Kalau dulu tjiliwoeng itu indah lain halnya dengan sekarang. tjiliwoeng bukan saja sungai yang buanyak di bicarakan oleh masyarakat Indonesia melainkan dunia pun mulai membicarakan nya . Ada apakah dengan tjiliwoeng?
Konon tjeritanya tjiliwoeng adalah sungai yang di jadikan jalur tranportasi pada masa Kerajaan Pakuan dan Padjadjaran. Dan pada masa itu pula kejernihan tjiliwoeng di akui oleh dunia, dimana pada masa itu air tjiliwoeng jernih bahkan bisa di minum secara langsung tampa di masak terlebih dahulu. Bahkan saking jernih nya tjiliwoeng ikan asli tjiliwoeng bisa kelihatan dengan jelas, bahkan apapun yang ada di dasar sungai bias kelihatan dengan jelas karna kejernihan tjiliwoeng.
Lain halnya dengan tjiliwoeng yang sekarang air nya tidak terlalu jernih karna pencemaran di mana dan tjiliwoeng sekarang di gunakan sebagai tempat buangan.yang mana keperdulian masyarakat akan sungai kurang dan pemerintah hanya bisa membisu tampa memikirkan sesuatu terhadap sumber daya air. Lalu apa yang akan di perbuat oleh komunitas- komunitas dan LSM dan para penerus bangsa ini nantikan kelanjutan nya di sebuah blok http://www.tjiliwoeng.co.cc/.
Kalo dulu Moes Jum hanya seorang pemancing amatiran sekarang sudah memiliki 5 kolam pemancingan serta satu perahu karet yang bisa digunakan serba guna, bisa jalan diatas tanah juga bisa jalan diatas air, kaya perahu karet yang digunakan oleh tentara amerika saat ngebom irak tahun 2000. Beliau juga sudah membuat asosiasi pemancing ikan bentutu dan seluang di indonesia dan saat ini beliau menjadi ketua paguyuban pemancing tradisional dengan menggunakan joran bambu.
Lain lagi dengan si Kikuk-kikuk, memang dari dulu suka memulung sekarang sudah menjadi ketua asosiasi pemulung indonesia atau disingkat juga dengan API. Kalo dulu bicaranya patah-patah dan susah ditangkap mana objek mana subjek, sekarang sudah menjadi pembicara di setiap seminar dan menjadi motivator kaya si Mario Teguh di Metro TV bagi para pemulung di tingkat internasional. Malah sudah ke timur tengah untuk memberikan materi tentang bagaimana menjadi pemulung yang sukses dan tahan banting. Karena banyaknya sisa-sisa perang di daerah timur tengah yang perlu di olah lagi menjadi barang yang siap pakai.
Sedangkan si botak Ruby, memang dari dulu senang dengan masalah ngelmu, sekarang sudah menjadi seorang ilmuwan terkenal, terkait dengan mikroba bawah air. Dan saat ini menjadi dosen terbang kemana-mana. Malah dalam satu penelitiannya sudah dimuat dalam jurnal ilmiah terbitan luar negri karena beliau telah menemukan obat terkait dengan flu babi. Ternyata obatnya adalah sering-sering melakukan terapi air selama 1 tahun disertai memakan udang kecil yang berada di sela-sela batu sungai ciliwung.
Lain lagi dengan Om Dwi L, sekarang sudah menjadi ahli IT yang terkenal, kaya si Roy Suryo, dan sekarang sudah banyak order dari acara gosip dan entertaimen untuk melihat photo-photo artis dan pejabat yang selingkuh, apakah rekayasa komputer atwa bukan. Dan beliau juga memiliki kios jual Pulsa, karena ini berhubungan dengan komunikasi abad 22.
Sedangkan Teteh Ucie udah menjadi salah satu maneger bank terkenal di jakarta, dan saat ini beliau tidak lagi pegang kencelngan tapi sudah pegang hape kemana2, tinggal pencet sudah tertransfer dari bang udin ke bang mamat..pokoknya canggih bangelah.
Yang agak seret nasibnya, adalah Kang Imam. Beliau hanya tetap sebagai pencari besi tua aja, dan hampir sama dengan nasibnya Bung Nino. Karena beliau ini suka bal-balan alias futsal, maka dengan teman2nya beliau memiliki usaha sewa menyewa alat bal-balan. Walaupun beliau pernah ditawari untuk melatih TimNas Irak, tapi berhubung suasana di irak tidak kondusif, beliau masih mikir-mikir.
Sedangkan Mbah Halim, sudah sukses menjalani ngelmunya dan sekarang beliau telah menjadi KunCen alias juru kunci Mbah Tjiliwoeng kaya Mbah Marijan dan tiap malam jumat selalu nyepi dan tirakat di tepi Tjiliwoeng. Dan sesekali beliau juga suka mencuci keris pusaknya, katanya sih buatan Empu Gondrong.
Malah ada kereta gantung yang nyebrangin orang dari kiri kanan sungai ciliwung, di mana-mana orang mandi dan berwisata di ciliwung. Dan sebuah even tingkat internasional mau diselenggarakan di sungai ciliwung, berupa berendam di ciliwung, siapa yang paling lama dia yang menjadi juaranya.
Selain itu juga sungai ciliwung airnya udah bisa diminum langsung tanpa diolah. Pokoknya kalo kita sedang jalan dan kehausan tinggal buka kran aja di tepi sungai ciliwung, yang warna putih itu air mineral, yang warna abu-abu itu air kopi, yang warna merah itu air cocacola (karena dulu pernah menjadi sponsor mulung diciliwung) dan warna orange itu air jus, semuanya dari air Tjiliwoeng. Pokoknya mimpi yang dulu hanya menjadi impian para pemulung ciliuwung sudah menjadi kenyataan.
Teng..teng..teng...tiang telpon di depan rumahku di pukul Bang Udin yang jaga malam, dengan sedikit membuka mata, aku melihat jam di dinding dalam kamarku. Olala..udah jam 4 pagi dan sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Dan setelah aku liat di samping kiriku, anakku masih tergolek nyenyak karena siangnya habis berenang. Yeah..ternyata aku bermimpi...memimpikan Tjilwioeng Dreams.. bermimpi boleh khan..????.
Ehmmmm, ada kawan2 jang tidak sempat datang ke Aksi Tjiliwoeng BerGojang kemarin, ... Tidak masalah, ...
Posting ini khoesoes kami persembahkan agar teman poen sahabat bisa melihat (gak boleh pegang) kita orang coba lebih dekat (lagi tentoenya) dengan masjarakat di pinggiran Soengai Tjiliwoeng. Pilih, klik, dan liat gojang-gajing jang paling disoeka.
Maoe lihat di lajar lebar joega bisa, di link ini tentoenya.
Kesehatan Mbah Tjiliwoeng “Jadi…, kondisi Mbah sekarang masih sama seperti kmarin-kmarin??? Memang ga ada perubahan Mbah??? Berarti cucu-cucu yang numpang hidup disisi kanan dan kiri Mbah, masih juga melempari tubuh renta Mbah dengan sampah-sampah???”, tanyaku heran dan geram. “Benar Cu, tapi ya…mau diapain lagi.., memang budaya mereka sudah begitu, sulit ‘tuk dirubah”, keluh Mbah Tjiliwoeng berusaha menahan segala beban di tubuhnya. “Sekarang, coba Cucu perhatikan tubuh Mbah ini, bukannya smakin bersih dari hari ke hari, malah spertinya smakin kotor saja!!!”, Mbah berusaha menunjukkan tumpukan-tumpukan sampah di tubuhnya. Pada akhirnya, aku pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja sembari berkata didalam hati, “memang benar “sulit” ‘tuk merubah budaya negatif…, tapi “sulit” itu bukan berarti hal yang mustahil kan Mbah???”, upayaku membesarkan hati dan tetap berusaha ‘tuk selalu melakukan yang terbaik.
“Lalu…, Mbah juga tadi mengeluhkan “batuk pilek” karena diguyur hujan deras 2 hari yang lalu (Jum’at, 1 Mei 2009) ya???”, tanyaku. “Memang benar Mbah, saat itu hujan memang deras sekali di Bogor”, lanjutku. “Sampai-sampai, Aku dan teman-temanku kesulitan ‘tuk menghadiri rapat Tim Riset karena kesulitan ‘tuk menuju lokasi rapat di sekret Lawalata IPB, Dramaga”. “Rapat yang dijadwalkan jam 19.00, akhirnya perlu kami “kalibrasi ulang” sampai +/- jam 20.30 tuk menunggu hujan reda”. “Untung saja Muslich Sang Koordinator Riset tetap semangat dan terus memotivasi kami ‘tuk tetap hadir pada rapat tersebut”. “Walaupun hanya dihadiri oleh kami berempat (Aku; Muslich; Annas; dan Aan), namun rapat masih dapat dikategorikan berjalan lancar, dengan agenda diskusi tentang “kondisi kesehatan” Mbah Tjiliwoeng di Pulo Geulis”.
Loh..., ini udah sampe Dramaga ya??? Kita balik ke Kebun Raya lagi yuk!!!"...hehe.
Arus deras, pohon tumbang, tumpukan sampah, bendungan, pagar pembatas, dan pepohonan lebat yang dikurungi pagar, itulah pemandangan bagian paling hilir Sungai Ciliwung di Kebun Raya Bogor. Setelah menaiki tembok-tembok beton bendungan, akhirnya kamipun kini harus rela kembali basah-basahan untuk turun dan menyebrangi sungai. Kami pegangi seluruh perlengkapan termasuk sandal, sepatu, tas, dan seluruh peralatan riset berusaha menjaga agar tidak kebasahan, turun perlahan, lalu berjalan memotong aliran sungai. Setelah kami berhasil menyebrangi sungai, tanpa membuang banyak waktu lagi, kamipun segera mempersiapkan semua peralatan yang meliputi: DO-meter; pH meter; tambang; tali rapia dengan botol aqua; tongkat ukur kedalaman; botol sampel; botol BOD; botol film; pinset; dan tak lupa Lembar Panduan Praktis Bioindikator Kualitas Air Sungai, yang kami fungsikan juga sebagai “alat penarik perhatian orang”...hehe, kayak "susuk" ya???
“Sebentar ya Mbah, kami coba periksa kondisi kesehatan Mbah dulu!!!”. “Coba buka mulutnya yang lebar Mbah...Aaaa…, tahan sebentar ya Mbah, kami coba ukur sekarang...!!!”. Tak lama berselang, akhirnya kondisi Mbah pada stasiun 1 pun berhasil kami ukur. “Ya, sudah selesai Mbah!!!, DO rata-rata Mbah 7,8; pH rata-rata 7,18; dan Suhu rata-rata 24,1 oC”. “Untuk lebar badan sungai 35,75 m; lebar sungai 20,9 m; kecepatan arus rata-rata 0,86 m/s; sedangkan kedalaman rata-rata sungai adalah 56,86 cm”.
“Sekarang, coba Mbah rebahkan badan supaya posisinya lebih rilek, kami mau coba ukur kondisi Mbah sedikit ke arah bagian kepala (stasiun 2)”. “Rilek dan tenang ya Mbah!!!”, kami berusaha mengarahkan. “Ya!!!, untuk bagian ini kondisi DO rata-rata Mbah 8,23; pH rata-rata 7,62; Suhu rata-rata 25,13oC; sedangkan untuk lebar badan sungai 38,36 m; lebar sungai 27 m; kecepatan arus rata-rata 0,75 m/s; dan kedalaman rata-rata sungai adalah 37,43 cm”.
Partner Kerja Tim Riset... Sebut saja Asep dan Hilman, itulah sapaan akrap mereka. Dua bocah laki-laki yang kuperkirakan berumur 10 dan 8 tahun ini, tiba-tiba menghampiriku saat aku sedang melakukan pengamatan terhadap bioindikator kualitas air. "Keur di ka-TV-keun lain eta teh?", Tanya Asep (untung abdi teh urang sunda oge, jadinya ngartos maksudna:)hehehehe). Maksud Asep tuh: "Untuk di ke-TV-kan (ditayangkan di TV) bukan itu tuh?". "Bukan Sep, ini cuma buat cari binatang-binatang kecil yang hidup di balik batu ini aja", penjelasanku sambil melihatkan beberapa contoh jenis binatang yang aku maksud pada Asep dan Hilman. Menurutku mungkin dari sinilah Aku dan Ubo bisa mengenalkan mereka lebih jauh tentang bioindikator. Minimal mereka kelak tahu bagaimana mengetahui kualitas air di sungai dan lebih jauh lagi semoga mereka mengerti dan paham arti penting kelestarian sungai Ciliwung. Amiiiiiiiiin.
Seiring observasi yang dilakukan, tanpa disadari Asep dan Hilman telah berganti posisi menjadi Partner Kerja Tim Riset Kualitas Air. Dengan informasi dan bantuan tenaga dari mereka, pengukuran dan observasi yang telah dilakukan oleh tim Riset Kualitas Air Tjiliwoeng dapat dilaksanakan dengan lancar.
Terimakasih untuk Asep dan Hilman. "Sep, Man, lain kali minta duit tuh sama si Ubo!!!"....hehehehe bercanda Bo. Sebenarnya maksudnya "Sep, Man, lindungi Mbah Tjiliwoeng dari kehancuran".
Hehehehehehe,,,,,,,,,jadi inget spanduk kita "Ciliwung ruksak Hidup Balangsak",,,,,,,
Aaahhh lega rasanya dapat menyelesaikan pengamatan perdana ini. Letih, lelah, lesu seakan hilang ketika mendapatkan data dan "partner kerja" di Pulo Geulis. Terimakasih tak terhingga untuk semua pihak yang telah membantu mendapatkan "Potret" Wajah Mbah Tjiliwoeng di Pulo Geulis."Semoga Wajah Mbah Tjiliwoeng suatu saat akan lebih bersih, indah, rapi dan selalu tersenyum melihat cucu-cucunya minum, mandi, dan bersenda-gurau di pangkuannya".
Selain karakteristik fisik diatas, kami juga melakukan pengamatan organisme yang merupakan organisme bioindikator kualitas air. Pada Lokasi 1. ditemukan organisme yang terdiri dari; Nimfa Lalat Batu, Nimfa Capung Jarum dan Capung Biasa, Larva Ulat Air, Belatung Ekor Tikus. Sedangkan Lokasi 2. ditemukan; Larva Ulat Air, Lintah, Nimfa Capung Jarum, dan Nimfa Capung Biasa.
Selain itu, Aku dan Ubo juga melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi jenis-jenis ikan yang pernah ditemukan warga di sungai ini. "Sep, Man, biasanya ikan apa saja yang ada di sini?" tanyaku pada 2 anak yang sedang bermain di sungai. "Biasanya mah Benteur, lele, Lauk Emas, Gabus, Sepat, Nila, Mujaer, amun belut mah jarang pisan", jawab mereka bergantian. Jenis-jenis ikan yang sama juga disebutkan seorang bapak yang kami wawancari tak jauh dari tempat kami ber-empat.
Dari analisis yang kami lakukan, berdasarkan Bioindikator, dapat di simpulkan bahwa kondisi kualitas air di sungai lokasi Pulo Geulis masih relatif baik. Dalam menganalisis kami menggunakan lembar panduan pengamatan Bioindikator yang dibuat LIPI dan juga Perikanan IPB.
Riset Kualitas Air dan Karakteristik Sungai Dengan peralatan seadanya, akupun mulai turun ke Sungai untuk melakukan pengamatan dan pengukuran. Dasar yang licin ditambah dorongan massa air yang kuat, seringkali membuatku terjatuh dan kadang terseret arus. Hal ini juga memperlambat mobilitas dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan yang lainnya dalam satu lokasi sampling. Setelah beradaptasi dengan keadaan, akhirnya kesulitan itu teratasi dan aku pun dapat melakukan kegiatan riset dengan lancar. Sementara Ubo yang tidak ikut turun ke sungai mulai mengambil dokumentasi dan mencatat berbagai data yang aku teriakkan.
Pengukuran dan observasi dilakukan dari pukul 09.00 hingga sekitar pukul 12.15 WIB. Karena sumberdaya orang terbatas, dari rencana 4 titik sampling yang telah disepakati hanya 2 titik yang dapat kami amati. Parameter yang diukur meliputi Karakteristik Sungai, Parameter fisika yang terdiri dari kedalaman, arus, dan lebar sungai dan Parameter Biologi terutama pada hewan atau organisme yang hidup di balik bebatuan yang menjadi bioindikator kualitas air sungai.
Lokasi 1. merupakan lokasi awal bermulanya percabangan sungai yang terletak di ujung paling selatan Pulo Geulis. Ditandai dengan badan sungai yang lebar. hasil pengukuran tercatat lebarnya sekitar 38,85 meter. Variasi kedalaman sungai dari 20 cm sampai 84 cm, dengan rata-rata 47,33 cm. Kecepatan arus sungai pun bervariasi dari 0,56 m/s sampai 1,25 m/s dengan rata-rata sebesar 0,78 m/s.
Lokasi 2. merupakan salah salah satu lokasi percabangan sungai terletak disamping kiri tengah Pulo Geulis, apabila mengikuti arah arus sungai. Lokasi ini dicirikan oleh banyaknya karamba yang digunakan penduduk untuk menambang pasir. Lebar sungai mencapai 12,42 meter. Arus sungai bervariasi dari 0,39 m/s sampai 0,81 m/s dengan rata-rata sebesar 0,50 m/s. Begitupun dengan kedalaman sungai yang bervariasi dari 25,5 cm sampai 52,5 cm dengan rata-rata 39,3 cm.
Sebelumnya, aku berfikir bahwa karamba-karamba ini terapasang disungai digunakan warga untuk budidaya ikan. Namun setelah aku tanyakan dan aku perhatikan dari dekat, ternyata keramba-keramba itu hanya digunakan warga untuk menambang pasir. Untuk kuantitas panennya, tak kutanyakan lebih detail seberapa banyak pasir yang terkumpul dalam karamba? berapa lama biasanya selang waktu yang diperlukan dari hari panen kesatu ke hari panen berikutnya?. semuanya belum sempat aku tanyakan.
Menurut salah satu warga yang kuwawancarai, dulu keramba-keramba tersebut digunakan warga untuk kegiatan budidaya ikan. Namun, seringnya banjir yang terjadi sehingga menyebabkan ikan banyak yang hilang terbawa arus air. Akhirnya sampai saat ini wargapun hanya memfungsikan keramba-keramba tersebut untuk "mengumpulkan" pasir saja. Substrat sungai pada Lokasi 1. dan Lokasi 2. tidak jauh berbeda kondisinya. Keduanya terdiri dari pasir kasar, kerikil, dan batuan besar. Terlihat batuan-batuan banyak yang ditutupi oleh lumut dan sedikit endapan tanah sehingga permukaan licin saat terinjak. Selain itu, menurut informasi warga, pada saat hujan kedalaman sungai bertambah tinggi bahkan sempat naik hingga mencapai kurang lebih 3 meter saat hujan besar (baca; deras) dan saat hujan kecil mencapai 70 cm.
"Ruaaar Biasaa"aksi cucu-cucu Mbah Tjiliwoeng ini. Turun ke air, membongkar batu, mengamati, mengukur arus dan parameter lainnya di Sungai. Pasalnya, pada hari Minggu 12 April 2009 Tim Riset Kualitas Air yang terdiri dari Rubi (Alumni MSP-IPB), Dedek "Ubo" (LAWALATA), dan MPCA-LAWALATA melakukan pengamatan perdana. Dengan memaksimalkan sumberdaya dan peralatan yang ada, mereka berhasil menggambarkan keadaan Sungai Ciliwung di Pulo Geulis. Data-data yang di catat menunjukkan kualitas perairan masih dalam kondisi baik. Berikut cerita pengalaman tim yang di tulis oleh Rubi...
Kesiapan tim,,, "caleg, pemilu legeslatif, libur panjang, pulang kampung, sepi, miss communication"mungkin itulah gambaran mengenai persiapan tim riset saat itu. Seperti anak ayam yang tertinggal dari kawanan induknya, kami mulai kehilangan komunikasi antara satu sama lainnya. Rapat persiapan yang semula di jadwalkan pada hari Jum'at, 10 April 2009, jam 13.00 WIB di Sekretariat LAWALATA, akhirnya gagal dilaksanakan. Pikirku, semua kejadian ini tidak lain dikarenakan adanya momen liburan panjang. Sehingga waktu tersebut dimanfaatkan para anggota tim untuk melaksanakan kegiatannya masing-masing. Tanpa banyak ambil pusing, akhirnya akupun mencoba berfikir positif saja. Akhirnya ku putuskan untuk tetap melakukan pengamatan sesuai agenda.
Pagi itu,,,awalnya tampak sepi "Pagi Pulo Geulis?"...Setelah turun dari Angkutan Kota no-03 (Bubulak-Baranangsiag), berjalan masuk dari pertigaan ke arah jalan Riau, Aku dan Ubo pun langsung menuju ke jembatan "penyebrangan"Pulo Geulis. Dari jembatan, kami mulai mengamati sepanjang aliran sungai untuk mencari Laskar Karung yang rencananya melakukan aksi pemulungan ke-5 pagi ini.
Sungguh malang nasib kami, cukup lama menunggu, tak terlihat orang-orang yang kami harapkan. Semula kami yang penuh energi dan semangat mulai merasakan kesepian. Untungnya ada yang menghibur kami, Aku dan Ubo disuguhi aksi kumpulan anak yang berenang di sungai, dari gaya "katak" sampai gaya "kadal" (...hehe). Dengan semangat dan jiwa fotografernya, Ubo pun secara spontan mengabadikan momen ini. "Jepret...!!!", bunyi kamera Ubo yang mem-foto aksi anak-anak katak dan anak-anak kadal ini (hehe...yang ini bercanda loh!).
Sekian lama kami disini belum juga melihat "kawanan Pemulung". "Bo, ada acara ngak nih hari ini? Ko sepi gini?" tanyaku pada Ubo. "ada, ada kegiatan kok hari ini", jawab Ubo seraya berusaha menghubungi salah satu temennya dengan menggunakan HP. "Ini spanduknya juga baru dipasang", ujarnya menghiburku. Tidak lama setelah percakapan kami, Ubo mendapatkan kabar bahwa acara belum dimulai dan teman-teman yang lain berkumpul di kantor Kelurahan Baranangsiang. "O,,,pantes aja sepi, belum dimulai toh acaranya", pikirku. Kamipun langsung menuju ke tempat yang disebutkan Ubo tadi.
Belum sempat menaiki tangga jembatan, kami melihat 2 sosok orang yang baru turun dari dari sepeda motor. Wajah 2 orang itu tampak tidak asing bagi kami. "Kak Hari, yang lainnya dimana?" tanya Ubo pada salah satu orang setelah jarak kami berdekatan. "Ruby", Kataku berusaha memperkenalkan diri seraya menjabat teman Ubo tersebut. "Hari" jawabnya, "semua masih berkumpul di kantor Kelurahan Baranangsiang", Katanya menjawab pertanyaan Ubo. "lebih baik langsung kesana aja" lanjut Hari menyarankan kami. Kamipun bergegas pergi untuk berkumpul dengan yang lainnya sesuai saran Hari.
Briefing bersama Laskar Karung Sesampainya di Kantor Kelurahan Baranangsiang Bogor, langsung mengisi daftar hadir dan tanpa berbasa-basi lagi aku memperkenalkan diriku ke semua orang. Tampak mereka sedang membahas teknis pelaksanaan aksi hari ini. Dirasa jumlah peserta yang datang masih sedikit, Abu dari LAWALATA yang juga selaku koordinator memberikan pengumuman untuk menunggu sampai pukul 08.30 sekaligus memastikan jumlah peserta yang ikut pemulungan hari ini.
Sampai waktu yang ditentukan, akhirnya Abu membuka briefing teknis pemulungan sampah pagi ini. Meskipun peserta tidak sebanyak minggu kemarin, Abu terlihat semangat dan menjelaskan teknis pelaksanaan dengan irama tegas dan suara lantang. Kurang lebih 30 menit briefing pun akhirnya selesai dan dilanjutkan penggalangan dana. Dengan keikhlasan hati, para peserta pun langsung merogoh sakunya.
"Semua tas, kita kumpulkan didalam mobil saja baiknya!", Komando dari Abu mengarahkan peserta. Sementara Laskar karung melakukan pemulungan, Aku, Ubo dan tim kualitas air lainnya melakukan pengukuran parameter perairan di sekitar Pulo Geulis.
Sub title: Jembatan Gantoeng Pulo Geulis (lanjoetan dari tjerita sebeloemnya)
Tak jauh dari kantor kelurahan kira-kira berjarak 10 meteran. Sebelah barat dari kantor kelurahan. Terdapat sebuah jembatan dengan penamaan yang menggugah soal semangat pergerakan yang banyak dimotori oleh kaum pemuda. Jembatan Pemuda. Jembatan gantung yang berwarna cat hijau, yang saat ini dihiasi atribut bendera partai politik yang menjajakan dagangannya, yang membentang di atas sungai Tjiliwoeng dengan panjang kira-kira 15 meteran. Jembatan ini berhadapan langsung dengan Pulo Geulis dengan jarak sekitar 20 meter berada didepannya (sebelah barat sungai) jika dilihat dari hulunya. Ia menghubungkan antara daratan sebelah kiri dan kanan sungai Tjiliwoeng.
Jembatan ini sepertinya harus menjadi base camp media campaign para pejuang Tjiliwoeng Dream, khususnya mbah karuhun Hapsoro, selaku inisiator dan pimpinan Tjiliwoeng Dream. Base camp untuk wilayah kelurahan Baranang siang dan Pulo Geulis serta sekitarnya, yang menjadi salah satu target lokasi pengembalian khasanah kebudayaan Tjiliweong masa lampau serta mengembalikan keelokan keanggunan dan kemurnian Tjilioweng. Ia menggambarkan semangat juang di tengah amuk deras laju jeramnya sungai Tjiliwoeng sebelum membelah dan membentuk delta Pulo Geulis. Hanya pemuda yang bisa memberikan perubahan yang signifikan dan masif. Youth: Change, we believe, mengutip dari materi campaign Presiden terpilih AS, Barrack Obama. Bukan nada tendensius. Tapi menggugah kaum muda untuk bangkit mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”.
Pada sisi jembatan gantung lainnya yang tak bernama. Jembatan yang menghubungkan daratan seberang kanan dari aliran sungai Tjilioweng dengan daratan Pulo Geulis. Aku mencoba mewawancarai seorang penjual jasa pulsa HP sekaligus mengisi pulsa HP. Dalam kesempatan ini aku mencoba sedikit menanyakan tentang kehidupan masyarakat delta Pulo Geulis ini dalam hal suplai air bersih untuk minum dan MCK. Banyak warga yang memanfaatkan air ledeng, Air PAM. Sebagian lagi menggunakan air keruh Tjiliwoeng bagi warga kurang mampu. Dalam proses transaksi pulsa ini aku juga sempatkan untuk menanyakan tokoh masyarakat atau sesepuh dan tokoh pemuda kampung Pulo Geulis. Dari sini aku mendapatkan informasi bahwa tokoh masyarakat kampung ini adalah pak Shodik. Dalam anganku, aku harus ketemu dengan orang ini untuk menanyakan legenda delta dan pemukiman, persepsi masyarakat dan budaya yang berkembang di Pulo Geulis serta pola interaksinya dengan Tjiliwoeng.
Berbeda pada seberang sungai sebelah kiri jika dilihat dari hulunya, nampak perumahan warga rapat merayap. Tak ada sedikitpun ruang terbuka. Hanya kepengapan yang menyelimutinya. Dari lima meter arah timur kantor kelurahan itu, di samping tumpukan sampah yang berserakan di seberang kanan badan sungai. Tak diduga. Ada base camp hunian. Dialah pak Adun (49) seorang laki-laki menjelang paruh abad, yang berasal Rangkas, kabupaten Lebak, mencoba menggantungkan hidupnya dari sampah yang dibuang oleh masyarakat di sekitar kelurahan Baranangsiang. Dia mengais dan memulung sampah warga yang dibuang ke bibir sungai, meskipun tidak sampai hanyut dalam badan sungai.
Dalam kesempatan perjumpaan itu tak lupa aku manfaatkan kesempatan untuk melakukan sedikit wawancara ringan mengenai aktivitasnya. Sebenarnya ada hasrat untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari laki-laki paruh baya dan tunawisma itu. Berhubung tim sosek dan pemetaan “Tjiliwoeng Dream” yang dikomandani oleh saudara Muslich (26) terpaksa wawancara hanya berselang beberapa menit karena hasrus kumpul bersama dengan tim aksi bersih. Hanya berjarak sekitar tiga meteran dari timbunan sampah yang dikaisnya, dia membangun semacam bivak kecil sebagai tempat peristirahatan dan sepertinya sebagai tempat mukimnya hingga masa senjanya. Sambil menyuguhkan sebatang rokok salah satu merek yang terlaris saat ini dan banyak mensponsori tontonan olahraga sepak bola dalam negeri dan mancanegara aku memulai obrolan dengan dia.
“Sudah berapa lama bapak disini?, tanyaku”. Empat poe? jawabnya. waduh...dalam pikirku apa itu poe. Aku yakin itu poe (sunda) artinya tahun. “Oh begitu ya pak,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepala sebagai simbol bahwa aku tahu maksudnya. Padahal aku pusing apa artinya poe itu.
“Bapak ambil sampah dimana saja?” tanyaku. “Dari sini, sungai, stasiun, dan jalanan Bogor mas? Ujarnya”. Kontan langsung aku menanyakan pertanyaan lanjutan.
“Dalam sehari bapak dapat berapa kilo dan berapa jual per kilo-nya?” Tanyaku. “Genep kilo per hari. Harganya tilu ribu dan kadang 2,5 per kilo?” Kata Pak Adun.
Bersama dengan rekannya, yang saat itu sedang tidur pulas di bawah rindang pohon di samping tumpukan sampah hasil pulungannya. Dia menuturkan cerita yang banyak didominasi bahasa sunda, yang terkadang aku harus mencerna lebih untuk memahaminya. Dia mengumpulkan sampah yang berjenis plastik seperti gelas, botol plastik air mineral dan sampah berupa kertas-kardus. Setiap hari datang seorang pengumpul untuk membeli hasil pulungannya.
Tugas mulia dan suci pun dilakukannya meskipun dengan pekerjaan yang hina yang sebagian dari kita menilainya. Dari hasil memulung sampahnya dia kirimkan ke istrinya yang berada di lebak. Pria paruh baya yang beranak dua yang telah berkeluarga semuanya, mencoba perntungannya dari sikap yang jauh dari orientasi budaya bersih dan harmoni warga yang membuang sampah-sampah kehidupan.
Tak jauh dari bivaknya, terlihat hasil tumpukan pulungan sampahnya yang sudah dibersihkan. Sampah sisa-sisa hasil sampah pulungannya berserakan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mencoba dikumpulkan lagi. Inilah potret bentuk rendahnya pengetahuan dan tingkat kesadaran meraka. Program pendampingan dan penyadaran sangat diperlukan bagi mereka seperti pak Adun ini. Mereka butuh sentuhan dan perhatian kita bersama. Mereka butuh bimbingan dan konseling khususnya soal penanganan sampah. Bukan salah dia sepenuhnya. Salah kita bersama yang secara tak sadar membiarkan dia sendiri dalam ketidaktahuannya dan ketidakberdayaannya.
Memang peran ini seharusnya dilakukan oleh semua stakeholder terkait khususnya dalam penciptaan impian bersama soal Tjiliwoeng Dream.
Aku pikir dia akan berubah jika kita mencoba memanusiakan dia (people to people) dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan dengan cara yang baik pula. “Perubahan hanya ada” jika semua ada hasrat dan inisiatif untuk bergerak. Bukan diam membisu. Menyaksikan kelalaian dan prilaku yang tak harmoni yang dilakukan oleh saudara kita lainnya.
Keterlibatan dan penyadaran terhadap kantor lurah Baranangsiang sepertinya tak boleh terlupakan. Mereka lupa. Lupa akan tanggung jawab dan perannya. Mereka kering. Kering akan aksi sosial kebersamaan. Mereka sendiri. Membutuhkan teman untuk bergerak. Mereka tuli. Karena tak ada pemahaman dan masukan untuknya. Mereka perlu kita semua untuk “Tjiliwoeng Dream”.
Sub title: Sampah dan Kantor Kelurahan Baranangsiang
Sambil mengamati dan meng-overview lingkungan perumahan di sekitar sungai Tjiliwoeng aku berjalan sendiri menyusul tim menyusuri jalan Bangka. Siang itu kira-kira pukul 10.23 WIB tanggal 22 Maret 2009, sedari rencana pertemuaan jam 7 pagi di lapangan sempur. Akhirnya aku bertemu dengan Tim Sosek dan Pemetaan “Tjiliwoeng Dream dari arah berlawanan. Tim ini berjalan dari jembatan Saras, Padjajaran hingga tembus ke jalan Bangka. Sedangkan aku menyisir dari arah kebun raya menuju jalan Bangka. Tim yang bertujuan memetakkan titik-titik tumpukan sampah yang berserakan di bibir-pinggir sungai Tjiliwoeng pada sebelah kanan jika mengikuti aliran sungai Tjilioweng.
Dengan berbekal alat pendeteksi koordinat geograpis bumi, GPS dan sebuah kamera SLR Digital tim memetakkan dan mendokumentasikan semua temuan-temuan hasil observasi lapangan. Berhubung tim kali ini lebih memfokuskan pada pemetaan titik-titik sampah sepanjang bantaran sungai Tjiliwoeng keterlambatanku bersama rombongan tidak terlalu berpengaruh pada tujuan utama pergerakan tim kali ini, yang sebelumnya aku didaulat untuk membantu dalam assessment sosial budaya masyarakat bantaran-sempadan Tjiliwoeng.
Sekitar lima meter dari kantor kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Pemerintahan Kota Bogor, sungguh sangat disayangkan dan bagiku sangat memalukan sekali terdapat penumpukan sampah yang berserakan di pinggir sungai pinggir jalan Bangka. Kantor kelurahan yang berdiri kokoh menghadap ke selatan dengan hiasan panorama Gunung Salak, yang tampak menjulang tinggi dan anggun dari kejauhan. Namun hiasan itu tak sebanding dengan hiasan tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalan Bangka di bibir sungai Tjiliwoeng. Sebuah perkantoran dengan lokasi eksotis dan strategis. Tidak dijaga dengan cara yang bersih dan elegan pula. Pikirku apa kerjaan pak lurah Baranangsiang? Sungguh dilematis.
Banyaknya sampah ini menunjukkan betapa cueknya dan ketidakpedulian pamong parja (elit local) Baranangsiang dalam mengelola sampah. Peran public awaraness pamong paraja sejatinya seharusnya menjadi superordinat goal (tujuan mulia) dan senantiasa menjadi peran yang terus menerus dijalankan. Namun tidak demikian. Kondisi real itu mengisyaratkan betapa rendahnyanya tingkat kesadaran yang dimiliki oleh para pamong praja kelurahan. Sumpah serapah pun mengalir sendirinya dari pikiranku melihat kelalaian dan ketidakbecusan dalam menjaga kebersihan dan keindahan yang jauh dari sampah. Ohh...Kelurahan Baranangsiang. Aku yakin kalo sumber pendanaan yang dimiliki kelurahan ini cukup untuk memberikan proses edukasi dan penyadaran arti penting kebersihan dan keindahan. Begitu juga untuk penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang cukup memadai. Ternyata peran ini belum maksimal dilakukan.
Anehnya lagi adalah, perumahan di kanan kiri kelurahan Baranang Siang sepertinya adalah perumahan yang lumayan mapan dan elit. Bukan perumahan kumuh. Terus pertanyaannya apa sampah ini sampah para pejalan kaki? Tapi kenyataannya sampah ini berserahkan pada titik-titik tertentu. Inilah sketsa kompleksitas masalah yang nantinya akan kita hadapi bersama dalam mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”. Tjiliwoeng Bogor.