

Penggunaan Prinsip Ownership Lahan Pinggiran Sungai dan Konsekuensi Enclosure (penembokan) di Hulu DAS Ciliwung.
Kenapa publik harus terlibat ke dalam pengelolaan air di Indonesia ini? Aku jawab dengan lantang karena publik pengguna air adalah pemilik langsung sungai, apalagi kalau para pengguna air ini benar-benar tinggal di sepanjang sungai dan menggantungkan nafkah hidupnya di sana. Ayo kita periksa apa konsekuensi dari berpikir dengan cara ini.
Seorang kawan mengoreksi. Hati-hati dia menjelaskan bahanya berpikir dengan prinsip ownership seperti itu. Enclosure itu yg akan terjadi. Kepemilikan pribadi akan memagari kawasan yg dirasa menjadi hak pribadinya. Mereka akan membuat tembok tinggi agar batas satu kawasan dengan kawasan tetangganya menjadi jelas. Mereka akan membatasi orang yg bukan hak nya untuk masuk dan menutup akses jalan atau fungsi lingkungan lainnya. Oalah pantas saja sepanjang nyusur Ciliwung kemarin yg kami temukan hanya tembok dan tembok melulu! Akhirnya kami harus malang-melintang melintasi sungai dan merasakan dingin dan arus deras Ciliwung, agar kami bisa melanjutkan nyusur.
Lahan pinggiran sungai berubah fungsi menjadi hanya komoditi semata. Lahan itu bisa diperjualbelikan, apalagi setelah diurus sertifikat tanah. Dengan mudah lahan bersertifikat itu dijual ke orang luar umumnya orang dari kota yg datang dengan kapital (baca: orang kaya atau pengusaha hotel atau pejabat yg punya duit segunung). Mereka membeli lahan pinggir sungai dan membangun vila di atasnya, baik untuk rekreasi keluarga di akhir pekan, disewakan ke tetangga dan handai taulan, atau secara serius dikelola menjadi hotel baik berbintang atau berbulan (nggak ada yah kategori hotel berbulan).
‘Tuh yg ngerusak sungai vila XXX (saya kurang nangkep nama vila yg dimaksud)’ dan lapangan golf (sambil menunjuk baliho besar tepat di pinggir jalan), kata seorang ‘pak ogah polisi cepek’ di perapatan Gadog. Waktu setengah jam karena terjebak buka-tutup arus searah hari Sabtu sore itu kupakai untuk ngobrol soal sungai. Bahayanya nongkrong di perapatan sambil ngobrol ngalor-ngidul seperti ini adalah keasyikan lupa diri. Ooo ibu tuh seperti dosen yg suka meneliti, ‘Kenapa atuh belum jadi dosen juga?’ Sempat-sempatnya lagi tuh preman nanyain begini: ‘Ibu tuh perempuan atau laki-laki?’
Mungkin tidak ada dalam memori di kepalanya konsep seorang perempuan yg bicara langsung melihat ke mata lawan bicaranya, nyaman saat digodain, dan bertanya sesuatu yg membuat dia bercerita yg sesungguhnya ingin dia ungkapkan. Nggak kebayang juga bagaimana dan kemana seseorang seperti dia yg pekerjaan sehari-harinya saja tidak tercatat di BPS (biro pusat statistik), tapi punya perhatian terhadap sungai dan perubahan alih fungsi-lahan seperti yg terjadi di tempat dia tinggal.
Saya pernah ngumpulin warga yg keberatan karena air sumur jadi berkurang dan mengering setelah sebuah vila nyedot air tanah untuk keperluan kolam renang water boom-nya. Akhirnya saya dan dua teman saya dipanggil ke kantor polisi dan dipertemukan dengan si pemilik vila. Dua orang teman saya jadi diam setelah mereka mendapat amplop. Saya sendiri yg akhirnya berurusan dengan polisi.
Ah nyaris menangis mendengar cerita orang ini. Dan beberapa menit setelah pukul 1500 arus naik ditutup, gantian arus turun yg dibuka. Giliran angkot yg kutumpangi melaju turun membawaku ke kota Bogor tercinta. Cukup lengkaplah petualangan hari ini. Melihat langsung bagaimana teori dan praktek pembangunan yg diterapkan pemerintah sesungguhnya terjadi di DAS Ciliwung.
Read more
Menyusur sungai memang memberi banyak pengalaman dan pengetahuan. Kita tak hanya akan merasakan basah, dingin, panas terik, kotor, dan lelah karenanya. Tapi segala hal yang kita temui juga memberikan banyak sekali informasi yang tadinya tak pernah terbayangkan.
Hal itu lah kira2 yang saya alami ketika menjadi peserta Soesoer Tjiliwoeng 12 Februari 2011 lalu. Sebuah papan peringatan sempat membuat kening saya berkerut2. Jika sepintas kita lihat, maka papan peringatan itu tampak seperti sebuah peringatan biasa saja. Sama seperti umumnya papan peringatan milik Pemerintah yang berisi banyak sekali kata-kata. Namun ketika saya memperhatikannya lekat2, rasanya saya menemukan kejanggalan. Janggal karena menurut pemahaman dangkal saya, ternyata membuang sampah ke sungai itu dilarang, KECUALI jika hal tersebut mendapatkan ijin dari pihak yang berwenang. Lhoo?? Berarti sebenarnya kita semua bisa mendapatkan ijin untuk membuang sampah ke sungai dong? ...
Untunglah saya tdk mampu menganalisa lebih jauh tentang makna dari tulisan2 itu. Saya hanya mampu merekamnya dengan kamera, siapa tahu ada gunanya kelak.
Sepanjang perjalanan ternyata lebih banyak yang saya temui di jalur Taman Wisata Matahari hingga Jembatan Gadog dalam susur ini. Kami bersepuluh melintasi berbagai kawasan dalam ragam peruntukkan hingga kepemilikannya. Kalau perkampungan warga atau villa orang kaya atau hotel, rasanya sudah wajar deh di daerah itu. Gak usah ditanya jumlahnya ... buanyaaaak banget. Gak tahu juga kenapa rata2 bangunan hotel atau villa itu berada berdekatan, bahkan berimpit atau mengambil lahan sungai.
Soal kepemilikan lahan di wilayah hulu bantaran Ciliwung ini ternyata tidak hanya oleh perorangan ataupun Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Tak dinyana ternyata Pemerintah DKI Jakarta juga memiliki lahan di kawasan itu. Setidaknya kami menemukan 2 lahan milik Pemerintah Jakarta tsb. Sebuah lahan ratusan meter persegi di tepi Ciliwung yang ditanami dengan tanaman penghijauan jenis Jabon (Anthocephalus cadamba) kami jumpai tepat di depan muara Sungai Cisarua. Lebih ke hilir, ternyata ada lagi lahan milik Pemda DKI yang dikelola oleh Wisma Jaya Raya. Lokasinya berada di daerah Cipayung, di sekitar Kampung Cijulang. Tidak tanggung2, bukan hanya seluas ratusan meter persegi lahan tepat di bibir sungai, tapi juga termasuk sebuah delta sungai. Di delta sungai itu bahkan terpampang 2 buah papan penanda kepemilikan lahan.

Melihat hal itu kontan dahi saya kembali berkerut2. Jadi ... Jakarta tak hanya memiliki aliran Ciliwung di hilirnya. Ternyata sejak dari hulunya kita dapat menjumpai lahan milik Jakarta .... ckckckckckkkk. Wajar saja jika sungai ini banjir, airnya juga menerjang deras hingga ke Jakarta.
Read more

AL HAMDULILLAH susur tjiliwoeng kali ini banyak temuanya. susur tjiliwoeng lanjutan yang di lakukan oleh KPC, dimulai dari TWM ( taman wisata matahari ) finisht di jembatan tjiliwoeng gadog. banyak sekali yang dapat di temukan berdasarkan komando komandan soesoer, komandan soesoer tjiliwoeng mengintruksikan pada orang-orang yang ikutan soesoer bahwasan nya soesoer tjiliwoeng yang di gagas oleh KPC bebas terngantung cara memandang nya dari masing2 orang yang ikutan soesoer.
eeeh...... kalau peneliti ya.... silakan neliti......
eeeeemmmmmm....... kalau profesi nya pemulung yyyya.... silakan mulung.
aeeeeeet....... kalau profesi nya petualangan yaaaa silakan terapkan dengan gaya petualangan nya.

kalau profesinya masyarakat kira kira apa komandan kontribusi nya terhadap tjiliwoeng? oooooh kalau profesi nya masyarakat yaaa paling tidak ngak merusak tjiliwoeng dan seharus nya tjiliwoeng di jaga dari kerusakan yang mengancam tjiliwoeng..... contoh nya apa kumendan? yaaaa tjiliwoeng jagan di jadikan tempat sampah !....... bukan tidak mungkin kalau tjiliwoeng di jadikan tempat sampah si mbaurekso tjiliwoeng menjadikan masyarakat itu nanti nya sampah sungai...... contoh nya ketika tjiliwoeng mengamuk mbanjirrrrr dimana-mana berjatuhan korban yang di sebabkan oleh masyarakat itu sendiri.

kumendan apa sih yang ditemukan atau yang di hasilkan dari soesoer tjiliwoeng kemaren?.....
emmm apa yaaaa .... tergantung yang memandang nya dan yang ikutan soesoer itu cara pandang nya seperti apa? yang jelas kalau intruksi si kumendan soesoer di bebas kan segi pandang nya yaaa tergantung yaang ikutan soesoer lahhhhhh ;;;;;;;.
kumendan tolong donk tjerietaken sedikit apa aja si yang di temukan di sela sela soesoer tjiliwoeng tanggal 12-02-2011?.....
kalau yang di pandang kumendang untuk saaat ini sih buanyak nya sampah dan buanyak nya mata air yang ada di tjiliwoeng....
kalau segi baik nya apa yang harus kita lakukan terhadap temuan itu kumendan...?
kalau menurutku si baik nya kita sebagai warga negara dan masyarakat yang baik jangan hanya saling menyalahkan.... dan jangan hanya mebahas nya apa dan ngimana kita akan melakukan kalau hanya sebatas obrolan si anak keciiiiil juga bisa. masak sih kumendan soesoer kemarin hanya itu aja yang di dapatkan?
sebenar nya banyak sih yang di temukan di sungai dan anak tjiliwoeng. misal nya mbaurekso kemaren bercerita ketika KPC melakukan soeoser tjiliwoeng dari TWM, warga dan pulisi di hulu tjiliwoeng menemukan mayat yang di bungkus di buang ke sungai. berbarengan dengan soesoer tjiliwoeng yang di lakukan oleh KPC, untung nya yang menemukan bukan yang melakukan soesoer..... kalau yang menemkan yang melakukan soesoer kejadian nya bisa repot. bisa jadi soesoer tjiliwoeng di berhentikan sejenak oleh kumendan soesoer.
wah lengkap dong kumendan isi tjiliwoeng?
kalau mau lengkap isi dan apa saja yang ditemukan oleh orang orang yang ikutan soesoer kemaren sih...... tongkrongin aja blog nya tjiliwoeng. WWW.TJILIWOENG DREAM.CO.CC kan nanti buanyak yang tjerieta.
kalau dari yang di temukan kumendan secara sudut padang kumendan kemaren kumendan dan yang ikutan soesoer menemukan tanaman air, anak ikan lele, anak ikan jeuller, anak ikan keukel. bahkan menemukan bogo'g ( jenis Gabus ), mata air berlimpah, buangan air limbah selokan berlimpah,delta sungai yang banyakdi manfaatkan dan saluran irigasi ke sawah warga.
kalau untuk villa dan perusahaan apa saja yang mengambil tanah sepadan sungai kumendan?
kalau untuk villa sih buanyak sekali contoh nya ada GG house, pramesthi, wisma jaya raya dan perusahaan negara PLN.
ooooom kalau peengen lengkap tunggu aja yyaaaa tjerita yang ikutan soesoer?
Read more
Sebuah kota yang hidup dan selalu bergerak, pada suatu masa ketika dipotret pasti menampakkan kesenjangan. Jangan buru-buru diartikan sebagai ketidakadilan, karena sebagai sebuah potret, ia hanya penggalan keadaan ketika detak waktu dihentikan. Ia tidak bercerita tentang sebab atau keadan-keadaan lain yang dilewati sebelum terpotret.
Coba
sampeyan memanjat menara BTS setinggi.... Eh, jangan,
ding.. Jangan.., terlalu beresiko. Ini saja,
gunakan google-maps atau google-earth, arahkan dan perbesar di daerah pemukiman di Kota Bogor. Nampak rumah-rumah, ada yang besar ada yang kecil, ada yang reyot ada pula yang kokoh.
Potret yang dibuat oleh satelit itu tidak bercerita tentang bagaimana rumah-rumah itu dibangun, siapa yang membangun, atau apa yang dilakukan si pembangun ketika menyiapkan pembangunannya. Dengan potret sampeyan bisa melihat kesenjangannya, tetapi belum tentu bisa melihat keadilannya. Saya pandang adil jika wujud rumah itu dibangun sesuai dengan daya upaya pembangunnya, tanpa merugikan siapa pun atau apa pun di sekitarnya, sebelum maupun setelah rumah itu dibangun.
Setelah puas melihat potret rumah-rumah, coba juga melihat potret Sungai Ciliwung. Apakah sampeyan bisa menemukan perbedaan-perbedaan di sepanjang sungai itu?
Ya, betul sekali. Ada gerombolan pohon-pohon, ada petak-petak sawah dan kebun, ada bangunan besar dan kecil, ada tanah kosong berwarna coklat, ada jalan batu atau beraspal. Tentu ada banyak sekali kesenjangan.
Potret itu sama hakekatnya dengan rekaman indera penglihatan. Mata memotret satu kali, dua kali, terus sampai tak terhingga kali, lalu disimpan di dalam otak. Bedanya, otak mampu merangkai rombongan potret tadi ditambah rekaman indera yang lain, layaknya sebuah perangkat multimedia, bahkan lebih hebat lagi, ia sanggup menerjemahkan semuanya menjadi sebuah kesimpulan.
Sejenak saya akan ajak sampeyan kembali ke soal Ciliwung dan berandai-andai. Jika melihat potret Kali Ciliwung pada suatu waktu di bulan Maret, dalam keadaan air berlimpah melewati bibir sungai dan berwarna coklat tua, nampak membawa batang pohon, sampah, bahkan sofa dan pintu rumah, apa yang bisa segera sampeyan simpulkan?
Ya, mantap! Saya yakin sampeyan bisa menjawabnya dengan cepat.
Tetapi kalaupun ada di antara sampeyan belum bisa menyimpulkan apa-apa, saya lega. Syukurlah, ke’oon’an saya masih ada kawannya, wakakakakaka..... Dan kalaupun saya harus jaga imej, cukuplah dengan berkilah, “Ah, belum cukup kami melihat potret-potret yang lain. Mana bisa menyimpulkan...”.
Kawan saya yang sedari tadi sudah ngintip dari belakang, tiba-tiba nyeletuk, “Halah, kalo cuman ngayal, mah.....,” Komentarnya sengaja digantung sambil bergerak menjauh. Stop di depan pintu, dia lanjutkan, “Ntar Sabtu, kalo mau liat potret Ciliwung yang aseli... catat: DUA BELAS PEBRUARI DUA RIBU SEBELAS, baru tau adil apa enggak....”
Catatan:Anggaplah tulisan ini sebagai undangan alih-alih tantangan. Pada tanggal tersebut, hari Sabtu, berkumpul di Terminal Damri, pukul 06.00. Penyusuran akan dimulai dari Taman Wisata Matahari ke arah hilir. Bawalah bekal dan perlengkapan masing-masing secukupnya saja.
Read more
“Emang Ciliwung ada ikannya?”, mungkin itulah pertanyaan yang berulangkali harus kami (KPC) jawab saat akan melakukan pengoleksian ikan. Bagi kebanyakan orang, kalimat tanya ini mungkin terdengar sangat biasa atau bahkan tak bermakna apa-apa. Tak ada yang spesial, tak juga ada teka teki yang harus ditebak. Hanya sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban saja. Cuma itu.
Biasa bagi kebanyakan orang, bukan juga berarti biasa bagi yang lainnya. Bagi Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) sendiri, pertanyaan yang dibangun dari empat kata ini telah memberikan makna lain berupa semangat. Semangat luar biasa yang kemudian diterjemahkan menjadi suatu keharusan. Bagai sebuah “pecut” yang mencambuk seluruh bagian tubuh, pertanyaan ini seakan telah menemukan caranya sendiri untuk memaksa KPC agar berusaha lebih keras melakukan sebuah pembuktian. Suatu upaya untuk menjawab pertanyaan serta mencari informasi tentang sesuatu yang bernilai benar.
Tantangan yang semakin menarik.
Susur Ciliwung yang digagas KPC merupakan kesempatan baik untuk mengenal Ciliwung lebih jauh serta menggali berbagai informasi yang ada, termasuk ikan-ikan yang menjadi penghuninya. Dengan penyusuran yang dilakukan mulai dari hulu sungai maka diharapkan banyak lokasi yang bisa digunakan untuk mengoleksi berbagai jenis ikan Ciliwung.
Dalam derasnya arus sungai, di balik sampah-sampah yang mengotori Ciliwung, serta di belakang bebatuan yang menahan laju aliran sungai, ikan-ikan itu akhirnya bisa ditemukan dan ditangkap untuk dijadikan koleksi. Dari dua titik lokasi penangkapan di Desa Tugu Utara, Puncak, Bogor, total ikan yang berhasil diperoleh adalah sebanyak 26 ekor yang berasal dari 6 spesies (3 spesies lokal/native; 3 spesies asing/introduksi). Spesimen berupa ikan-ikan mati ataupun hidup selanjutnya menjadi koleksi 
Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) yang kemudian dibawa ke Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Selain ikan-ikan yang diperoleh saat Susur Sungai, sebelumnya, KPC juga pernah mengoleksi beberapa spesies ikan penghuni Ciliwung lainnya di Lebak Kantin, Sempur; Kebun Raya Bogor; Bendungan Cibagoloh; serta Pangkalan Satu, Kedung Badak. Ikan-ikan tersebut antara lain adalah: sili, arelot, senggal, paray, …bersambung
RUBY VIDIA KUSUMAH
BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jl. Perikanan No. 13 Rt 1/ RW 2
Pancoran Mas, Kota Depok
JAWA BARAT, INDONESIA 16436
Telp. 62 21 75 20 48 2
Cell. 62 87 87 87 57 20 5
Email: kusumah_rv@yahoo.com
Read more
- 11:58 PM
-
beunteur,
Ciliwung,
Glyptothorax,
guppy liar,
ikan,
jeler,
kehkel,
Nemacheilus,
nila,
Oreochromis,
platy pedang,
Poecilia,
Puntius binotatus,
riset,
spesies,
susur,
susur sungai,
Xiphoporus
Berita mengenai rencana penelusuran hulu Ciliwung aku terima pertama kali melalui emailku, Rabu (22/12), dari sang pengirim yang tak lain tak bukan Hari Kikuk, Spesialis Urusan Logistik Komunitas Peduli Ciliwung yang kali ini didaulat sebagai komandan sUrCil (susur Ciliwung). Takut tidak dapat hadir dalam ngobrolin rencana tersebut, apalagi sampai pelaksanaan kegiatan, aku diamkan saja email itu.
Sabtu (8/1) selepas sholat Subuh, aku bergegas memacu motorku menuju tempat yang ditetapkan untuk berkumpul, Gerbang Terminal Damri Bogor. Lagi-lagi permohonan Hari Kikuk, sang komandan sUrCil, untuk datang tepat waktu pukul 05.00 WIB tidak bisa terpenuhi, aku terlambat. Wuih..ternyata dah banyak rekan-rekan yang berkumpul. “Sorry teman aku terlambat..” begitu pertama kali aku menyapa mereka. Mengetahui apa yang mereka bawa, aku tahu kalau sUrCil ini kelihatannya agak sedikit serius. Ada yang bawa GPS, kamera, dan peralatan tulis menulis, tidak seperti biasanya yang membawa karung buat mulung sampah. Rubby, salah satu penelusur, yang kesehariannya bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan membawa seperangkat alat tangkap ikan kecil untuk mencari sample ikan, lengkap dengan bahan awetan spesimen basah. Sementara itu aku membawa teropong alias kÄ•keran, iseng-iseng jikalau ada objek menarik sepanjang sUrCil kan lumayan buat penyegaran mata. Apalagi memang niatanku ingin hilangkan penat, maklum akhir-akhir ini lagi sedikit full. Sekian lama kemudian, tapi masih pukul lima lebih limapuluh lima waktu Indonesia barat, satu rombongan penelusur hulu Ciliwung sejumlah 13 orang bertolak menuju titik pendaratan pertama, kawasan Telaga Warna.
Telaga Warna, dalam banyak literatur, disebutkan sebagai pangkalnya, alias hulunya, Sungai Ciliwung. Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai cagar alam (368,25 hektar) dan taman wisata alam (5 hektar) oleh pemerintah berada pada lketinggian 1.400 m dpl. Lokasinya yang berdekatan dengan jalur Jalan Raya Puncak membuat kawasan ini banyak dikunjungi wisatawan, terutama untuk menikmati eksotisme danau telaga warna. Hutan alami yang memanjang dengan tebing terjal di samping kanan, pohon puspa, saninten dan rasamala, pakis, liana, pisang monyet, lumut tebal menempel pada batang, seolah memperlihatkan ciri hutan pegunungan tropis alami. Sungguh berdaya magis dalam liputan kabut pagi di tepi telaga dengan gerombolan Macaca fascicularis yang mendekat dan sesekali berteriak menjaga wilayah mereka.
Meski singkat di Telaga Warna, aku sempat melihat Rhipidura phoenicura atau kipasan ekor-merah, burung endemik jawa dari keluarga sikatan ini didominasi warna coklat-merah bata mulai dari tubuh bagian tengah sampai dengan ekor. Sementara tubuh bagian tengah sampai kepala didominasi hitam dengan putih di bagian perut dan tenggorokan. Senang sekali melihat kembangan dan goyangan ekor kipas sembari berlompatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Burung dengan sebaran terbatas pada pegunungan jawa ini dapat ditemukan pada ketinggian 1000-2500 m dpl. Selain kipasan, nyanyian nyaring Malacocincla sepiaria atau pelanduk semak terdengar jelas di sema-semak tepian hutan.
Hanya beberapa menit aku menikmati suasana hutan tropis ini, perjalanan mesti dilanjutkan menelusur lika-liku aliran air. Tidak ada metode baku, tidak ada panduan dalam penelusuran ini, pokoke jalan aja...gak ada target, sesampainya aja.. begitu tekad sederhana kami.
Lika-liku Ciliwung memang merefleksikan lika-liku kehidupan masyarakat yang dilaluinya. Tentu saja dengan kompleksitas persoalan hulu-hilir yang sering muncul. Bagaimana tidak, aliran sempit selokan Ciliwung yang kami temui di sekitar Telaga Warna, kemudian menjadi selokan buangan air limbah rumah tangga, sampai kemudian semakin lebar menjadi sungai, menjadi momok menakutkan bagi Jakarta karena terus-terusan mengirim banjir, melumpuhkan aktivitas ekonomi, kerugian milyaran rupiah pun tak terhindarkan.
Memasuki kebun teh, suasana mulai ramai dengan kicau tiga ekor Prinia familiaris atau prenjak jawa yang sedang bermain pada dahan kaliandra, seolah menyambut kedatangan tim penelusur yang masih kebingungan mencari aliran air. Tim menemukan daerah basah tergenang air, selang beberapa saat aliran air selebar kurang dari 1 meter mulai terlihat jelas mengalir di antara kebun teh mirip aliran selokan. Seekor Halcyon cyanoventris atau cekakak jawa meluncur tajam dari arah yang lebih atas sembari berteriak-teriak. Burung ini suka bersarang pada tebing-tebing sungai di sekitar rimbunan bambu. Sementara itu puluhan Collocalia esculenta atau walet sapi terbang tidak teratur berusaha menangkap serangga terbang pada areal terbuka kebun teh.
Gemericik aliran sungai Ciliwung makin keras terdengar dengan makin lebarnya badan sungai dan bebatuan yang membentuk riak-jeram kecil. Memasuki wilayah permukiman penduduk, dengan dominasi penggunaan sempadan sungai sebagai kebun campuran memberikan peluang untuk bisa menemukan lebih banyak burung. Terbukti, jenis-jenis burung khas pekarangan rumah dan kebun campuran mulai teridentifikasi seperti Aegithina tiphia cipoh kacat, Cacomantis merulinus wiwik kelabu, Pycnonotus aurigaster cucak kutilang, Lanius schach bentet coklat, Zosterops palpebrosus kacamata jawa, Dicaeum trochileum cabe jawa, Streptopelia chinensis tekukur biasa dan Lonchura leucogastroides bondol jawa serta tidak ketinggalan Passer montanus atau burung gereja. Pagi hari semakin bersemarak dengan kicau ramai burung-burung ini. Bahkan saat rehat, seekor burung pelatuk Dendrocopus macei atau caladi ulam berhasil teramati persis pada batang pohon dekat dengan sebuah villa mewah yang baru dibangun.
Penelusuran sempat terhenti sejenak karena hujan yang cukup besar. Namun karena sudah siap diri, tim penelusur menggunakan payung, jaket hujan, ponco, topi, bahkan hanya mengandalkan kantong kresek hitam untuk menutup kepala agar tidak kehujanan. Lanjuttt....
Penelusuran mulai sedikit menantang karena beberapa kali harus masuk ke dalam badan sungai. Jalan menuju aliran Ciliwung seringkali terhalang tembok-tembok villa sehingga tim penelusur kesulitan mengikuti alirannya. Pada kesempatan ini, beberapa kali dijumpai Motacila cinerea atau kicuit batu melompat di atas bebatuan di dalam badan sungai. Halcyon chloris atau cekakak sungai pun tidak luput dari bidikan teropongku. Yup... salah satu jenis burung dari keluarga Alcedinidae atau raja udang ini memang mencolok, sering bertengger pada dahan kering di areal terbuka, khususnya yang dekat dengan sumber air. Jenis ini empat kali tercatat selama penelusuran hari itu.
Pada dataran yang lebih tinggi, aku mencoba meneropong daerah perbukitan yang terlihat lebih hijau dan berhutan. Satu, dua, tiga...terlihat villa-villa baru yang sedang dibangun. Sementara itu, seekor Ictinaetus malayensis atau elang hitan melayang diatas bukit-bukit berhutan tersebut.
Rehat makan siang kami gunakan sebaik mungkin untuk isi “amunisi”, maklumlah tidak banyak dari kami yang sarapan pagi sehingga makan siang kali ini begitu nikmat dan bersemangat.

Aku tidak tahu pasti berapa kilometer yang sudah dilalui hari ini, namun informasi jarak lurus dari GPS menunjukkan 5 km, aku menduga kalau jarak sesungguhnya bisa tiga kali lipatnya. Dua hal yang menjadi catatanku selama penelusuran sehari itu adalah pertama bahwa persoalan Ciliwung tidak terlepas dari aspek penggunaan lahan dan perubahannya. Mulai dari Telaga Warna yang berupa hutan tropis alami penyerap dan penampung air hujan, berubah menjadi kebun teh, kemudian menjadi permukiman padat, kebun campuran, sawah, halaman depan villa, dan sarana objek wisata. Itu baru 5 km pertama, belum lagi kalau ditelusur sampai bawah. Permukiman padat, limbah industri, limbah rumah tangga, sampah, penyempitan badan sungai, dan segepok persoalan lainnya menanti di bagian tengah dan hilir. Kedua bahwa akumulasi sampah telah di mulai dari hulu sungai bahkan pada lokasi paling hulu sekalipun. Sampah ini terus terakumulasi, mengendap, mengalir mengikuti arus hingga ke hilir. Bukan hanya sampah dari permukiaman masyarakat, sampah juga berasal dari resort dan villa yang dibelah aliran Ciliwung.
Tidak banyak burung yang dapat dijumpai kali ini, dapat dikatakan bahwa sebagian besar jenis burung yang teramati adalah jenis umum yang sering kita temukan di sekitar kita. Hasmar, dkk. (2009) yang melakukan penelitian keanekaragaman jenis burung pada lima lokasi di bagian tengah-hilir Ciliwung menemukan 15-28 jenis burung di setiap titik pengamatan. Jenis umum yang sering ditemukan diantaranya tekukur, cucak kutilang, walet linchi dan tekukur. Sementara itu disebutkan bahwa Hernowo dan Prasetyo yang dua puluh enam tahun silam mengamati burung di Ciliwung menemukan jenis umum seperti kutilang, gereja, pipit, madu cabean, prenjak, cucak, walet, dan ciblek.
Faktor tutupan lahan diduga memengaruhi keberadaan jensi burung tertentu. Jika sungai dikelola dengan baik dimana tutupan vegetasi yang rimbun mengalir disepanjang sempadan sungai bukan tidak mungkin kali Ciliwung akan semakin asri dan menjadi rumah bagi aneka burung. Sambil memancing aneka ikan, tentu sangat indah kalau ditemani kicau beragam burung dengan keteduhan tajuk pepohonan.
Diskusi
Menurutku, kunci dari pengelolaan lahan sepanjang aliran sungai adalah bagaimana pengelolaan kawasan perlindungan sempadan sungai. dalam Kerpres No.32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, disebutkan bahwa sempadan sungai merupakan bagian dari kawasan perlindungan setempat. Dimana tujuan perlindungan sungai adalah untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Sempadan Sungai sendiri diartikan sebagai kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
Kriteria sempadan sungai adalah:
- Sekurang-kurangnya 100 meter dari kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar pemukiman.
- Untuk sungai di kawasan pemukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 - 15 meter.
Penanaman berbagai jenis pepohonan bukan hanya akan memperbaiki kualitas lingkungan dan berperan dalam konservasi tanah dan air tetapi menambah nilai ekonomi jangka panjang pengelola lahan. Aneka jenis pohon tersebut dapat dipilih misalnya pohon buah, bambu, beringin, tanaman bebungaan, dan lainnya. Selain itu, bentuk kegiatan ekonomi lainnya perlu digerakkan seperti budidaya ikan dalam keramba di sepanjang aliran. Budidaya ikan dalam keramba tentu akan membutuhkan kualitas air sungai yang bersih dan tidak tercemar. Oleh karena itu diharapkan komitmen warga dalam memperbaiki dan menjaga kualitas sungai Ciliwung akan meningkat.
Dituliskan oleh M. Muslich
Referensi:
- Hasmar, R., Ruskomalasari, Alwi Khadafi, Hafid B. Prayoga, dan Lisa Apriyanti. 2009. Keberadaan Jenis Burung pada Lima Stasiun Pengamatan di Sepanjang DAS Ciliwung Depok-Jakarta. Vis Vitalis vol. 2 No. 2. Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta.
- gambar burung kipasan diunduh dari asalnya di sini
- gambar burung raja udang diunduh dari laman ini
Read more
Bogor, 15 Januari 2011
Ditulis oleh Rita Mustika sari
Kita pikir demokratis itu adalah sebuah kebaikan. Tidak peduli bagaimana pun bentuknya. Ternyata kehidupan demokratis dalam pengelolaan air tidak sepenuhnya indah. Setelah jaman otoriter hilang dan pelibatan publik didengungkan, banjir terjadi dimana-mana. Cek saja halaman koran. Banjir dalam negeri atau luar negeri, lengkap ada dalam berita seminggu ini. Tidak tanggung-tanggung, dari mulai kota-kota di Jawa, Australia yg semi-tropis sampai Brasil yg tropis. Apa artinya ini.
Apa sih yg dimaksud pelibatan publik ke dalam pengelolaan air. Pelibatan seperti apa yg dimaksud itu. Publik yg mana yg harus terlibat dan dalam bentuk pelibatan seperti apa. Membentuk lembaga-lembaga wadah koordinasi terdengar sangat baik. Tapi itu belum bisa disebut pelibatan publik. Wong kehidupan petani tetap saja kok seperti itu.
Full control. Salah satu ciri demokratisasi dan pelibatan publik terjadi dalam pengelolaan air adalah saat publik memiliki kesempatan memegang kuasa penuh untuk suatu kasus khusus. Bayangkan seorang anak yg bermain puas dengan boneka atau berbagai mainan miliknya. Dia bisa lempar, bisa dia bongkar, bisa apapun yg dia mau.
Di satu sisi, itu hal yg perlu ada. Di sisi lain, kita tidak terbiasa mendapat jatah bicara. Kita jarang berlatih bagaimana seharusnya demokratisasi dalam pengelolaan air itu terjadi. Semuanya sangat teoritis dan formalitas saja. Terlalu banyak tabu dibuat. Takut salah atau apalah. Padahal yg namanya berlatih wajar kalau terjadi salah.
Sepanjang berjalan melakukan Susur Ciliwung, pertanyaan tentang partisipasi publik terus mengiang di telinga. Hanya di tempat seperti Danau Talaga Warna masih tersisa situ dan secuil hutan tempat resapan air. Keluar dari gerbang kawasan dilindungi itu, kehidupan hedonisme manusia menganga menawarkan segala kemolekannya. Puncak Pass gitu lho. Hamparan pegunungan teh, hawa dingin dan segar untuk tea walk dan berbagai rekreasi lainnya, vila-vila mewah atau hanya rumah penduduk biasa yg pada weekend disewakan jam-jam an, dsb.
Aksi kolektif. Orang udah tidak peduli kok. Kata seorang kawan, aksi kolektif kita sudah direduksi sampai di titik ketika ada kematian. Selebihnya kita menjadi manusia individualis saja. Padahal yg namanya pengelolaan sungai musti integrated, katanya. Di tempat yg sudah mraktekin integrated juga tetep ada banjir tuh. Kota Brisbane di Negara Bagian Queensland, Australia Timur yg baru-baru ini menjadi tempat training IWRM karena ada organisasi gabungan antara pemerintah, swasta, universitas, berbagai masyarakat pengguna air (www.healthywaterways.org) saja tergenang banjir yg tingginya ampun-ampunan. Bedanya sama banjir Jakarta jenis sampahnya aja. Tidak terlihat sampah plastik atau kasur bekas mengapung.

Perpipaan desa. Itu masuk dalam areal kerja Dirjen Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum, kata seorang kawan yg kerja di Bappenas. Pipa pvc diameter 2 cm berjajar teratur. Setiap pipa diberi nomor, pastinya menunjukkan ke rumah siapa pipa itu mengalir. Walau di dusun yg sama, kami menemukan tumpukan sampah yg dibuang begitu saja di pinggiran sungai, asli tanpa perlakuan apapun. Sepertinya sa-kampung itu melakukan aksi kolektif membung sampah di kali SEKALIGUS mengelola diri dalam pembagian air bersih. Kok bisa yah baik dan buruk berjalan dalam satu desa. Jadi pengen tahu siapa penggagas itu pembagian perpipaan desa. Penasaran apakah dia juga membuang sampah di pinggir sungai.
Jadi apa maunya? Mending tidak usah mikirin bagaimana publik harus terlibat dalam ngurusin sungai? Biarkan saja terjadi apa adanya. Mungkin enak juga. Bisa tidur nyenyak sampai suatu saat kita terbangun, menyadari kalau kita adalah bangsa buruh saja. Bahwa masuknya konsep-konsep pengelolaan sumber daya alam dikuasai oleh mereka yg berani berpikir saja. Terus mencari bentuk seperti apa yg paling pas buat bangsa ini.
Read more
Jarak perjalanan dari Talaga Warna sampai Taman Wisata Matahari (TWM) Cisarua dengan perkiraan kasar sekitar 8,2km (H-1) ditambah 7,6km (H-2) jarak datar. Jarak datar adalah jarak yang dihitung di atas peta. Jarak ini masih belum memperhitungkan jarak yang sebenarnya ditempuh ketika mendaki dan menurun.
Jika berdasarkan catatan GPS Komandan Hari Kikuk, perjalanan hari pertama menempuh jarak sekitar 15,9km dan hari kedua menempuh jarak sekitar 22,2km. Jarak berdasarkan GPS ini sudah termasuk meraba-raba mencari jalan memutar menyusur Tjiliwoeng bila bertemu pagar villa atau tebing, pun sudah termasuk jalur tatkala mabal atau salah jalan.
Ketinggian Talaga Warna adalah sekitar 1448 meter di atas permukaan laut (mdpl). Perjalanan menyusur alur air dari Talaga Warna menurun hingga ketinggian 683mdpl di sebelah utara TWM. Hitungannya, penyusuran sudah menuruni ketinggian 765m jarak tegak. Bayangkan kalau kita menuruni tangga, misalnya satu anak tangga berbeda tinggi 30cm dengan anak tangga di atasnya. Ternyata kita sudah menuruni 2550 anak tangga. Wow.. wajar jika betis dan paha serasa menggumpal karenanya.
Pagar tembok beton, jeruji besi atau kawat berduri mudah ditemukan di sepanjang alur Tjiliwoeng. Pagar yang dibangun oleh pemilik villa atau area privat lainnya, agar tidak dilalui oleh orang lain, bisa sampai ke bibir sungai. Wilayah publik bernama sungai ini nyaris mati aksesnya, sehingga penyusuran di tepian Tjiliwoeng menjadi sulit. Sementara arus sungai yang deras tidak memungkinkan penyusuran yang sederhana ini melewati jalan air. Jalan keluarnya adalah berjalan memutar untuk menemukan alur yang sama di sisi hilirnya, implikasinya jarak bertambah panjang dan makin berkeringat.
Sampah sudah ditemukan bahkan sejak di awal penyusuran (Talaga Warna), dan semakin menghilir ternyata semakin parah. Semakin tingginya tingkat ekonomi ternyata tidak juga menjamin perilaku yang semakin berkelas. Sampah plastik, styrofoam dan sebangsanya sangat banyak ditemukan di bibir sungai di tepi perkampungan, dalam kompleks villa dan area privat lainnya.
Sawah baru bisa ditemui setelah penyusuran tiba di daerah Kampung Ciburial, Tugu Selatan, Cisarua. Persawahan tersusun sebagai teras-teras pada lereng lembah yang cukup curam menghadap ke sungai.
Untuk mencapai sungai melalui persawahan ini, kita harus menuruni lembah sedalam 30 meteran. Persawahan di daerah ini berupa kompleks-kompleks kecil, yang semakin terdesak oleh pemukiman dan area privat lainnya. Lima tahun ke depan, kompleks persawahan mungkin sudah tidak bisa ditemukan di daerah ini.
Pembibitan tanaman berkayu bisa ditemui di Desa Tugu Selatan. Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor mendampingi kelompok tani di desa ini untuk membuat demplot pembibitan tanaman kayu.
Nantinya bibit pohon akan ditanamkan di lahan gundul. Sebuah prakarsa mulia untuk menghijaukan kembali daerah hulu sehingga menghindarkan hilir dari banjir dan longsor. Sayangnya, pembangunan dan alih guna lahan di daerah berhawa segar ini juga tak kalah galaknya.
Monyet di Taman Wisata Alam dan Kawasan Hutan Cagar Alam Telaga Warna betulkah masih liar? Cobalah berdiri diam saja, mereka hanya akan memandangi Anda, tapi coba juga membuka tas dan masukkan tangan ke dalam tas, mereka akan segera mendekat. Mereka menunggu sesuatu yang mungkin akan Anda ulurkan untuk mereka. Makanan. Sedemikian miskinkah di hutan itu dengan makanan,
hingga mereka mencari nafkah dari pengunjung telaga? Kawan saya malah menduga mereka meniru malasnya orang sekarang. Eh tapi, ngomong-ngomong siapa yang duluan malas ya, orang atau monyet?
Ikan Guppy sampai juga ke hulu Tjiliwoeng di ketinggian 1032mdpl. Ikan ini bukan asli Indonesia. Awalnya, ia adalah ikan hias yang didatangkan dari sekitaran Amerika Latin sana (Brazil, Venezuela, dsb) dengan nama ilmiah Poecilia reticulata Guppy. Mungkin karena ikan mungil ini berekor indah dan murah, untuk mengisi akuarium, maka penyebarannya menjadi sangat cepat di Indonesia. Di alam, Ikan Guppy memijah dalam 30 hari dengan anakan bisa sampai 100 ekor.
Beruntung ia bukan jenis ikan galak yang suka makan ikan lainnya, sehingga tidak terlalu menarik perhatian karena menghabisi ikan lokal macam benteur. Di tengah maraknya naturalisasi, ikan ini sudah melakukannya sambil berenang tanpa perlu disibukkan oleh kantor imigrasi.
gambar-gambar:
1. Treking Telaga Warna - Taman Wisata Matahari
2. Bukan jalan umum
3. Sampah buangan villa
4. Persawahan di lereng terjal
5. Demplot pembibitan pohon
6. Monyet Telaga Warna
7. Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Read more
- 11:05 PM
-
gps,
ikan,
monyet,
pagar,
riset,
sampah,
sawah,
susur,
susur sungai,
telaga warna,
Tjiliwoeng,
villa
Karena gak ada teman perjalanan dari Jakarta, saya memutuskan berangkat sendiri dengan kereta malam, dan menginap di kantor Telapak mengingat kegiatan susur Ciliwung dimulai dari pagi sekali yaitu Sabtu berangkat jam 5 pagi. Perjalanan saya mulai Jumat malam dari Jakarta dengan Kereta Api Stasiun Kota- Bogor yang berangkat jam 9 Malam.
Sampai di Stasiun Bogor jam 10 malam, saya langsung dipandu Mas Hari Kikuk
melalui telepon menuju kantor Telapak di Baranangsiang. Jam 4 pagi bangun, beres2 tunggu rombongan lengkap berjumlah 15 peserta terdiri dari teman2 Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Telapak, Kantor Berita Kotahujan.com, pengamat Burung Indonesia , jam 5:45 rombongan langsung meluncur ke Cagar Alam Telaga Warna Puncak Pass.
Perjalanan menuju Puncak lancar memakan waktu 1 jam sampai di Telaga Warna. Setelah mengumpulkan informasi dari petugas Telaga Warna dan pengamatan, pengambiran gambar. Cagar Alam Telaga Warna cukup bagus kondisi hutannya, dan mata air cukup banyak membentuk satu aliran kecil yang makin membesar. Penelusuran dipinpin oleh Mas Hapsoro Telapak dan Mas Hari Kikuk dibantu dengan alat GPS, mengingat aliran air sering buntu untuk dilalui karena sulitnya medan atau ketutupan rumah penduduk serta pagar beton Villa.
1 Km dari mata air Telaga Warna, aliran air masih melewati kebun teh hijau sebelah kiri dan hutan sebelah kanan, lepas dari itu, kita mulai temui pemukiman penduduk dan ladang sayur. Makin bergerak ke hilir makin banyak kita temui pemukiman padat penduduk layaknya kota Jakarta dengan gang2 sempit, di aliran melewati pemukiman sungai Ciliwung makin kami sering temui sampah rumah tangga berupa kantongan plastik, kemasan makanan STYROFOAM, bungkus plastik kemasan mie instan dan kemasan sabun. Perjalanan makin sulit ketika kami terbentur oleh tembok pagar Villa2 warga Jakarta, serta aliran yang tiba2 hilang ketutupan bagunan rumah penduduk, untuk lahan2 kosong bantaran sungai sekitar kampung banyak kami temui digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh penduduk setempat, tetapi juga oleh pemilik Villa mewah dan mereka sempat melarang kami mengambil gambar tumpukan sampah di bantaran sungai yg mereka pakai sebagai tempat pembuangan sampah. Mereka kaget kenapa kami bisa tiba2 muncul di area privasi mereka yg tertutup rapat oleh pagar beton. Hal ini sangat membuat kita miris, ternyata tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran lingkungan yg bersih dan sehat, hal ini tercermin dari pengelola villa yg saya yakin memiliki pendidikan dan tingkat ekonomi yg cukup mapan.
Perjalanan juga sambil dilakukan pengambilan sampel ikan dan biota sungai, juga pengamatan burung oleh teman dari Burung Indonesia dengan panduan buku dan teropong. Jam 1 siang kami keluar dari jalur sungai menuju jalanan puncak Cisarua untuk makan siang. Setelah selesai makan siang Team lgsg melanjutkan penelusuran lagi dari Desa Tugu Utara, dari sini aliran dikelilingi oleh pematang sawah, disini aliran cukup bersih dan jernih airnya disebabkan sekitar aliran adalah sawah bukan pemukiman , jadinya kami sempat berhenti istirahat menikmati sungai indah, sejuk dan bermain air dan mengambil kembali sampel ikan di titik kedua ini (Ciburial). Perjalanan berakhir jam 4 sore di daerah Cibeureum dan kembali ke kota Bogor.
Dari perjalanan ini, kami sayangkan banyaknya pembangunan Villa oleh warga Jakarta dan padatnya bangunan pemukiman penduduk di puncak (+/- 50 %hampir mengambil lahan hijau di daerah puncak) yang jelas merusak aliran sungai apalagi ketika diikuti dengan menjadikan bantaran sungai sebagai tempat sampah, kurangnya daerah hijau ini mengakibatkan gampangnya pengikisan lapisan tanah terbawa oleh hujan dan mengakibatkan pendangkalan sungai. Belum lagi pembangunan yg melanggar IMB dengan membuat bangunan di bantaran dan badan sungai.
Untuk penelusuran gambar silakan kunjungi laman Tjiliwoeng Dreams dan BIOTIFUL Sungai Jakartaku di facebook.
Read more
- 9:33 PM
-
cibeureum,
ciburial,
Ciliwung,
cisarua,
Jakarta GLUE,
Komunitas Peduli Ciliwung Bogor,
perjalanan,
puncak pass,
riset,
styrofoam,
Sudirman Asun,
susur,
susur sungai,
telaga warna,
villa
Hingar bingar pergantian tahun agaknya mampu mendenyutkan darah segar yang memasok oksigen lebih melimpah menuju otak. Mungkin dipicu pemasukan nutrisi yang membaik menyertai peningkatan taraf hidup tahun kemaren, atau sekadar dampak pompaan keriangan malam tahun baru. Atau bisa jadi hasil kontemplasi yang membawa pencerahan dan harapan yang
gres dan masih
kinyis-kinyis.
Tak jadi soal dari mana asalnya, yang pasti semua itu berdampak pada kecerdasan yang tak pelak orisinil. Kecerdasan yang menikung menderu dalam gagasan baru mengakrabi Tjiliwoeng. Tjiliwoeng yang dipercayai macam jejaring pembuluh darah bagi Bogor dan sekitarnya.
Tak seperti biasa, gerombolan pengusung "Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak", menjalin niat kolektif menyusuri aliran anak sungai Tjiliwoeng nun dari hulu sana. Sudah tentu bersama dengan dua dedengkot gerombolan ini, yang segera mengingatkan saya pada lokomotif sepur uap: sterk, item dan ngebul. Dan kira-kira seperti begini TOR atau term of reference yang dijabarkan panjang lebar, "Jalan-jalan santai sambil melakukan ini dan itu, sesuai dengan kesenangan masing-masing". Saya sungguh penasaran, tapi silakan sampeyan tafsirkan sendiri-sendiri intinya...
Masih cukup pagi gerombolan ini tiba di gerbang Talaga Warna, lokasi terpilih untuk memulai penyusuran. Di depan loket, pembicaraan dibuka. Awal yang sempat bikin ragu. Pasalnya, penjaga telaga pun tidak meyakini bahwa Tjiliwoeng memiliki sumber dari telaga ini, melainkan Talaga Saat, yang kurang lebih berada 3 kilometer di sebelah utara Talaga Warna. Baiklah... setelah sejenak meninjau ke dalam kompleks telaga dan meninggalkan lembaran uang hasil bantingan sekadarnya, sesuai komando kami menuju ke utara, ke Talaga Saat. Tapi apa mau dikata, 5 menit meninggalkan gerbang kompleks telaga, gemericik air di sisi jalan berbatu itu terlalu nyaring dan menggugah keingintahuan. Mana mungkin diabaikan. Parit itulah yang menang, Talaga Saat tak lagi membayang.
Segeralah penyusuran dimulai. Dalam 15 menit berikutnya keraguan kedua timbul. Alur air masuk wilayah privat yang cukup luas, jejak hilang, stop sejenak, tunggu komando. Ya kira-kira seperti itulah perjalanan dilakukan, grudag-grudug memainkan ragu dan pasti sealur kali yang diikuti. Tapi itu ternyata tidak terlalu jadi soal dan tidak perlu menunggu tokek berbunyi, karena komandan selalu siap memandu dan memastikan arah 12 awak lainnya. Salah atau benar itu bisa dibicarakan kemudian...
Meski dari 2 hari yang direncanakan, saya hanya mengikuti hari pertama, ini merupakan perjalanan yang luar biasa. Perjalanan menghilir seturut batang air yang kecil saja, hingga menjadi sungai yang gemrojog, setelah bergabung dengan air dari berpuluh alur dan mata air lainnya. Perjalanan untuk menemukan. Menemukan bahwa ternyata banyak mata air yang akan hilang saat kemarau, menemukan sesampah yang sudah tertimbun sejak di hulu, menemukan bahwa orang kaya yang punya villa pun membuang sampah ke kali, menemukan sungai yang mengalir di atas jalan, menemukan sawah berteras yang indah dipandang dari tengah kali, menemukan ikan luar negeri yang sepertinya sudah naturalisasi seperti pemain sepakbola, sampai bisa juga menemukan rumah makan khas sunda bernama "Ojo Lali". Bahwa segala yang ditemukan, ditemukan begitu saja, tanpa perlu kerumitan rencana. Di sepanjang perjalanan, semua hanya merekam: pikiran, pengetahuan, tulisan, suasana, suara, koordinat. Tak lebih. Baru di kemudian hari saya tertawa-tawa melihatnya sebagai jalur di atas peta, foto-foto atau tulisan di website, fesbuk atau blog, dan lain sebagainya. Sungguh mengasyikkan.
Maka mari, mari... jangan ragu lagi sampeyan rencanakan untuk turut serta di perjalanan berikutnya. Demi meyakinkan sampeyan semua bahwa perjalanan ini adalah jaminan mutu, jempol saya angkat empat-empatnya. (Mohon maaf untuk kawan di dekat-dekat saya, kalau oleh karenanya saya jadi ngangkang begitu)
-anakperi-
**betul-betul tulisan ini fakir gambar, karena rekam gambar sudah banyak dan bisa dilihat di sini, begitu pula satu-satunya gambar di tulisan ini.
Read more
Entahlah dari mana asal mula ide ini. Bisa jadi ini cuma sekedar ide lepas saja karena pengaruh suasana libur akhir tahun kemarin dan hasrat berkelana yang belum terlaksana. Bisa juga ide ini muncul karena ikut-ikutan orang lain. Bisa pula munculnya ide ini karena keinginan yang kuat untuk memahami lebih dekat bagaimana Ciliwung mengalir dari mata air utamanya. Namun kuatnya keinginan membuat beberapa laskar karung berani memutuskan untuk melakukannya.
Apa pun alasannya, apa pun tujuannya, apa pun sebabnya, jelas minumnya yaa air ... masa sih minumnya nasi? (hehehe) Begitulah kira2 niat yang kuat dari para laskar karung yang ingin "berjalan kaki" (bukan berenang lho) untuk menyusuri aliran Sungai Ciliwung.
Kapan kah itu akan dilakukan? Tidak perlu menunggu waktu lama ... para laskar karung akan melakukannya akhir minggu ini. Yaa ... akhir minggu ini pada tanggal 8 dan 9 Januari 2011. Rupanya mereka ingin membuka lembaran tahun 2011 ini dengan melihat dan merasakan langsung aliran sungai ini dari hulunya. Mereka ingin memulai kegiatan jalan kaki ini dari kawasan Cagar Alam Telaga Warna di daerah Puncak sana.
Lalu apa yang akan dilakukan selama berjalan kaki? Jawabnya bisa macam2 tergantung dari berapa banyak keinginan dari masing2 laskar karung yang ikut serta. Ada yang ingin melakukan riset sederhana dengan mengidentifikasi ikan dan serangga air dari hulunya. Ada yang sekedar ingin mencari tempat-tempat yang cocok untuk memancing di sungai. Ada yang ingin memotret apa saja yang ada di Ciliwung dari mulai hulunya. Dan pastinya ada pula yang hanya sekedar ingin basah karena keringat dan air sungai ini.
Naahh bagi para pembaca setia blog ini ... jika Anda ingin ikut serta berbasah ria sambil berwisata mengikuti aliran air Ciliwung, silakan saja bergabung bersama para laskar karung tersebut. Kabarnya mereka akan memulai perjalanan dengan berangkat bersama2 dari Bogor. Mereka akan kumpul di Terminal Bus DAMRI (samping Botani Square) pada hari Sabtu (8 Januari) pukul 04.30 pagi atau setelah waktu sholat Subuh, karena rombongan ini akan berangkat ke Telaga Warna pukul 05.00 pagi.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk turut serta??
Bagi yang tertarik, silakan menghubungi Hari Kikuk (telp. 0856 123 52 98)
Read more

Hari ini aku tidak berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang (walau ndak siang2 banget juga. Walau tidak pagi juga. hehe). Kedua merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita semua, merasa perlu
privacy dan ketenangan di pagi hari.
Lagi2 sepertinya aku salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human rights.
Orang2 itu juga malu2, larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg an-organik.
Nah justru di situ letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik. Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?
Ah kayaknya cuman elo doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.
pengakuan dari Rita Mustikasari, sang turis jepang.
gambar shin-chan diunduh dari sini.
Read more