(baca lebih malas ala Fred Gratzon)
Suer. Malas sekali mau ikut mulung pagi ini. Mandi udah, milih baju siap kotor udah, sarapan udah, koran pagi kelar dibaca. Cuman tinggal berangkat aja. Bukan, bukan karena aku tidak mendukung sungai bersih. Berbagi mimpi dengan banyak orang yg mengidamkan air sungai ciliwung kembali bening; para pemancing bisa memuaskan hobi mendapat ikan-ikan besar; tidak ada sampah plastik mengambang tertahan batu; aku juga mau itu
Bener aja. Panas pagi ini terik menyengat. Keringat besar dan kecil mengucur di pelipis. Turun dari Angkot 08 di Air Mancur. Ada gang kecil setelah ruko martabak Air Mancur. Terus turun menyusuri gang kecil. Lebih lebar dan lebih terang karena ada jarak diantara setiap rumah, dibanding gang di Pulo Geulis. Aku ingat melewati gang dan Jembatan Lebak Pilar ini karena ada beberapa teman berumah di Sempur pinggiran Ciliwung. Yg tidak kutahu adalah Bendungan Cibagoloh. Disebelah mana didaerah Sempur ada sebuah bendungan? Apa pula fungsi bendungan di kawasan urban seperti ini. Masak irigasi sih.
‘Ari bendungan palih mana Neng’, tanyaku pada 3 orang gadis yg sedang bermain beberapa meter sebelum jembatan. (kalau bendungan ada di sebelah mana?). ‘Nggak tahu’ jawab seorang gadis kecil yg manis, sambil berlalu membiarkanku bingung sendiri. Aku terdiam, rasanya akrab dengan jawaban acuh seperti itu. Dari pengalaman mulung selama ini, di beberapa tempat sepanjang aliran sungai ini, entah perempuan, laki-laki, dewasa, anak-anak, kerap mengeluarkan nada respon seperti itu. Padahal aliran air sungai terletak beberapa meter saja dari rumah mereka tinggal.
Aku memilih gang kecil yg sepertinya tidak sering dilewati orang. Ada rumah tua yg lama tidak ditempati orang, kemudian sebuah kebun rumput tidak terurus di sebelahnya. Kuikuti selokan kecil buangan limbah rumah tangga yg terus menurun. Sampai akhirnya kulihat aliran sungai Ciliwung tepat di depanku.
Ada banyak kehidupan di sana. Beberapa orang laki-laki melakukan kegiatan pembersihan rumput di sekitar pancuran mata air. Beberapa orang sedang asik mancing. Beberapa meter dari pancuran, ada batu terjal curam aliran air sungai. Tadinya kupikir itulah bendungan yg kucari. Waktu aku menoleh ke sebelah kanan, barulah kusadari bahwa bendungan Cibagoloh terletak hanya beberapa meter saja ke arah hilir Jembatan Lebak Pilar.
‘Justru orang-orang malaslah yang bisa memecahkan masalah sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya’
Mungkin harus dibuat cara lain yg lebih cerdas agar orang-orang pinggiran sungai ini aware tentang kondisi sungainya. Mungkin ada baiknya menggunakan gaya berpikir ala Fred Gratzon. ‘Justru orang-orang malaslah yang bisa memecahkan masalah sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya’. Om Ales bilang, aku akan buat konser tunggal seperti Abah Iwan di ketinggian puncak Jayawijaya sana. Langsung nongkrong di pinggir sungai dengan petikan gitarku. Kikuk saran lain lagi buatku yg membandingkan antara mulung kotor-kotoran dengan membaca buku, ‘bawa aja bukunya dan nongkrong di pinggiran sungai’. Apapun, aku tidak menentang acara mulung dan bersih sungai. Hanya memikirkan cara lain yg ‘lebih malas’. He…
gambar di atas diunduh dari laman ini
Rita Mustikasari, 24 April 2010
- 10:29 PM
- Fred Gratzon, Pemalas
- 5 comments