
Sebuah SMS mendarat mulus di ponsel saya, beberapa jam setelah aksi mulung anakonda van Tjileboet minggu lalu. Dari siapakah itu? Ternyata itu adalah sebuah SMS Cinta yang datang dari teman baik kita semua para pemulung KPC. SMS Cinta dari Pak Sumarto, ditugasi oleh negara Indonesia ini menjadi Kepala Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Kenapa SMS Cinta, ... yaa karena saya yakin beliau mengirimkan SMS ini dengan kecintaan dan dukungan pada upaya kita para pemulung KPC ini. Terlebih beliau bertugas di daerah yang menjadi wilayah hulu dari Mbah Tjiliwoeng.
Tak hanya SMS lho. Beliau bahkan ikutan mulung selama lebih kurang 2 jam di Cilebut Bumi Pertiwi bersama 2 orang putra-putrinya. Saya secara pribadi turut bangga dengan dukungan penuh dari seorang Kepala Taman Nasional ini. Beliau tak hanya memberi dukungan dalam bentuk "kata-kata", namun juga dalam bentuk aksi nyata.
Ehh jadi kelupaan mengabarkan soal SMS Cinta tadi. Berikut adalah pesan SMS dari Pak Sumarto ...
TO KELOMPOK PEDULI CILIWUNG (MAS HAPSORO DKK).
KESAN SAYA:
kegiatan mulung kali ciliwung sangat bagus, dan perlu dikembangkan.
MASUKAN SAYA: (1) perlengkapan teman2 sebaiknya ditingkatkan sehingga lebih menjaga kesehatan, baik saat kerja maupun bilas diri, dan atau (2) pelaksanaan mulung dibantu/dikerahkan pemulung sebenarnya yang kita bayar, sehingga kita lebih concern pada kampanye dan identifikasi jenis sampahnya untuk diinfokan pada masyarakat dan produsennya.
TINDAK LANJUT TNGGP: (A) TNGGP akan coba adakan beberapa peralatan kebersihan sungai (apa ya ?, sarung tangan panjang, sapu lidi, serok tampah, sabun bilas, dll ?), dan (B) TNGGP akan coba atur pengiriman pegawai untuk gabung mingguan dgn teman2.
CC. KABIDTEK, KBTU DAN KABIDWIL TNGGP.
Hmmm terima kasih yaa Pak Marto atas masukan dan dukungannya. Tapi, sebenarnya kita ini (baca: KPC) melakukan kegiatan "mulung" secara sukarela. Jadi kita tidak mungkin akan membayar orang lain (atau pemulung). Harap maklum aja ... hehehe

foto Pak Sumarto diunduh dari laman ini.
Read more
Masih ingat dengan Ibu Pertiwi (or Boemi Pertiwi), kerennya sih Mother Earth. Istilah ini begitu kondangnya, hampir ada di setiap negara (sssst, katanya sih ada dalam sanubari orang lho!!!). Ada jang seboet Mother Nature, Mater Moi, #$@%^!, bahkan ada jang anggap ini bagai sesosok wanita ayu jang menaungi majapada tercinta ini.

Konon kabarnja, Mbah Tjiliwoeng poen toendoek soejoed, bertekoek loetoet, tiada berdaja jika Ibunda Pertiwi telah bersabda. Soeatoe saat Si Mbah kita ini pernah dapet omelan langsoeng (kaga pake internet-internet'an) daripada-Nja "Eh koe kamoe orang bisa tidak oeroes Eik poenja soengaij, ... itoe inlandehr jang tinggal di bantarannja soenggoeh lah tiada ... (red = dipotong, kaga berani euy, hehehe)".
Sjahdan, Si Mbah Tjiliwoeng poen poesing tiada terkira. Kedatangan Sang Ibu jang sangat dihormatinja itu bagai kan petir di tengah endahnja pagi. ... Sekonjong - konjong, tibha-tibha, ...
Gedubrak, Jatoeh Si Mbah dari Koersi Gojang-nja, ...
Bagaimana poen joega, masjarakat di sekitaran Soengaij Tjiliwoeng ini sangat dicintainja (soenggoeh, kaga boong, soe'r).
Hoeh, ... apa jang haroes koeperbaeat agar amarah Ibunda dapat mereda (sedikitttttttt saja).
...
Noen jauh disana (red= bumi), terseboetlah Lasjkar Karoeng van Tjiliwoeng jang tengah mengerenyitkan dahi-nja (doang, kalo jantoengnja ya soelitlah bernafas), ...
kok, kita gak bisa mancing ?
kok, air minoem kita ada benih-benih-nja (padahal dah pake PAM) ?
kok, ... (red= nanja doang, hehehe)
...
Ya soedahlah, moeloeng yuk.
Read more
Aliran sungai itu terhambat oleh bangunan beton setinggi pinggang orang dewasa. Berdiri kokoh dan melintang sepanjang lebar sungai membentuk pagar yang membendung sebagian massa air sungai. Di belakang bangunan, air sungai tampak tenang mengalir tak ada riak sedikitpun. Setelah air melalui beton penghalang tersebut, barulah air sungai mulai menunjukkan sifat aslinya. Itulah sedikit gambaran karakteristik sungai Ciliwung di perumahan Cilebut Bumi Pertiwi, Bogor.
“Lokasi yang menarik untuk menangkap anakonda!!!...meskipun dari segi ekologis akan menghambat jalur migrasi ikan”, pikirku.

Tidak jauh di depan bendungan kecil tersebut, sekitar 5-6 meter mengikuti arah aliran sungai, terdapat patahan membentuk jurang sedalam dua kali tinggi orang dewasa. Di tempat ini, air sungai tampak deras mengalir lalu kemudian terjun menuruni jurang tersebut. Diantara bangunan dan patahan inilah para volunteer (baca: “peserta”) yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor mulai menyebrangi sungai Ciliwung. Sang Kapiten Ejhonski bersama Meneer Hari mengawali misi penyebrangan ini sekaligus memberi contoh pada para peserta lainnya untuk menyebrang. Dengan memanggul baliho
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak”, Sang Kapiten Ejhon yang diikuti Meneer Hari pun mulai memperlihatkan kebolehannya melakukan ginkang menaklukkan derasnya arus sungai Ciliwung.
“Nih gini caranya kalau mau nyebrang di sungai ini!”, mungkin itulah yang terpikir di kepala Sang Kapiten dan Meneer-nya saat itu. Para peserta lainnya pun segera mengikuti keduanya dari belakang. Diantara peserta yang hadir tampak teman-teman dari
Majalah GATRA dan juga
Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,
Bapak Sumarto beserta satu putra dan satu putrinya.
Sampai di sebrang sungai, Sang Kapiten Ejhon beserta Meneer Hari dengan bantuan seorang pemuda bernama Budi segera memasang baliho menandai lokasi aksi mulung ke-17 (baca: “Lomba Nangkep Anakonda (sampah anorganik) Ciliwung”), Minggu, 5 Juli 2009. Setelah baliho terpasang diikuti berkumpulnya para peserta di sebrang sungai, Sang Kapiten pun segera menjelaskan aturan main “Lomba Nangkep Anakonda Ciliwung” ini. “Aturannya sederhana, tangkap saja anakonda-anakonda itu sebanyak-banyaknya dan waktunya dibatasi sampai jam 11.00 siang”, Kapiten Ejhon menjelaskan. Tidak lama kemudian masing-masing peserta pun segera mengambil karung satu persatu dan berpencar mencari dan menangkapi anakonda-anakonda Ciliwung. Tiga keluarga (keluarga Moes Jum, Ejhonski, dan Pak Sumarto) dan para peserta lainnya tampak saling bersaing untuk memenangkan perlombaan hari ini.
Sekitar lebih dari jam 11.00 siang, akhirnya perlombaan pun diakhiri. Dari 19 orang total peserta (termasuk anak-anak) yang hadir dalam perlombaan ini terkumpul sebanyak 64 anakonda Ciliwung dan sekitar lebih dari jam 12.35, anakonda-anakonda ini pun diangkut mobil kebersihan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor yang dikomandoi oleh Pak Rekas.(*)
“Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah hadir pada aksi mulung ke-17, terutama kepada Bapak Sumarto; teman-teman dari Majalah GATRA; Budi; dan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor. Semoga pada aksi-aksi berikutnya bisa hadir kembali. NGOMONG-NGOMONG, YANG JADI PEMENANG LOMBANYA SIAPA YA...???.”
Dilaporkan oleh:
Ruby Vidia Kusumah
Read more
Pernah kesoelitan toek lintasi aliran2 air?
Soengaij dengan aroes deras, bebatoean roencing (gak ada jang bantoe menatahnya toek bantoe menoempoelkannya), ... namoen airnya jernih. Alam memang soenggoeh ruarr biasa, perjalanan waktoe poen mampoe memberikan bentoek2 keindahan jang soelit ditoeliskan kembali, ...

Picaso, Leonardo da Vinci, Basoeki Abdulah, Raden Saleh, Oiek (Moes Jum)... bolehlah kita seboet mereka pelukis terkenal. Rendra, Kharil Anwar, Hamingway, Roewi, ... kita pantas menyeboet seniman2 ini penyair jang tiada doeanja. Saja dan moengkin anda hanja bisa terpana dengan karja2 mereka. ... kapan ja bisa seperti mereka?
Bakat-bakat jang kita peroleh sebenarnya tiada banding jika kita lihat nuansa sekeliling kita. Indah dan selaloe beroebah seiring waktoe, ... karja jang maha dahsjat, ... Hoejan, sinar matahari, angin, bantoe kita manoesia segarkan dahaga akan kenyamanan dan keindahan alam dan cakrawala, 24 jam berpoetar, tiada lelah.
Peroemahan Boemi Pertiwi, Cilebut - Bogor
Setelah sekian lama menoenggu, berharap dan berdoa (???), ... agar kita toeroet kembalikan karja para seniman alam ini. Akhirnja kita poen (Lasjkar Karoeng) datang, ... bukan sebagai ahli peroebahab, ... hanja bantu kawan2 disana, ... meniti bebatoean, oeloerkan tangan kita, raih jang kita tidak pernah toeleh.
Read more