

Dimana peran dan posisi KPC dalam pencapain IWRM (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu)?
Membaca headline di kompas pagi ini sempat membuatku heran beberapa jenak. Kok kerja KPC cepat sekali bisa masuk Kompas Minggu? artikel lengkap klik selanjutnya ... Owh ternyata komunitas ciliwung bukit duri yg dimaksud. Kalau mereka memang pantas lah disebut organisasi yg bercirikan komunitas. Mereka memang tinggal di pinggiran sungai dan benar-benar merasakan dampak banjir atau menghirup nafas bau sungai ciliwung. Saya membandingkan dengan KPC yg isinya khan kebanyakan orang-orang pegiat lingkungan yg rumahnya di kompleks, jauh dari bencana dan hiruk-pikuk banjir ciliwung. Kebanyakan, sembilan puluh lima persen lah kita kan bukan pengguna air (water user) langsung. Iyalah kita menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, tapi beda khan sama petani yg nafkah hidupnya (livelihood) tergantung atas keberadaan air. Atau pabrik misalnya yg mengambil air sungai dan membuang limbahnya kembali ke sungai. Kelompok seperti KPC ini unik dan kita musti menemukan sendiri peran dan posisi apa yg pas di dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (IWRM).
Yg membuatku tetap semangat ber-KPC karena sekecil apapun itu, kita berusaha untuk membuat berita sendiri. Bukan hanya pembaca, penikmat atau pendistribusi kata-kata semata. Berbagai usaha dilakukan. Dari yg mulai menjijikan (minimal buat ku) seperti mulung sampah plastik diantara pemakai MCK di pagi hari, berbagai acara panggung keria-an dan lomba gambar saat ulang tahun, pembibitan dan penanaman, ngundang pejabat, sampai ke acara jalan nyusur kali. Jelas itu bukan pekerjaan peneliti semata yg hobinya catat-mencatat, bertanya-tanya interview dan FGD, mengambil poto dan gambar-gambar indah, membuat video, koment-koment di pacebuk ato twitter dan ujungnya membuat proposal dikirim ke donor. Wah capek deh. Berbagai kegiatan KPC memang khas datang dari inisiatif anggota komunitas ini.
Mulung sampah misalnya. Memang beneran ada pemulung yg sebagian hidupnya tergantung dari kegiatan memulung. Yg mimpinya memang memiliki alat pengolah sampah plastik atau punya kawasan pemilah sampah. Yg kalau nemu botol atau sendok nyangkut di anakonda bisa membuat senyumnya berkembang lebar. Ada juga orang yg hobinya ngumpulin ikan, keong, bangkong atau mahluk hidup sungai lainnya. Sejumput plastik bening untuk mengumpulkan berbagai jenis biota air, persediaan kalau nemu ekosistem yg berbeda, sudah pasti menyempil di ranselnya. Atau orang yg hobinya ngeker burung melalui teropong Svarosvski yg pasti tidak murah. Sebuah buku tebal, bible burung terselip di ranselnya.
Jalan nyusurin kali misalnya lain lagi ceritanya. Kalau kita bertanya ke petani, tukang sapu penjaga vila, tukang mulung sampah, mereka akan sangat antusias memberi jawaban. Terus aja jalan. 'Aya tah jalanna, terus we mipir'. Walau tidak selalu benar ada jalan setapak di pinggiran sungai, atau mungkin kita tidak tahu aja dimana ada tembok vila yg udah bolong yg bisa dilalui orang kampung penduduk situ. Kalau nanya sama satpam, tukang jualan minuman, atau mereka yg merasa hidupnya sudah jadi orang kota, akan didapat kerutan di dahi. 'Ini dari mana yah', tanyanya penuh curiga.
Mereka sudah lupa keindahan berjalan bebas tanpa batas. Tidak ketinggalan orang yg hobinya mengambil titik koordinat memastikan bahwa kita tidak tersesat. You never get lost! Wong semua titik pijakan di bumi ini punya titik koordinat yg beda kok dan bisa dengan mudah terlihat di layar GPS. Hobi yg mungkin paling banyak peminatnya yah pasti fotografi. Dari mulai kamera dan lensa puluhan juta atau hanya crat-cret kamera poket, yg penting tetap eksis.
Apapun itu, color your world! What is your color?
Read more
Bogor, 9 Oktober 2009
Tiga orang penggiat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Bukit Duri Jakarta, Kamis 17/09/ 2009 mengunjungi Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di daerah Kecamatan Sempur Bogor untuk bersilahturami dan bertukar pengalaman kegiatan seputar isu penyelamatan Sungai Ciliwung.
Menurut Ken salah satu penggiat Ciliwung Merdeka - Jakarta, kegiatan yang sangat sederhana tapi sengat menyentuh yang dilakukan oleh Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC) diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh buat komunitas dan LSM lain serta masyarakat luas untuk lebih peduli kepada sungai Ciliwung.
Komunitas Ciliwung Merdeka yang awal didirikan-nya untuk pendidikan masyarakat. Hingga 2009 ini Komunitas Ciliwung Merdeka mempunyai tiga program kegiatan yang sedang dilakukan yaitu pendidikan masyarakat; pengolahan sampah serta kesehatan.
Read more
Secara Integratif-Partisipatif Berbasis KomunitasMempertanyakan keberadaan sungai Tjiliwoeng (Ciliwung) mengarahkan kita semua untuk berpikir sejenak bagaimana kondisinya saat ini. Selama beberapa tahun berselang, sungai ini sepertinya hanya menyisakan kecemasan bagi penghuni di bantaran sungai dan sebagian warga ibukota Jakarta. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya kita semua mempunyai kewajiban untuk menelusuri segala bentuk permasalahan (
object matters) menyangkut DAS ini khususnya mengenai sumber-sumber ancaman (
hazard potency), yang mengakibatkan menurunnya fungsi ekologi dan rusaknya lingkungan DAS Tjiliwoeng seperti akibat tingginya sedimentasi dan sampah serta perubahan fungsi sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik dan industri. Padahal DAS ini seharusnya memberikan kemanfaatan yang berlebih. Sebaliknya DAS ini kini menjadi salah satu sumber ancaman utama bencana bagi warga ibukota. Oleh karena itu tidak berlebihan bilamana sungai ini dikatakan hanya menyisakan bencana di setiap tahunnya saat musim hujan tiba. Keasrian dan keelokan sungai ini berangsur-angsur menghilang. Sampah kini menjadi penghias bebatuan diantara jeram sungai Tjiliwoeng.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partipatif berbasis komuniti
Sementara itu, sejarah mencatat bahwa Tjiliwoeng memiliki sejarah panjang peradaban manusia yang mengusahakannya mulai dari manusia purba hingga manusia modern. Kehidupan manusia dulu sangat bergantung dari keberadaannya. Peran dan fungsi sungai ini seharusnya memberikan hikmah dan i’tibhar (baca: pelajaran) bagi kita semua untuk selalu mengupayakan kelestariannya. Proses interaksi alamiah, yang didorong tingginya nilai kemanfaatan, antara manusia dan alam menjadikan sungai ini sangat penting kala itu untuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan manusia dan sumber kelangsungan hidup manusia serta sebagai rumah bagi hidupan liar yang ada. Seyogyanya DAS ini memberikan kemasalahan hidup manusia secara luas, baik manusia sekarang maupun yang akan datang serta menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan (sustainability) masa depan makhluk hidup yang secara terus menerus memanfaatkan keberadaannya. Namun sayangnya, saat ini fungsi itu mulai perlahan-lahan terkikis yang kemungkinan sebagai akibat sikap oknum yang tak selaras dan tak mengindahkan kelestarian lingkungan DAS seperti tindakan membuang sampah secara serampangan ke badan sungai. Padahal sungai ini menjadi bagian hidup mereka sendiri- yang membangun sebuah kebudayaan tersendiri. Sayang sekali, kebudayaan itu juga tergeser oleh dinamika perkembangan jaman. Namun nilai-nilai budaya itu masih ada meskipun hanya dalam tutur lisan saja-yang sebagian besar masih tersimpan dalam memori sebagian penduduk kampung Pulo Geulis.
Kampung Pulo Geulis, sebuah perkampungan tua. Benteng terakhir rekam jejak interaksi antara manusia dan lingkungan Ciliwung yang tersisa. Perkampungan yang berada di selatan terminal Baranangsiang. Lokasi perkampungan ini tepat berada di atas sebuah delta yang terbentuk dalam badan sungai Ciliwung. Menurut beberapa informasi yang ada perkampungan ini memiliki sejarah panjang keterkaitan-interaksi (interaksianisme) dengan sungai Ciliwung. Keberadaan benda budaya (cultural artifact) berupa vihara Mahabrahma atau kelenteng Bio Pongkoh. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sebuah sistem religi-budaya yang berkembang antara penghuni-pemukim dan sungai Ciliwung sejak dahulu. Keberadaan sistem religi-budaya memungkinkan adanya sinergisitas dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan yang lestari yang bermuara pada praktek kearifan lokal (local wisdom) masyarakat yang mendiami kampung ini pada awalnya.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partisipatif berbasis komuniti sepertinya menjadikan permasalahan sungai ini tidak ada habisnya. Keberadaan modal sosial menjadi sangat penting untuk menjalin kebersamaan dalam pengelolaan khususnya dalam menjaga kebersihan sungai dari sampah. Minimnya informasi mengenai kondisi sosial budaya masyarakat, karakteristik masyarakat, dan modal sosial menjadikan proses pengelolaan hanya bertumpu pada pemerintah saja, padahal kesemua hal tersebut sangat berperan dalam menciptakan sebuah sistem dan struktur pengelolaan DAS Tjiliwoeng yang holistik dan integratif-partisipatif demi terciptanya sebuah sungai yang bersih, sejuk, elok, dan asri. Pulo Geulis perlu menjadi areal pilot project dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Karena Pulo Geulis adalah lokasi strategis untuk mengembalikan kembali keasrian-keelokan Tjiliwoeng dengan mengembalikan sistem budaya-religi yang sebelumnya pernah ada. Sistem budaya-religi mampu mengikat individu-individu dalam komunitas untuk bertindak dan bertingkah laku secara arif sesuai dengan kesepakatan yang ada. Dengan begitu sampah berangsur-angsur akan menghilang (berkurang) bilamana ada penghargaan pada lingkungan oleh kelompok penerima manfaat (beneficiary group) yang didukung oleh tata kelola lokal yang baik dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang mengatur antar individu-individu dalam komunitas masyarakat ini.
Penulis: Firin
Read more