Rekan-rekan yang baik,
Kerusakan lingkungan, degradasi masalah sosial-ekonomi terus berlangsung. Dan telah banyak upaya yang kita lakukan untuk menanggulanginya, dari sentuhan pribadi hingga proyek milyaran rupiah yang dilakukan pendana besar. Apakah hal diatas masih terus berlanjut, ....
Silahkan gabung bersama kami untuk melihat dari beberapa jendela dunia peristiwa-peristiwa yang mungkin ada di sekitar kita.
South To South Film Festival 2010, KITA PEDULIhttp://www.stosfestival.orgSouth to South (StoS) Festival Ketiga - festival film lingkungan dua
tahunan, akan menggelar 23 Film Terpilih, pameran foto, bincang-bincang
dengan para pesohor, menikmati Musyik Asyik pada 22 - 24 Januari 2010 di
Goethe-Institut dan CCF Jakarta. Film-film dari Indonesia, Brazil, Peru,
Kanada, Inggris hingga Amerika Serikat ini akan mengajak anda peduli –
Kita Peduli, seperti tema Festival ini.
Kami mengundang Bapak/ibu/sdr menghadiri Pembukaan StoS Film Festival
2010, pada :
Hari/Tanggal: Jum'at, 22 Januari 2010
Jam : 18.00 WIB - selesai
Tempat : Goethe-Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta.
Agenda Acara :
18.00-19.00 : Ramah Tamah
19.00- 19.30: Pembukaan
Musik Pembuka : A.S.A.P. Orbit To Planet 99 – Rock-Lung
Sambutan Ketua Panitia
Sambutan Direktur Goethe Institut
Sambutan & Pembuka Acara : Bapak Gusti Hatta, Menteri Lingkungan
Hidup RI
20.30- Selesai : Pemutaran Film Pembuka : Anak-anak Lumpur & The Age of
Stupid
Kontak informasi : Luluk Uliyah 0815 9480 246
---------------
Sekretariat South to South (StoS) Film Festival 2010
Jl. Mampang Prapatan II/30 RT 04/RW 07 Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
Telp/Fax. 021-7941559
Email : stosfilmfestival@gmail.com
Website: www.stosfestival.org
Facebook: South to South Festival 2010
South to South Festival 2010 diselenggarakan oleh :
JATAM, WALHI, Gekko Studio, Ecosisters, KIARA, Sawit Watch, CSF,
Solidaritas Perempuan, SBIB, CCF Jakarta dan Goethe Institut
South to South Festival 2010 didukung oleh :
Consina, Inspirit, MPBI, HFI, FWI, Bali Fokus, GEF SGP Indonesia,
Yappika, Yayasan Kemala, ICEL,Satu Dunia,Komunitas Fotografi Bogor(KFB),
SKRAF, Michelin Records, IHI, PIKUL, BCI
Media partner :
Green Radio, Greeners Magazine, Majalah Forum, Radio Agri FM, VHR Media,
ElShinta TV, Flick Magazine, Change Magazine
Read more
Menampilkan berbagai atraksi kesenian dan budaya tradisional Sunda dan Tionghoa, meliputi musik angklung, tari jaipong, barongsai dan liong. Selain itu, beragam kuliner khas Sunda dan Tionghoa akan siap tersaji, pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai makanan yang bisa dinikmati sambil menonton pertunjukan.
Pertunjukan upacara/ritual adat, merupakan kolaborasi dua budaya ini mempunyai hubungan yang cukup erat, hal itu ditandai dengan adanya situs di Pulo Geulis. Karena, pada lokasi tersebut terdapat situs keramat Pasundan dari zaman Pakuan-Pajajaran berupa Kramat Embah Suryakantjana di belakang Wihara Mahabrahma yang masih dirawat baik orang-orang Sunda dan etnis Tionghoa. Selain kesenian tradisional, pagelaran musik modern dan theater akan turut mewarnai acara ini.
Read more
Panitia akan menyediakan ruang bagi pengunjung untuk menyampaikan ekspresi dalam berbagai macam bentuk. Salah satu media yang disediakan yaitu sebuah backdrop dengan nama ”Percikan Ciliwung” berlatar gambar sungai dan habitatnya dengan ukuran panjang 5 meter dan tinggi 1,5 meter dengan tema ”Sungai Impian”. Pengunjung yang hadir dapat menuliskan sebuah harapan dan keinginan mengenai Ciliwung. Media penulisan dibuat dari kertas yang dicetak dengan bentuk ikan, kepiting, udang dan lain sebagainya. Sehingga mengundang pengunjung untuk ikut berpartisipasi menentukan sikap dan prilaku dalam pengelolaan Ciliwung masa kini dan masa depan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan umpan balik, apakah pesan yang sampaikan mengena kepada publik.
Selain itu, panitia akan mengundang siswa-siswi sekolah dasar se-Kota Bogor untuk turut serta meramaikan acara ”Festival Ciliwung Bogor”, dengan mengikut lomba melukis dengan tema yang yang sama. Jumlah peserta lomba yang hadir paling banyak 30 orang. 3 terbaik hasil terbaik pilihan juri akan mendapatkan hadiah menarik dari panitia. Kegiatan ekspresi dan aksi publik juga dimeriahkan oleh Komunitas Menulis Bogor (KMB), mereka akan berkontribusi untuk mendokumentasikan proses kegiatan Festival Ciliwung Bogor kedalam sebuah tulisan,cerpen atau bentuk dokumentasi lainnya.
Selanjutnya, sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Ciliwung, panitia akan mengadakan penggalangan ”donasi” dalam bentuk penjualan merchandise ”Aksi Bersih Ciliwung.” Peserta yang hadir dapat mendaftarkan diri sebagai sukarelawan dalam aksi tersebut.
Read more
Menampilkan potret kondisi Ciliwung pada masa lalu dan masa kini. Panitia ingin menampilkan potret perjalanan Ciliwung dari masa ke masa, bagaimana kondisi dan perubahan yang terjadi. Foto yang akan di pamerkan merupakan gabungan antara foto zaman dahulu (1909) dan foto terbaru Ciliwung (2009). Harapannya, pameran foto ini dapat menjadi catatan sejarah mengenai “rekam jejak” perjalanan Ciliwung dalam bentuk “fotonovela” yang dapat memberikan kesan mendalam bagi publik.
Secara keseluruhan karya yang akan dipamerkan sebanyak 50 foto. Panitia akan mengundang fotografer pemula dan profesional untuk memamerkan karyanya. Foto-foto yang dipamerkan merupakan pilihan yang sudah diseleksi oleh juri dan panitia. 10 foto terbaik pilihan juri akan diperlombakan, hasilnya 3 foto terbaik berdasarkan pilihan langsung pengunjung (voting) akan mendapatkan hadiah menarik dari panitia penyelenggara. Untuk sosialisasi kegiatan pameran foto sebelum ”hari H” akan diadakan kegiatan pameran foto keliling (road show) dibeberapa tempat strategis dan ruang publik di Kota Bogor, kegiatan ini bekerjasama dengan Kampoeng Bogor.
Read more
Diskusi ini akan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang dan profesi, diantaranya:
a. Sesepuh Kota Bogor
b. Bpk. Hadi S. Arifin (Kepala Dept. Landscape IPB)
c. Muslich (Komunitas Peduli Ciliwung)
d. Marcella Hevila Sugi (Miss Indonesia Earth)
Harapannya, diskusi ini bisa menjadi milestone dalam upaya menggalang partisipasi publik untuk peduli dan tetap menjaga serta melestarikan keberadaan Ciliwung di masa depan.
Read more
Film yang akan ditayangkan yaitu
1.1 Teluk Jakarta Under Pressure
Film ini di produksi oleh Perkumpulan P4W IPB dan Telapak pada tahun 2006. Secara garis besar film ini menggambarkan kondisi Ciliwung yang mengalami degradasi akibat pembuangan sampah disepanjang bantaran Ciliwung sehingga berdampak luas sampai Teluk Jakarta. Fenomena ini terus terjadi dari waktu ke waktu akibat ulah segilintir orang yang tidak bertanggung jawab.
1.2 Potret Kondisi Ciliwung
Film ini di produksi oleh Gekko Studio. Secara garis besar film ini bercerita mengenai aktivitas masyarakat sekitar Ciliwung serta keberadaan bangunan disepanjang bantaran sungai yang mengarah kepada penurunan daya dukung lingkungan serta upaya nyata yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan memperbaiki kerusakan Ciliwung.
Selanjutnya, setelah pemutaran film akan dilakukan diskusi untuk mengajak publik mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi Ciliwung, apa saja yang menjadi permasalahan serta bagaimana upaya pencegahan dan perbaikan untuk menciptakan ”Ciliwung Bersih, Ciliwung Kita Bersama”.
Selain pemutaran film diatas, akan dibuat bioskop kecil yang akan memutar film lingkungan lainya, kegiatan ini bekerjasama dengan South to South Film Festival (StoS).
Read more
Ciliwung merupakan sungai yang membentang dengan panjang lebih dari 100 kilometer dan dibentuk dari penyatuan aliran puluhan sungai kecil di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), Jawa Barat. Ciliwung mengalir melalui wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok dan bermuara di Teluk Jakarta (Kompas, 18 Januari 2009). Orang-orang Belanda yang datang paling awal antara lain menulis, “Kota ini dibangun seperti kebanyakan kota-kota di Pulau Jawa. Sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota” (Hikayat Jakarta, 1988). Itulah Ciliwung pada awalnya.
”Dulu manusia memilih kawasan di sekitar Ciliwung untuk tempat tinggal dan mengembangkan budaya. Tingginya tingkat ketergantungan manusia terhadap sungai kala itu menyebabkan Ciliwung dihargai dan dijaga kelestariannya,” kata Dr. Restu Gunawan, staf Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Ciliwung saat ini telah beralih peran dari sumber kehidupan menjadi sumber masalah.
Dalam upaya membantu membantu mengatasi permasalahan yang terjadi, Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mencoba melakukan kegiatan turun langsung ke lokasi melalui kegiatan ”aksi bersih Ciliwung”. Aksi ini sudah berlangsung selama 7 (tujuh) minggu berturut-turut dan hasilnya cukup signifikan, hal ini ditandai dengan banyaknya animo masyarakat yang turun langsung pada saat aksi bersih dan diliput oleh banyak media massa. Peserta yang hadir berasal dari latar belakang yang beragam mulai dari, masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, akademisi, aktifis, pengusaha, komunitas, lsm, pekerja swasta, balai tanaman nasional, dsb. Kegiatan ini terus digalakan setiap minggu pagi di lokasi yang berbeda disekitar bantaran Ciliwung, untuk informasi kegiatan bisa dilihat di blog Ciliwung (http://www.tjiliwoeng.co.cc).
Upaya nyata yang dilakukan KPC tidak hanya melakukan aksi bersih, ada 3 (tiga) pilar kegiatan yang selama ini dilakukan, diantaranya melakukan
1)kajian ilmiah atau riset mengenai Ciliwung,
2) Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Dasar Kampung Rambutan-Kelurahan Sempur, dan
3) Festival Ciliwung Bogor.
Masing-masing kegiatan saling bersinergis dan saling mendukung untuk mewujudkan ”Ciliwung Impian”. Untuk mewujudkan sebuah harapan dan mendapatkan hasil yang optimal, maka kegiatan aksi harus ditopang dengan upaya penyadartahuan (public awarness) melalui kegiatan PLH dan pemutaran film (layar tancap) di pemukiman sekitar bantaran Ciliwung.
Untuk itu, dalam rangka memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke 527 sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH), Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) akan menyelenggarakan Festival Ciliwung Bogor (FCB) dengan tema ”Ciliwung Bersih, Ciliwung Kita Bersama”. Beragam kegiatan akan diselenggarakan untuk memeriahkan acara ini, sekaligus menampilkan pilar kegiatan KPC yang selama ini dilakukan. Selain itu, publik akan diajak menyelami bagaimana potret kondisi Ciliwung saat ini, apa saja yang menjadi permasalahan, dan peran apa saja yang bisa dilakukan dalam upaya perbaikan.
FCB bisa menjadi media pembelajaran bagi publik sehingga timbul itikad baik dari setiap individu untuk memperbaiki serta melestarikannya. Belum ada kata terlambat untuk berbuat sesuatu, dengan semangat kebersamaan mari kita galakan ”Ciliwung Bersih, Ciliwung Kita Bersama”.
Read more