Sejarah akan sebuah tempat memang menarik untuk dipelajari. Beruntunglah kita jika tahu bagaimana cerita di balik nama sebuah tempat. Kebetulan di sekitar Bogor dan daerah-daerah lain di Jawa Barat, cukup mudah menjumpai nama-nama tempat yang mengandung arti. Umumnya artinya dikaitkan dengan sebuah kejadian ataupun sesuatu yang pernah ada (dahulu kala) di tempat tersebut.
Cibadak dan Kandang Badak adalah dua contoh tempat yang mengandung arti kesejarahan. Konon (mungkin saja memang betul), dahulu kala, di kedua tempat itu pernah dijumpai atau bahkan banyak dijumpai binatang yang kini populasinya terancam punah. Badak, Jawa (karena hidup di Jawa) atau bagi para ilmuwan dikenal dengan nama latin
Rhinoceros sondaicus. Kini binatang besar berkulit tebal ini hanya tersisa dalam jumlah sedikit di ujung barat Pulau Jawa (Ujung Kulon).
Tapi tunggu dulu ... nama yang mengandung kata "badak" ada juga lho di sekitar aliran Ciliwung di Bogor. Kedung Badak namanya. Tempat ini berada di bagian utara Kota Bogor. Tentu saja sekarang tidak akan dijumpai adanya populasi badak di sana. Yang ada di daerah itu sekarang adalah perumahan, pabrik-pabrik, jalan raya ... dan di bantaran sungainya ... jelas ada tumpukan sampah. Di sinilah para laskar karung akan kembali beraksi.
Read more
Musim hujan sudah tiba ... Walau rasanya aneh karena hujan tahun ini datang tanpa bisa diprediksi. Tapi tak apa lah, karena setidaknya hujan bisa jadi membawa banyak pelajaran bagi kita semua. Semoga saja di musim hujan ini kita semakin peduli pada tumpukan sampah di sepanjang Ciliwung. Peduli untuk membersihkannya, dan bukan peduli untuk sekedar membicarakannya.
Kepedulian untuk bergerak secara langsung membersihkan sampah Ciliwung memang agak sulit. Banyak orang bertanya tentang bagaimana caranya ... kadang malah ada yang memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Melakukan sesuatu yang terkait dengan sampah memang seringkali membuat orang merasa enggan.
Nahh ... jika para pembaca masih merasa enggan, maka silakan mencobanya. Jangan tunggu nanti, lakukan segera. Kita tak akan pernah tahu rasanya, jika kita tidak mencobanya. Jika masih ragu juga, silakan ikut bersama2 para laskar karung KPC untuk melakukannya hari Sabtu ini (12 Desember 2009).
Berikut adalah pengumumannya ...
Read more
Akhirnya hari itu tiba juga…(Lanjutan “Maaf Ka, nyanyinya pelan-pelan…!”)
Setelah pulang dari Lawalata ke rumah, sekitar pukul 06.30 WIB, Aku pun segera berangkat sendiri menuju Perumahan Kedung Badak Baru. Sampai di Bubulak, Aku langsung berganti menaiki angkot No 32. Sekitar kurang dari pukul 07.30 WIB, setelah keluar dari “underpass”, Akupun turun tepat di pintu gerbang Perum tersebut. Kuperhatikan sekeliling daerah Perumahan tersebut, namun masih juga belum tampak tanda-tanda kehadiran kawan-kawan volunteers yang akan bergabung dengan Aksi Mulung Kesebelas hari ini, Minggu, 24 Mei 2009. Tak lama menunggu, tiba-tiba seorang “Pengendara Motor Misterius” menghampiriku. Jaket hitam, celana melebihi lutut, kaki beralaskan sandal jepit, kepala tertutup helm, kumis gondrong, dan hidung ingusan (“lho bisa lihat darimana Mas Ruby??...kan dia pake helm??”,...hehehe imajinasiku mencoba bercanda).
Merasa tak kukenali, Si Pengendara Misterius itupun membuka helm yang dipakainya. “Hamid toh rupanya!”, sapaku. “Sudah dateng lama Mid?”, tanyaku. “Enggak baru aja dateng”, kata Hamid. “Kirain siapa?”, kataku dalam hati. Karena takut menggangu arus transportasi, akhirnya Kami yang sedang asyik mengobrol di pinggir jalan pun memutuskan tuk mencari tempat ngobrol yang enak, hingga tibalah tepat arah tujuan mataku pada bangku beton sepanjang 1 meter, disamping lapangan basket yang diteduhi rindangnya pohon kersen. Hamid pun segera menitipkan motornya di halaman parkir pos satpam penjaga keamanan Perumahan Kedung Badak Baru.
“Yang lain mana Rub?”, tanya Hamid. “Belum datang”, jawabku. “Anak Lawalata banyak yang ikut hari ini Mid”, lanjutku. “Sebentar Aku sms Hari dulu!”, kataku pada Hamid.
“Hari sekarang Aku sudah d gerbang perum kd bdk. Sdg tunggu org2 nh. Sdh smp mana hari? Tks”, isi sms-ku.
Menunggu balasan dari Hari, Aku melanjutkan ngobrol bersama Hamid. “Udah makan Mid?”, tanyaku. “Belum”, jawab Hamid. “Aku udah makan, makan dulu aja sana! Itu ada bubur ayam Mid!”, kataku pada Hamid. “Nanti kalau anak ini pingsan saat mulung sampah gimana? Bisa repot? Apalagi dia Aku yang ajak?”, kataku dalam hati…hehe “becanda Mid!”. Hamid pun segera memesan bubur 1 mangkuk. Sementara Hamid makan, tepat pukul 07.31 WIB, tiba-tiba sms balasan dari Hari masuk ke HP-ku.
“Rub di gerbang sebelah mana rub aku di pinggir jalan raya”, isi sms Hari. Belum sempat kubalas sms-nya, Hari sudah mengetahui keberadaanku dan segera memanggilku.
“Mid, Aku ke tempat Hari dulu ya, nanti nyusul aja ksana!”, kataku pada Hamid. “Ok!”, jawab Hamid.
Setelah ngobrol bersama dengan Hari dan memutuskan lokasi mulung, Kami (Aku, Hari, Hamid, Ba Itok, Mas Parno, Mas Dwi, Dita, dan Mas Totok) yang telah berkumpul di pintu gerbang Perumahan Kedung Badak Baru, akhirnya segera berangkat menuju tempat yang dimaksud (BACA: Boleh Ikut Mulung ?). Aku dan Mas Totok berjalan kaki sedangkan lainnya naik motor. Dalam perjalanan tiba-tiba HP-ku berbunyi. “Rub dimana sih tempatnya?”, tanya Hamid yang tersesat sambil membonceng Dita. “Ada dimana nih sekarang?”, tanyaku tenang. “Di Mesjid”, kata Hamid selanjutnya. Akhirnya Aku pun pergi menjemput dan membenarkan arah jalan Hamid. “Mid lurus aja sampai mentok, terus belok kiri nyusurin sungai”, penjelasanku pada Hamid dan Dita. Akhirnya Akupun meneruskan perjalananku.
Tepat setelah berada pada lokasi mulung yang dimaksud, kulihat Tim Riset telah memulai aksi riset Kualitas Air yang dikomandoi Aan, Ahmad, Endah, dan Annas, sedang untuk Sosial Budaya dikomandoi oleh Ma, Dinda, dan Moko. Di lokasi tersebut, tampak juga Muslich dan temannya Wisnu, yang telah hadir lebih dulu dibandingkan Aku. Aku pun langsung memperkenalkan diri pada Wisnu.
Setelah memimpin briefing (BACA: Mana yang Bener Nih ?), mengisi daftar kehadiran, kini Aku dan Hari pun segera memasang baliho kebesaran komunitas kami sedangkan kawan-kawan lainnya langsung melakukan aksi pemulungan sampah. Karena arusnya deras, baliho yang semula akan dipasang di seberang sungai, akhirnya kini diputuskan tuk dipasang di pohon Loa, tepat didekat tempat kami melakukan briefing.
Aksi mulung dimulai kurang dari pukul 08.30 WIB dan diakhiri pukul 12.00 siang. Jumlah
volunteers yang tercatat hadir hari itu, termasuk 2 orang bule Perancis bernama Catherine Kloboukoff dan Marie Remy digabung dengan seluruh anggota Tim Riset, totalnya berjumlah 35 orang.
Setelah dilakukan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota Bogor, Aksi Mulung Kesebelas ini, diakhiri dengan doa dan foto bersama dibawah pohon Loa dan di depan baliho “Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak”.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah bergabung sebagai volunteers dalam Aksi Minggu, 24 Mei 2009”
Tertanda Korlap yang bertugas,
Ruby Vidia Kusumah
(087878757205)
Read more
Lanjutan H-1 MENUJU HARI KIKOEK
Lepas dari sgala urusan riset dan aksi mulung pagi besok, sebagai pelarian, Aku, Aan, dan Annas berkumpul menduduki bangku panjang di teras depan Sekret Lawalata untuk bernyanyi dan bermain gitar sedangkan Ahmad berpamitan pulang. Aku mulai memainkan gitar dan bernyanyi. Baru beberapa lagu dinyanyikan, Aan memutuskan tuk menyudahi aksi tersebut untuk bermain internet sedangkan Aku dan Annas terus melanjutkan. Hingga sekitar pukul 02.00 pagi Waktu Indonesia bagian Barat, Aku dan Annas terus bernyanyi. Kumainkan lagu mulai dari Menghitung Hari-Krisdayanti; Terbang-The Fly; Elang-Ari Lasso; hingga akhirnya Radja-Riff.
“…Tapi ku bukan radja, kuhanya orang biasa yang selalu dijadikan alas kaki pada sang radja…”, walaupun hanya hafal reff-nya saja, Annas tetap berteriak sekeras-kerasnya (guk guk guk au au au...hehehe). Selesai menyanyikan lagu riff tersebut, tiba-tiba seorang mahasiswi anggota UKM PRAMUKA datang ke tempat kami berkumpul dan bernyanyi. “Maaf Ka, nyanyinya pelan-pelan…!, kami sedang mengerjakan PR”, ucap mahasiswi tersebut. “Yah, akhirnya kena juga”, kataku dalam hati. “Oh iya Dek, maaf ya”, jawab Annas. Kami pun kini mulai bernyanyi dan memainkan gitar pelan-pelan sembari kusalahkan Annas, padahal sebenarnya Aku juga berteriak-teriak tapi kerasnya memang masih kalah dari Annas. “Lo sih Nas teriak keras-keras”, kataku sambil ketawa ketiwi. “Habis si Ruby sih yang main gitar”, jawab Annas. “Kita didalam aja yuk!”, ajak Annas. Akhirnya kami pun bernyanyi di dalam Sekret. Tapi Annas masih juga berteriak sekeras-kerasnya. ”Busyet ini orang stress!”, pikirku dalam hati sambil tersenyum-senyum.
Capek bermain gitar, akhirnya Aku mendekati Aan tuk melihatnya bermain facebook dan sesekali membalas pesan dan comment yang dia terima. Sedangkan Annas sudah dari tadi memainkan PS di komputer sembari sesekali marah dan mengumpat kebodohan dirinya sendiri. “Hahaha...”, Aku dan Aan hanya bisa tertawa saja mendengar dan melihat tingkahnya.
Ketika sedang asyik membaca dan membalas beberapa pesan dan comment di Facebook Aan, tiba-tiba Ria yang juga sedang bermain Facebook, +/- 3 meter jaraknya disamping kami, mengirim sebuah pesan pada Kami. “Mari ke sungai!”, inti pesannya mengingatkan kami. Kulihat jam di dinding, “Waduh sudah jam 04.00 pagi, nanti jam 07.30 WIB Aku sudah menjadi Korlap -Koordinator ngelap-”, becandaku pada Ria. Akhirnya tepat pukul 04.30 Aku, Annas, Aan, dan Ria mengakhiri aktivitas kami pagi itu tuk segera tidur. Kupasang alarm jam 05.00; 05.30; dan 05.40 pagi di HP-ku agar tidak kebablasan tidur nanti. Kucoba memejamkan mataku namun tetap tak bisa tidur pulas karena was-was, takut kebablasan. Kurang dari pukul 05.00, sebelum alarm-alarmku berbunyi, Aku dan Aan sudah bangun. Akhirnya suara persiapan adzan subuh di mesjid Al Hurriyah pun terdengar. Aan segera menuju mesjid, sedangkan Aku kembali tidur-tiduran. Setelah Aan kembali dari shalat subuh, Aku pun berpamitan pada Aan tuk pulang. “Waduh besok bisa mimpin aksi mulung ga yah?”, pikirku karena Aku belum tidur.
Tertanda Korlap ngantuk hari itu,
Ruby Vidia Kusumah
(087878757205)
Read more
Lanjutan MULUNG KESEBELAS??...behind the scenes
Seolah keesokan harinya tak akan berlangsung aksi mulung dan riset, pagi itu, Sabtu, 23 Mei 2009, kurasakan hari terasa sepi sekali, tak ada satupun perkembangan informasi yang masuk padaku. Sms yang masuk hanya datang dari Aul, salah satu anggota Tim Riset, yang menyatakan kesediaannya tuk mengikuti aksi Riset di Kedung Badak esok hari, Minggu, 24 Mei 2009. Kondisi ini berlangsung lama hingga hampir tengah hari.
Tepat pukul 11.30 WIB, rasa sepi ini pun berakhir ketika sebuah sms masuk ke HP-ku. “Kembali, KP Ciliwung undang anda utk ‘mulung’ sampah hr mggu, 24/5/09, di blkg Perum Kdung Badak bogor. Kmpul 07.30 di pintu msk perum kd badak baru (hapsoro)”, isi sms dari Djoeragan Onthelsat Sikilkoewat. Secara spontan, sms ini langsung memotivasiku agar tetap yakin dan optimis bahwa esok hari aksi akan terkoordinasi dengan baik dan berjalan lancar. Dengan harapan besar jumlah volunteers yang hadir bisa lebih banyak, Aku pun segera membalas sms tersebut, “Siap bos! Aq hadir! Aq bsk korlap bos. Tks”, jawabku singkat.
Petangpun akhirnya tiba, tidak lama setelah matahari membenamkan dirinya di sebelah Barat bumi, Aku sms Aan untuk menanyakan persiapan aksi Riset di Kedung Badak esok hari. “Gmn an? Udh diatur bsk? Aq brgkt duluan bsk. Lebih pagi. Anas ad dmn sh? Aq jg udh sms anak2 kpm bwt bsk. Tks”, sms-ku pada Aan. Tepat pukul 18.50 WIB, Aan pun membalas, “Rub lg dmn? Bentar lg Aq mo ke lab trs ke lawalata d mnta ngasih materi ekoper bwt ank diklat jam 8. bs ke lawalata ga?”. “Drumah. Ad rapat riset d L? Anas ad dsna jg bukan? Diklat ap? Ko malem2 gini?”, balasku. “Mereka minta Aq ngisi materi ekoper, fokusnya ke sungai, rencananya besok mo Aq ajak ke ciliwung..Aq ga tau annas ada di sekret ato enggak”, balas Aan selanjutnya. “Ok. Aq lg tunggu sms dr kafi (teman MSP ’39-ku lainnya-Red) dlu. Ntar Aq ksna. An jm brp ksna”, sms-ku lagi. Lama kutunggu, namun kini Aan tak membalas lagi sms-ku, begitupun dengan “Sahabat Seperjuangan-ku” di masa penelitian dulu, saudara Kafi.
Seiring terus berputarnya sang waktu, tiba-tiba masuk sebuah sms dari kawan MSP ’39-ku lainnya, namun kali ini bukan Annas, Kafi, apalagi Aan, mengajakku tuk ikut kumpul bersama di Rumah Makan Sulung Sari, Babakan Raya (BARA), Dramaga, yang menjadi tempat favorit kawan-kawanku sejak dulu tuk berkumpul. Karena sudah lama tak bertemu, akhirnya kuputuskan tuk menemui kawan-kawanku sebentar saja. Pikirku, “mungkin Aku bertemu kawan-kawan sampai jam 8 malam aja, terus Aku lanjutkan ke Lawalata menemui Aan”.
Sampai di Sulung Sari menggunakan sepeda gunung Adikku, Akupun langsung menyapa dan menjabat tangan semua kawan-kawanku. Tanpa banyak berbasa-basi lagi, akhirnya pertemuan itu pun kami lanjutkan dengan makan malam bersama diiringi gemuruh hujan deras yang turun menggantikan suara angkot dan motor yang berlalu lalang di BARA. Tak lupa Aku juga mempromosikan aksi-aksi Komunitas Peduli Ciliwung pada mereka, dan sebagian besar dari mereka tertarik ajakanku.
Hujan deras telah menunda rencanaku tuk pergi ke Lawalata. Disela-sela penantianku menunggu hujan reda, sms dari Ma, anggota Tim Riset, masuk. “Asw Ka maaf ganggu sya sms ka firin qo pending y ada yg mau d tnyain trus bsk tu ngmpul dmn jm brp? D bni bkn K? Mksi..”, isi sms Ma. “Ma Aq bsk brgkt sndiri duluan jm 6.30. Lbih pagi. Anak2 brgkt spt biasa. Kmpl bni brgkt Jm 7. Ank lwalata byk ikut. Hub aan 08129594294 atw anas 081381467856. Tks”, balasku.
Setelah hujan reda, Aku pun segera melaju mengayuh cepat sepeda gunungku menuju Lawalata. Sesampainya disana, langsung kuparkir sepedaku dan Aku pun langsung akan masuk ke dalam ruangan. Masih di depan pintu, kulihat Aan dan Ahmad, Tim Riset, sedang memberi materi kepada para anggota baru Lawalata. “Wah banyak juga jumlah mereka, besok Minggu bisa rame donk!”, pikirku senang. Sedangkan Annas yang dari tadi bermain internet segera beranjak dari tempat duduknya menemui dan mencium tanganku tanda hormat…hehe (“Sungguh kau murid berbakti “Bo Kong”, whuahahaha, yang ini cuma penambah nikmat isi cerita saja,…hahaha). Kulihat juga anggota Lawalata lainnya sedang bermain gitar, internet, dan sebagian besar lainnya berkumpul di ruang belakang bersama Betta mengadakan rapat intern.
Aan dan Ahmad pun akhirnya selesai juga memberikan materi, kini giliran Annas menjelaskan teknis pelaksanaan riset esok hari. “Besok kita melakukan riset kualitas air mengukur parameter fisika, kimia, biologi, serta karakteristik sungai, di-handle Aan, Ahmad, dan Endah”, Annas memulai penjelasan. “Besok kita juga akan melakukan riset sosial budaya yang di-handle kawan-kawan dari HIMASIERA, dan riset Burung yang di-handle Muslich”, lanjut Annas. “Kalian sudah dapat materi ANVEG (Analisis Vegetasi) atau belum sih?”, tanya Annas pada para anggota baru Lawalata. Serempak mereka pun menjawab, “Sudah Kak, minggu kemarin”. “Ya udah, kalo gitu besok kalian riset ANVEG juga!”, lanjut Annas lagi. Kami (Aku, Aan, dan Ahmad) yang dari tadi mendengarkan serempak langsung tertawa. “Busyet ini orang buanyak buanged nyuruhnya?”, pikir kami…hehehe. Terakhir Annas menutup penjelasannya dengan, “Nanti data-data yang diambil besok diolah dan dikirimkan hari Selasa ke annas240@aman.or.id”, berulang kali alamat email tersebut dia teriakkan, “ga tau sombong punya email beda atau gimana sih ini orang??”, tapi yang pasti, lebih dari 20 kali sudah dia sebutkan…hehehe becanda, “ga segitu kale!!”. "Besok kita berangkat dari BNI jam 07.00 pagi", tak lupa Annas menyampaikan.
Selesai mendapat materi dan penjelasan teknis untuk aksi riset esok hari, para anggota baru Lawalata pun kini diajak Betta, Ria, So-Zubir (“Betaria Sonata paling!”...hehe) untuk berolahraga yang kemudian ditutup dengan beristirahat di tenda yang telah dibangun didepan Sekret Lawalata.
Tertanda Korlap hari itu,
Ruby Vidia Kusumah
(087878757205)
Read more
Giliranku Korlap
Sore itu, Jum’at, 22 Mei 2009, pukul 17.32 WIB, di tengah perjalanan menuju Lab-ku di Depok dengan menumpang Ford Ranger hitam milik IRD (Institut de Recherche pour le Développement), tiba-tiba terdengar masuk sebuah sms ke HP-ku. Dengan segera Aku pun langsung meraih HP kemudian membaca pesan singkat tersebut. “Rub minggu besok mau ya jadi korlapnya ciliwung”, sebuah pesan singkat di inbox-ku atas nama Hari CILIWUNG. “Emg yg lain g ad lg ya ri? Nnt aq tnya dl riset ad yg handle ga. Tugas korlap biasany ap ri? Hrs sms tmn2 y ri? Bsk mulung dmn? Tks”, balasku bingung karena biasanya Aku hanya mengkoordinasi aksi Tim Riset saja, namun kali ini Aku harus menjadi Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Mulung Sampah. “Suatu pekerjaan yang tidak biasa”, pikirku. Disamping itu, Aku juga tidak banyak tahu dan menyimpan no HP teman-teman Laskar Karung. “Gak ada bos, besok mulung di kedung badak kumpul di pintu masuk perumahan kdg badak”, balas Hari menjawab pertanyaan-pertanyaanku, singkat; padat; tapi banyak yang gak dijawab. “Waduh dasar ini si Hari, pertanyaan-pertanyaan gw yang begitu berbobotnya (...hehe) cuma dibales segitu doank! Terus apa yang harus gw lakuin malah ga dikasih tau?”, pikirku kurang mendapat penjelasan.
Setelah sampai di Lab dan melaksanakan shalat Maghrib di ruang kerjaku, akhirnya Aku pun memutuskan untuk segera pulang, karena kulihat di Lab sudah tidak ada pekerjaan lagi. Terakhir, kusempatkan lagi membuka email sebentar sebelum pulang, namun setelah kuperiksa, tidak ada email masuk yang menurutku penting untuk direspon. Akhirnya +/- pukul 18.45 WIB Aku pun beranjak meninggalkan tempat kerjaku menuju rumahku di Bogor.
Sekitar +/- 7 menit berjalan kaki dari tempat kerjaku, kini Aku pun telah berada di Stasiun Depok Lama, salah satu stasiun kereta tertua di kawasan Jabodetabek. Dari stasiun Bogor menuju Depok Lama inilah (pulang pergi), aktivitasku dimulai setiap harinya. Berjalan melewati para pedagang kaki lima, di tengah kerumunan para penumpang kereta, serta di sela-sela penantian “kereta pulangku” menuju Bogor, Aku mengirim sms lagi pada Hari untuk menerima tawaran sebagai Korlap aksi mulung yang kesebelas, Minggu, 24 Mei 2009, setelah kuketahui lokasinya sama dengan aksi Tim Riset di Kedung Badak. “Kalaupun nanti Tim Riset kekurangan orang, toh masih ada Aku disitu yang bisa ikut membantu”, pikirku. “O kdg bdk. Brrti dkt tm riset donk. Ok bsk aq korlapnya. Bantu infoin k tmen2 y ri. Trs aq hrs ngapain bsk? Siapn alat2, psg baliho, Bka acara, trs ap lg? Alat ad dmn? tks”, isi sms-ku pada Hari. Didalam perjalanan di “kereta pulangku”, balasan dari Hari pun tiba, “Aku bantuin semua yg km sms kecuali brifing org2. minggu kita obrolin lagi di kdg badak alat aku bantu siapin skrg alat masih di fwi (Forest Watch Indonesia- Red)”. “Ok. Smp ktm d kdg bdk. Tks”, balasku mengakhiri.
Karena tawaran sebagai Korlap aksi mulung telah kuterima, kini Aku pun harus segera memberitahukan teman-teman riset mengenai perihal tersebut, “Tmn2 hr minggu aq jd korlap mulung d kdg badak. Riset kdg bdk dikoordinir muslich, anas, firin, aan, n wildan. Tks. Ruby”, sms-ku pada teman-teman riset. Sepanjang perjalanan di kereta, Aku pun terus mengirimkan sms tersebut pada Aan, Muslich, Annas, Wildan, Firin, Endah, Habib, Mas Bowie, Ma, Aul, Moko, Ubo, dan Ria. Sesampainya di Bogor, di dalam angkot 03 kemudian naik Kampus Dalam, Aku juga masih terus melanjutkan pekerjaan tersebut pada teman-temanku yang lain. Terakhir, Ku sms juga Hamid, temanku dari BAPPENAS. “Mid mw ikt ciliwung hr minggu ga? Kmpul d gerbang prumahan kedung badak baru dkt underpass jam 7.30. Ayo donk mid kali2 ikutan. Bsk gw jd korlap. Tks”. Hamid pun menyanggupi hadir.
Dari sms yang kukirimkan pada setiap orang yang telah kusebutkan di atas, kuketahui bahwa Ubo sedang menjalani pemulihan setelah operasi hidung dan telinga. Ubo juga berpesan bahwa untuk beberapa minggu ke depan belum bisa mengikuti aksi riset. “Ok semoga cepet sembuh Ubo”, inti sms-ku pada Ubo.
Akhirnya kini Akupun tinggal menghitung hari menuju hari H tuk menjalankan mandat dari Meneer de Kikoek sebagai Korlap Aksi Mulung kesebelas, di Kedung Badak.
"Untuk teman-teman yang sedang sakit, khususnya Ubo, Aul dan katanya Uci, semoga cepat sembuh dan bisa scepatnya bergabung kembali bersama Kami. Amin”
Tertanda Korlap hari itu,
Ruby Vidia Kusumah
(087878757205)
Read more
Jika sebelumnya kami prediksi sebagai lokasi termudah untuk melakukan riset, maka hal itu adalah sebuah prediksi yang salah. Sungai dangkal dengan arus tenang, itulah dua hal yang semula terbayang dalam benak kami terhadap lokasi riset pagi hari ini, Kedung Badak, Minggu, 10 Mei 2009. “Tak terprediksi sbelumnya!!!”, kesanku setelah selesai melakukan pengukuran.
Sungai Ciliwung di kawasan Perumahan Kedung Badak Baru, disanalah tepatnya aktivitas kami berlangsung untuk melakukan pengukuran terhadap beberapa parameter hidrologi dan fisika sungai, pengambilan sampel air untuk analisa laboratorium, dan juga pengoleksian biota-biota yang menjadi indikator kualitas air sungai.
Setelah lama berkendara menggunakan motor, berputar di atas underpass, memasuki kawasan Perumahan Kedung Badak Baru, kemudian bergerak searah arus sungai menyusuri DAS Ciliwung, maka sampailah Aku dan Wildan pada lokasi yang telah ditentukan bersama saat survey sebelumnya, Minggu, 5 April 2008. Di tempat tersebut tampak sudah berkumpul Annas, Endah, Ubo, Habib, serta Ria dengan handycam dan tripod-nya, yang datang terlebih dahulu menggunakan angkutan umum.
Sedikit menjauhi rindangnya Pohon Loa yang tumbuh tinggi menjulang, berdiri di atas badan sungai yang terbentuk dari tumpukan batu-batu sungai seukuran bola pingpong hingga bola tennis, kami berkumpul, menaruh segala perlengkapan, lalu mempersiapkan semua peralatan riset. “Kita ga bawa tambang nih Kak”, kata Endah kepadaku. “Ga apa-apa, Ubo bawa tali rapia ko”, jawabku santai karena malam sebelumnya memang sudah ku-sms Ubo agar membawa tali rapia. “Bo, keluarin semua peralatannya!”, kataku pada Ubo. Dengan segera Ubo pun langsung mengeluarkan tali rapia, pH indikator, dan meteran dari dalam tas-nya.
Berbeda dibandingkan saat survey sebelumnya, kondisi air sungai pagi hari ini sedikit lebih tinggi. Hal ini dicirikan oleh keberadaan air yang menggenangi badan sungai tepat berada di belakang tempat kami berkumpul, dimana saat survey dilakukan, lokasi ini kering tak berair. Tak lama berselang setelah mengamati seluruh keadaan sekitar, tiba-tiba Annas memberikan informasi kepadaku, “Rub, tuh Habib tanya apa yang harus dikerjain katanya?”. “Nanti Bib, kita ukur kecepatan arus, kedalaman sungai, dan lebar sungai”, kataku sedikit menjelaskan pada Habib.
Tanpa briefing, akhirnya kami pun segera melakukan pengukuran terhadap parameter hidrologi dan fisik sungai, pangambilan sampel air, dan pengoleksian biota-biota indikator. Endah dan Ubo masing-masing kuposisikan untuk melakukan pengoleksian biota-biota indikator dan dokumentasi. “Endah tolong ambil bioindikator sebanyak-banyaknya, besok mau gw foto di Lab!, Ubo tolong foto-foto semua keadaan dan aktivitas disini (di tempat ini) !”, pintaku pada Endah dan Ubo. Di lokasi lain, tak jauh dari posisi Endah dan Ubo, Annas dan Ria sibuk mempersiapkan handycam dan tripod untuk pengambilan film, sedangkan Aku, Habib, dan Wildan segera mencari titik lokasi untuk melakukan pengukuran.
Setelah menentukan satu titik lokasi, Aku dan Habib segera bergerak menyebrangi sungai, sedangkan Wildan tetap di tempat. Masing-masing dari kami (Aku dan Habib) membawa pipa paralon sebagai alat pengukur kedalaman dan lebar sungai. Sebagai panduan garis lurus melintang di sungai, kami juga membawa tali rapia untuk diikatkan di sebrang sungai sedangkan ujung lainnya dipegangi oleh Wildan.
Langkah
demi langkah, Aku dan Habib pun mulai menyebrangi sungai. Beberapa langkah pertama, perjalanan terasa sangat mudah dilalui. Namun, ketika posisi kami tepat berada di tengah-tengah sungai untuk menyelesaikan langkah kami menuju sebrang sungai, perjalanan sangat sulit dilalui. Arus deras terasa kuat mendorong tubuh kami hingga seringkali membuat kami terseret. Kulangkahkan perlahan kaki kiri dan kananku secara bergantian, ketika kuangkat kaki kiriku tuk melangkah, hantaman air membuat tubuhku berputar 90 derajat hingga kini Aku menghadap searah aliran air sungai Ciliwung, begitupun sebaliknya dengan kaki kananku. “Gila susah skali nih nyebrang disini!”, kataku dalam hati. “Wildan, kecepatan arusnya sama dengan stasiun 3 di Pulo Geulis!”, teriakku pada Wildan sebelum kuketahui kecepatan yang terukur sebenarnya.Kecepatan arus minimal 1,11 m/s; maksimal 1,70 m/s; rata-rata 1,36 m/s; lebar sungai 31,3 m; sedangkan kedalaman minimal 10 cm; maksimal 80 cm; rata-rata 36,81 cm. Itulah data yang terukur di Kedung Badak, Minggu, 10 Mei 2009. Ternyata data kecepatan arus rata-ratanya lebih besar dibandingkan data di Pulo Geulis dan Kebun Raya yang masing-masingnya adalah 1,26 m/s dan 0,80 m/s.
Jika dikonversi kedalam debit rata-rata, berarti kecepatan rata-rata (m/s) dikali kedalaman rata-rata (m) dikali lebar sungai (m), maka jumlah air yang mengalir perdetik di sungai Ciliwung, di kawasan Perumahan Kedung Badak Baru, di satu titik lokasi pengamatan saat itu adalah sebesar
15,63 m3/s. Jadi kalau mau dikonversi lagi kedalam jumlah air di bak kamar mandi berukuran 1 m3, setidaknya sedikit kurang dari 16 buah bak mandi ukuran penuh tumpah secara bersamaan setiap detik-nya.
Karena kecepatan arus yang terasa sangat deras, akhirnya kami pun memutuskan hanya melakukan pengukuran pada satu titik lokasi saja. Sekitar kurang dari jam 11 siang, kami pun mengakhiri kegiatan riset dan pulang menuju Dramaga dengan cara menumpang mobil Mas Bowie. (“Hehe, jadi enak nih bisa riset ditemenin sama Mas Bowie”).***
Terima kasih kepada rekan-rekan HIMASPER, LAWALATA, dan juga Mas Bowie yang bergabung kedalam TIM RISET TJILIWOENG.
-Tim Riset Tjiliwoeng-
Read more