
Supaya ngga dikira
sok jago, sok mampu, sok ngga butuh,...maka kami dari
“komunitas tjiliwoeng “ mo ikut-ikutan juga ah untuk ngumpulan
kepeng dari
sodara-sodara yang peduli, ngga peduli, apalagi yang ngga tahu malu...yang penting sodara-sodara rela menyisihkan rasa kepedulian dan kesadaran juga untuk ngisi
celengan tjiliwoeng ini...
Berapa saja,
cepe, gope, ceban, noban ato nodong juga boleh,...yang penting sodara-sodara iklas en memiliki niat yang sama seperti kami untuk mengisi celengan ini sampe penuh.
Kami namakan
“celengan tjiliwoeng”, karena isi celengan ini bisa di gunakan ato di pake buat kepedulian, peduli terhadap nasib para pemulung, peduli nasib orang yang kena musibah, peduli nasib lingkungan, peduli dan sangat peduli terhadap nasib tjiliwoeng kita yang udah jadi mbah-mbah ini.
Jadikanlah sodara-sodara orang
pertama yang nyumbang,...dan jangan yang
kedua, ketiga atawa
keseratus. Jangan takut miskin karena nyumbang, menurut para ulama,
“diantara rejeki kita ada rejeki yang lain”, yaitu rejekinya
mbah tjiliwoeng, amin.
Catetan=
gambar didapet dari Eyang Google.
Read more
Minggu pagi, 5 April 2009, aku bersama teman-teman yang tergabung dalam tim observasi Ciliwung mengunjungi Pulo Geulis. Hari ini kami akan menyurvei sejumlah titik yang akan dijadikan lokasi pengamatan kualitas air dan menentukan kebutuhan observasi lainnya. Selagi teman-teman asyik survei menyusur sungai mengelilingi pulau, aku memisahkan diri untuk sekedar ngobrol dengan ketua RT setempat, sekaligus memberitahukan secara lisan mengenai rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh tim observasi.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi, anak-anak berkejaran, bapak-bapak duduk santai menikmati libur. Diantara lorong jalan yang dihiasi jemuran pakaian, aku seperti ingin mencari sesuatu yang penting, sesuatu yang perlu digali dari sebuah pulau padat permukiman yang menyisakan sejarah ini.
Tidak lama, akhirnya aku menemukan rumah Pak Tata Sumiarta, ketua RT 5 Pulo Geulis, sebuah pulau yang secara admisnistrasi berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis terdiri dari lima RT dalam satu RW, entah RW berapa aku lupa menanyakannya,.
Setelah mengungkapkan maksud kedatangan, Pak Tata mulai sedikit bercerita mengenai Ciliwung. Meskipun bukan pelaku sejarah dan tetua, tetapi rasanya apa yang diceritakan dapat menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah yang lebih mendalam nantinya.
Dulunya hutan
Beragam cerita masa lalu Pulo Geulis sedikit tersingkap, meski tidak detail, aku merasa ada harapan bahwa Pulo Geulis memang masih memiliki cerita unik dan seru. Cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masa lalu.
Pulo Geulis merupakan pulau yang unik di Kota Bogor, lokasinya dekat dengan Pasar Bogor. Daratan ini berbentuk lonjong seperti sebuah delta yang dikelilingi aliran Ciliwung. Secara persis aku tidak tahu luasannya, mungkin sekitar 5 ha.
Dikisahkan oleh Pak Tata, saat penjajahan Belanda, nenek moyang penduduk Pulo Geulis bermukim di sebuah kawasan yang saat ini digunakan sebagai Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Menurut Pak Tata, warga yang bermukim di sana dipindahkan, mungkin tepatnya dipaksa untuk pindah, dan menempati sebuah delta yang rimbun penuh pepohonan seperti hutan. Inilah kondisi awal Pulo Geulis, saat pertama kali dibuka untuk bermukim warga setempat dari etnis Sunda.
Pulau ini tidak dikelilingi lautan, tetapi aliran sungai. Di dalamnya tumbuh pepohonan besar laksana rimba perawan, dengan gemericik air bening nan segar di sela-sela batu. Dahulu, aliran sungai yang mengelilingi Pulo Geulis tidak selebar saat ini yang telah mengalami erosi badan sungai. Dan tentu saja airnya masih jernih dan sehat untuk diminum langsung. Karena keindahannya pulau tersebut dinamakan Pulo Geulis yang dalam bahasa Indonesia artinya Pulau Cantik.
Menurut kisah lainnya, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, terjadi sebuah pertempuran di sebuah wilayah yang disebut Panaragan. Mayat-mayat yang bergelimpangan kemudian dibuang ke pulau tersebut. Tidak hanya itu, pulau tersebut pada suatu waktu kedatangan perempuan cantik yang tidak diketahui identitasnya dan dari daerah mana asalnya. Apakah mereka dari luar Sunda ? apakah mereka dipekerjakan oleh Belanda? Entahlah, Pak Tata pun mengaku tidak mengetahuinya.
Bahwa Pulo Geulis terkait erat dengan sejarah dan budaya masa lalu, itu pernyataan yang tidak terbantahkan. Bukti sejarah yang dapat ditemui di pulau itu adalah sebuah bangunan seperti vihara yang dikeramatkan. Di dalam bangunan tersebut terdapat makam orang pribumi dan Tiong Hoa. Konon, vihara ini adalah salah satu bangunan peribadatan tertua se-Indonesia. Beberapa makam yang ada di lokasi tersebut misalnya Mbah Mangunjaya, Mbah Gebug, Mbah Imam, dan Mbah Buyut Sampurna. Bahkan konon ceritanya lokasi tersebut juga pernah menjadi petilasan Prabu Siliwangi.
Tidak hanya vihara, sekitar tiga bulan lalu, di wilayah RT 5, saat seorang warga sedang menggali tanah, ditemukan amunisi peluru yang kemungkinan dikubur pada jaman Belanda. Mengenai penemuan peluru ini sudah di laporkan ke pihak berwajib.
Hubungan sosial antara pribumi dari etnis Sunda dan Tiong Hoa berjalan dengan rukun, bahkan sampai saat ini. Pak Tata menjelaskan bahwa, saat peringatan hari besar kegamaan, masing-masing komunitas memberikan ucapan selamat, dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sambil bersalaman. Sebuah budaya yang banyak ditinggalkan di tempat lain. Meskipun belum dipastikan berapa komposisinya , namun pak Tata memperkirakan sekitar sepuluh persen warga Pulo Geulis Tiong Hoa. Namun akhir-akhir ni ada juga pendatang yang ngontrak atau tinggal sementara di Pulo Geulis, misalnya dari Padang.
Hmmm..aku semakin penasaran menggali ceita yang lebih detail.
Semakin padat
Permukiman sudah sangat padat. Tampaknya sudah tidak mungkin menemukan secuil tanah kosong untuk membangun rumah baru, apalagi untuk bermain bola voli. Warga mesti membangun ke atas untuk urusan menambah rumah. Setiap waktu, masyarakat terus bertambah, ketersediaan ruang semakin terbatas. Sebagai gambaran di RT 5 ada sekitar 145 KK, kalau rata-rata satu keluarga ada 4 orang maka 580 jiwa. Memang belum dipastikan jumlah total warga di Pulo Geulis, tetapi jika kita kalikan dengan 5 RT, maka perkiraan jumlah jiwa di pulau tersebut sekitar 2900 jiwa.
Selain permukiman yang padat, warga yang kebanyakan masih menggunakan air Ciliwung untuk mandi dan mencucui dihantui berbagai permasalahan kesehatan lingkungan. Sebut saja kulitas air yang semakian menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga dan sampah dari hulu. Apa yang bisa kita lakukan ?
Parasmu kian redup menantang jaman
Kerut wajahmu kian nyata digerus arus Ciliwung
Tubuhmu semakin renta menopang beban
Pulau Cantik nasibmu kini, ....
(ditulis oleh M. Muslich)
Read more

"Nas bangun!!! tadi Ubo telpon, katanya lo di suruh cepat ke BNI. Dah pada nunggu lama." kata Oon seraya membangunkanku pagi ini. "Busyet dah jam 07.00, mati aku!!" kataku spontan ketika melihat layar HPku. Bergegas aku cuci muka dan langsung starter motor menuju Kantor BNI yang berada di ujung Kampus IPB Darmaga.
Masih terasa berat mata ini kubuka. Tapi harus kupaksa "melek", mengingat kesepakatan rapat Tim Riset Tjiliwoeng tadi malam di Sekretariat LAWALATA-IPB. Sampai di di BNI ternyata teman-teman sudah pada kumpul dan siap berangkat. "Duh ngak enah nih rasanya" pikirku dalam hati. Tadi malam, kita sepakat untuk kumpul di pelataran BNI jam 06.30 WIB. Tapi berhubung saya jam 7 baru bangun, terpaksa kita jadi molor deh :) hehehe.
Hari ini Minggu 5 April 2009, Tim Riset Komunitas Tjiliwoeng yang terdiri dari Muslich dan Widi, Annas, Rubi dan Wildan dari HIMASPER, Ubo dari LAWALATA, Juli dan 3 orang dari UKF mengunjungi sungai Ciliwung Kota Bogor. Teman-teman HIMAKOVA dan HIMASIERA berhalangan ikut karena ada urusan. Namun mereka berencana untuk melihat lokasi pada hari lain.
Pagi ini ada 8 orang dari tim riset ditengah-tengah keramaian orang yang mengunjungi pasar kaget mingguan di kampus IPB. Kami memilih untuk mengendarai sepeda motor, mengingat jalanan macet karena hari ini ada kampanye partai politik. Selain itu, jarak antar lokasi satu dengan lainnya cukup jauh dan tidak mungkin dicapai dalam satu hari dengan berjalan kaki. Agenda kali ini adalah melihat dan menentukan titik pengamatan di lokasi yang telah ditentukan tim survey sebelumnya.
Lokasi pertama yang kita datangi adalah Pulo Geulis. Laskar Karung Tjiliwoeng hari ini juga mengadakan aksi pemulungan sampah disana. Selain itu, kita sudah "janjian" dengan Muslich (koord. Tim Riset Tjiliwoeng) dan Widi ketemu di sana. Sehingga kita dapat ikut nimbrung pada aksi pemulungan sambil mengamati lokasi. Sementara Laskar Karung beraksi, Muslich menjelaskan lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan tempat pengamatan. Dia menyarankan tim, untuk melihat Pulo Geulis juga. Untuk efisiensi waktu, disepakati jam 09.30 WIB kumpul di "jembatan merah". Artinya, waktu untuk pengamatan di Pulo Geulis selama 30 menit.
Padat dan rapat sekali Pulo Geulis ini. Hampir tidak ada jeda antara rumah satu dan lainnya. Jangankan lapangan sepak bola, untuk bermain kelereng pun anak2 harus menggangu orang yang lewat di gang yang lebarnya kira2 1,5 meter.
Menyusuri gang, tim riset mencari jalan untuk dapat turun ke sungai. Tiba disungai, seorang pemuda bertanya "mau cari siapa a'? ", "Oh tidak a', kami pengen lihat sungai aja" Jawabku. "oh kirain mau cari orang" lanjut pemuda yang memegang ayam jantan itu. Hari ini kami lihat aktifitas warga di sungai seperti, mencuci pakaian, memandikan ayam, buang air besar, mengambil pasir. Dan yang paling mengejutkan ada seorang pemuda didekat kami berdiri, melepaskan pakaian sampai telanjang bulat, mandi di pinggir sungai. Tidak ada rasa sungkan sama sekali, walaupun di sekelilingnya banyak orang. Mungkin sudah biasa bagi pemuda ini, pikir saya.
Rumah yang di pinggir sungai kebanyakan mempunyai saluran buangan air ke sungai. Terlihat pipa paralon yang keluar dari rumah. Bisa-bisa jika kita tidak hati-hati akan terkena sial kejatuhan atau menginjak kotoran manusia ketika berjalan di bawahnya. Terasa berjalan di septic-tank ketika menyusuri bantaran sungai di kampung yang membelah sungai Ciliwung ini. Selain itu juga terdapat sampah plastik yang menumpuk di beberapa tempat. Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan atau mungkin juga mereka tidak punya pilihan lain, karena tidak ada lagi lahan untuk membuat tempat pembuangan.
Sekian lama keliling kampung Pulo Geulis, tiba-tiba HPku berbunyi, terlihat dilayar sebuah nama widi. "Annas Saya sudah di Jembatan Merah!" suara Muslich ketika kuangkat HP. Pertanda kita harus mengakhiri pengamatan disini. Tak terasa sudah 30 menit lamanya jalan-jalan di sungai. Lalu bersama tim lainnya saya menuju ke Jembatan Merah.
Sebelum beralih ke lokasi kedua, Muslich mengajak tim untuk melihat tempat lain yang tidak jauh lokasinya dari Pulo Geulis. Di tempat itu juga ada jembatan. Dari situ, kami mengamati sungai. Walaupun relatif dekat dengan Pulo Geulis, namun berbeda sekali kondisinya. Lebar sungai sekitar 2 meter, dan badan sungai terjal. Namun ada kesamaannya juga, yaitu di bantaran sungai terdapat tumpukan sampah dari plastik, styrofoam, botol dan lainya. Menurut Muslich, tempat ini perlu diambil datanya khususnya untuk karakteristik sungai. "Tempat ini merupakan penyempitan sungai Ciliwung", kata dia.
Setelah dirasa cukup lalu kami menuju ke lokasi kedua yaitu daerah Kebun Raya Bogor. Sampai di lapangan Sempur, ternyata macet sekali. Banyak orang berkaos kuning memenuhi lapangan pinggir sungai Ciliwung ini. Di sebelah selatan berdiri sebuah panggung, dan di sekeliling lapangan banyak terdapat bendera berwarna kuning juga. Mereka menunggu seorang pejabat yang akan berpidato pada siang ini. Melihat kondisi ini, kami mencari tempat yang agak sepi untuk mengamati lokasi sungai. Akhirnya dipilih sebuah jembatan di Desa Sempur yang tidak jauh dari lapangan. Setelah parkir motor, ada warga yang pada saat itu duduk di dekat parkir bertanya "mau ke tempat siapa dik?", "Tidak pak, kami mau lihat sungai aja" jawabku. "Emang Adik-adik ini dari mana?" lanjut bapak itu, "Kami dari IPB pak, Rencananya mau ada kegiatan di sungai bersama teman-teman komunitas Ciliwung dan Mengajak warga juga" jawabku sambil melangkah menuju jembatan untuk bergabung dengan lainnya.
Sedikit berbeda kondisi tempat ini dengan lokasi sebelumnya. Sungainya lebar, arusnya lebih kecil dan sampah tidak terlalu banyak. Namun masih kita temukan juga paralon saluran pembuangan yang mengarah ke sungai.
Beberapa menit kemudian Tim bergerak menuju lokasi ke tiga di Daerah dekat Jalan Baru Bogor. Di tempat ini, sungai dan badannya cukup lebar jika dibanding 2 lokasi sebelumnya. Tidak ada rumah yang langsung di pinggir sungai. Dari badan sungai ke rumah terdekat, ada jalan yang sudah di aspal. Sehingga kita tidak menemukan pipa paralon yang mengarah ke sungai.
Di tempat ini, terdapat sampah yang tersangkut di pohon. Saya menduga, Sungai Ciliwung pernah meluap sampai pada ketinggian kurang lebih 2 meter dari tanah. Karena landai, tim turun kebadan sungai yang berbatu itu. "Nas mana sih, biota yang lo maksud di metode kualitas air pakai indeks saprobik?" tanya Widi. Sayapun mengambil salah satu batu yang terendam di pinggir sungai, dan menunjukkan organisme yang menempel di batu ke Widi dan tim lainnya. "Ni ada hewan di sini" kata saya sambil membalikkan batu. "Organisme ini, setelah di cocokkan dengan gambar yang ada di lembar identifikasi maka akan ketahuan tingkat pencemaran di sungai ini" lanjutku. Semuanya mengangguk pertanda mengerti penjelasan saya.
Tak terasa sudah jam 11.00 WIB siang ini. Setelah mengamati keadaan sekitar lalu kami memutuskan untuk pulang. Tempat ini akan menjadi salah satu lokasi pengamatan kita nantinya. Sebelum pulang, ada yang mengingatkan untuk rapat persiapan pada hari jum'at 10 April sebelum melakukan pengamatan perdana.
Secara umum, lokasi pengamatan di bagi menjadi 3 klaster (cluster) besar. Klaster atas di daerah Pulo Geulis yang mewakili pola pemukiman penduduk yang padat, klaster tengah di sekitar Kebun Raya Bogor yang kita asumsikan sebagai hutan dimana interaksi manusia terhadap sungai kecil, klaster bawah di daerah Batukampa (Cilebut) mewakili perumahan yang teratur. Harapannya, pembagian lokasi ini dapat mewakili kondisi perairan sungai Ciliwung di Kota Bogor. (ARS/ Tim Riset Tjiliwoeng)
Read more



Ternyata aksi mulung sudah mulai dilirik sebagai
sosialisasi dan interaksi antar warga. Malah pihak perusahaan menjadikan aksi ini sebagai tempat bersosialisasi dan ajang promosi mereka ... he ..he ...he ..
Mungkin kita pernah makan dan denger permen Alpenliebe, Golia, Chupa Chups, Fruit-tella, atawa liat iklan Mentos di tivi. Nah ... siapa yang buat itu? Permen ini bukan dibuat di negri bule sono tapi masih di tanah pasundan ini, tepatnya di daerah Cibinong. Dan kalo kita dengar nama “van melle” pasti dalam bayangan kita itu pasti pemaen bola atawa orang londo, atawa merek baju atawa merek sepatu. Yang pasti, itu adalah nama perusahan yang mbuat permen mut-mutan ini.
Kenapa aku ceritain, karena pada aksi minggu ke-4 barusan, teman-teman dari perusahan permen “van melle” ini mau berbagi kesadaran dan kepedulian dengan para laskar karung untuk turut nyemplung di Ciliwung, dekat Pulo Geulis. Dengan menurunkan laskarnya, kurang lebih 50 orang, mereka dengan semangat ikut aksi. Ada beberapa yang bahkan sangat bersemangat sekali, sampai-sampai arus deras Ciliwung bukan jadi penghalang untuk terjun dan basah..basah..basah....
“Ini kaya anakonda mas” ujar salah satu laskar van melle ini, melihat panjangnya sampah yang nyangkut di bebatuan di tengah Ciliwung. Dengan baju warna merah dan topi reggae-nya dan beberapa aksesoris kalung yang juga didapatkan di antara sampah Ciliwung, salah satu laskar "van melle" ini layak dinobatkan menjadi Man on the match alias laskar terbaik. Semangat en keren bo....!!
Begitu semangat dan senangnya ikut mulung, mungkin dikira ini tempat rekreasi, maka minggu depan mereka malah nawarin untuk ikut dan nambah orang. “Minggu depan kita akan tambah orang dan ikut lagi!!”, tegas salah seorang laskar van melle dengan semangat.
Read more

Kayaknya gak usah berpanjang kata dehh ... soale ini semua udah jelas. Jelas kan jadwal mulung kita2 di Tjiliwoeng tertjinta ini?
Yup ... silakan saja temen2 lihat pengumuman mulung di samping ini.
Kalo mau lebih jelasnya begini:
"Mangga atuh sadayana warga Bogor ngariung dinten Minggu kanggo mulungan sampah Ciliwung. Urang karumpul heula dina hareupan Kelurahan Baranangsiang (jalan Bangka-Riau) tabuh 07.30 WWIB"
Read more

Kata orang, bila seseorang gemar mengabarkan dan menceritakan sesuatu kepada orang banyak, maka ia dapat sebutan
“mirip radio”. Memang radio adalah alat komunikasi tua yg paling dikenal luas bagi masyarakat kita. Oom dan tante kita tentu masih ingat dengan demam
Butir-Butir Pasir di Laut atau
Saur Sepuh. Aa' ataupun Teteh kita juga pastinya pernah demen sama
Catatan Si Boy atau
Bagito Show. Itu semua adalah program2 tenar di radio. Bahkan ada seorang Kiai yang menjadi kondang melalui siaran rutin di radio sampai punya julukan
Kiai Sejuta Umat.
Radio punya daya jangkau yang luas dan merangsang imajinasi orang. Dengan radio orang bisa menyampaikan pesan dan harapan. Radio menjadi media bagi iklan dan promosi produk. Pada saat menjelang PEMILU, radio juga menjadi media kampanye untuk memperoleh dukungan suara. Informasi harga sayur-mayur dan hasil bumi pun menggunakan media radio. Demikian pula halnya dengan ajakan untuk mewujudkan mimpi Ciliwung agar menjadi lebih baik kondisinya.

Dengan semangat menyebarluaskan informasi, mengajak semua kalangan, dan menggalang dukungan, Tim Tjiliwoeng pun memakai media radio. BETE Radio, sebuah radio komunitas yang dikelola oleh teman2 KALAM di kawasan Tegal Gundil, menjadi ajang penyebaran informasi mengenai kegiatan
“mulung sampah Ciliwung”. Tak cukup dengan radio di Bogor, Tim Tjiliwoeng bahkan mencoba tampil di Jakarta bersama sebuah radio bernuansa lingkungan, yaitu Green Radio. Lihat aja foto2 yang terpampang di posting ini. Semua itu dilakukan dengan sukarela, dan harapan agar warga sekitar Ciliwung semakin banyak yang peduli pada sungai ini.
Oke deuh bos, mugi meunang barokah jeung sukses wae lah! Tjiliwoeng ayeuna geus on air euyy!!
Read more
GUNDALA Putra Petir, Super Hero INDONESIA.....Bisakah kita seperti GUNDALA,...(Bisa membersihkan Tjiliwoeng,...????)
Duluuuuuu...dulu sekali, masa kanak2 kita sering merasa sok jagoan, sok hebat, sok n sok-sok-an....yang penting lebih jago dari yang lain dan klo bisa ngalahin apa saja, supaya bisa jadi perhatian, jadi panutan kawan2 dan jadi pioner dan kalo bisa jadi komandan
genk ... kalo sudah mendapatkan semuanya, mau jadi apa....?????.
Menurut diriku yang ndeso en katrok ini, apakah aksi kita ini udah sampai ke pemahaman segitu. Sebab beberapa hari yang lalu aku ngobrol ama temanku yang katanya juga aktipis...”kerjaan kalian itu seperti menggarami air laut”, ujarnya sambil mengelus jenggotnya, sebab dia ini ngaku dari PKS alias “Pemulung Kurang Sejahtera”.
“Sebab, kalo cuman cari nama, atawa cari perhatian kenapa harus mesti pake acara ambil sampah di ciliwung dan pake rame-rame segala”, katanya kepadaku. Aku bilang, “Cuman iseng doank kok...”, daripada nonton sinetron di rumah mending cari kesibukan ngumpul ama teman2, yang mungkin beda latar belakang atawa yang mungkin kawan lama yang juga tiap hari ketemu di meja lebar dan menikmati makan siang yang sama, kenapa kita bertemu tidak di tempat yang laen, dan mungkin suasana yang tidak membuat kepala dan rambut berdiri terus.
Aku bukan orang Bogor!, "KTP aja kau ngga punya", pernah ngurus ama er te, tapi disuruh ngurus sendiri langsung ke kelurahan, katanya “Bisa langsung ces pleng dengan sedikit sepik-sepik dan sedikit gambar Soeharto, cepat en lancar urusan”, kata Pak er te menasehatiku, walaupun sekarang jaman demokrasi tapi mengenai urusan bawah meja tetap aja pake sesajen katanya sambil mengisap rokok bentoel merahnya.
Kembali ke lektop...maksudku kembali ke Ciliwung, kita ngga bisa hanya berharap urang Bogor tea yang peduli, malah banyak konco-koncoku yang nyebur tiap minggu, bukan urang Bogor ... ada yang dari batak, jawa, madura, sulawesi, sumatera, dan kalimantan juga nyebur, karena bukan identitas kok yang membuat kita nyebur tapi karena kita memiliki rasa....”KESADARAN & KEPEDULIAN”.
Makanya aksi mungutin sampah ini “SOK JAGO”! sekali...pertama kali urang bule udah request mau ikut, malah katanya mo sama keluarga sekalian. Dalam hatiku .... Mantap!... sudah ada yang mo jadi pengikut seperti gengku dulu,...jaman kanak2. Dalam hati berharap aksi ketiga jadi lebih meriah euy....kaya iklan rokok. Tapi setelah sampai dari lokasi .... mana ... mana ... mana ... tuh bule? ingkar janji juga! Aku berpikir pasti dia keseringan liat kampanye, sehingga cuman obral janji doank.
Padahal aku sudah bawa anak-isteri juga. Dan aku bilang sama isteriku bahwa bersih-bersih Ciliwung ini untuk meningkatkan tali silaturahmi, kataku berorasi di depan anak isteriku dan menyakinkannya bahwa ini bukan kegiatan kaya maen bal-balan, cuman kejar sana kejar sini setelah itu pulang. Ini ada nilainya lho!! Sampai anakku yang berumur 2,5 taon sambil berjingkrak-jingkrak karena kesenangan, karena dikiranya kita jalan2 ke mall atawa beli maenan.
Kenapa ya orang itu susah diajak kalo melakukan sesuatu yang menyangkut kepentingan orang banyak....?????. Ada yang bisa jawab ngga..??? Aku sendiri ngga ada jawabannya kok. Sadar, berbuat, peduli, mudah diucapkan tapi sangat susah dilaksanakan. Mungkin kita atau negara ini punya departemen penyadaran, atawa peduli barangkali atau harus ada fatwa MUI .... Mungkin juga kaleee....
“MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI UNTUK AKSI BERISIH-BERSIH TJILIWOENG”
gambar dapat di om google..cari sendiri deh alamatnya..
Read more