di kedua tempat itu pernah dijumpai atau bahkan banyak dijumpai binatang yang kini populasinya terancam punah. Badak, Jawa (karena hidup di Jawa) atau bagi para ilmuwan dikenal dengan nama latin
Rhinoceros sondaicus. Kini binatang besar berkulit tebal ini hanya tersisa dalam jumlah sedikit di ujung barat Pulau Jawa (Ujung Kulon).
Tapi tunggu dulu ... nama yang mengandung kata "badak" ada juga lho di sekitar aliran Ciliwung di Bogor. Kedung Badak namanya. Tempat ini berada di bagian utara Kota Bogor. Tentu saja sekarang tidak akan dijumpai adanya populasi badak di sana. Yang ada di daerah itu sekarang adalah perumahan, pabrik-pabrik, jalan raya ... dan di bantaran sungainya ... jelas ada tumpukan sampah. Di sinilah para laskar karung akan kembali beraksi.
Read more

Suer. Malas sekali mau ikut mulung pagi ini. Mandi udah, milih baju siap kotor udah, sarapan udah, koran pagi kelar dibaca. Cuman tinggal berangkat aja. Bukan, bukan karena aku tidak mendukung sungai bersih. Berbagi mimpi dengan banyak orang yg mengidamkan air sungai ciliwung kembali bening; para pemancing bisa memuaskan hobi mendapat ikan-ikan besar; tidak ada sampah plastik mengambang tertahan batu; aku juga mau itu
Bener aja. Panas pagi ini terik menyengat. Keringat besar dan kecil mengucur di pelipis. Turun dari Angkot 08 di Air Mancur. Ada gang kecil setelah ruko martabak Air Mancur. Terus turun menyusuri gang kecil. Lebih lebar dan lebih terang karena ada jarak diantara setiap rumah, dibanding gang di Pulo Geulis. Aku ingat melewati gang dan Jembatan Lebak Pilar ini karena ada beberapa teman berumah di Sempur pinggiran Ciliwung. Yg tidak kutahu adalah Bendungan Cibagoloh. Disebelah mana didaerah Sempur ada sebuah bendungan? Apa pula fungsi bendungan di kawasan urban seperti ini. Masak irigasi sih.
‘Ari bendungan palih mana Neng’, tanyaku pada 3 orang gadis yg sedang bermain beberapa meter sebelum jembatan. (kalau bendungan ada di sebelah mana?). ‘Nggak tahu’ jawab seorang gadis kecil yg manis, sambil berlalu membiarkanku bingung sendiri. Aku terdiam, rasanya akrab dengan jawaban acuh seperti itu. Dari pengalaman mulung selama ini, di beberapa tempat sepanjang aliran sungai ini, entah perempuan, laki-laki, dewasa, anak-anak, kerap mengeluarkan nada respon seperti itu. Padahal aliran air sungai terletak beberapa meter saja dari rumah mereka tinggal.
Aku memilih gang kecil yg sepertinya tidak sering dilewati orang. Ada rumah tua yg lama tidak ditempati orang, kemudian sebuah kebun rumput tidak terurus di sebelahnya. Kuikuti selokan kecil buangan limbah rumah tangga yg terus menurun. Sampai akhirnya kulihat aliran sungai Ciliwung tepat di depanku.
Ada banyak kehidupan di sana. Beberapa orang laki-laki melakukan kegiatan pembersihan rumput di sekitar pancuran mata air. Beberapa orang sedang asik mancing. Beberapa meter dari pancuran, ada batu terjal curam aliran air sungai. Tadinya kupikir itulah bendungan yg kucari. Waktu aku menoleh ke sebelah kanan, barulah kusadari bahwa bendungan Cibagoloh terletak hanya beberapa meter saja ke arah hilir Jembatan Lebak Pilar.
‘Justru orang-orang malaslah yang bisa memecahkan masalah sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya’
Mungkin harus dibuat cara lain yg lebih cerdas agar orang-orang pinggiran sungai ini aware tentang kondisi sungainya. Mungkin ada baiknya menggunakan gaya berpikir ala Fred Gratzon. ‘Justru orang-orang malaslah yang bisa memecahkan masalah sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya’. Om Ales bilang, aku akan buat konser tunggal seperti Abah Iwan di ketinggian puncak Jayawijaya sana. Langsung nongkrong di pinggir sungai dengan petikan gitarku. Kikuk saran lain lagi buatku yg membandingkan antara mulung kotor-kotoran dengan membaca buku, ‘bawa aja bukunya dan nongkrong di pinggiran sungai’. Apapun, aku tidak menentang acara mulung dan bersih sungai. Hanya memikirkan cara lain yg ‘lebih malas’. He…
gambar di atas diunduh dari laman ini
Rita Mustikasari, 24 April 2010
Read more
Tahukah anda di mana Bendungan Cibagoloh berada?
Itu adalah nama sebuah bendungan kecil di aliran Sungai Ciliwung di Bogor. Letaknya di bagian hilir, ujung utara Kelurahan Sempur. Jadi kalau dari Lapangan Sempur, silakan jalan menyusur tepi sungai menuju hilirnya. Di sana akan dijumpai sebuah bendungan kecil ... itu lah Cibagoloh. Kalau dari sisi Jalan Sudirman, maka lokasinya berada tepat di bawah Air Mancur.
Jika sudah tahu lokasinya, ada apa di sana?
Selain air, sampah, ikan, dan pemukiman di tepiannya, ... para laskar karung KPC juga akan melakukan aktivitas mulung mingguannya di sana. Silakan lihat banner pengumuman di bawah ini ...

Read more
Kalau kata Tukul Arwana, mulung minggu lalu memang "luar biasa dan spektakuler". Betapa tidak, para laskar karung akhirnya bisa menghabiskan tumpukan styrofoam yang mengambang di sudut Ciliwung di daerah Lebak Kantin, Sempur. Dengan hanya bermodalkan kurang dari sepuluh orang laskar, 90% styrofoam langsung terangkat dalam waktu kurang dari 3 jam. Hasil pemulungan juga gila-gilaan. Semuanya berjumlah 36 buah karung plastik.
Sayangnya 10% tumpukan styrofoam sisanya tak mampu dibersihkan dari badan sungai. Alasan resiko keselamatan menghalangi niat utk membersihkannya. Jika melihat situasinya di lapangan, memang hal tersebut termasuk kategori sulit dilakukan. Tumpukan styrofoam yang tersisa berada di bibir tebing batu curam yg basah. Istilahnya ... orang gila aja takut jalan di situ ... hehehe.
Tapi, sebenarnya ada hal lain yg lebih spektakuler bagi para laskar karung KPC. Hal ini tentunya sangat membanggakan. Pemulungan kali ini terasa berbeda karena juga dihadiri oleh para pembesar (baca: pejabat atau pemimpin) dari 2 LSM terkenal di negeri ini. Apalagi kedua organisasi tersebut dikenal luas sebagai organisasi pembela lingkungan. Hmmm ... siapa saja sih mereka?
Mereka2 itu adalah Berry N. Furqan (Direktur Eksekutif Nasional WALHI), Mukri Friatna (Manajer Penguatan Kelembagaan Regional Sumatera), Christian "Bob" Purba (Wakil Presiden Perkumpulan Telapak), dan Rina Agustine (Ketua Badan Teritorial Telapak Jawa Bagian Barat). Saya sendiri, sebagai seorang laskar karung KPC tentu patut berbangga. Ternyata upaya para laskar karung ini didukung penuh oleh petinggi2 LSM lingkungan tingkat nasional.
Para petinggi itu pun tak segan2 mencelupkan tangan2 mereka ke dalam genangan air kotor yang penuh sampah di Ciliwung. Bau ... sudah pasti, capek ... apa lagi. Semua giat dan semua aktif bekerja keras layaknya pemulung sesungguhnya. Kalau anda tidak percaya ... silakan lihat foto2 yang saya abadikan saat mereka beraktivitas dan lelah diantara tumpukan karung di tepi sungai Ciliwung.
Read more
Minggu lalu, para laskar karung KPC disibukkan dengan bejibun sampah anorganik yang terkonsentrasi diantara 2 jembatan gantung yg menghubungkan Kampung Lebak Kantin dengan pemukiman asri Sempur. Dengan personil beberapa gelintir orang, laskar karung telah mengangkat puluhan karung sampah2 tsb. Bentuknya pun bermacam2, bahkan para laskar karung juga berhasil mengangkat sebuah sofa bekas dari permukaan air.
Aksi spektakuler tsb ternyata masih belum mampu membersihkan seluruh sampah di titik itu. Walau sebagian besar anakonda berhasil ditaklukkan, namun styrofoam belum juga habis. Sampah mengambang yang ringan, menghabiskan ruang (voluminus) dan sangat sulit terurai ini masih menguasai titik pemulungan tsb.
Maka ... mau tak mau para laskar karung memang harus kembali menyatroni titik tersebut. Perjuangan tak boleh berhenti. Styrofoam masih berkuasa di sana ....

Read more
Minggu lalu, secara tidak sengaja para laskar karung KPC melintasi kawasan rindang di Jalan Sempur Kaler sepulang aksi mulung. Betapa terkejutnya kami ternyata tumpukan sampah berbentuk anakonda dan sampah styrofoam mengambang masih saja menumpuk di bagian hilir Kampung Lebak Kantin. Lokasinya tepat berada di depan sebuah kantor LSM di Jl. Sempur Kaler.
Saat itu terbayang sebuah rencana ...
Sepertinya para laskar karung KPC masih harus berkutat melawan sampah sungai di seputaran Sempur. Warga yang tidak peduli dan masih saja ada yg buang sampah langsung ke sungai masih jadi tantangan.
Maka ... tak ada salahnya memang jika aksi mulung ke-52 ini dipusatkan di wilayah tepian Jl. Sempur Kaler, di seberang Kampung Lebak Kantin. Berikut pengumumannya mulung hari Sabtu ini (3 April 2010) ...

Read more
Minggu, 14 Maret 2010 berlokasi di Lapangan Lebak Kantin, Sempur Bogor, acara peringatan setahun Komunitas Peduli Ciliwung diadakan. Salah satu kegiatan dari rangkaian acara ini adalah lomba gambar anak-anak tingkat SD se-Bogor dengan tema lomba “Anak Bogor Cinta Sungai Ciliwung”. Perlombaan dibagi menjadi 2 kategori yaitu kategori umur 7-9 tahun dan 10-12 tahun. Sekitar 50 anak-anak dari berbagai sekolah dasar di Kota Bogor dan sekitarnya ikut ambil bagian dalam lomba ini. Sebagian dari peserta adalah anak-anak Lebak Kantin yang memang sangat akrab dengan Ciliwung.

Lomba ini diselerenggarakan dalam rangka menanamkan sikap mencintai lingkungan khususnya Sungai Ciliwung pada anak-anak. Dalam lomba ini diperebutkan 6 piala KPC masing-masing untuk juara 1,2,3 pada masing-masing kategori.
Dengan dipandu Kak Zoel , anak-anak menggambar kesan masing-masing terhadap Sungai Ciliwung. Dengan menggunakan krayon warna-warni anak-anak peserta lomba mulai menggambar di selembar karton putih ukuran A3. Selain menggambar Kak Zoel juga menerangkan pada anak-anak tentang pentingnya sungai untuk kehidupan manusia dan upaya untuk memeliharanya. Anak-anak terlihat antusias sekali mengikuti penjelasan dari Kak Zoel.
Setelah usai lomba anak-anak diajak berjalan dan melihat tepian Sungai Ciliwung dan mengikuti rangkaian kegiatan lain yaitu pentas seni. Meski siang itu sangat panas, namun rasa lelah tidak tampak di wajah anak-anak itu.
Lomba berlangsung selama 2 jam, sejak jam 9 sampai jam 11. Dalam waktu itu para peserta lomba berhasil membuat gambar-gambar Sungai Ciliwung yang ekspresif. Misalnya Vania, Siswi SDN Pengadilan 2 Bogor ini menggambar kondisi Ciliwung yang penuh dengan sampah dan bau, sehingga di dalam gambar itu terlihat orang yang memakai masker untuk membersihkan sungai. Gambar inilah yang mengantarkan Vania menjadi Juara 1 lomba gambar ini untuk kategori umur 7-9 tahun.
Pengumuman pemenang dilangsungkan pada pukul 2 siang menjelang sore. Sebelum akhirnya hujan deras mengguyur Kota Bogor dan lokasi kegiatan ini. Namun demikian rangkaian acara yang diselenggarakan tetap berlangsung dengan lancar.
Pengirim=
Nonet / Sudiyah Istichomah (nonette262@gmail.com)
Read more
Minggu, 28 Maret 2010
SMS kali ini tertulis berbeda dari sms yang biasa diterima tiap jum'at sore. isinya berbunyi: "Mohon Konfirmasi untuk keterlibatan anggota KPC dalam mulung bersama Rimpala di Cangkurawok"
Deket dari rumah tuh,
Walaupun mata mengantuk dan agak letih dari aktifitas siang, coba untuk membalas sms tersebut via Puji. Balasan sms-pun datang kembali. "untuk koordinasi, bisa ke Dinda 0857-1139-3741(Anggota Rimpala yang menjadi penanggung jawab "Mulung Perdana Rimpala").
Minggu, jam 7 pagi, sms balasan dari dinda datang. Setelah mempersiapkan diri, berangkatlah kami ke TKP. ditengah perjalanan tampak barisan mahasiswa menenteng "kantong plastik hitam ukuran 50kg".
"emangnya kuat ya kalo pake kantong plastik" tanyaku tenang. pertanyaan ini cuma dijawab dengan senyum.
Tak ketinggalan 4 orang pemulung cilik juga memeriahkan minggu pagi itu. Untuk perhelatan pertama, yang dapat melibatkan 30 mahasiswa, kita harus acungkan jempol untuk mereka.
Ternyata plastik tersebut kuat, tapi untuk menampung sampah yang ada di sisi atau tepi sungai. Plastik pertama sobek dengan sukses begitu di isi oleh anakonda cangkurawok.
"Ternyata menyenangkan ya melepaskan anakonda" kata Ilham, salah seorang anakonda yang rela berenang bersama seorang anak kecil warga sekitar.
"Itu sih karena sungai di kota lu udah pada tercemar aja, jadi lu pake kesempatan buat berenang" celetuk dinda
Mahasiswa ini berharap bahwa melalui kegiatan yang sama, juga muncul kesadaran dari penduduk sekitar untuk menjaga kelestarian sungai di sekitarnya. Yang jelas perjalanan baru saja dimulai, dukungan dari institusi (Fakultas Kehutanan dan IPB) sangat dibutuhkan oleh para pemulung muda ini.
Untuk sinergitas aktifitas, Rimpala juga berencana untuk terus ikut dalam kegiatan KPC ke depannya. Sebuah pembelajaran bagi kami, bahwa ternyata dari sesuatu yang kecil yang bisa kami lakukan bisa melakukan perubahan.
Sukses buat Teman2 Rimpala di Sungai Cikarawang.
Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more

Sejenak tercenung melihat riak Sungai Ciliwung yg tertahan batu-batu besar di bawah kolong Jembatan Jalak Harupat. Buih-buih putihnya terurai mengalir terbawa arus. Apa yg membedakan sungai ini dengan beberapa sungai yg baru kulihat di Pulau Bali beberapa hari lalu?
Hanya ada satu atau dua sungai besar yg mengalir di pulau itu. Selebihnya hanya kutemui beberapa sungai kecil yg berukuran pendek. Kebanyakan sungai ini kering, tidak ada air mengalir, hanya bebatuan yg terlihat kering terkena terik matahari. Hanya di bagian hulu sungai dimana mata air mengalir, terlihat ada aliran air.
Karakteristik pulau ini memang unik. Ada satu istilah yg mengungkapkan bahwa gunung dan pantai bisa ditemukan dalam satu kesempatan. Bukit-bukit yg terhampar membentuk sungai-sungai kecil yg jumlahnya puluhan dan mungkin ratusan.
Sang KPC 001 kembali memberi komando agar kita melanjutkan mulung tahap kedua. Aliran Sungai Ciliwung seperti ini adalah kondisi yg biasa kita temui pada setiap minggunya. Begitu juga jenis sampah yg kita pulung. Beberapa anakonda yg nyangkut di batu-batu dan di kaki jembatan berhasil kita angkut keluar sungai. Tentu saja tidak semuanya. Susah payah 5 orang laki-laki menggotong anakonda naik ke pinggiran sungai.
Hal sampah seperti ini juga yg membedakan dengan kondisi sungai di Bali. Beberapa sungai kecil yg kulihat mengalir di beberapa desa yg kulalui, tidak kutemukan sampah plastik bececeran. Apalagi jenis anakonda. Hanya bebatuan berwarna abu kecil dan besar. Tidak ada sampah plastik mengambang. Di beberapa sungai besar yg mengalir ada airnya, terlihat penambangan pasir dan tentu saja beberapa kelompok pemancing. Itu saja. Tentunya ini pengamatan singkat saja. Silakan jika ada yg mau melengkapi.
--
Rita Mustikasari
Perkumpulan Telapak
Gedung Alumni IPB
Jalan Pajajaran No 54 Bogor
Tel 62 251 393 245
ritamustikasari@telapak.org
www.telapak.org
Read more

Jurnal Bogor, 16 Maret 2010
Ahad mangkukna di sisi Ciliwung beulah Kulon, asa tara ti sasari, ramé ku tatabeuhan, jeung barudak anu milu kagiatan rupa-rupa pasanggiri. Saméméhna masarakat kalayan dikokojoan ku Komunitas Peduli Ciliwung mulungan runtah di wahangan Ciliwung. Numutkeun katerangan panitia, sakurangan 60 karung bisa dikumpulkeun ti Cilwung.
Aya reueus jeung éra parada basa milu ngariung dina acara milangkala ka hiji Komunitas Peduli Lingkungan (KPC) anu disungsuman ku acara “ngaruwat” Ciliwung. Reueusna pédah aya (loba?) kénéh anu boga rasa kamaliréan ka Ciliwung, érana mah (lain rék ngawiji-wiji jeung ngasaha-saha) pédah anu ngulemna téh, boh panitia atawa nu boga pokalna, ngaranna maké hurup “O”, kayaning Sutrisno, Kuncoro, Hapsoro jrrd. Sanajan dijerona aya ogé urang Sundana. Tapi ieu mah ungkaban rasa kareueus ka aranjeunna anu geus mikanyaah ka Ciliwung anu ceuk Mama Arief mah, mangrupa urat kahirupan Kota Bogor.
Teu salah lamun Kang Cécép Thoriq (kaasup kuring) ngungkabkeun jero haténa ku kecap rasa bungah, nalangsa jeung éra, lah pokona mah pagalo jadi hiji.
“Sakuduna mah anu boga pokal kawas kieu téh kuring atawa urang Bogor pituin, lain mas-mas. Tapi keun wé lah ieu jadi perhatian anu daria, pikeun kuring saparakanca, sangkan leuwih daria dina ngariksa jeung ngaraksa lingkungan sabudeureun,” pokna daria dina acara paguneman atawa diskusi kumaha nyalametkeun Ciliwung. Kang Cécép saparakanca anu nyungsuman acara ku rasa Sunda diantarana gendang penca sarta dipungkas ku Gola anu mintonkeun kasenian buhun Sunda. Gola nu geus lima taun ngalalana bari jeung teu dibaju (ukur calana komprang dipapaésan ku samping réréng), buukna digelung sarta dikuribeng ku lawon bodas geus lalayu sekar dina bubukana maké “jangjawokan’ Sunda.
Dina acara éta ogé dilaksanakeun “Ngaruwat Ciliwung”, tapi lain dina harti saujratna. Ngaruwat anu dilaksanakeun ku Mama Arief Hidayat ieu geus tangtu béda jeung ngaruwat sabenerna anu baheula remen dilaksanakeun ku para dalang. Malah jigana téh can nepi kana kecap dina harti sabenern, ngaruwat di dieu ukur mere pépéling ka jalma-jalma anu aya di dinya sangkan milu miara kabersihan Ciliwung dina wanda kidung bari dipirig ku kacapi suling, sabab salah sahiji wahangan anu mibanda sajarah tur geus aya ti babaheulana.
Saur salahsawios dalang kasepuhan Bogor, Ki Zakir Ismail ngaruwat téh nguatkeun caritaan atawa ngalaksanakeun jangji anu dicaritakeun.
“Misalna lamun lanceuk jeung adina maot, anu disebutkeun untang-anting, hég manéhna boga jangji lamun nepi dina waktuna disunatan rék diruwat dipangnanggapkeun golék,” saurna. Lian ti éta anu biasa diruwat téh nyaéta anu dina kaayaan Nunggak Pancuran nyéta budak awéwé anu saluhureun jeung sahandapeunana lalaki.
“Tah anu diruwatna téh budak awéwéna,” saurna deui. Ogé anu dina kaayaan Talaga Gantung, nyaéta budak lalaki anu lanceuk jeung adina awéwé. Umumna lalakon anu dipintonkeun dina ngaruwat ukur carita Batara Kala, teu meunang carita nu séjén.
Dina waktuna ngaruwat nyadiakeun parabotan imah (kaasup parabotan dapur) kayaning piring, bantal, kasur, boboko, aseupan jsbna sarta sagala bungbu-bungbuan kayaning tarasi, kembang jambé, jukut jurig kawilang “wajib” disadiakeun ambéh hasilna “sampurna”.
“Ari niatna mah salian ti ngalaksanakeun jangji ogé nguatkeun panuhun ka Nu Maha Agung, sangkan budak anu diruwat téh disalametkeun,” pokna daria.
Lamun sakabéh dalang di Bogor sok ngalalakonkeun Batara Kala mangsa keur ngaruwat, tétéla aya ogé dalang teu makékeun. Dalang kasepuhan anu kawilang pinunjul urang Tionghoa nyaéta jenatna Ki Dalang Toto Abdurahman mah lalakonna téh Kala Baka, dina carita Asép Sunandar Sunarya mah, buta héjo anu sok ngahakanan jalma.
Kabéhdieunakeun di wewengkon urang, budaya ngaruwat téh geus tara dipakékeun deui. Jigana mah saluyu jeung kaayaan jaman, atawa meureun dianggapna kurang praktis. Leungitna ngaruwat saentragan jeung kurang ditanggapna wayang golék dina hajatan.
Naha ieu kitu anu disebut ngindung ka waktu ngabapa ka jaman téh ? Wallahualam bissawab !
Ku: Dadang H. Padmadiredja
Sumber:
http://www.jurnalbogor.com/?p=88610
Read more
Jurnal Bogor, 15 March 2010
Bogor - Penggiat kesenian dan budayawan Bogor menggelar ruwatan Sungai Ciliwung di Lapangan Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Minggu (14/3) kemarin. Ini merupakan rangkaian hari jadi Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) sebagai simbolisasi pentingnya Sungai Ciliwung bagi kehidupan Masyarakat Kota Bogor. Menurut salah Budayawan Bogor, Mama Arief Hidayat yang mengikuti kegiatan ini, ruwatan bertujuan untuk mengingatkan kepada semua pihak agar terus menjaga kelestarian Sungai Ciliwung. “Ciliwung ini beda dengan sungai lainnya. Kalau yang lain, seperti Cipakancilan itu bisa dibilang merupakan sungai buatan. Kalau Ciliwung ini sudah ada sejak Zaman Pajajaran, dan bermanfaat bagi Masyarakat Kota Bogor,” jelas Mama Arif yang sempat membacakan rapalan pantun Pepeling pada saat ruwatan. Mama menambahkan, ruwatan juga dilakukan agar Sungai Ciliwung tidak ‘marah’ karena ulah masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan. “Ciliwung kalau ibaratnya manusia adalah urat nadinya. Kalau urat nadinya dirusak, maka akan berpengaruh kepada hal lainnya. Ciliwung kondisinya saat ini sudah mulai rusak karena banyaknya sampah. Ruwatan ini dibuat juga agar Ciliwung tidak ngamuk,” jelas dia. Selain Mama Arif, penggiat seni Kota Bogor Dadang Padmadireja serta seniman dari kota lain ikut meramaikan aksi ini. Sebab, selain Ruwatan Sungai Ciliwung, Tim dari KPC juga menggelar acara lainnya, mulai dari lomba menggambar anak-anak SD, pentas seni, dan mulung sampah atau memungut sampah di Sungai Ciliwung.
Peserta mulung sampah’ diarak dengan alat musik tradisonal hingga ke tepi bibir sungai Ciliwung dan membawa berbagai macam makanan tradisional dan tumpeng dalam nampan yang disantap bersama. Doa bersama juga dilakukan oleh peserta untuk memohon keselamatan dan ucapan rasa syukur karena Sungai Ciliwung telah memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat Kota Bogor selama ini.
Sementara itu, ratusan ton sampah anorganik yang ada di Sungai Ciliwung berhasil diangkat penggiat KPC dan masyarakat dalam satu tahun belakangan. Hal ini dikemukakan Koordinator Peringatan Setahun KPC, Sutrisno kepada Jurnal Bogor, Minggu (14/3).
Menurut pria yang akrab dipanggil Nono ini, selama satu tahun keberadaan KPC, anggota KPC bersama masyarakat sekitar aliran Sungai Ciliwung telah melakukan kegiatan ‘mulung sampah’ yang ada di Sungai Ciliwung sebanyak 49 kali.
“Biasanya kami lakukan kegiatan ini pada akhir pekan. Dan setiap kegiatan kami berhasil memungut sampah yang ada di Sungai Ciliwung minimal 15 karung. Satu karungnya bisa memuat sampah 20 hingga 50 kilogram,” jelas Nono disela-sela kegiatan peringatan 1 tahun KPC di Lapangan Lebak Kantin, Kelurahan Sempur Kecamatan Bogor Tengah.
Nono menambahkan, daerah yang telah dibersihkan antaralain daerah aliran Sungai Ciliwung sekitar Katulampa hingga Cilebut. “Kami selalu mengajak warga sekitar aliran sungai untuk melakukan aksi mulung sampah ini dengan harapan kedepannya mereka tidak akan membuang sampah ke sungai lagi,” harapnya.
Sementara itu, Koordinator KPC, Hapsoro mengatakan perlu ada kesungguhan dari semua pihak untuk melakukan upaya penyelamata Sungai Ciliwung. “Ciliwung milik kita semua. Warga dan pemerintah harus mulai bertindak dan mengambil peran masing-masing untuk melakuka penyelamatan,” jelas Hapsoro.
Ia menilai, saat ini Sungai Ciliwung telah dijadikan tempat sampah raksasa masyarakat Kota Bogor. Oleh sebab itu, ia menghimbau agar masyarakat bersama-sama dengan pemerintah mulai bertindak nyata seperti yang dilakukan KPC melalui kegiatan ‘mulung sampah’.
=Irma Maghfirany | Julvahmi (Jurnal Bogor)
Sumber:
http://www.jurnalbogor.com/?p=88376
Read more
Komunitas Peduli CiliwungSekretariat: Jl. Sempur Kaler No. 111 PAV, Bogor 16129,
Setahun Membersihkan Ciliwung, KPC Ajak Pemerintah dan Warga Bertindak Serius
Bogor, 14 Maret 2010 –
Hari ini, Komunitas Peduli Ciliwung menggelar sebuah acara di tepian Sungai Ciliwung. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati setahun aktivitas pembersihan sampah di Sungai Ciliwung dan sekaligus setahun usia komunitas ini. Berbagai kalangan warga dan seniman berkumpul bersama memeriahkan acara tersebut. Dalam acara ini Komunitas Peduli Ciliwung mengajak semua orang untuk lebih peduli pada kondisi Sungai Ciliwung.
Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah kumpulan warga yang sejak tahun 2009 melakukan serangkaian kegiatan penyelamatan Sungai Ciliwung di Bogor. Sejak berdirinya, secara sukarela para anggota KPC telah melakukan aktivitas bersih sungai dengan memungut sampah‐sampah anorganik dari Sungai Ciliwung setiap minggu.
Untuk menandai setahun upayanya melakukan penyelamatan Ciliwung, KPC menggelar acara Peringatan Setahun KPC di Bogor. Acara ini bertemakan “Menyatukan Gerak Langkah Warga untuk Ciliwung”. Dalam acara ini KPC juga mengajak berbagai kalangan masyarakat, terutama warga Bogor untuk hadir dan memeriahkannya. Acara dimulai dengan lomba menggambar dan mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor. Pada saat yang sama KPC mengajak para undangan dan warga Bogor untuk bersama‐sama melakukan pemungutan sampah anorganik di Sungai Ciliwung. Masih dalam rangkaian kegiatan ini, KPC juga mengundang para pemerhati dan pegiat Ciliwung untuk bertukar pikiran mencari solusi bersama penyelamatan Sungai Ciliwung dalam sebuah sarasehan. Para seniman muda dari Jakarta, Bogor, dan Bandung turut memeriahkan acara ini dengan menampilkan karya‐karya mereka. Selain itu para seniman sunda klasik dari Bogor juga turut mengisi acara dengan menampilkan musik kecapi suling dan gendang pencak.
“Kepedulian pada Sungai Ciliwung seharusnya menjadi kepedulian lintas usia, lintas budaya, agama dan profesi. Kami ingin mengajak semua orang untuk peduli. Itulah yang mendasari digelarnya acara ini“, tutur Nino (Sutrisno), Ketua Panitia Peringatan Setahun KPC.
Selama setahun ini, KPC telah melakukan 48 kali aksi mulung di Sungai Ciliwung di Bogor. Tumpukan sampah sungai Ciliwung di Bogor ternyata tidak kalah dengan di daerah hilirnya. Sungai Ciliwung telah menjadi tempat sampah raksasa sejak dari wilayah hulu dan tengahnya di Bogor. Aksi mulung KPC selama setahun telah membuktikan hal ini.
Namun demikian penanganan masalah ini seringkali dibayangkan sebagai upaya yang pelik dan tidak mudah. Hal ini telah menjadi hambatan psikologis bagi upaya penyelamatan sungai ini. Dibutuhkan adanya tindakan nyata yang jelas dari berbagai pihak. KPC telah memulainya dengan hanya 2‐3 jam setiap minggunya, setidaknya KPC telah berhasil mengumpulkan puluhan ribu karung sampah yang beratnya hampir setara dengan ratusan ton sampah anorganik dari Sungai Ciliwung.
“Ciliwung milik kita semua. Warga masyarakat harus mulai bertindak. Pemerintah pun harus mengambil perannya. Kondisi Ciliwung akan semakin buruk jika kita hanya tinggal diam dan menunggu!” pungkas Hapsoro, Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung.
CATATAN UNTUK EDITOR:
• Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Propinsi DKI Jakarta.
• Kegiatan Peringatan Setahun KPC diselenggarakan pada Hari Minggu, 14 Maret 2010, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WIB. Kegiatan dipusatkan di Lapangan Kampung Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kota Bogor. Kegiatan ini diisi dengan berbagai acara, yaitu 1) lomba menggambar/mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor, 2) aksi mulung sampah bersama di Sungai Ciliwung, 3) sarasehan para pemerhati Ciliwung, serta 4) pentas seni dan budaya.
• Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah komunitas warga yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung. Komunitas ini berbasis di Bogor. Informasi lebih detil tentang kegiatan komunitas ini dapat diperoleh di situs web www.tjiliwoeng.co.cc
Kontak
Sutrisno, Koordinator Peringatan Setahun KPC mobile phone: 0815 851 69977, e‐mail: djreinhart@gmail.com
Hapsoro, Koordinator KPC. mobile phone: 0815 857 19872, e‐mail: hapsoro@telapak.org
Unduh file selengkapnya di
https://docs.google.com/fileview?id=0B-5rpj5pNxPEOWU5MzhlM2YtNDRmYS00OTA5LWJkMGEtYjFmZTQ2ZDBmZTg2&hl=en
Read more

Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more

Ciliwung kini tak jauh berbeda dengan Ciliwung 5 sampai 15 tahun lalu. Air sungainya tetap saja keruh dan berbau. Setiap 4 atau 5 tahun sekali tetap saja terjadi luapan air yang luar biasa besar hingga merendam daerah‐daerah rendah yang berada di hilirnya. Tumpukan sampah masih saja mudah dijumpai di sana. Tak banyak juga upaya serius yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Kesadaran dan kepedulian warga biasanya hanya menjadi argumen pada setiap acara aksi bersih sungai namun tak pernah menjadi gerakan warga yang masif dan berkelanjutan. Sementara Pemerintah pun nampaknya enggan untuk berpeluh dan mengotori tangannya menata wilayah daerah aliran sungai dan bantarannya, serta membersihkan tumpukan sampahnya. Berbagai forum dan aturan perundangan telah digagas, namun tak satupun yang bisa dipastikan keberhasilan pelaksanaannya.
Nuansa kekacauan, kerusakan, dan ketidakpedulian di Ciliwung selalu terjadi di sepanjang alirannya. Tak hanya Jakarta yang mengalaminya, Bogor pun punya. Selama ini Bogor selalu dianggap sebagai sumber masalah bagi banjir di Jakarta. Tuduhan ini tampaknya cukup wajar jika dikaitkan dengan masalah sampah di Bogor. Pada tahun 2007 lalu, Kota Bogor pernah memperoleh predikat sebagai “kota terjorok” dibandingkan kota‐kota lain di Indonesia dengan ukuran yang sama.
Kenyataan‐kenyataan ini telah mendorong terbentuknya sebuah kelompok warga di Bogor untuk mewujudkan kepeduliannya pada Sungai Ciliwung. Kelompok yang pada akhirnya disebut Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) ini memilih aktivitas‐aktivitas sederhana dalam upayanya mengajak warga yang lain untuk lebih peduli. Salah satu pilihan utamanya adalah melakukan aksi memulung sampah‐sampah yang terserak di sepanjang Sungai Ciliwung.
KPC melakukan aksi mulung sampah pertamanya setahun yang lalu, pada tanggal 15 Maret 2009. Aksi ini lalu berlanjut menjadi aksi mingguan. Setiap minggu para laskar karung KPC pun melakukan aksinya sampai sekarang. Setidaknya lebih dari 45 kali kegiatan ini dilakukan. Tak hanya melakukan aksi mulung, KPC pun melakukan serangkaian kegiatan penyadaran publik dalam bentuk: 1) Pemutaran Video Keliling, 2) Panggung Musik Dangdut Keliling, 3) Kompetisi Mulung antar Kelurahan se‐Kota Bogor, dan 4) Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah dasar yang berada di sekitar Sungai Ciliwung. Di sela‐sela kegiatan tersebut, para anggota KPC juga melakukan serangkaian kegiatan penelitian sederhana tentang kualitas air, biota sungai, herpetofauna, dan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Keragaman jenis kegiatan ini dilandasi dengan sebuah kesadaran bersama untuk mewujudkan mimpi mengembalikan fungsi ekologis dan sosial Sungai Ciliwung bagi warga sekitarnya. Mimpi ini menggunakan slogan kampanye “Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak”.
Kini, usia KPC sudah setahun. Banyak hal yang telah dilakukan dan tentunya banyak pula pelajaran yang dapat dipetik dalam setahun perjalanan ini. Perjuangan KPC sebagai sebuah gerakan warga tentu saja belum selesai. Perubahan yang diinginkan masih belum tercapai sepenuhnya. Setelah setahun usianya, KPC merasa perlu menyelenggarakan sebuah acara peringatan yang sekaligus memberi arti pada upaya mengkampanyekan gerakan bersih lingkungan dan gerakan perbaikan fungsi ekologi dan sosial Sungai Ciliwung. Peringatan setahun usia KPC ini akan dikemas dalam sebuah acara dengan tema “Menyatukan Gerak dan Langkah Warga Untuk Ciliwung”.
Read more
Berikut ini adalah rangkaian acara dalam kegiatan ini:
- Pertemuan Pegiat Ciliwung. Bagian pertama acara ini akan diisi dengan pertemuan anggota KPC untuk membicarakan upaya‐upaya lanjutan yang perlu dilakukan di masa datang melalui KPC. Pertemuan ini juga sekaligus akan dipergunakan untuk meluncurkan sebuah buku fotonovela yang bercerita tentang perjalanan KPC selama 1 tahun pertama. Di bagian kedua, KPC juga akan mengundang perwakilan dari Pemerintah, wakil rakyat, pegiat lingkungan, dan pegiat Ciliwung lain di Jakarta dan Bogor untuk dapat berbagi pengalaman sekaligus mendiskusikan peluang kerjasama dalam upaya penyelamatan Sungai Ciliwung. Acara ini kemudian akan ditutup dengan kegiatan “mulung bareng” di Sungai Ciliwung.
- Ciliwung dalam Seni dan Budaya. Acara ini adalah sebuah acara pementasan seni dan budaya yang terkait dengan Bogor dan upaya penyelamatan Sungai Ciliwung. Dalam acara ini, KPC akan mengundang para seniman muda untuk mementaskan pertunjukan seni (instalasi seni, ar performancet, teater, ataupun sastra, dsb). Selain itu, KPC juga mengundang para seniman klasik Sunda di Bogor untuk mementaskan pertunjukan kecapi suling dan gendang pencak.
- Pameran dan Eksibisi. Acara ini akan diisi dengan pameran foto yang bertema “Ciliwung dalam Kamera” oleh para fotografer Bogor. Untuk penyelenggaraan pameran ini, KPC akan bekerjasama dengan Komunitas Fotografi Bogor (KFB). Selain pameran foto, KPC juga bekerjasama dengan para pegiat olahraga alam bebas (outdoor sport) untuk memperkenalkan olahraga air di aliran Sungai Ciliwung.
- Lomba Menggambar dan Mewarnai. Untuk menggalang kepedulian warga Bogor, terutama anakanak, KPC menyelenggarakan sebuah perlombaan menggambar dan mewarnai berdasarkan kelompok umur 7‐9 tahun dan kelompok umur 10‐12 tahun se‐Kota Bogor. Lomba ini akan memakai tema “Sampah Ciliwung”. KPC akan menyediakan hadiah menarik bagi pemenang lomba ini. Acara ini juga akan diisi dengan kursus singkat menggambar sungai oleh seorang pelatih gambar Kota Bogor. Peserta kursus adalah para peserta lomba gambar dan mewarnai.

Read more
Satukan Gerak Langkah Warga untuk Ciliwung
Lapangan Lebak Kantin (Sempur). 14 Maret 2010
Waktu |
Uraian Kegiatan |
Pengisi |
|---|
07.30 – 11.00 WIB |
Mulung Ciliwung Yuks |
|
08.30 – 11.00 WIB |
Lomba Melukis dan Mewarnai |
|
|
Ditepi ciliwung |
|
10.00 - 11.00 WIB |
Aksi Olahraga Air (Menggulung Ciliwung)* |
|
11.00 – 11.30 WIB |
Penyerahan secara simbolis sampah hasil mulung dari pegiat KPC ke PEMKOT |
|
11.00 - 12.00 WIB |
Pentas Budaya Bogor |
|
|
Gendang Pencak |
|
|
Kecapi Suling |
|
12.00 – 12.30 WIB |
ISHOMA (Persiapan Ririung) |
|
12.30 – 12.45 WIB |
Pembukaan Kegiatan Ririung Ciliwung |
MC |
12.45 – 13.00 WIB |
Pentas Seni Pembuka (1 penampil) |
|
13.00 – 13.15 WIB |
Pengumuman hasil pemenang lomba lukis dan mewarnai |
|
13.15 – 17.00 WIB |
Sarasehan dan Urun Rembug Menyelamatkan Ciliwung (RIRIOENG TJILIWOENG) |
|
|
|
|
Sesi 1 |
Wajah Ciliwung |
|
13.15 – 13.45 WIB |
Ciliwung dari masa ke masa |
|
|
narasumber: sepuh bogor |
|
|
Ciliwung dan masalahnya |
|
|
Narasumber: Akademisi |
|
13.45 – 14.15 WIB |
Diskusi dan Tanya Jawab |
|
|
|
|
Sesi 2 |
Upaya-upaya Penyelamatan Ciliwung |
|
14.15 - 15.00 WIB |
“Ciliwung Ruksak Rakyat Balangsak” |
|
Pembicara 1 |
Upaya penyelamatan hulu ciliwung |
|
|
Pembicara: Pegiat Hulu |
|
Pembicara 2 |
Upaya penyelamatan ciliwung tengah |
|
|
Pembicara: Pegiat Hulu |
|
Pembicara 3 |
Upaya penyelamatan hilir ciliwung |
|
|
Pembicara: JGM |
|
15.00 - 15.20 WIB |
Diskusi dan Tanya Jawab |
|
15.20 - 15.30 WIB |
Art Performance 2 (1 penampil) |
|
|
|
|
Sesi 3 |
Dukungan dan Peran Pemerintah dalam Penyelamatan Ciliwung |
Moderator |
15.30 - 16.00 WIB |
narasumber: Walikota Bogor dan DPRD |
Bob Purba |
16.00 - 16.30 WIB |
Diskusi dan Tanya Jawab |
|
16.45 - 17.00 WIB |
Penyerahan Hadiah dan Piala Lomba Melukis |
|
17.00 - 18.00 WIB |
Penutupan dan Pentas Seni (5 Penampil) |
MC |
Unduh file selengkapnya dalam bentuk pdf
disini
Read more