Bogor, 15 Januari 2011
Ditulis oleh Rita Mustika sari
Kita pikir demokratis itu adalah sebuah kebaikan. Tidak peduli bagaimana pun bentuknya. Ternyata kehidupan demokratis dalam pengelolaan air tidak sepenuhnya indah. Setelah jaman otoriter hilang dan pelibatan publik didengungkan, banjir terjadi dimana-mana. Cek saja halaman koran. Banjir dalam negeri atau luar negeri, lengkap ada dalam berita seminggu ini. Tidak tanggung-tanggung, dari mulai kota-kota di Jawa, Australia yg semi-tropis sampai Brasil yg tropis. Apa artinya ini.
Apa sih yg dimaksud pelibatan publik ke dalam pengelolaan air. Pelibatan seperti apa yg dimaksud itu. Publik yg mana yg harus terlibat dan dalam bentuk pelibatan seperti apa. Membentuk lembaga-lembaga wadah koordinasi terdengar sangat baik. Tapi itu belum bisa disebut pelibatan publik. Wong kehidupan petani tetap saja kok seperti itu.
Full control. Salah satu ciri demokratisasi dan pelibatan publik terjadi dalam pengelolaan air adalah saat publik memiliki kesempatan memegang kuasa penuh untuk suatu kasus khusus. Bayangkan seorang anak yg bermain puas dengan boneka atau berbagai mainan miliknya. Dia bisa lempar, bisa dia bongkar, bisa apapun yg dia mau.
Di satu sisi, itu hal yg perlu ada. Di sisi lain, kita tidak terbiasa mendapat jatah bicara. Kita jarang berlatih bagaimana seharusnya demokratisasi dalam pengelolaan air itu terjadi. Semuanya sangat teoritis dan formalitas saja. Terlalu banyak tabu dibuat. Takut salah atau apalah. Padahal yg namanya berlatih wajar kalau terjadi salah.
Sepanjang berjalan melakukan Susur Ciliwung, pertanyaan tentang partisipasi publik terus mengiang di telinga. Hanya di tempat seperti Danau Talaga Warna masih tersisa situ dan secuil hutan tempat resapan air. Keluar dari gerbang kawasan dilindungi itu, kehidupan hedonisme manusia menganga menawarkan segala kemolekannya. Puncak Pass gitu lho. Hamparan pegunungan teh, hawa dingin dan segar untuk tea walk dan berbagai rekreasi lainnya, vila-vila mewah atau hanya rumah penduduk biasa yg pada weekend disewakan jam-jam an, dsb.
Aksi kolektif. Orang udah tidak peduli kok. Kata seorang kawan, aksi kolektif kita sudah direduksi sampai di titik ketika ada kematian. Selebihnya kita menjadi manusia individualis saja. Padahal yg namanya pengelolaan sungai musti integrated, katanya. Di tempat yg sudah mraktekin integrated juga tetep ada banjir tuh. Kota Brisbane di Negara Bagian Queensland, Australia Timur yg baru-baru ini menjadi tempat training IWRM karena ada organisasi gabungan antara pemerintah, swasta, universitas, berbagai masyarakat pengguna air (www.healthywaterways.org) saja tergenang banjir yg tingginya ampun-ampunan. Bedanya sama banjir Jakarta jenis sampahnya aja. Tidak terlihat sampah plastik atau kasur bekas mengapung.

Perpipaan desa. Itu masuk dalam areal kerja Dirjen Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum, kata seorang kawan yg kerja di Bappenas. Pipa pvc diameter 2 cm berjajar teratur. Setiap pipa diberi nomor, pastinya menunjukkan ke rumah siapa pipa itu mengalir. Walau di dusun yg sama, kami menemukan tumpukan sampah yg dibuang begitu saja di pinggiran sungai, asli tanpa perlakuan apapun. Sepertinya sa-kampung itu melakukan aksi kolektif membung sampah di kali SEKALIGUS mengelola diri dalam pembagian air bersih. Kok bisa yah baik dan buruk berjalan dalam satu desa. Jadi pengen tahu siapa penggagas itu pembagian perpipaan desa. Penasaran apakah dia juga membuang sampah di pinggir sungai.
Jadi apa maunya? Mending tidak usah mikirin bagaimana publik harus terlibat dalam ngurusin sungai? Biarkan saja terjadi apa adanya. Mungkin enak juga. Bisa tidur nyenyak sampai suatu saat kita terbangun, menyadari kalau kita adalah bangsa buruh saja. Bahwa masuknya konsep-konsep pengelolaan sumber daya alam dikuasai oleh mereka yg berani berpikir saja. Terus mencari bentuk seperti apa yg paling pas buat bangsa ini.
Read more
Kampanye Lingkungan Jawa Barat 2010
Sejalan dengan tema kegiatan Baladkuring 2010 "Selamatkan Sungai dan Daerah Aliran Sungai", Baladkuring mengajak Balad sekalian untuk berpartisipasi dalam kegiatan Bebersih Sungai Ciliwung yang akan diselenggarakan di Kabupaten Bogor pada tanggal 29 Juni 2010 mendatang. Selain membersihkan sungai dari sampah anorganik, akan diadakan berbagai kegiatan lain untuk mengedukasi masyarakat sekitar, di antaranya pengenalan kegiatan Bio-Monitoring, Deklarasi Forum Lingkungan Bogor, dan pemberian penghargaan bagi penggiat lingkungan di Jawa Barat. Tak lupa, akan ada juga kegiatan hiburan.
Acara ini kami selenggarakan dengan menggandeng beberapa komunitas lingkungan di Bogor, di antaranya: Komunitas Peduli Ciliwung, Rimbauan Muda Indonesia, Green Earth, Printing Community, Tree Grower Community, dan Lawalata IPB. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Pemkab Bogor, dan Dinas terkait.
Mari sukseskan acara ini, untuk sungai yang lebih baik di Jawa Barat! :)
Salam BK.
Read more
Sejarah akan sebuah tempat memang menarik untuk dipelajari. Beruntunglah kita jika tahu bagaimana cerita di balik nama sebuah tempat. Kebetulan di sekitar Bogor dan daerah-daerah lain di Jawa Barat, cukup mudah menjumpai nama-nama tempat yang mengandung arti. Umumnya artinya dikaitkan dengan sebuah kejadian ataupun sesuatu yang pernah ada (dahulu kala) di tempat tersebut.
Cibadak dan Kandang Badak adalah dua contoh tempat yang mengandung arti kesejarahan. Konon (mungkin saja memang betul), dahulu kala, di kedua tempat itu pernah dijumpai atau bahkan banyak dijumpai binatang yang kini populasinya terancam punah. Badak, Jawa (karena hidup di Jawa) atau bagi para ilmuwan dikenal dengan nama latin
Rhinoceros sondaicus. Kini binatang besar berkulit tebal ini hanya tersisa dalam jumlah sedikit di ujung barat Pulau Jawa (Ujung Kulon).
Tapi tunggu dulu ... nama yang mengandung kata "badak" ada juga lho di sekitar aliran Ciliwung di Bogor. Kedung Badak namanya. Tempat ini berada di bagian utara Kota Bogor. Tentu saja sekarang tidak akan dijumpai adanya populasi badak di sana. Yang ada di daerah itu sekarang adalah perumahan, pabrik-pabrik, jalan raya ... dan di bantaran sungainya ... jelas ada tumpukan sampah. Di sinilah para laskar karung akan kembali beraksi.
Read more
Tahukah anda di mana Bendungan Cibagoloh berada?
Itu adalah nama sebuah bendungan kecil di aliran Sungai Ciliwung di Bogor. Letaknya di bagian hilir, ujung utara Kelurahan Sempur. Jadi kalau dari Lapangan Sempur, silakan jalan menyusur tepi sungai menuju hilirnya. Di sana akan dijumpai sebuah bendungan kecil ... itu lah Cibagoloh. Kalau dari sisi Jalan Sudirman, maka lokasinya berada tepat di bawah Air Mancur.
Jika sudah tahu lokasinya, ada apa di sana?
Selain air, sampah, ikan, dan pemukiman di tepiannya, ... para laskar karung KPC juga akan melakukan aktivitas mulung mingguannya di sana. Silakan lihat banner pengumuman di bawah ini ...

Read more
Minggu lalu, secara tidak sengaja para laskar karung KPC melintasi kawasan rindang di Jalan Sempur Kaler sepulang aksi mulung. Betapa terkejutnya kami ternyata tumpukan sampah berbentuk anakonda dan sampah styrofoam mengambang masih saja menumpuk di bagian hilir Kampung Lebak Kantin. Lokasinya tepat berada di depan sebuah kantor LSM di Jl. Sempur Kaler.
Saat itu terbayang sebuah rencana ...
Sepertinya para laskar karung KPC masih harus berkutat melawan sampah sungai di seputaran Sempur. Warga yang tidak peduli dan masih saja ada yg buang sampah langsung ke sungai masih jadi tantangan.
Maka ... tak ada salahnya memang jika aksi mulung ke-52 ini dipusatkan di wilayah tepian Jl. Sempur Kaler, di seberang Kampung Lebak Kantin. Berikut pengumumannya mulung hari Sabtu ini (3 April 2010) ...

Read more
Minggu, 28 Maret 2010
SMS kali ini tertulis berbeda dari sms yang biasa diterima tiap jum'at sore. isinya berbunyi: "Mohon Konfirmasi untuk keterlibatan anggota KPC dalam mulung bersama Rimpala di Cangkurawok"
Deket dari rumah tuh,
Walaupun mata mengantuk dan agak letih dari aktifitas siang, coba untuk membalas sms tersebut via Puji. Balasan sms-pun datang kembali. "untuk koordinasi, bisa ke Dinda 0857-1139-3741(Anggota Rimpala yang menjadi penanggung jawab "Mulung Perdana Rimpala").
Minggu, jam 7 pagi, sms balasan dari dinda datang. Setelah mempersiapkan diri, berangkatlah kami ke TKP. ditengah perjalanan tampak barisan mahasiswa menenteng "kantong plastik hitam ukuran 50kg".
"emangnya kuat ya kalo pake kantong plastik" tanyaku tenang. pertanyaan ini cuma dijawab dengan senyum.
Tak ketinggalan 4 orang pemulung cilik juga memeriahkan minggu pagi itu. Untuk perhelatan pertama, yang dapat melibatkan 30 mahasiswa, kita harus acungkan jempol untuk mereka.
Ternyata plastik tersebut kuat, tapi untuk menampung sampah yang ada di sisi atau tepi sungai. Plastik pertama sobek dengan sukses begitu di isi oleh anakonda cangkurawok.
"Ternyata menyenangkan ya melepaskan anakonda" kata Ilham, salah seorang anakonda yang rela berenang bersama seorang anak kecil warga sekitar.
"Itu sih karena sungai di kota lu udah pada tercemar aja, jadi lu pake kesempatan buat berenang" celetuk dinda
Mahasiswa ini berharap bahwa melalui kegiatan yang sama, juga muncul kesadaran dari penduduk sekitar untuk menjaga kelestarian sungai di sekitarnya. Yang jelas perjalanan baru saja dimulai, dukungan dari institusi (Fakultas Kehutanan dan IPB) sangat dibutuhkan oleh para pemulung muda ini.
Untuk sinergitas aktifitas, Rimpala juga berencana untuk terus ikut dalam kegiatan KPC ke depannya. Sebuah pembelajaran bagi kami, bahwa ternyata dari sesuatu yang kecil yang bisa kami lakukan bisa melakukan perubahan.
Sukses buat Teman2 Rimpala di Sungai Cikarawang.
Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more

Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more

Keren gak, dua hari (10 Februari 2010) yang lalu beberapa mass media memberitakan kalau Katulampa sudah siaga Tiga.
Sore ini, berdasarkan penuturan Pak Andi (petugas di Katulampa) status meningkat jadi Siaga Satu. Huh, sayangnya Sekretariat Komunitas Tjiliwoeng kita di tep;ian Sungai Ciliwung - Sempur pun harus ikut berbenah juga. Permukaan sungai telah naik sekitar 5 meter, ntar lagi masuk rumah neh. Hayo kita berbenah, ...
Bagi temen-temen yang ingin melihat Sang Katulampa beraksi (dan tempat dia berada), silahkan lihat beberapa foto yang kami kumpulkan dari beberapa website ya. Walaupun sayang-sungguh sayang, Sang Anakonda kita tercinta sepertinya bakal melarikan diri ke wilayah Hilir.


"Bakal kaga ada lawan besok nih, hehehe, ... ."
Read more
Sabtu menuju Malam Minggu, ...
Langkah-langkah itu begitu berat, ... memang tidak bisa jika dan hanya jika dilakukan oleh satu orang. Dengan pandangan mata tajam bak Elang Jawa (
Spizaetus bartelsi - Burung Garuda 'red') terus menelisik, ada apa di sekitar sana, ... Suasana pun semakin senyap, ... Memang banyak mangsa (aka t4 terlindungi) disana, tapi, ... manakah yang terbaik.
Beda halnya dengan rekan-rekan seperjuangan lainnya, sama-sama dari wilayah yang sama, juga terus menelisik, mencari dan menentukan dimana bisa berada.
Kebun Raya, menjelang sore, memang tempat paling menarik untuk dikunjungi. Dengan keanggunan dan keangkerannya, wilayah ini merupakan titik
episentrum lingkungan Bogor. Jangkrik, kodok, cecak, tokek, urer n ulet, tawon, dan bentukan makhluk hidup lainnya dapat hidup dengan nyaman disana.
Terus kita ngapain, ...
Read more
Satu, 2, III, Four, Panca,... dan sekarang Opat Puluh Tilu. Titik-titiknya bisa ditambahkan sendiri ya dan nggak ada larangan bagi yang punya sekretaris pribadi untuk bantu menuliskannya. Persyaratan bahasa bebas, dari bahasa lisan, tulisan hingga bahasa tubuh, ... Bagi yang punya anak juga bagus, sekalian ajarkan mereka bagaimana cara mengeja, menuliskannya, dan melafalkanya.

Untuk guru, pendidik, pendongeng, atau pemimpi mungkin ada baiknya kalau ditambahkan juga cerita dari angka tersebut. Angka satu bisa dihubungkan dengan awal muasal daerah Sempur, angka dua bisa dihubungkan dengan kenapa Sempur menarik bagi banyak orang untuk berkunjung ke tempat ini, angka tiga dan seterusnya bisa disesuaikan dengan karakter dan situasi yang paling menyenangkan dan membuat hati senang, ... bagi kita semua tentunya. Bebas, namanya juga mencari ide dan kreatifitas.
Semangat, itu yang bisa kita ingat. Semangat Prima untuk terus berusaha, menentukan dan bertindak. Dan asik juga ya, Mulung ke-43 ini adalah bilangan prima (hanya bisa dibagi bilangan itu atau bilangan 1) juga. semoga kita juga merasakan sebuah kegembiraan karena bisa bersama-sama pada saat dan waktu yang kita luangkan.
Link untuk bermain-main=
- Bilangan Prima
- Bilangan prima terbesar yang diketahui
- Saringan Eratosthenes
Read more
Sekarang mumpung di awal tahun ... ehh sekarang bukan tahun 2009 lagi lho. Sekarang sudah tahun 2010. Kalo dihitung2 sejak awal, kita sudah mulung sejumlah 41 kali. Hmmm ... adalah jumlah yang cukup mencengangkan, karena para laskar karung KPC sudah hampir setahun mulung.
Nahh ... mendekati saat pemulungan yang setahun itu, mari ... ayo ... hayu ... urang mulungan di Ciliwung deui. Dimana atuh mulungna? Biasa laah ... abis dari Sempur, ke mana lagi kalo bukan ke tetangganya.
Ke Kebun Raya yuuuk ...

Read more

Anak-anak memang tak bisa jauh dari air. Tidak hanya di kampung yang nun jauh di pedalaman, anak kota pun suka pada air. Tempat-tempat berair telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka. Terlebih jika mereka sudah basah, maka mereka akan semakin senang berbasah-basah. Mungkin ini sudah naluri manusia sejak berada di kandungan. Bisa saja ini hanya sebuah hipotesa “ngawur” tentang naluri manusia, namun saya yakin tak ada satu pun orang yang membantah penyataan bahwa manusia hidup di air (baca: air ketuban) semasa dalam kandungan.
Hari minggu kemarin (25 Oktober 2009) membuktikan kedekatan hubungan anak-anak dengan air. Para laskar karung KPC mendapat kunjungan dari sejumlah anak-anak. Memang jumlahnya tidak sampai puluhan. Namun mereka itu semua adalah anak-anak, bukan 1 atau 2 orang anak. Sebagian besar dari mereka adalah murid-murid SD BPK Penabur Sentul. Selebihnya adalah anak-anak para laskar karung yang rindu akan berbasah ria mengambil sampah di Sungai Ciliwung. Juga ada beberapa anak yang dibawa oleh seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta.
Senang rasanya melihat keceriaan dan antusiasme anak-anak itu. Pada awalnya mereka datang malu-malu. Kaki mereka terasa berat untuk melangkah di atas tanah becek dan berbatu di tepi sungai. Bibir-bibir mungil mereka tampak menyeringai jijik dengan tumpukan sampah yang tersangkut di tepian serta di batu-batu sungai. Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Setelah mendapatkan penjelasan beberapa menit dari Oom Ruby dari tim riset KPC, mereka jadi terbiasa. Rasa ingin tahu yang besar telah menghapus rasa jijik mereka. Uji coba perubahan warna pada kertas lakmus pun jadi sebuah hal baru yang menarik perhatian mereka. Walau terkadang “bengong” dan tidak paham dengan istilah ilmiah yang dijelaskan oleh Oom Ruby, namun mata mereka lekat memperhatikan semua penjelasan itu. Di akhir sessi penjelasan, mereka pun memulai eksperimen kecil untuk mengambil sampel-sampel air sungai Ciliwung yang kotor tanpa ragu. Eksperimen kecil mereka menunjukkan bahwa kualitas air sungai Ciliwung ini tergolong “tidak baik”. Yaa … mereka telah menjadi saksi langsung tentang buruknya kualitas air Ciliwung di Bogor.
Tak cukup dengan eksperimen, anak-anak itu pun diajak serta untuk melakukan aksi langsung. Para laskar karung KPC pun tak segan lagi mengajak anak-anak itu memungut sampah-sampah anorganik langsung dari sungai. Masing-masing anak pun dibekali dengan karung untuk diisi sampah. Tak dinyana, anak-anak itu masih tampak bersemangat dan gembira melakukannya. Beberapa dari mereka bahkan rela membasahi hampir seluruh badannya karena berusaha mengejar sampah plastik yang terapung di sungai.
Sungguh … ini adalah pengalaman menarik bagi semua. Menarik karena anak-anak itu menemukan keceriaan dalam bentuk lain, tak hanya di mal-mal atau tempat rekreasi yang steril. Menarik juga bagi para laskar karung karena anak-anak pun turut ambil bagian dalam upaya menyelamatkan Ciliwung. Bagi orang-orang lain yang menontonnya … hal ini juga menarik. Karena semangat anak-anak yang tidak ragu memulung sampah Ciliwung setidaknya telah menumbuhkan rasa malu dalam diri mereka.
Terima kasih buat para anak-anak yang telah hadir berbasah-basah dalam Aksi Mulung ke-31 di Kedung Halang, Bogor. Semoga kehadiran kalian dapat menjadi awal yang baik bagi kesadaran warga (terutama Bogor) untuk memperhatikan kebersihan Sungai Ciliwung tercinta ini.
Read more

Para pembaca dan penggemar blog yang budiman. Dengan bangga kami ingin kabarkan bahwa "aksi mulung" ke-20, Minggu 26 Juli 2009 tetap terus dilakukan. Dimohon para pemulung tetap dan tidak tetap, para calon pemulung, para pemimpi, dan para pendukung mulung di Ciliwung di seluruh penjuru dunia agar meluangkan waktu dan tenaganya.
Lalu bagaimana cara menuju ke lokasi tersebut?
Silakan simak dan baca baik-baik petunjuk di bawah ini:
- Dengan kendaraan sendiri (dari Bogor): ikuti jalan menuju ke arah Cibinong/Jakarta (bukan tol) --> belok kiri di Kedung Halang, ke arah jalan alternatif menuju Pemda Bogor (Jl Raya Pemda-Kedung Halang), setelah talang air yang melintas di atas jalan Raya Bogor-Cibinong --> perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> belok kiri di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> ikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Darmaga (angkutan umum): menuju terminal Bubulak --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Baranang Siang (alternatif 1 angkutan umum): naik angkot 09 jurusan Warung Jambu/Ciparigi --> turun di pertigaan Jalan Baru --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Baranang Siang (alternatif 2 bis kecil): naik bis kecil jurusan Pasar Minggu atau Kampung Rambutan atau Depok atau Cibinong/Citeureup --> turun di talang air Kedung Halang yang melintas di atas jalan Raya Bogor-Cibinong --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Merdeka (angkutan umum): naik angkot 03 jurusan terminal Baranang Siang --> turun di Jalan Pajajaran, naik angkot 09 jurusan Warung Jambu/Ciparigi --> turun di pertigaan Jalan Baru --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
Read more

Boekan Awal ataoe Akhir, hanja nama jalan menojoe lokasi kita minggoe ini. Jaitoe Jl Pangkalan Doea.
Mang agak soelit pencarian kita, namanya joega oelar Anakonda. Tentoenya dia slaloe cari tempat tersemboenyi ke sela-sela bebatoean jang sepi dari tangan-tangan moesoehnja.
Berdasarkan delik jang kita pasang, saat ini mereka sedang nikmatnja melingkar di daerah Kedoeng Halang (soemoer di soengai jang terhalangi). Dan perjalanan kita haroes masuk dari Jl. Pemda Kedung Halang (angkot 32) dan toeuroen di Jl. Pangkalan II (Pesantren Al Anshar), turun ke arah Ciliwung.

Read more
Masih ingat dengan Ibu Pertiwi (or Boemi Pertiwi), kerennya sih Mother Earth. Istilah ini begitu kondangnya, hampir ada di setiap negara (sssst, katanya sih ada dalam sanubari orang lho!!!). Ada jang seboet Mother Nature, Mater Moi, #$@%^!, bahkan ada jang anggap ini bagai sesosok wanita ayu jang menaungi majapada tercinta ini.

Konon kabarnja, Mbah Tjiliwoeng poen toendoek soejoed, bertekoek loetoet, tiada berdaja jika Ibunda Pertiwi telah bersabda. Soeatoe saat Si Mbah kita ini pernah dapet omelan langsoeng (kaga pake internet-internet'an) daripada-Nja "Eh koe kamoe orang bisa tidak oeroes Eik poenja soengaij, ... itoe inlandehr jang tinggal di bantarannja soenggoeh lah tiada ... (red = dipotong, kaga berani euy, hehehe)".
Sjahdan, Si Mbah Tjiliwoeng poen poesing tiada terkira. Kedatangan Sang Ibu jang sangat dihormatinja itu bagai kan petir di tengah endahnja pagi. ... Sekonjong - konjong, tibha-tibha, ...
Gedubrak, Jatoeh Si Mbah dari Koersi Gojang-nja, ...
Bagaimana poen joega, masjarakat di sekitaran Soengaij Tjiliwoeng ini sangat dicintainja (soenggoeh, kaga boong, soe'r).
Hoeh, ... apa jang haroes koeperbaeat agar amarah Ibunda dapat mereda (sedikitttttttt saja).
...
Noen jauh disana (red= bumi), terseboetlah Lasjkar Karoeng van Tjiliwoeng jang tengah mengerenyitkan dahi-nja (doang, kalo jantoengnja ya soelitlah bernafas), ...
kok, kita gak bisa mancing ?
kok, air minoem kita ada benih-benih-nja (padahal dah pake PAM) ?
kok, ... (red= nanja doang, hehehe)
...
Ya soedahlah, moeloeng yuk.
Read more
Aliran sungai itu terhambat oleh bangunan beton setinggi pinggang orang dewasa. Berdiri kokoh dan melintang sepanjang lebar sungai membentuk pagar yang membendung sebagian massa air sungai. Di belakang bangunan, air sungai tampak tenang mengalir tak ada riak sedikitpun. Setelah air melalui beton penghalang tersebut, barulah air sungai mulai menunjukkan sifat aslinya. Itulah sedikit gambaran karakteristik sungai Ciliwung di perumahan Cilebut Bumi Pertiwi, Bogor.
“Lokasi yang menarik untuk menangkap anakonda!!!...meskipun dari segi ekologis akan menghambat jalur migrasi ikan”, pikirku.

Tidak jauh di depan bendungan kecil tersebut, sekitar 5-6 meter mengikuti arah aliran sungai, terdapat patahan membentuk jurang sedalam dua kali tinggi orang dewasa. Di tempat ini, air sungai tampak deras mengalir lalu kemudian terjun menuruni jurang tersebut. Diantara bangunan dan patahan inilah para volunteer (baca: “peserta”) yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor mulai menyebrangi sungai Ciliwung. Sang Kapiten Ejhonski bersama Meneer Hari mengawali misi penyebrangan ini sekaligus memberi contoh pada para peserta lainnya untuk menyebrang. Dengan memanggul baliho
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak”, Sang Kapiten Ejhon yang diikuti Meneer Hari pun mulai memperlihatkan kebolehannya melakukan ginkang menaklukkan derasnya arus sungai Ciliwung.
“Nih gini caranya kalau mau nyebrang di sungai ini!”, mungkin itulah yang terpikir di kepala Sang Kapiten dan Meneer-nya saat itu. Para peserta lainnya pun segera mengikuti keduanya dari belakang. Diantara peserta yang hadir tampak teman-teman dari
Majalah GATRA dan juga
Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,
Bapak Sumarto beserta satu putra dan satu putrinya.
Sampai di sebrang sungai, Sang Kapiten Ejhon beserta Meneer Hari dengan bantuan seorang pemuda bernama Budi segera memasang baliho menandai lokasi aksi mulung ke-17 (baca: “Lomba Nangkep Anakonda (sampah anorganik) Ciliwung”), Minggu, 5 Juli 2009. Setelah baliho terpasang diikuti berkumpulnya para peserta di sebrang sungai, Sang Kapiten pun segera menjelaskan aturan main “Lomba Nangkep Anakonda Ciliwung” ini. “Aturannya sederhana, tangkap saja anakonda-anakonda itu sebanyak-banyaknya dan waktunya dibatasi sampai jam 11.00 siang”, Kapiten Ejhon menjelaskan. Tidak lama kemudian masing-masing peserta pun segera mengambil karung satu persatu dan berpencar mencari dan menangkapi anakonda-anakonda Ciliwung. Tiga keluarga (keluarga Moes Jum, Ejhonski, dan Pak Sumarto) dan para peserta lainnya tampak saling bersaing untuk memenangkan perlombaan hari ini.
Sekitar lebih dari jam 11.00 siang, akhirnya perlombaan pun diakhiri. Dari 19 orang total peserta (termasuk anak-anak) yang hadir dalam perlombaan ini terkumpul sebanyak 64 anakonda Ciliwung dan sekitar lebih dari jam 12.35, anakonda-anakonda ini pun diangkut mobil kebersihan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor yang dikomandoi oleh Pak Rekas.(*)
“Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah hadir pada aksi mulung ke-17, terutama kepada Bapak Sumarto; teman-teman dari Majalah GATRA; Budi; dan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor. Semoga pada aksi-aksi berikutnya bisa hadir kembali. NGOMONG-NGOMONG, YANG JADI PEMENANG LOMBANYA SIAPA YA...???.”
Dilaporkan oleh:
Ruby Vidia Kusumah
Read more
Pernah kesoelitan toek lintasi aliran2 air?
Soengaij dengan aroes deras, bebatoean roencing (gak ada jang bantoe menatahnya toek bantoe menoempoelkannya), ... namoen airnya jernih. Alam memang soenggoeh ruarr biasa, perjalanan waktoe poen mampoe memberikan bentoek2 keindahan jang soelit ditoeliskan kembali, ...

Picaso, Leonardo da Vinci, Basoeki Abdulah, Raden Saleh, Oiek (Moes Jum)... bolehlah kita seboet mereka pelukis terkenal. Rendra, Kharil Anwar, Hamingway, Roewi, ... kita pantas menyeboet seniman2 ini penyair jang tiada doeanja. Saja dan moengkin anda hanja bisa terpana dengan karja2 mereka. ... kapan ja bisa seperti mereka?
Bakat-bakat jang kita peroleh sebenarnya tiada banding jika kita lihat nuansa sekeliling kita. Indah dan selaloe beroebah seiring waktoe, ... karja jang maha dahsjat, ... Hoejan, sinar matahari, angin, bantoe kita manoesia segarkan dahaga akan kenyamanan dan keindahan alam dan cakrawala, 24 jam berpoetar, tiada lelah.
Peroemahan Boemi Pertiwi, Cilebut - Bogor
Setelah sekian lama menoenggu, berharap dan berdoa (???), ... agar kita toeroet kembalikan karja para seniman alam ini. Akhirnja kita poen (Lasjkar Karoeng) datang, ... bukan sebagai ahli peroebahab, ... hanja bantu kawan2 disana, ... meniti bebatoean, oeloerkan tangan kita, raih jang kita tidak pernah toeleh.
Read more