Riset Kualitas Air dan Karakteristik SungaiDengan peralatan seadanya, akupun mulai turun ke Sungai untuk melakukan pengamatan dan pengukuran. Dasar yang licin ditambah dorongan massa air yang kuat, seringkali membuatku terjatuh dan kadang terseret arus. Hal ini juga memperlambat mobilitas dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan yang lainnya dalam satu lokasi sampling. Setelah beradaptasi dengan keadaan, akhirnya kesulitan itu teratasi dan aku pun dapat melakukan kegiatan riset dengan lancar. Sementara Ubo yang tidak ikut turun ke sungai mulai mengambil dokumentasi dan mencatat berbagai data yang aku teriakkan.
Pengukuran dan observasi dilakukan dari pukul 09.00 hingga sekitar pukul 12.15 WIB. Karena sumberdaya orang terbatas, dari rencana 4 titik sampling yang telah disepakati hanya 2 titik yang dapat kami amati. Parameter yang diukur meliputi Karakteristik Sungai, Parameter fisika yang terdiri dari kedalaman, arus, dan lebar sungai dan Parameter Biologi terutama pada hewan atau organisme yang hidup di balik bebatuan yang menjadi bioindikator kualitas air sungai.
Lokasi 1. merupakan lokasi awal bermulanya percabangan sungai yang terletak di ujung paling selatan Pulo Geulis. Ditandai dengan badan sungai yang lebar. hasil pengukuran tercatat lebarnya sekitar 38,85 meter. Variasi kedalaman sungai dari 20 cm sampai 84 cm, dengan rata-rata 47,33 cm. Kecepatan arus sungai pun bervariasi dari 0,56 m/s sampai 1,25 m/s dengan rata-rata sebesar 0,78 m/s.

Lokasi 2. merupakan salah salah satu lokasi percabangan sungai terletak disamping kiri tengah Pulo Geulis, apabila mengikuti arah arus sungai. Lokasi ini dicirikan oleh banyaknya karamba yang digunakan penduduk untuk menambang pasir. Lebar sungai mencapai 12,42 meter. Arus sungai bervariasi dari 0,39 m/s sampai 0,81 m/s dengan rata-rata sebesar 0,50 m/s. Begitupun dengan kedalaman sungai yang bervariasi dari 25,5 cm sampai 52,5 cm dengan rata-rata 39,3 cm.
Sebelumnya, aku berfikir bahwa karamba-karamba ini terapasang disungai digunakan warga untuk budidaya ikan. Namun setelah aku tanyakan dan aku perhatikan dari dekat, ternyata keramba-keramba itu hanya digunakan warga untuk menambang pasir. Untuk kuantitas panennya, tak kutanyakan lebih detail seberapa banyak pasir yang terkumpul dalam karamba? berapa lama biasanya selang waktu yang diperlukan dari hari panen kesatu ke hari panen berikutnya?. semuanya belum sempat aku tanyakan.
Menurut salah satu warga yang kuwawancarai, dulu keramba-keramba tersebut digunakan warga untuk kegiatan budidaya ikan. Namun, seringnya banjir yang terjadi sehingga menyebabkan ikan banyak yang hilang terbawa arus air. Akhirnya sampai saat ini wargapun hanya memfungsikan keramba-keramba tersebut untuk "mengumpulkan" pasir saja.
Substrat sungai pada Lokasi 1. dan Lokasi 2. tidak jauh berbeda kondisinya. Keduanya terdiri dari pasir kasar, kerikil, dan batuan besar. Terlihat batuan-batuan banyak yang ditutupi oleh lumut dan sedikit endapan tanah sehingga permukaan licin saat terinjak. Selain itu, menurut informasi warga, pada saat hujan kedalaman sungai bertambah tinggi bahkan sempat naik hingga mencapai kurang lebih 3 meter saat hujan besar (baca; deras) dan saat hujan kecil mencapai 70 cm.
(Rubi Vidia Kusumah / Tim Riset Kualitas Air)
Read more
"Ruaaar Biasaa" aksi cucu-cucu Mbah Tjiliwoeng ini. Turun ke air, membongkar batu, mengamati, mengukur arus dan parameter lainnya di Sungai. Pasalnya, pada hari Minggu 12 April 2009 Tim Riset Kualitas Air yang terdiri dari Rubi (Alumni MSP-IPB), Dedek "Ubo" (LAWALATA), dan MPCA-LAWALATA melakukan pengamatan perdana. Dengan memaksimalkan sumberdaya dan peralatan yang ada, mereka berhasil menggambarkan keadaan Sungai Ciliwung di Pulo Geulis. Data-data yang di catat menunjukkan kualitas perairan masih dalam kondisi baik. Berikut cerita pengalaman tim yang di tulis oleh Rubi...
Kesiapan tim,,,
"caleg, pemilu legeslatif, libur panjang, pulang kampung, sepi, miss communication" mungkin itulah gambaran mengenai persiapan tim riset saat itu. Seperti anak ayam yang tertinggal dari kawanan induknya, kami mulai kehilangan komunikasi antara satu sama lainnya. Rapat persiapan yang semula di jadwalkan pada hari Jum'at, 10 April 2009, jam 13.00 WIB di Sekretariat LAWALATA, akhirnya gagal dilaksanakan. Pikirku, semua kejadian ini tidak lain dikarenakan adanya momen liburan panjang. Sehingga waktu tersebut dimanfaatkan para anggota tim untuk melaksanakan kegiatannya masing-masing. Tanpa banyak ambil pusing, akhirnya akupun mencoba berfikir positif saja. Akhirnya ku putuskan untuk tetap melakukan pengamatan sesuai agenda.
Pagi itu,,,awalnya tampak sepi
"Pagi Pulo Geulis?"...Setelah turun dari Angkutan Kota no-03 (Bubulak-Baranangsiag), berjalan masuk dari pertigaan ke arah jalan Riau, Aku dan Ubo pun langsung menuju ke jembatan "penyebrangan" Pulo Geulis. Dari jembatan, kami mulai mengamati sepanjang aliran sungai untuk mencari Laskar Karung yang rencananya melakukan aksi pemulungan ke-5 pagi ini.
Sungguh malang nasib kami, cukup lama menunggu, tak terlihat orang-orang yang kami harapkan. Semula kami yang penuh energi dan semangat mulai merasakan kesepian. Untungnya ada yang menghibur kami, Aku dan Ubo disuguhi aksi kumpulan anak yang berenang di sungai, dari gaya "katak" sampai gaya "kadal" (...hehe). Dengan semangat dan jiwa fotografernya, Ubo pun secara spontan mengabadikan momen ini. "Jepret...!!!", bunyi kamera Ubo yang mem-foto aksi anak-anak katak dan anak-anak kadal ini (hehe...yang ini bercanda loh!).
Sekian lama kami disini belum juga melihat "kawanan Pemulung". "Bo, ada acara ngak nih hari ini? Ko sepi gini?" tanyaku pada Ubo. "ada, ada kegiatan kok hari ini", jawab Ubo seraya berusaha menghubungi salah satu temennya dengan menggunakan HP. "Ini spanduknya juga baru dipasang", ujarnya menghiburku. Tidak lama setelah percakapan kami, Ubo mendapatkan kabar bahwa acara belum dimulai dan teman-teman yang lain berkumpul di kantor Kelurahan Baranangsiang. "O,,,pantes aja sepi, belum dimulai toh acaranya", pikirku. Kamipun langsung menuju ke tempat yang disebutkan Ubo tadi.
Belum sempat menaiki tangga jembatan, kami melihat 2 sosok orang yang baru turun dari dari sepeda motor. Wajah 2 orang itu tampak tidak asing bagi kami. "Kak Hari, yang lainnya dimana?" tanya Ubo pada salah satu orang setelah jarak kami berdekatan. "Ruby", Kataku berusaha memperkenalkan diri seraya menjabat teman Ubo tersebut. "Hari" jawabnya, "semua masih berkumpul di kantor Kelurahan Baranangsiang", Katanya menjawab pertanyaan Ubo. "lebih baik langsung kesana aja" lanjut Hari menyarankan kami. Kamipun bergegas pergi untuk berkumpul dengan yang lainnya sesuai saran Hari.
Briefing bersama Laskar Karung
Sesampainya di Kantor Kelurahan Baranangsiang Bogor, langsung mengisi daftar hadir dan tanpa berbasa-basi lagi aku memperkenalkan diriku ke semua orang. Tampak mereka sedang membahas teknis pelaksanaan aksi hari ini. Dirasa jumlah peserta yang datang masih sedikit, Abu dari LAWALATA yang juga selaku koordinator memberikan pengumuman untuk menunggu sampai pukul 08.30 sekaligus memastikan jumlah peserta yang ikut pemulungan hari ini.
Sampai waktu yang ditentukan, akhirnya Abu membuka briefing teknis pemulungan sampah pagi ini. Meskipun peserta tidak sebanyak minggu kemarin, Abu terlihat semangat dan menjelaskan teknis pelaksanaan dengan irama tegas dan suara lantang. Kurang lebih 30 menit briefing pun akhirnya selesai dan dilanjutkan penggalangan dana. Dengan keikhlasan hati, para peserta pun langsung merogoh sakunya.
"Semua tas, kita kumpulkan didalam mobil saja baiknya!", Komando dari Abu mengarahkan peserta. Sementara Laskar karung melakukan pemulungan, Aku, Ubo dan tim kualitas air lainnya melakukan pengukuran parameter perairan di sekitar Pulo Geulis.
(Rubi Vidia Kusumah / Tim Riset Kualitas Air)
Read more
Sub title:
Jembatan Gantoeng Pulo Geulis(lanjoetan dari tjerita
sebeloemnya)
Tak jauh dari kantor kelurahan kira-kira berjarak 10 meteran. Sebelah barat dari kantor kelurahan. Terdapat sebuah jembatan dengan penamaan yang menggugah soal semangat pergerakan yang banyak dimotori oleh kaum pemuda. Jembatan Pemuda. Jembatan gantung yang berwarna cat hijau, yang saat ini dihiasi atribut bendera partai politik yang menjajakan dagangannya, yang membentang di atas sungai Tjiliwoeng dengan panjang kira-kira 15 meteran. Jembatan ini berhadapan langsung dengan Pulo Geulis dengan jarak sekitar 20 meter berada didepannya (sebelah barat sungai) jika dilihat dari hulunya. Ia menghubungkan antara daratan sebelah kiri dan kanan sungai Tjiliwoeng.
Jembatan ini sepertinya harus menjadi base camp media campaign para pejuang Tjiliwoeng Dream, khususnya mbah karuhun Hapsoro, selaku inisiator dan pimpinan Tjiliwoeng Dream. Base camp untuk wilayah kelurahan Baranang siang dan Pulo Geulis serta sekitarnya, yang menjadi salah satu target lokasi pengembalian khasanah kebudayaan Tjiliweong masa lampau serta mengembalikan keelokan keanggunan dan kemurnian Tjilioweng. Ia menggambarkan semangat juang di tengah amuk deras laju jeramnya sungai Tjiliwoeng sebelum membelah dan membentuk delta Pulo Geulis. Hanya pemuda yang bisa memberikan perubahan yang signifikan dan masif. Youth: Change, we believe, mengutip dari materi campaign Presiden terpilih AS, Barrack Obama. Bukan nada tendensius. Tapi menggugah kaum muda untuk bangkit mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”.
Pada sisi jembatan gantung lainnya yang tak bernama. Jembatan yang menghubungkan daratan seberang kanan dari aliran sungai Tjilioweng dengan daratan Pulo Geulis. Aku mencoba mewawancarai seorang penjual jasa pulsa HP sekaligus mengisi pulsa HP. Dalam kesempatan ini aku mencoba sedikit menanyakan tentang kehidupan masyarakat delta Pulo Geulis ini dalam hal suplai air bersih untuk minum dan MCK. Banyak warga yang memanfaatkan air ledeng, Air PAM. Sebagian lagi menggunakan air keruh Tjiliwoeng bagi warga kurang mampu. Dalam proses transaksi pulsa ini aku juga sempatkan untuk menanyakan tokoh masyarakat atau sesepuh dan tokoh pemuda kampung Pulo Geulis. Dari sini aku mendapatkan informasi bahwa tokoh masyarakat kampung ini adalah pak Shodik. Dalam anganku, aku harus ketemu dengan orang ini untuk menanyakan legenda delta dan pemukiman, persepsi masyarakat dan budaya yang berkembang di Pulo Geulis serta pola interaksinya dengan Tjiliwoeng.
Berbeda pada seberang sungai sebelah kiri jika dilihat dari hulunya, nampak perumahan warga rapat merayap. Tak ada sedikitpun ruang terbuka. Hanya kepengapan yang menyelimutinya. Dari lima meter arah timur kantor kelurahan itu, di samping tumpukan sampah yang berserakan di seberang kanan badan sungai. Tak diduga. Ada base camp hunian. Dialah pak Adun (49) seorang laki-laki menjelang paruh abad, yang berasal Rangkas, kabupaten Lebak, mencoba menggantungkan hidupnya dari sampah yang dibuang oleh masyarakat di sekitar kelurahan Baranangsiang. Dia mengais dan memulung sampah warga yang dibuang ke bibir sungai, meskipun tidak sampai hanyut dalam badan sungai.
Dalam kesempatan perjumpaan itu tak lupa aku manfaatkan kesempatan untuk melakukan sedikit wawancara ringan mengenai aktivitasnya. Sebenarnya ada hasrat untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari laki-laki paruh baya dan tunawisma itu. Berhubung tim sosek dan pemetaan “Tjiliwoeng Dream” yang dikomandani oleh saudara Muslich (26) terpaksa wawancara hanya berselang beberapa menit karena hasrus kumpul bersama dengan tim aksi bersih. Hanya berjarak sekitar tiga meteran dari timbunan sampah yang dikaisnya, dia membangun semacam bivak kecil sebagai tempat peristirahatan dan sepertinya sebagai tempat mukimnya hingga masa senjanya. Sambil menyuguhkan sebatang rokok salah satu merek yang terlaris saat ini dan banyak mensponsori tontonan olahraga sepak bola dalam negeri dan mancanegara aku memulai obrolan dengan dia.
“Sudah berapa lama bapak disini?, tanyaku”.
Empat poe? jawabnya. waduh...dalam pikirku apa itu poe. Aku yakin itu poe (sunda) artinya tahun. “Oh begitu ya pak,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepala sebagai simbol bahwa aku tahu maksudnya. Padahal aku pusing apa artinya poe itu.
“Bapak ambil sampah dimana saja?” tanyaku.
“Dari sini, sungai, stasiun, dan jalanan Bogor mas? Ujarnya”. Kontan langsung aku menanyakan pertanyaan lanjutan.
“Dalam sehari bapak dapat berapa kilo dan berapa jual per kilo-nya?” Tanyaku. “Genep kilo per hari. Harganya tilu ribu dan kadang 2,5 per kilo?” Kata Pak Adun.
Bersama dengan rekannya, yang saat itu sedang tidur pulas di bawah rindang pohon di samping tumpukan sampah hasil pulungannya. Dia menuturkan cerita yang banyak didominasi bahasa sunda, yang terkadang aku harus mencerna lebih untuk memahaminya. Dia mengumpulkan sampah yang berjenis plastik seperti gelas, botol plastik air mineral dan sampah berupa kertas-kardus. Setiap hari datang seorang pengumpul untuk membeli hasil pulungannya.
Tugas mulia dan suci pun dilakukannya meskipun dengan pekerjaan yang hina yang sebagian dari kita menilainya. Dari hasil memulung sampahnya dia kirimkan ke istrinya yang berada di lebak. Pria paruh baya yang beranak dua yang telah berkeluarga semuanya, mencoba perntungannya dari sikap yang jauh dari orientasi budaya bersih dan harmoni warga yang membuang sampah-sampah kehidupan.
Tak jauh dari bivaknya, terlihat hasil tumpukan pulungan sampahnya yang sudah dibersihkan. Sampah sisa-sisa hasil sampah pulungannya berserakan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mencoba dikumpulkan lagi. Inilah potret bentuk rendahnya pengetahuan dan tingkat kesadaran meraka. Program pendampingan dan penyadaran sangat diperlukan bagi mereka seperti pak Adun ini. Mereka butuh sentuhan dan perhatian kita bersama. Mereka butuh bimbingan dan konseling khususnya soal penanganan sampah. Bukan salah dia sepenuhnya. Salah kita bersama yang secara tak sadar membiarkan dia sendiri dalam ketidaktahuannya dan ketidakberdayaannya.
Memang peran ini seharusnya dilakukan oleh semua stakeholder terkait khususnya dalam penciptaan impian bersama soal Tjiliwoeng Dream.
Aku pikir dia akan berubah jika kita mencoba memanusiakan dia (people to people) dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan dengan cara yang baik pula. “Perubahan hanya ada” jika semua ada hasrat dan inisiatif untuk bergerak. Bukan diam membisu. Menyaksikan kelalaian dan prilaku yang tak harmoni yang dilakukan oleh saudara kita lainnya.
Keterlibatan dan penyadaran terhadap kantor lurah Baranangsiang sepertinya tak boleh terlupakan. Mereka lupa. Lupa akan tanggung jawab dan perannya. Mereka kering. Kering akan aksi sosial kebersamaan. Mereka sendiri. Membutuhkan teman untuk bergerak. Mereka tuli. Karena tak ada pemahaman dan masukan untuknya. Mereka perlu kita semua untuk “Tjiliwoeng Dream”.
Salam
Firin
Read more

Berbeda dengan kegiatan mulung sebelumnya yang selalu diikuti oleh banyak relawan (lebih dari 20), kegiatan mulung ke lima (12 April 2009) “hanya” diikuti sekitar 16 relawan. Walau berjumlah 16, para relawan ciliwung tetap semangat melakukan kegiatan “mulung” yang ke lima ini.
-
-
-
-
-

Lokasi kegiatan “mulung” sendiri, dimulai dari jembatan pulo geulis (di Jl Riau) menuju ke arah hulu (percabangan sungai ciliwung).
-
-
-
-

Selain kegiatan “mulung” rekan-rekan dari tim riset ciliwung juga ada yang melakukan uji kualitas air, kegiatan ini dimotori oleh HIMASPER dan Lawalata IPB
Jumlah relawan yang banyak ataupun sedikit dalam membantu kegiatan “mulung” setiap hari minggu tidak mempengaruhi semangat para relawan untuk melakukan sebuah aksi nyata.
-
-
-
-
-
Read more

PEMILU baru saja lewat ... biarpun baru untuk para wakil rakjat. Masih ada PEMILU lain di depan kita untuk Presiden. Tapi ngapain juga kita harus mikirin itu sampe bingung sendiri. Silakan aja yang mau ikutan PEMILU. Yang gak mau ikutan juga gak ada yang bakal nyalahin koq. Yang jelas .... di depan mata kita semua (terutama) warga Bogor ada Sungai Ciliwung yang kotor, jorok, terbengkalai, jelek, dan rusak. Mau diapain itu?
Gampang menjawab pertanyaan itu ... minimal kotornya sungai perlu dibersihkan. Daripada kita protes doang atau complaint doang, atau diskusiin itu doang ... mendingan langsung kita bersihin kan?
Ayoo .... para warga sekalian. Mari kita turun ke sungai lagi di pemulungan ke-5 (kelima) ini. Mari bersihkan sampah2 yang numpuk dan nyangkut di batu2 dan tepian sungai Ciliwung di Bogor ini. Siaaaap????
Read more
Kodok perkak, uler mancung (eh picung), kadal, ... dan semut, orong-orong (yang ini susah carinya). Temen-temen dari Himakova - IPB dan tim FF dari Lawalata IPB toerut sumbang kemampoean.
Ruar biasa, walau ujan mengalir dari hulunya, konco-konco tetap bersemangat membagikan kemampoeannya tuk doekoeng Si Mbah Tjiliwoeng.
Catatan=
- Film ini didokumentasikan pada hari Selasa, 7 April 2009 di pinggiran Pulo Geulis.
- Saksikan joega film singkat ini di
Youtube.
- Saksikan joega film singkat ini di Facebook (ntar ya kalo yang diatas dah terlaksana, hehehe).
Read more