Karena gak ada teman perjalanan dari Jakarta, saya memutuskan berangkat sendiri dengan kereta malam, dan menginap di kantor Telapak mengingat kegiatan susur Ciliwung dimulai dari pagi sekali yaitu Sabtu berangkat jam 5 pagi. Perjalanan saya mulai Jumat malam dari Jakarta dengan Kereta Api Stasiun Kota- Bogor yang berangkat jam 9 Malam.
Sampai di Stasiun Bogor jam 10 malam, saya langsung dipandu Mas Hari Kikuk
melalui telepon menuju kantor Telapak di Baranangsiang. Jam 4 pagi bangun, beres2 tunggu rombongan lengkap berjumlah 15 peserta terdiri dari teman2 Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Telapak, Kantor Berita Kotahujan.com, pengamat Burung Indonesia , jam 5:45 rombongan langsung meluncur ke Cagar Alam Telaga Warna Puncak Pass.
Perjalanan menuju Puncak lancar memakan waktu 1 jam sampai di Telaga Warna. Setelah mengumpulkan informasi dari petugas Telaga Warna dan pengamatan, pengambiran gambar. Cagar Alam Telaga Warna cukup bagus kondisi hutannya, dan mata air cukup banyak membentuk satu aliran kecil yang makin membesar. Penelusuran dipinpin oleh Mas Hapsoro Telapak dan Mas Hari Kikuk dibantu dengan alat GPS, mengingat aliran air sering buntu untuk dilalui karena sulitnya medan atau ketutupan rumah penduduk serta pagar beton Villa.
1 Km dari mata air Telaga Warna, aliran air masih melewati kebun teh hijau sebelah kiri dan hutan sebelah kanan, lepas dari itu, kita mulai temui pemukiman penduduk dan ladang sayur. Makin bergerak ke hilir makin banyak kita temui pemukiman padat penduduk layaknya kota Jakarta dengan gang2 sempit, di aliran melewati pemukiman sungai Ciliwung makin kami sering temui sampah rumah tangga berupa kantongan plastik, kemasan makanan STYROFOAM, bungkus plastik kemasan mie instan dan kemasan sabun. Perjalanan makin sulit ketika kami terbentur oleh tembok pagar Villa2 warga Jakarta, serta aliran yang tiba2 hilang ketutupan bagunan rumah penduduk, untuk lahan2 kosong bantaran sungai sekitar kampung banyak kami temui digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh penduduk setempat, tetapi juga oleh pemilik Villa mewah dan mereka sempat melarang kami mengambil gambar tumpukan sampah di bantaran sungai yg mereka pakai sebagai tempat pembuangan sampah. Mereka kaget kenapa kami bisa tiba2 muncul di area privasi mereka yg tertutup rapat oleh pagar beton. Hal ini sangat membuat kita miris, ternyata tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran lingkungan yg bersih dan sehat, hal ini tercermin dari pengelola villa yg saya yakin memiliki pendidikan dan tingkat ekonomi yg cukup mapan.
Perjalanan juga sambil dilakukan pengambilan sampel ikan dan biota sungai, juga pengamatan burung oleh teman dari Burung Indonesia dengan panduan buku dan teropong. Jam 1 siang kami keluar dari jalur sungai menuju jalanan puncak Cisarua untuk makan siang. Setelah selesai makan siang Team lgsg melanjutkan penelusuran lagi dari Desa Tugu Utara, dari sini aliran dikelilingi oleh pematang sawah, disini aliran cukup bersih dan jernih airnya disebabkan sekitar aliran adalah sawah bukan pemukiman , jadinya kami sempat berhenti istirahat menikmati sungai indah, sejuk dan bermain air dan mengambil kembali sampel ikan di titik kedua ini (Ciburial). Perjalanan berakhir jam 4 sore di daerah Cibeureum dan kembali ke kota Bogor.
Dari perjalanan ini, kami sayangkan banyaknya pembangunan Villa oleh warga Jakarta dan padatnya bangunan pemukiman penduduk di puncak (+/- 50 %hampir mengambil lahan hijau di daerah puncak) yang jelas merusak aliran sungai apalagi ketika diikuti dengan menjadikan bantaran sungai sebagai tempat sampah, kurangnya daerah hijau ini mengakibatkan gampangnya pengikisan lapisan tanah terbawa oleh hujan dan mengakibatkan pendangkalan sungai. Belum lagi pembangunan yg melanggar IMB dengan membuat bangunan di bantaran dan badan sungai.
Untuk penelusuran gambar silakan kunjungi laman Tjiliwoeng Dreams dan BIOTIFUL Sungai Jakartaku di facebook.
Read more
- 9:33 PM
-
cibeureum,
ciburial,
Ciliwung,
cisarua,
Jakarta GLUE,
Komunitas Peduli Ciliwung Bogor,
perjalanan,
puncak pass,
riset,
styrofoam,
Sudirman Asun,
susur,
susur sungai,
telaga warna,
villa
Sejarah akan sebuah tempat memang menarik untuk dipelajari. Beruntunglah kita jika tahu bagaimana cerita di balik nama sebuah tempat. Kebetulan di sekitar Bogor dan daerah-daerah lain di Jawa Barat, cukup mudah menjumpai nama-nama tempat yang mengandung arti. Umumnya artinya dikaitkan dengan sebuah kejadian ataupun sesuatu yang pernah ada (dahulu kala) di tempat tersebut.
Cibadak dan Kandang Badak adalah dua contoh tempat yang mengandung arti kesejarahan. Konon (mungkin saja memang betul), dahulu kala, di kedua tempat itu pernah dijumpai atau bahkan banyak dijumpai binatang yang kini populasinya terancam punah. Badak, Jawa (karena hidup di Jawa) atau bagi para ilmuwan dikenal dengan nama latin
Rhinoceros sondaicus. Kini binatang besar berkulit tebal ini hanya tersisa dalam jumlah sedikit di ujung barat Pulau Jawa (Ujung Kulon).
Tapi tunggu dulu ... nama yang mengandung kata "badak" ada juga lho di sekitar aliran Ciliwung di Bogor. Kedung Badak namanya. Tempat ini berada di bagian utara Kota Bogor. Tentu saja sekarang tidak akan dijumpai adanya populasi badak di sana. Yang ada di daerah itu sekarang adalah perumahan, pabrik-pabrik, jalan raya ... dan di bantaran sungainya ... jelas ada tumpukan sampah. Di sinilah para laskar karung akan kembali beraksi.
Read more
Tahukah anda di mana Bendungan Cibagoloh berada?
Itu adalah nama sebuah bendungan kecil di aliran Sungai Ciliwung di Bogor. Letaknya di bagian hilir, ujung utara Kelurahan Sempur. Jadi kalau dari Lapangan Sempur, silakan jalan menyusur tepi sungai menuju hilirnya. Di sana akan dijumpai sebuah bendungan kecil ... itu lah Cibagoloh. Kalau dari sisi Jalan Sudirman, maka lokasinya berada tepat di bawah Air Mancur.
Jika sudah tahu lokasinya, ada apa di sana?
Selain air, sampah, ikan, dan pemukiman di tepiannya, ... para laskar karung KPC juga akan melakukan aktivitas mulung mingguannya di sana. Silakan lihat banner pengumuman di bawah ini ...

Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more

Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more
Seekor burung raja udang terbang tergopoh2 mendatangiku pagi ini. Hampir saja ia terjungkal saat mendarat di ranting pohon Sempur di depan rumah.
"Kawan, tahu enggak, teman2ku di tepian Ciliwung sedang heboh sekarang!" katanya dengan nafas masih terengah2. Ahh paling2 para burung dan satwa itu heboh karena melihat porak-porandanya tepian Ciliwung karena air bah. Maklum sekarang kan hujan datang bertubi2 di kota ini. Hujan juga mengguyur tempat2 di hulu Ciliwung yang mulai botak tak berpohon. Namun ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Dengan mata berbinar si raja udang melanjutkan,
"Pasti kamu kira ini soal korban air bah yaa? Salah kawan ... teman2ku heboh karena mereka menyaksikan segerombolan orang2 yang memulung sampah di Ciliwung".
Wah wah waaah ... berita baru ini. Kenapa juga orang2 itu memungut sampah di sana. Apa mereka sudah gila? Bukankah Ciliwung sedang banjir? Kalaupun tidak banjir, bukankah sampah di sungai itu sudah biasa? Hampir semua orang di kota ini saja tidak ada yang peduli. Para pemimpin kota ini pun hanya pintar bercuap2 untuk meminta orang peduli padahal dirinya sendiri pun tak mau melakukannya. Kota ini memang menyimpan banyak sekali ahli dan pemikir. Namun rasanya tak ada satu pun yang berusaha mengerahkan kemampuannya untuk membuat bersih sungai.
Kabar sang burung itu jadi wajar. Wajar jika para satwa itu heboh. Heboh karena mereka melihat orang bodoh dan gila di Ciliwung. Sungguh kejadian yang langka. Terlebih hal tsb dilakukan setiap minggu, bahkan saat air Ciliwung sedang tinggi dan beresiko.
Cerita di atas adalah kabar burung. Jadi itu adalah cerita fiksi dan bukan cerita sesungguhnya. Mau tahu cerita sesungguhnya? Mari bergabung bersama Komunitas Peduli Ciliwung hari Sabtu ini .... Aksi mulung ini dilakukan karena seminggu sebelumnya (12 Februari 2010) wilayah itu dilanda air bah.

Read more
posting ini dituliskan oleh Rita MustikasariSetelah beberapa kali absen, baru pagi ini lagi ikutan mulung. Memutus
mata rantai kebiasaan memang tidak mudah. Segala sesuatunya memang
berdasar pada ‘kebiasaan’ yg kemudian membentuk satu ‘pola hidup’.
Kalau udah biasa mulung, rasanya tidak enak kalo absen terus-menerus.
Tapi kalau biasa absen, juga tidak enak untuk kembali memulai lagi
mulung. Ah ini hanya catatan kecil di satu Sabtu pagi, yg berisi
kerinduan untuk melihat bagaimana penggunaan barang publik terjadi di
negeri ini.

Surprise-surprise melihat ada sekelompok manusia yg ‘menempati’ kolong
Jembatan Sempur (Jl Jalak Harupat). Mereka membuat beberapa paku untuk
menggantungkan baju di sepanjang kolong jembatan. Ada sebuah cermin
berbingkai plastik berwarna emas mencolok diantara kekumuhan bebatuan
penyusun dinding kolong. Ada beberapa perempuan muda usia duduk-duduk
di pinggiran sungai. Beberapa laki-laki sudah berumur agak menjauh
dari kerumunan. Mereka bersigap mengawasi kehadiran kami yg asik
memulung sampah plastik. Beberapa pemancing asik masyik di pinggiran
sungai pinggir lapangan sempur, serius menunggui umpannya dimakan
ikan.
Kata Agung, itu kelompok gipsi. Walau aku menyangsikan melihat
tampilan mereka, utamanya 2 atau 3 orang perempuan yg cukup resik. Si
Teh Titi yg memang asli rumahnya di Lebak Kantin memberi informasi
lebih mengejutkan. Biasanya itu orang-orang nakal. Kalau malam tiba,
beberapa perempuan akan keluar ‘herang’ (mengkilap) dari kolong
jembatan itu. Memang lokasi yg murah untuk ‘begituan’. Sering juga
saat transaksi terjadi, digerebek sama Satpol PP. Tapi tetap aja balik
lagi ke situ. Seorang Bapak dari Lebak Kantin juga, yg baru bersiap
turun kali untuk mancing, tidak peduli dengan kehadiran kelompok gipsi
atau juga KPC. Tatap matanya menyelidik dan tidak banyak yg diucapkan.
Sepertinya dia baru pertama kali juga bertemua orang KPC dan sempat
sedikit tersipu sewaktu kita beritahu soal kemenangan kelompok Lebak
Kantin saat lomba mulung Piala Walikota.
Ada lebih daru 15 karung yg berhasil kami kumpulkan hari ini. Beberapa
kali poto narsis, lebih karena menyenangkan hati Jhonski yg sedang
bergiat dengan keahlian potografinya. Dan beberapa diskusi kecil;
ruwatan untuk Ultah KPC tgl 15 Maret, perubahan jenis aktivitas
setelah setahun penuh mulung, Rubi-Aan-Harun dan Anas dari kelompok
MSP, dan tentang Ajun dari Rangkas Bitung yg bantuin Teh Titi.
Mungkin memang benar, aktivitas mulung seperti ini bermanfaat lebih
untuk komunitas KPC saja. Sampah di kolong Jembatan Sempur masih tetap
banyak saja. Orang datang hilir mudik dengan kepentingannya sendiri.
Para pelajar berseragam pramuka melewati jembatan dengan gagahnya. Dan
air Sungai Ciliwung pun tetap coklat mengalir membawa sampah plastik
jauh sampai ke hilir sana. Bagaimana caranya memutus rantai kebiasaan
manusia Indonesia agar tidak membuang sampah ke sungai?
Read more
Pernah dengar nama Katulampa? Pernah dengar nama Tajur? Rasa-rasanya kedua tempat ini cukup terkenal dan sering disebut2 orang. Keduanya adalah nama tempat di Bogor yang letaknya berdekatan.
Setiap musim hujan tiba, maka Katulampa menjadi sering disebut-sebut. Katulampa adalah nama sebuah kampung di ujung tenggara Kota Bogor. Di kampung ini terdapat sebuah bendungan tua yang dibangun sejak di jaman penjajahan Belanda (1887) dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1911. Menurut sejarahnya, bendungan ini dibangun untuk mengatasi limpahan air sungai Ciliwung sehingga tidak membanjiri Jakarta. Kini, bendungan tersebut menjadi barometer (ukuran) bagi penentuan terjadinya banjir dari Ciliwung di wilayah Jakarta.
Tajur, adalah nama sebuah kampung yang letaknya berseberangan dengan kampung Katulampa. Kampung ini menjadi pintu masuk umumnya jika kita ingin ke bendungan Katulampa. Tak ada yang aneh memang. Namun ... tahukah teman2 bahwa lokasi penjualan "Tas Tajur" yang terkenal itu letaknya bukan di Tajur, namun di Katulampa. Kalau tidak salah namanya adalah SKI Tas Tajur. SKI itu sepertinya adalah nama perusahaan pembuat tasnya, yaitu Sumber Karya Indah. Alamatnya di Jl. Raya Katulampa No. 6 – Bogor, Telp. 0251.8353685. Bagi para penggemar wisata belanja, tempat tersebut tidak hanya menyediakan tas berbagai ukuran dan model, namun juga beragam makanan serta arena bermain anak2.
Katulampa dan Tajur memang tempat yang terkenal. Namun, apakah anda pernah tahu apa lagi yang bisa ditemukan di seputaran kedua daerah tersebut? Apakah anda pernah tahu apa yang terjadi pada sungai yang membelah kedua tempat tersebut?
Jika anda belum tahu, anda tak usah ragu ...
Komunitas Peduli Ciliwung dengan bangga siap menemani anda untuk mencari tahu hal2 lain tersebut. Caranya gampang ... datang saja ke tepian Sungai Ciliwung di seputaran tempat tersebut. Jika ingin lebih pasti, silakan langsung menuju tepian sungai di Perumahan Griya Katulampa, Bogor. Letaknya berada diantara lokasi SKI Tas Tajur Katulampa dan Bendungan Katulampa. Apa yang bisa anda lakukan di sana, silakan lihat pengumuman berikut ini ...
Read more
Bogor, 9 Oktober 2009
Tiga orang penggiat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Bukit Duri Jakarta, Kamis 17/09/ 2009 mengunjungi Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di daerah Kecamatan Sempur Bogor untuk bersilahturami dan bertukar pengalaman kegiatan seputar isu penyelamatan Sungai Ciliwung.
Menurut Ken salah satu penggiat Ciliwung Merdeka - Jakarta, kegiatan yang sangat sederhana tapi sengat menyentuh yang dilakukan oleh Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC) diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh buat komunitas dan LSM lain serta masyarakat luas untuk lebih peduli kepada sungai Ciliwung.
Komunitas Ciliwung Merdeka yang awal didirikan-nya untuk pendidikan masyarakat. Hingga 2009 ini Komunitas Ciliwung Merdeka mempunyai tiga program kegiatan yang sedang dilakukan yaitu pendidikan masyarakat; pengolahan sampah serta kesehatan.
Read more