Memang tak ada yang mengira hal ini bakal terjadi. Tapi juga tak satu pun orang yang bisa memastikan hal ini akan gagal. Seperti sebuah mimpi hal tersebut selalu terbayang sejak setahun lalu. Kapan yaa ...? Mungkin gak sih? Mau gak dia?
Hingga akhirnya semua itu menjadi semakin nyata sejak 2 minggu belakangan. Dan kenyataannya ... pada Sabtu pagi, 5 Februari 2011, yang dinantikan akhirnya datang juga. Seperti mimpi saja rasanya. Adalah
Dede Yusuf, seorang
public figur yang pernah dikenal luas dalam drama seri tayangan TVRI di tahun 1990 "Jendela Rumah Kita” yang hadir di Kota Bogor. Dede Yusuf bukan hanya orang terkenal di tahun 90-an, tapi ia juga terkenal di seantero Tanah Sunda karena posisinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.
Kembali ke mimpi, ternyata Oom Dede ini tanpa malu dan sungkan langsung menceburkan dirinya ke Sungai Ciliwung yang kotor. Oom Dede mulung sampah bersama para laskar karung KPC di Pangkalan Satu, Kelurahan Kedung Halang, Bogor. Berpakaian kaos polo lengan panjang corak loreng warna coklat muda, plus topi dan rompi Oom Dede datang dalam acara mulung rutin KPC. Rupanya Oom Dede sudah siap basah dan kotor, seperti yang diungkapkannya saat saya berjumpa beliau di
Gedung Sate 5 hari sebelumnya. Penampilannya saat di Gedung Sate sangat jauh berbeda dengan saat di Ciliwung. Saat itu ia nampak necis dan berwibawa layaknya seorang pejabat pemerintah.
Mulung kali ini memang agak spesial karena KPC tidak menyiapkannya sendiri. Teman lama KPC dari Bandung juga ikut memeras otak dan keringat. Mereka tak lain adalah teman2 Greeneration Indonesia dan Balad Kuring. Kalau bukan karena mereka, rasanya belum tentu KPC bisa menghadirkan seorang Dede Yusuf untuk turun langsung ke sungai. Jempol empat diangkat semua dehh buat barudak Bandung pengusung program “Diet Kantong Plastik” itu!! “Ooh ini yang namanya Anaconda Ciliwung. Wahh saya dapet banyak sekali tuh Anaconda-nya!!”
Oom Dede tak hanya mulung di Ciliwung. Ia juga mengajak semua rombongannya dan para undangan lain untuk turun ke sungai membersihkan sampah2 Ciliwung. Bahkan para pengawalnya yang berbadan tegap dan bertampang seram pun terpaksa ikutan basah ... hehehe. Demikian pula halnya dengan para anggota Pramuka yang diajak serta untuk hadir di acara mulung ini. Kalau dihitung semua, mungkin lebih dari seratus orang yang ikut serta dalam kegiatan mulung ini. Saya jadi ingat pada beberapa petinggi pemerintah di Bogor yang pernah pula hadir di acara KPC. Rasanya tak ada satu pun dari mereka yang rela berbasah diri dan berkotor ria dengan sampah Ciliwung. Kasihan yaa mereka itu ... (gak malu dengan Oom Dede).
Sungguh sebuah kejadian yang membanggakan kedatangan tamu seperti Oom Dede ini. Tak cukup baginya hanya mengajak semua orang untuk memperhatikan dan menjaga kelestarian sungai. Dia juga meminta agar gerakan sukarela seperti yang dilakukan KPC bisa menjadi contoh bagi sungai-sungai lain di Jawa Barat. Ahh ... jadi malu rasanya dijadikan contoh. Semoga ungkapan Oom Dede tak membuat para laskar karung KPC menjadi riya’ dan sombong ....
Hatur nuhun pisan buat Oom Dede, para barudak Bandung, teman2 JakartaGLUE, teman2 Printing Community, teman2 TGC, teman2 Kotahujan.com, teman2 Telapak, dan tentu saja para laskar karung KPC semua. Terima kasih karena telah mendongkrak semangat KPC untuk tetap meneruskan tugas berat menjaga Sungai Ciliwung tercinta ini.
gambar Oom Dede diambil dari hasil jepretannya Oom Sano di sini
Read more
Entahlah dari mana asal mula ide ini. Bisa jadi ini cuma sekedar ide lepas saja karena pengaruh suasana libur akhir tahun kemarin dan hasrat berkelana yang belum terlaksana. Bisa juga ide ini muncul karena ikut-ikutan orang lain. Bisa pula munculnya ide ini karena keinginan yang kuat untuk memahami lebih dekat bagaimana Ciliwung mengalir dari mata air utamanya. Namun kuatnya keinginan membuat beberapa laskar karung berani memutuskan untuk melakukannya.
Apa pun alasannya, apa pun tujuannya, apa pun sebabnya, jelas minumnya yaa air ... masa sih minumnya nasi? (hehehe) Begitulah kira2 niat yang kuat dari para laskar karung yang ingin "berjalan kaki" (bukan berenang lho) untuk menyusuri aliran Sungai Ciliwung.
Kapan kah itu akan dilakukan? Tidak perlu menunggu waktu lama ... para laskar karung akan melakukannya akhir minggu ini. Yaa ... akhir minggu ini pada tanggal 8 dan 9 Januari 2011. Rupanya mereka ingin membuka lembaran tahun 2011 ini dengan melihat dan merasakan langsung aliran sungai ini dari hulunya. Mereka ingin memulai kegiatan jalan kaki ini dari kawasan Cagar Alam Telaga Warna di daerah Puncak sana.
Lalu apa yang akan dilakukan selama berjalan kaki? Jawabnya bisa macam2 tergantung dari berapa banyak keinginan dari masing2 laskar karung yang ikut serta. Ada yang ingin melakukan riset sederhana dengan mengidentifikasi ikan dan serangga air dari hulunya. Ada yang sekedar ingin mencari tempat-tempat yang cocok untuk memancing di sungai. Ada yang ingin memotret apa saja yang ada di Ciliwung dari mulai hulunya. Dan pastinya ada pula yang hanya sekedar ingin basah karena keringat dan air sungai ini.
Naahh bagi para pembaca setia blog ini ... jika Anda ingin ikut serta berbasah ria sambil berwisata mengikuti aliran air Ciliwung, silakan saja bergabung bersama para laskar karung tersebut. Kabarnya mereka akan memulai perjalanan dengan berangkat bersama2 dari Bogor. Mereka akan kumpul di Terminal Bus DAMRI (samping Botani Square) pada hari Sabtu (8 Januari) pukul 04.30 pagi atau setelah waktu sholat Subuh, karena rombongan ini akan berangkat ke Telaga Warna pukul 05.00 pagi.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk turut serta??
Bagi yang tertarik, silakan menghubungi Hari Kikuk (telp. 0856 123 52 98)
Read more

Keseriusan upaya, keteguhan hati dan semangat tinggi memang selalu berbuah manis. Setelah (mungkin) ratusan liter peluh dikeluarkan, berpuluh bungkus sabun cuci, sabun mandi, beratus liter air minum, berbungkus2 nasi dan kue dikonsumsi ... akhirnya warga Kelurahan Bantarjati dapat merebut Piala Bergilir Kompetisi Mulung antar kelurahan se-kota Bogor tahun 2010 ini.
Bentuk pengorbanan itu memang masih belum seberapa, mereka punya berbagai cara lain (yang tentu saja sportif) sejak persiapan hingga saat kompetisi ini. Pak Lurah beserta jajarannya sudah jauh2 hari mengumpulkan para ketua RW utk bersatu memeriahkan kompetisi ini. Ada berkali-kali rapat yg telah diselenggarakan di kantor kelurahan sebelum kompetisi berlangsung. BABINSA kelurahan, TAGANA (Taruna Siaga Bencana) tingkat kelurahan, MUI kelurahan, LPM, kelompok2 SAR banjir pemuda, karang taruna, dan ibu2 PKK ternyata juga diikutsertakan. Ini adalah bentuk keseriusan dan kepedulian yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Keseriusan ini pun terjadi tak hanya saat persiapan. Saat kompetisi seluruh warga dan kelompok2 warga tersebut dengan semangat turut terlibat dalam mensukseskannya. Titik pemulungan sampah Ciliwung tak hanya berada di satu lokasi. Warga Bantarjati menyebar merata di tujuh wilayah RW yang dilintasi Sungai Ciliwung, dari mulai Bendungan Cibagoloh hingga depan Pasar Warung Jambu. Pada setiap titik setidaknya dijumpai lebih dari 20-an orang.
Sang Lurah pun turun ke sungai untuk memungut sampah dan menanam pohon. Demikian pula halnya dengan petugas kelurahan, BABINSA, Ketua RW, Ketua RT, MUI Kelurahan dan LPM. Para petinggi kelurahan ini ternyata tak hanya pandai memerintah dan mengintruksikan, tapi juga mengotori tangan mereka dengan sampah dan bermandi keringat.
Pada salah satu titik pemulungan yang berdinding tanggul terjal, para pemuda bahkan membersihkan sampah dengan bersemangat sekalipun harus menempuh resiko tinggi. Mereka bergantungan pada seutas tali plastik sembari membersihkan sampah-sampah yang terserak di dinding sungai itu.
Ibu-ibu PKK dan para warga perempuan tak tinggal diam. Mereka selalu siap sedia menyediakan minuman dan makanan ringan di setiap titik pemulungan sampah, walau tak harus dengan harga mahal. Pada beberapa titik pemulungan mereka hanya menyediakan sekedar air putih dan pisang. Namun apapun bentuknya, dukungan penuh kaum perempuan ini telah memompa semangat yang luar biasa bagi seluruh warga untuk bebersih runtah Ciliwung.
Sementara kelompok pemuda SAR sungai dan TAGANA bersiap dan waspada di titik2 rawan resiko bencana sepanjang sungai. Sehingga jika terjadi kecelakaan atau banjir bandang tiba-tiba, mereka dapat memberi peringatan bahaya ataupun melakukan evakuasi cepat.
Berbeda dengan kelurahan lain, Bantarjati melengkapi kreativitas keikutsertaan kompetisi ini dengan menanam pohon. Bukan sembarang pohon dan bukan sekedar menanam satu dua batang. Kelurahan Bantarjati berhasil memperoleh dukungan dari Kodim berupa 70 batang bibit pohon trembesi yg berguna sebagai peneduh dan penguat tepian sungai Ciliwung. Ketujuh puluh bibit tersebut pun langsung ditanam di sepanjang tepian Ciliwung pada 7 wilayah RW di kelurahan ini.
Rasanya tak ada kata yang paling tepat utk mengungkap apresiasi buat seluruh warga dan jajaran pemerintahan Kelurahan Bantarjati, kecuali ....
LUAR BIASA, SPEKTAKULER, MENAKJUBKAN, dan TOP MARKOTOP!!
Read more

Dimulai dari janji dan komitmen tahun 2009 lalu. Akankah Kompetisi Mulung Sampah Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor II di tahun 2010 ini dapat terlaksana? Memang tak mudah untuk memenuhinya. Jerih payah otak dan otot ditambah doa harus dicurahkan hingga yang direncanakan dapat terlaksana.
Dengan slogan "Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak", alhamdulillah semua itu akhirnya dapat menampakkan hasilnya. Kompetisi ini berhasil terlaksana dengan baik. Hari Sabtu lalu, 30 Oktober 2010, sepuluh kelurahan, dari 11 yang diundang menurunkan warganya sebagai peserta kompetisi ini. Ada ratusan orang yang berkumpul di tepi Ciliwung. Situasi ini terlihat dari mulai Katulampa, Baranangsiang, Sukasari, Babakan Pasar, Sempur, Bantarjati, Tanah Sareal, Kedung Badak, Kedung Halang, dan Sukaresmi.
Tak sekedar berkumpul tanpa hasil. Dengan penuh semangat mereka mengotori tangan, kaki, dan baju mereka karena tumpukan sampah Ciliwung perlu dibersihkan. Sampah plastik, besi, karet, kaca, dan kain yang sebagian besar menyebarkan aroma busuk tak menghambat warga untuk membersihkannya. Wajah mereka lelah, sebagian lagi tampak menyeringai mencoba menghindari sergapan uap busuk sampah itu. Mereka kotor, mereka juga basah kuyup karena air sungai bercampur lumpur.
Tak hanya warga yg turut serta dalam hiruk-pikuk keaktifan dan kepedulian akan sampah Ciliwung. Hari itu hampir di tiap kelurahan didukung langsung dengan kehadiran para lurahnya. Pada beberapa kelurahan bahkan peserta mulung dibantu oleh para ketua RW, ketua RT, LPM, MUI, Babinsa, Babinkamtibmas, karang taruna, penggerak PKK, dan TAGANA. Pihak dinas LH, dinas kebersihan, Polmas, bahkan RRI Bogor pun turut membantu acara kompetisi ini dengan menurunkan sejumlah stafnya.
Lalu ke mana para laskar karung yang biasanya setiap Sabtu mulung sampah di Ciliwung? Apakah mereka sudah bosan mulung? Tidak kawan ... mereka masih ada koq. Kompetisi ini penyelenggara utamanya adalah teman2 laskar karung KPC. Para laskar karung bertugas jadi panitianya. Sehingga pada hari H kompetisi, KPC yang tadinya hanya terdiri atas para laskar karung, kini jadi lebih banyak anggotanya hingga ratusan orang dari 10 kelurahan yang ada di Bogor.
Maka hari Sabtu itu, sampah di sepanjang bantaran Ciliwung di Kota Bogor dibersihkan oleh ratusan warga Bogor. Dibersihkan selama 3 jam sejak pukul 08.00 hingga 11.00. Usai acara, semua peserta dan panitia tampak lelah. Mereka pun beranjak meninggalkan lokasi dengan lega dan puas. Kompetisi telah berakhir. Tinggal menunggu saat2 diumumkannya kelurahan mana yg akan jadi pemenangnya. Dan Ciliwung pun menjadi sedikit lebih bersih dibandingkan sebelumnya.
Beberapa jam setelah kompetisi ini seorang ibu penjual minuman di Lapangan Sempur berseru, ”Mas ... itu Ciliwung yang tadi jadi tempat mulung banjiiirr!”. Saya bergegas menuju ke tepian sungai dan mendapati air bah Ciliwung yang mengamuk menutupi tiga per empat tinggi tebing sungai. Kejadiannya begitu cepat. Syukurlah kompetisi ini telah berakhir hingga kekhawatiran akan bahaya air bah saat kompetisi pun sedikit berkurang.
"Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak"
Read more
Bagi orang Bogor, istilah "ngabuburit" mungkin terdengar sangat akrab. Ini adalah istilah dalam bahasa Sunda yang artinya menghabiskan waktu sebelum saatnya berbuka puasa. Ada banyak cara yang dilakukan, ada yang jalan2 sore putar2 kota, ada yang duduk2 santai sambil berbincang ringan, ada yang menghadiri acara pengajian di mesjid2 atau majlis ta'lim, dsb. Begitu akrabnya istilah ini hingga terkadang juga diplesetkan menjadi ... menunggu saat buka puasa sambil minum kopi dan merokok. Plesetan bentuk lain juga ada, walau terasa jadi guyonan hambar seperti "ngabuburit = ngabubur beurit" alias menyantap bubur daging tikus ... hehehe.
Sejak setahun lalu, sekelompok warga Bogor penghobi kegiatan memulung sampah di Ciliwung telah memulai sebuah cara baru mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka. Bukan dengan berbincang2, bukan sambil menikmati makanan kecil, bukan juga mendengar ceramah. Caranya sangat sederhana, yakni dengan melakukan aktivitas memungut sampah2 anorganik (mulung) di Sungai Ciliwung. Bagi yang belum pernah melakukannya pastilah yang terbayang adalah suasana yang sangat tidak nyaman dan menguras tenaga. Namun kenyataannya tentu tidak seburuk yang dibayangkan. Kelompok warga Bogor yang menamakan dirinya sebagai Laskar Karung KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini menganggap bahwa ngabuburit di Ciliwung adalah kegiatan yang asyik.
"Kalau tidak percaya, coba saja dulu," demikian komentar mereka sambil menambahkan sebuah pepatah "ala bisa karena biasa".
Hari Sabtu sore tanggal 14 Agustus 2010 lalu seakan menguatkan komentar para laskar karung tersebut. Sejak pukul 15.30 sudah ada seorang peserta yang hadir. Ia adalah warga Sukasari yang tertarik ingin ikut serta mulung. Ia duduk di atas sebuah batu kali besar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Saya sudah di bawah jembatan Jalak Harupat, di mana mulungnya Mas?" demikian SMS yang ia kirimkan kepada para laskar karung KPC. Beberapa menit kemudian para laskar itu pun berdatangan satu per satu dan bergabung dengannya di bawah Jembatan Jalak Harupat, Sempur.
Spanduk besar bertuliskan "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" segera dibuka lebar sebagai penandaaksi mulung mingguan ini. Beberapa detik kemudian 10 orang sudah aktif memungut sampah anorganik dan memasukkannya dalam karung2 plastik. Semuanya berjalan dengan otomatis. Tidak ada yang mengeluh, semua melakukan kegiatan ini dengan gembira, walau tanpa adanya seteguk air minum atau segigit makanan ringan apa pun karena sedang berpuasa. Menit2 selanjutnya, para laskar karung pun bertambah jumlahnya. Hampir 20 orang yang kemudian sibuk memungut sampah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa saat berbuka sudah semakin dekat. Kondisi alam pun seakan turut memberi tanda agar para laskar karung segera menghentikan kegiatannya. Hujan gerimis mulai mengguyur para laskar karung. Dan akhirnya aksi mulung ini pun berhenti. Waktu tersisa beberapa menit sebelum saat berbuka pun dimanfaatkan untuk berkemas dan mulai mencari makanan dan minuman pembuka.
"Allahuma lakasumtu wa bika aamantu ... dst" pun terucap di hati masing2 laskar karung, saat terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid terdekat di Lebak Kantin dan Sempur. Selesai lah sudah sebuah kegiatan ngabuburit di bawah jembatan. Alhamdulillaah ... it's a lovely ngabuburit time under the bridge ...
Read more
Komunitas Peduli CiliwungSekretariat: Jl. Sempur Kaler No. 111 PAV, Bogor 16129,
Setahun Membersihkan Ciliwung, KPC Ajak Pemerintah dan Warga Bertindak Serius
Bogor, 14 Maret 2010 –
Hari ini, Komunitas Peduli Ciliwung menggelar sebuah acara di tepian Sungai Ciliwung. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati setahun aktivitas pembersihan sampah di Sungai Ciliwung dan sekaligus setahun usia komunitas ini. Berbagai kalangan warga dan seniman berkumpul bersama memeriahkan acara tersebut. Dalam acara ini Komunitas Peduli Ciliwung mengajak semua orang untuk lebih peduli pada kondisi Sungai Ciliwung.
Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah kumpulan warga yang sejak tahun 2009 melakukan serangkaian kegiatan penyelamatan Sungai Ciliwung di Bogor. Sejak berdirinya, secara sukarela para anggota KPC telah melakukan aktivitas bersih sungai dengan memungut sampah‐sampah anorganik dari Sungai Ciliwung setiap minggu.
Untuk menandai setahun upayanya melakukan penyelamatan Ciliwung, KPC menggelar acara Peringatan Setahun KPC di Bogor. Acara ini bertemakan “Menyatukan Gerak Langkah Warga untuk Ciliwung”. Dalam acara ini KPC juga mengajak berbagai kalangan masyarakat, terutama warga Bogor untuk hadir dan memeriahkannya. Acara dimulai dengan lomba menggambar dan mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor. Pada saat yang sama KPC mengajak para undangan dan warga Bogor untuk bersama‐sama melakukan pemungutan sampah anorganik di Sungai Ciliwung. Masih dalam rangkaian kegiatan ini, KPC juga mengundang para pemerhati dan pegiat Ciliwung untuk bertukar pikiran mencari solusi bersama penyelamatan Sungai Ciliwung dalam sebuah sarasehan. Para seniman muda dari Jakarta, Bogor, dan Bandung turut memeriahkan acara ini dengan menampilkan karya‐karya mereka. Selain itu para seniman sunda klasik dari Bogor juga turut mengisi acara dengan menampilkan musik kecapi suling dan gendang pencak.
“Kepedulian pada Sungai Ciliwung seharusnya menjadi kepedulian lintas usia, lintas budaya, agama dan profesi. Kami ingin mengajak semua orang untuk peduli. Itulah yang mendasari digelarnya acara ini“, tutur Nino (Sutrisno), Ketua Panitia Peringatan Setahun KPC.
Selama setahun ini, KPC telah melakukan 48 kali aksi mulung di Sungai Ciliwung di Bogor. Tumpukan sampah sungai Ciliwung di Bogor ternyata tidak kalah dengan di daerah hilirnya. Sungai Ciliwung telah menjadi tempat sampah raksasa sejak dari wilayah hulu dan tengahnya di Bogor. Aksi mulung KPC selama setahun telah membuktikan hal ini.
Namun demikian penanganan masalah ini seringkali dibayangkan sebagai upaya yang pelik dan tidak mudah. Hal ini telah menjadi hambatan psikologis bagi upaya penyelamatan sungai ini. Dibutuhkan adanya tindakan nyata yang jelas dari berbagai pihak. KPC telah memulainya dengan hanya 2‐3 jam setiap minggunya, setidaknya KPC telah berhasil mengumpulkan puluhan ribu karung sampah yang beratnya hampir setara dengan ratusan ton sampah anorganik dari Sungai Ciliwung.
“Ciliwung milik kita semua. Warga masyarakat harus mulai bertindak. Pemerintah pun harus mengambil perannya. Kondisi Ciliwung akan semakin buruk jika kita hanya tinggal diam dan menunggu!” pungkas Hapsoro, Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung.
CATATAN UNTUK EDITOR:
• Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Propinsi DKI Jakarta.
• Kegiatan Peringatan Setahun KPC diselenggarakan pada Hari Minggu, 14 Maret 2010, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WIB. Kegiatan dipusatkan di Lapangan Kampung Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kota Bogor. Kegiatan ini diisi dengan berbagai acara, yaitu 1) lomba menggambar/mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor, 2) aksi mulung sampah bersama di Sungai Ciliwung, 3) sarasehan para pemerhati Ciliwung, serta 4) pentas seni dan budaya.
• Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah komunitas warga yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung. Komunitas ini berbasis di Bogor. Informasi lebih detil tentang kegiatan komunitas ini dapat diperoleh di situs web www.tjiliwoeng.co.cc
Kontak
Sutrisno, Koordinator Peringatan Setahun KPC mobile phone: 0815 851 69977, e‐mail: djreinhart@gmail.com
Hapsoro, Koordinator KPC. mobile phone: 0815 857 19872, e‐mail: hapsoro@telapak.org
Unduh file selengkapnya di
https://docs.google.com/fileview?id=0B-5rpj5pNxPEOWU5MzhlM2YtNDRmYS00OTA5LWJkMGEtYjFmZTQ2ZDBmZTg2&hl=en
Read more

Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more
Betul sekali ... musim rambutan masih belum selesai. Kita masih saja menjumpai tumpukan buah rambutan yang dijual di pasar2 dan tepi2 jalan. Artinya, kita masih bisa menikmati kesegaran dan kenikmatan buah itu, asalkan (tentu saja) mau beli.
Kalau buah rambutan masih ada dan bisa dinikmati, gimana dengan kampung rambutan? Masihkah gerombolan laskar karung KPC beraktivitas di sana? Jawabnya tentu saja. Bantaran sungai Ciliwung di Kampung Rambutan, Bogor masih jadi tempat menumpuknya sampah. Tak perlu khawatir tidak menemukan sampah. Sebab minggu lalu para laskar karung masih belum mampu menghabiskan tumpukan sampah di sana. Jika anda turut serta untuk mulung, dijamin anda akan dengan mudah menemukan pakaian robek, kantong plastik (kresek), popok bayi (
diapers) berisi kotoran manusia, bungkus mie instan, bungkus sabun cuci, bungkus produk2 kebutuhan rumah tangga buatan Uni**v*r, dsb dsb.
Maka dari itu mari kita beramai2 turun mulung sampah di Kampung Rambutan. Sungguh, Ciliwung menunggu kerelaan hati dan kepedulian kita semua untuk membersihkannya. Apalagi buat warga Bogor ... rasanya kurang afdol jika kita membiarkan aliran sungai Ciliwung yang pernah kita banggakan ini jadi kotor.

Read more
Jika kita ngomongin soal rambutan, biasanya yang terbayang cuma ada 2. Yang satu adalah nama buah yang saat ini sedang musimnya. Buah segar "juicy", kulitnya berambut, digemari banyak orang, tapi juga dihindari jika sedang batuk. Yang lain, adalah nama sebuah terminal bus antarkota besar di bagian timur Kota Jakarta. Namanya terminal Kampung Rambutan.
Naah ... di Bogor ini, nama rambutan saat ini juga pastinya bisa dikonotasikan serupa dengan kedua hal di atas. Sebab sekarang ini Bogor masih mengalami musim buah rambutan. Dan ... sebuah perkampungan di Kota Bogor dikenal dengan nama Kampung Rambutan (juga). Letaknya berada tepat di bantaran Sungai Ciliwung, di daerah lembah Sempur. Mungkin nama ini dipakai karena dulu tempat ini pernah jadi sebuah perkampungan yang jadi penghasil buah rambutan. Bagaimana sekarang? Sepintas kampung ini adalah sebuah perkampungan padat rumah seperti umumnya perkampungan di bantaran Ciliwung. Rasa2nya jika pun ada pohon rambutan di sini, maka jumlahnya tak cukup banyak sehingga dapat mewakili sebutan nama kampungnya.
Entah apa sebabnya, tapi minggu ini Kampung Rambutan di Bogor jadi spesial bagi para laskar karung KPC. Mungkin bukan karena buah rambutan. Mungkin karena tempat itu menyimpan potensi tumpukan sampah di sungainya. Wajar saja jika KPC mengajak setiap orang untuk hadir melakukan ritual mingguan memungut sampah dari Sungai Ciliwung di kampung ini. Yaa ... siapa tahu upaya ini membatalkan rencana perubahan nama kampung menjadi "kampung sampah sungai"

Read more

Tuhan itu baik pada semua orang. Tuhan telah memberi cahaya kasih bagi seluruh umat manusia. Namun ada kalanya kita lupa pada apa yang Tuhan beri. Seringkali ucapan dan tingkah laku kita semakin menjauh dari kasih Tuhan. Saat kita menjauh, maka dunia terlihat gelap. Saat kita lupa, maka dunia serasa hampa.
Tapi pernahkah kita mencoba untuk selalu mengingat Tuhan? Sebab dengan mengingatnya kita akan lebih dekat pada cahaya kasihNya.
Maka mari kita berlomba-lomba untuk mengingatNya. Mari bersama-sama menebar kasih sesama umat manusia. Kasih pada orang-orang yang hidup dalam lingkungan penuh sampah. Kasih pada sungai dan alam yang telah kita kotori. Datanglah pada "terang"!
Dalam suasana kasih Natal tahun ini, Komunitas Peduli Ciliwung mengajak kita semua untuk bisa menebar kasih pada alam dan manusia. Mari kita sama2 turun ke sungai Ciliwung dan membersihkan sampah2 yang menumpuk di sana.
- Hari/tanggal: Sabtu, 26 Desember 2009
- Waktu: pukul 08.00 - 11.30 (kumpul 07.30)
- Lokasi: bantaran Sungai Ciliwung, dekat Kebun Raya Bogor dan Jl. Jalak Harupat, Bogor
gambar Santa Claus diunduh dari sini
Read more
Ditemui di kegiatan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) di daerah perumahan Katulampa Bogor Sabtu 14 November 2009, Cindy yang juga merupakan anggota RECIPALA (Pecinta Alam Regina Pacis) menyatakan siap untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya banyak mamfaat yang diperolehnya dengan aktivitas seperti yang dia lakukan saat itu, yaitu memungut sampah non-organik dari sungai.Dengan memungut sampah dirinya terlatih untuk tidak merasa jijik lagi. Cindy sebagai generasi muda mengajak generasi muda yang lain untuk turut menjaga lingkungan, terutama sumberdaya air.
Menurut Hendi, salah satu pembina RECIPLA yang ditemui sedang melakukan pendampingan
setelah ulangan umum pada bulan Desember mendatang, SMA Regina Pacis Bogor akan kembali turun ke sungai Ciliwung untuk membersihkan sungai. Menurutnya lagi, kegiatan ini tentunya akan dilakukan setelah mendapat restu dari kepala sekolah.
Read more
Telah meninggal dunia bapak Dudi Suhardi Kepala Bidang Kebersihan Kota Bogor pada hari Rabu 23/09/2009 pukul 11:00 WIB di kediaman almarhum di daerah perumahan Ciomas Permai Blok D20, Ciomas Bogor.
Beliau meninggal dunia setelah sebelumnya menderita sesak nafas, dan dilarikan ke RS PMI Bogor. Namum dalam perjalanan, beliau tidak tertolong.
Kantor Berita ASTEKI Bogor, www.kotahujan.com dan komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengucapkan turut belasungkawa kepada keluarga, sanak saudara serta rekan kerja yang ditinggalkan. Almarhumah meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Read more

Selain Yus Rusila Noor menceritakan tentang gambut, Obrolan Kamis Sore, 10 September 2009 lalu, diisi oleh Hapsoro dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Ia menceritakan tentang kondisi Sungai Ciliwung di Bogor, dengan tagline
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak” sebagai motto kegiatannya.
Kegiatan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah inisiatif dari warga Bogor untuk Kota Bogor. Inisiatif ini berawal dari mimpi-mimpi Hapsoro dan beberapa temannya. Ia bermimpi bisa memancing dengan enak di Sungai Ciliwung dan anaknya sibuk bermain air di situ. Padahal Ciliwung kini tidak hanya terancam oleh sampah, tapi juga oleh banyaknya pembangunan yang dilakukan di badan sungainya. Walaupun logat Jawa Hapsoro masih kental, KTP Bogornya seakan menyentil dirinya. Dia tidak ingin tinggal di Bogor hanya untuk makan dan buang hajat saja.
Setelah mulai menelusuri dan memetakan titik-titik pembuangan sampah di tepi dan badan Sungai Ciliwung, akhirnya sejak Februari 2009, ia mengajak teman-temannya melakukan bersih Ciliwung, terutama untuk sampah anorganik. Bagi pria berkulit gelap ini, saat ini diperlukan tindakan aksi dalam menyelamatkan Ciliwung.
“Kami adalah segelintir orang yang mau bertindak, dengan memberikan contoh langsung.”
Sejak mulung perdana tanggal 15 Maret 2009 dan diikuti oleh 80 orang, kegiatan ini berlangsung teratur setiap minggu walau pesertanya selalu menurun. Hapsoro menafsirkan bahwa orang Indonesia masih senang melakukan kegiatan berdasarkan momentum hari-hari besar lingkungan. Aksi mulung sampah ini bersifat voluntary, tidak ada paksaan. Makan dan minum pun membawa dari rumah masing-masing. Bahkan, Hapsoro juga menyediakan kotak sumbangan untuk membeli karung yang diedarkan ke peserta mulung.
KPC juga melakukan kegiatan lainnya, seperti pendidikan lingkungan hidup untuk SD di Kp. Rambutan; penelitian tentang kualitas air, herpeto fauna, biota air dan sosial ekonomi; pemutaran film layar tancap (tentang sampah Ciliwung) dan road show ke kampung-kampung; Orkes melayu gerobak dorong, untuk menghubur masyarakat yang tinggal di pinggir sungai; penyebar luasan info melalui radio; dan bahkan penyelenggaraan Lomba Mulung Sampah yang diikuti oleh 10 kelurahan di Kota Bogor dalam rangka perayaan 17 Agustus 2009 lalu.
Untuk kegiatan ini KPC mendapat bantuan dari Dinas Kebersihan kota Bogor dalam pembuangan sampahnya. Saat ini sampah buangan masih dibuang ke TPA Galuga. Di saat-saat awal KPC masih melakukan pemilahan sampahnya, tapi kini kegiatan tersebut sulit dilakukan mengingat diperlukan waktu dan tempat penampungan yang tidak sedikit. KPC masih mencari pihak yang mau menangani pemilahan sampah ini.
Hapsoro juga mengakui bahwa saat ini masih sulit untuk merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Karenanya dengan melakukan pemulungan secara intensif, diharapkan masyarakat bisa berpartisipasi dan malu bila masih membuang sampah ke sungai. Mereka tidak perlu dimarahi bila masih membuang sampah, tetapi perlu pendekatan bagaimana membuat mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai. Juga melakukan pendekatan kepada warga yang memiliki kepentingan dalam menjaga sungai, misalnya pemilik keramba ikan, mereka secara teratur tiap hari membersihkan sampah yang menyangkut di kerambanya.
Setiap hari Sabtu pula, pria pengendara sepeda onthel ini rajin mengirimkan SMS mengajak teman-temannya untuk melakukan mulung sampah di Ciliwung pada hari Minggu. Ketersediaan dana masih merupakan kendala, dan masih belum bisa optimal untuk melakukan komunikasi dan mengajak lebih banyak lagi orang yang peduli. Jika Anda tertarik untuk bergabung membersihkan Sungai Ciliwung, silahkan klik: www.tjiliwoeng.co.cc laman ini memuat semua perkembangan tentang Komunitas Peduli Ciliwung. [irma dana - irma.dana@gmail.com-]
Read more
Sebuah Catatan Kegiatan Kompetisi Bersih Ciliwung (3)Ditulis oleh Een Irawan Putra

Selama di Batam saya tetap memantau perkembangan kegiatan ini lewat email yang saya baca di handphone. Tak lupa juga saya memantaunya lewat facebook J. Jangan kagum dulu, ini hanya handphone butut yang alhamdulillah masih bisa akses internet lewat GPRS. Bukan BlackBerry.
Telpon sana, telpon sini memastikan apakah ada pihak yang ingin membantu kegiatan ini. Menanyakan berkali-kali kapan jadwalnya bisa bertemu dengan Walikota Bogor. Sampai si bapaknya tidak mau mengangkat lagi telpon dari saya. Mungkin sudah bosan ditanyain terus-menerus.
Dari Batam pindah ke Tanjung Pinang. Tanjung Pinang ke Tanjung Uban. Dari Tanjung Uban ke Lagoi. Dari Lagoi balik lagi ke Tanjung Uban dan balik lagi ke Batam. Pikiran yang ada di kepala saya masih tetap sama, bagaimana dengan kegiatan ini nantinya. Apa mungkin kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Besok sudah tanggal 10 Agustus.
‘Otak dan tangan’ tersenyum.
“You are to much efforts or panics guys?”
Malam terakhir di Batam. Disaat belum bisa tidur, saya mencoba mencari tempat yang enak untuk nongkrong dan mengilangkan penat didepan Nagoya Hill di daerah Nagoya. Menikmati ikan laut bakar, cah kangkung dan terong goreng sambel terasi. Cukup tepat pilihannya. Nafsu makan bertambah berkali lipat. Semoga tetap sehat dan tetap segar walaupun sudah teridentifikasi menjadi manusia yang tidak normal.
Besok paginya setelah tiba di Bogor saya mulai berselancar di dunia maya. Kembali mencari dukungan kepada semua orang. Semua orang yang saya kenal dan saya anggap bisa membantu kegiatan ini saya kirimkan email untuk memohon bantuan kerjasamanya. Situs jaringan sosial terbesar didunia dan digemari manusia di seluruh dunia yaitu Facebook, saya manfaatkan untuk menyampaikan informasi kegiatan ini dan minta dukungan dari teman-teman semuanya. Tak luput pula membuat koordinasi yang baik antara sesama teman komunitas dan mulai membuat antisipasi-antisipasi.
Selasa tanggal 11 Agustus 2009. Saya kembali mengubungi Pak Dudi untuk memastikan bagaimana dengan jadwal bertemu dengan Walikota untuk audiensi. Beberapa kali saya telpon tidak juga diangkat. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk mendatangi kantor beliau. Setiba di kantornya saya melihat dari jendela di ruangan kerjanya. Beliau masih rapat dan memberikan arahan-arahan kepada staff-nya dan beberapa orang yang saya tidak tahu berasal darimana. “Ada rapat apa pak, kok ramai sekali?” saya mencoba mencari tahu ada kegiatan apa karena kelihatan sibuk sekali sang Bapak Kepala Bidang Kebersihan. “Ada masyarakat dari Galuga. Mereka demo dan menutup akses masuk TPA Galuga. Jadi sekarang dinas kebersihan tidak bisa membuang sampah yang ada di Kota Bogor ke Galuga” jawab salah satu orang disana. Mendengar jawaban itu saya hanya bengong dan mengangguk-anggukkan kepala. “Waduh, pantesan si bapak tidak bisa dihubungi sampai dengan sekarang. Pasti runyam nih masalahnya. Setiap hari berapa banyak sampah yang akan menumpuk di Kota Bogor dan sekitarnya jika tidak bisa diangkut dan dibuang ke TPA Galuga”.
Siang harinya saya mendapat mendapat telpon dari Pak Dudi. “Bagaimana? Sudah dihubungi oleh staff-nya wali kota?. Maaf saya sibuk sekali minggu-minggu ini”. Dengan singkat saya menjawab “Belum pak”. “Waduh.. ya sudah saya telpon lagi orangnya sekarang agar bisa diatur segera jadwal audiensinya” jawab beliau sedikit panik dan buru-buru.
Karena hari H sudah semakin dekat. Mau tidak mau kegiatan ini harus dilaksanakan dengan atau tanpa piala dari Walikota. Undangan untuk kelurahan agar memberitahu warganya harus segera disebarkan.
Dihari yang sama disaat kami sedang menyebarkan undangan, handphone saya berbunyi. Terdengar suara perempuan yang sangat lembut suaranya. “Assalamualaikum bapak. Bener ini dengan Bapak EN. Saya dari Sekpri (Seketaris Pribadi) Walikota Bogor. Katanya bapak dari Komunitas Peduli Ciliwung mau audiensi ya pak. Jadwalnya hari kamis ya pak, pukul 13.00 WIB. Jangan telat ya pak”. Mendapat informasi dari Sekpri Walikota saya sangat senang sekali sekaligus deg-deg'an. Mau ngomong apa besok didepan Pak Walikota?.
Saya, Om Oeik, Kikuk dan Yd mendatangi Balaikota sesuai dengan jadwal yang dijanjikan. Para staff Walikota menyambut dengan ramah. “Pak Wali sedang ada acara di Garut, nanti kalian bertemu dengan Pak Asisten II dan para staff-nya”. Kami dipersilahkan menunggu di ruang tunggu Pak Walikota. Memasuki ruang tunggu yang sangat besar dan mewah membuat bangga. Serasa menjadi tamu penting. Sambil menunggu tuan rumah kami cengar-cengir sendiri. “Besar sekali ruangan ini” Ucap Kikuk. “Selama tinggal di Bogor baru kali ini saya masuk ruangan ini. Selama ini hanya lewat saja didepan. Terkadang duduk di halaman Balai Kota nungguin anak saya lomba” timpal Om Oiek.
Setelah sang tuan rumah datang. Kami dipersilahkan memulai untuk presentasi. Mulailah saya bercerita apa itu KPC, kenapa ada KPC, apa saja yang sudah dilakukan KPC dan bla…bla…bla… sampe terakhir saya bercerita tentang niat kami untuk mengadakan kompetisi bersih ciliwung antar kelurahan. Butuh support dari Pemerintah Kota Bogor dan meminta ini menjadi agenda tahunan di Bogor. Terakhir mohon Walikota Bogor bisa menyiapkan trophy untuk para pemenang. Teman-teman yang lain juga ikut meyakinkan sang tuan rumah setelah saya selesai berbicara. Entah itu sikap polos kami atau apa sehingga bisa banyak sekali tuntutan dari kami terhadap Pemerintah Kota Bogor.
Jawaban sang tuan rumah hanya singkat.
“Terima kasih atas kepedualian KPC terhadap kondisi lingkungan di Bogor. Pak Walikota sangat senang ada warganya yang peduli terhadap sungai ciliwung. Semoga semakin banyak warga yang peduli dan tidak hanya peduli terhadap ciliwung saja. Pak Walikota mendukung kegiatan ini dan setuju ini menjadi agenda tahunan. Kami dari Pemkot Bogor akan menyiapkan trophy untuk para pemenang. Bagi kelurahan yang menang, nanti Pak Walikota akan datang ke kelurahan tersebut dan akan memberikan langsung trophy, piagam dan hadiahnya. Bagaimana? Masih ada yang ingin disampaikan?”.
Kami semua keluar dengan senyum puas dan gembira. Otak dan tangan saya bersorak gembira. “See… many peoples support your ideas right?”. ‘Hati’ saya yang selama ini protes dan ngambek ikut tersenyum malu-malu. Huhh… lega sekali rasanya klo sebuah keinginan bisa didukung banyak pihak.
Tapi, tak lama ‘hati’ mengingatkan saya. “Tomorrow is 14th September you know. You just have three days from now for prepare this event”. Bagaimana dengan Kepastian peserta. Spanduk kegiatan. Seragam kegiatan. Logistik. Piala bagi yang menang nantinya. "Ohh God.. I’m not sure we can do it.."
Jumat, 14 Agustus.
Hari jumat pagi saya mencoba mengkonfirmasi by telepon kelurahan-kelurahan yang sudah diundang untuk ikut kompetisi ini. Apakah warganya ingin ikut kompetisi ini atau tidak. Ada 10 kelurahan yang kami undang untuk ikut kompetisi ini. Dimana kelurahan-kelurahan ini memang sudah pernah kami datangi wilayahnya dalam aktivitas mingguan kami.
Beberapa kelurahan jawabannya semangat dan antusias.
“Saya sudah sebarkan informasi ini kepada warga saya. Kelurahan kami ikut dan warga sudah siap dititik yang sudah ditentukan oleh panitia”.
Jawaban berbeda ketika saya menelpon Kelurahan T****.
“Waduh. Kegiatan kalian mendadak. Tidak mungkin saya bisa mengumpulkan warga saya dengan waktu yang mepet begini. Kami juga tidak punya dana taktis untuk mengadakan kegiatan ini dan mengumpulkan warga” Jawab sang Ibu Lurah. Mendengar jawaban itu saya langsung protes dan memotong “Maaf ibu, kegiatan ini tidak dipungut biaya dan saya kira memang tidak dibutuhkan dana apapun”. “Ya bapak tidak butuh dana, tapi kami butuh dana taktis untuk kegiatan seperti itu”. Akhir dari percakapan tersebut adalah lurahnya menyatakan bahwa kelurahannya tidak akan ikut kompetisi. Tapi... pada malam harinya saya mendapat sms dari Ketua RW dari salah satu RW di Kelurahan T****
“Saya Ketua RW **. Kami akan ikut kompetisi bersih ciliwung. Warga kami sudah siap sebanyak 45 orang” (disaat kompetisi warga yang ikut kompetisi lebih banyak yaitu 54 orang). Lah, bukannya lurahnya menyatakan warganya tidak ikut. Ini lurahnya tidak menyampaikan informasi ini ke warganya atau bagaimana?.
Jawaban yang lebih mengagumkan lagi saya dapakan ketika saya menelpon Kelurahan S****.
“Saya sudah chek tuh ke sungai tadi pagi. Sungai kami sudah bersih. Setiap 3 bulan kami selalu bergotong royong membersihkan sungai ciliwung. Jadi kami tidak ikut untuk hari minggu. Silahkan langsung dinilai saja. Pasti kami menang kok. Juara satu hadiahnya 5 juta kan??”
Mendengar jawaban-jawaban dari kelurahan-kelurahan yang saya telpon, berbagai macam rasa yang saya dapatkan. Ada rasa terharu. Benci. Lucu. Gemes. Mengerti ngga sih mereka sebenarnya ada tujuan apa kegiatan ini diadakan. Bukankah baik untuk warganya dan juga untuk kehidupan orang banyak jika mereka ikut berpartisipasi membersihkan sungai ciliwung. Selain membersihkan sungai, klo menang dapat hadiah. Huhh.. memang tidak gampang berhubungan dengan orang banyak. Otak dan tangan saya hanya tersenyum kecil. “Rilex guys… sometime every body have a diferent think about something”
Jum’at siang saya masih berada di Jakarta untuk bertemu dengan beberapa orang disana terkait dengan pekerjaan sehari-hari. Ada beberapa hal yang memang harus diselesaikan. Saya mengundang teman-teman yang sudah bersedia untuk membantu kegiatan kompetisi ini untuk kumpul malam harinya di saung tepian ciliwung di sempur pada pukul 20.00 WIB. Agendanya adalah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan persiapan kompetisi dan hal-hal teknis lainnya.
Jam ditangan saya sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB. Meeting ini juga belum selesai, masih harus membahas beberapa hal. Berapa kali saya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat… ‘Hati’ rada jengkel. “Come on man, make a choice and decision. I must going back to Bogor now”.
Pukul 17.30 WIB saya baru bisa keluar dari sebuah kantor yang berada di Kuningan. Disaat mobil yang saya bawa keluar dari gerbang kantornya, terlihat jalanan sudah penuh dengan kendaraan. Untuk memutar balik arah, yaitu ke arah Jalan Gatot Subroto saja membutuhkan waktu 30 menit lebih. Ketika berhasil memutar arah, saya perhatikan ampere bahan bakar mobil. Jarumnya menunjukkan kondisi yang sangat kritis. Harus mampir dulu ke stasiun BBM. Saya membelokkan mobil saya ke stasiun BBM yang berada tidak jauh dari perempatan Gatot Subroto. Ketika saya mengisi bahan bakar, seorang teman saya pamit untuk ke toilet dan sholat magrib. Saya mempersilahkannya dengan senang hati. Saya parkirkan mobil di tempat parkir yang sudah tersedia dan membeli softdrink untuk melegakan tenggorokan yang sedari tadi sudah kering.
Pukul 19.30 WIB teman saya yang pamit untuk sholat belum juga muncul. Hampir satu jam saya menunggu. ‘Hati’ bener-bener jengkel. “Where are going for you pray man? In Arab Saudian?. Oh my Good…!!!” Saya hanya mondar-mandir di parkiran dengan penuh emosi dan teriak-teriak sendiri.
Pukul 20.00 WIB saya baru bisa keluar dari daerah kuningan. Saat ditanya “kenapa lama sekali?”. Dengan enteng dan tanpa berdosanya dia menjawab “Ya sekalian nunggu Sholat Isya”. Huhhhffff……
Untuk memasuki pintu tol kuningan, kendaraan masih sangat padat. Maklum akhir pekan. Seakan-akan semua orang yang berkendaraan berusaha keluar dari Jakarta. Saya hanya bisa kirim sms ke beberapa teman-teman komunitas yang berada di Bogor.
“Sekarang saya masih terjebak di daerah kuningan. Sepertinya saya akan telat sampai Bogor. Mohon maaf atas keterlambatan ini”.
Pukul 21.30 WIB saya baru bisa memulai rapat dan diskusi teknis mengenai persiapan kompetisi bersih ciliwung. Mulai dari sistem penilaian, siapa saja tim penilainya, warga mana saja yang sudah siap, bagaimana dengan seragam peserta, spanduk, karung untuk tempat sampah, trophy buat pemenang, kesiapan dinas kebesihan untuk menyiapkan kendaraannya untuk mengangkut sampahnya, dan hal-hal teknis lainnya. Dimana semuanya ini membuat energi saya benar-benar terkuras habis. Dipaksa terus untuk berfikir dari sisa-sisa energi yang ada. Saya dan teman-teman komunitas baru bisa pulang untuk istirahat sekitar 23.30 WIB.
Sabtu, 15 Agustus.
Sabtu pagi dengan bermodalkan laptop pinjaman saya membawa motor pinjaman meluncur ke saung tepian ciliwung. Standby disana. Menelpon kembali beberapa orang untuk memastikan kesiapannya. Memastikan bagaimana dengan persiapan kaos peserta, spanduk, kapan semua logistik kompetisi akan diambil dan segala macamnya. ‘Hati’ gundah, apakah mungkin kaos sebanyak 500 pcs bisa jadi dalam waktu 2 hari? Wallahualam pikirku dalam hati. Hanya Tuhan yang tahu.
Pagi itu satu-persatu teman-teman komunitas (manusia yang tidak normal) datang. Ada yang datang dan menceritakan hasil survey titik lokasi dimana saja lokasi kumpulnya warga dan akan melakukan aksi pemulungan. Ada yang datang membawa konsep press release yang akan disebarkan ke berbagai media. Ada yang menelpon memastikan bahwa semua persiapan logistik sudah OK. Semua memastikan klo persipan sudah 99% siap.
Hari itu semua bekerja sama dan bahu-membahu mempersiapkan segala hal untuk besok pagi. Penuh canda dan tawa. Seolah-olah tidak ada yang merasa terbebani dengan tanggung jawab yang diberikan. Ikhlas melaksanakan kewajibannya. Saya sangat salut dan bangga bisa bersama orang-orang yang tidak normal ini. Bergabung bersama Komunitas Peduli Ciliwung. Komunitas yang bermimpi sungai ciliung bisa bersih dan sejuk. Damai dan indah. Walaupun entah kapan mimpi itu terwujud.
‘Otak dan tangan’ seolah-olah menepuk pundak saya.
“Congratulation guys… you have crazy friends for support this event. You not alone you know!. Go on to the next DREAMS”.
Foto: Hariyono
Read more
Sebuah Catatan Kegiatan Kompetisi Bersih Ciliwung (2)Ditulis oleh Een Irawan Putra

Nasi telah menjadi bubur. Ucapan yang sudah terucap tidak mungkin ditarik kembali (walaupun sebenarnya saya tidak mengucapkannya secara langsung. Hanya lewat email. Saya bisa koreksi email saya dan menyatakan bahwa yang menulis email itu adalah otak dan tangan saya. Mereka kerjasama sore itu).
Dengan sangat terpaksa dan berat hati (hati menjadi berat karena ‘hati’ masih protes) saya mengundang teman-teman komunitas untuk datang dan kumpul disuatu tempat. Membahas detail konsep kompetisi ini. Yang datang pada malam pertama kumpul sebanyak 5 orang. Saya meminta beberapa masukan bagaimana baiknya menjalankan kompetisi ini. Beberapa tambahan ide dan tambahan nama-nama pasukan yang mau bantu didapat malam itu. Orang-orang ngga normal dan pemikirannya jauh dari standar ini masih tetap konsisten untuk membantu.
Disuatu malam sebelum memejamkan mata untuk beristirahat saya baru menyadari bahwa otak dan tangan saya menjadi kompak mungkin karena mereka masih ingat pertanyaan yang saya lontarkan beberapa bulan yang lalu kepada Dwi. Bahwa inilah saatnya jika kamu ingin melihat sekitar 500-1000 orang turun ke ciliwung didalam waktu yang sama dan memungut sampah seperti yang komunitas ini lakukan. Saya hanya tersenyum dan setelah itu terlelap tidur.
Ketika bangun pagi saya langsung mengambil handphone saya dan menelpon beberapa orang untuk atur janji agar bisa bertemu. Selain bertemu dengan orang yang berurusan dengan pekerjaan, saya juga menghubungi Pak Dudi, seorang kepala bidang kebersihan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor untuk membahas konsep kegiatan yang akan kita lakukan. Saya langsung mandi dan berpakain rapih untuk bertemu mereka. ‘Hati’ masih protes, karena sekarang sudah musti berpakaian rapih dan pakai sepatu. Tidak lagi memakai kaos oblong dan sandal jepit. Yaa.. inilah modal awal untuk melobby dan meyakinkan orang-orang bahwa kegiatan ini sangat bagus dan harus terlaksana. Berusaha mencari dukungan sebanyak-banyaknya dan siapapun itu harus mendukung kegiatan ini.
“Yak.. ini bagus sekali kegiatannya. Saya setuju dan mendukung kegiatan ini. Kamu langsung bertemu dengan Walikota saja dan audiensi di depan beliau. Saya yakin Pak Walikota akan setuju dan akan mendukung kegiatan ini. Saya akan atur jadwalnya dengan pak Walikota.” Itulah jawaban yang saya terima ketika saya presentasi konsep kegiatan ini didepan orang-orang Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor.
Otak dan tangan tersenyum… “See… they will support you. Don’t worry..”
Selama dua minggu energi saya terkuras karena musti bolak-balik Bogor-Jakarta untuk mengerjakan pekerjaan rutin. Malamnya sepulangnya dari Bogor, ‘hati’ tidak tenang dan gundah. Bagaimana dengan kegiatan komunitas ini. Bagaimana dengan persiapannya. Ahh…biarkan saya beristirahat sejenak dan memikirkannya. Mata kembali terpejam. Besok pagi sudah musti ke Jakarta lagi.
Ringtone di handphone saya berbunyi dan handphone-nya pun bergetar. Terdengar suara dari tempat yang sama, yaitu Jakarta. “EN you must go to Batam Island tomorrow morning. Your flight is 7.05 AM. They will pick up you and your friend in the airport. You will stay there maybe for 4 days”. Handphone ditutup.
‘Hati’ mulai gusar dan tambah gundah. Selama 4 hari akan tinggal di Batam. Sekarang sudah tanggal 5 Agustus. Kompetisi akan berlangsung tanggal 16 Agustus. Sampai sekarang belum ada jadwal untuk bertemu dengan Walikota. Undangan belum dibuat. Lurah-lurah belum dihubungi. Warga belum diberi tahu.
“So, what are you doing now?”.
Bersambung...
Gambar diatas dicuplik dari sini
Read more
Sebuah Catatan Kegiatan Kompetisi Bersih Ciliwung (1)Ditulis oleh Een Irawan Putra
Editor Melly Nurmawati

Sekitar empat bulan yang lalu saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. Kita sebut saja namanya Dwi. Saya sempat melontarkan pertanyaan kepada Dwi
“Apakah bisa kita mengajak warga Bogor sekitar 500-1000 orang dalam waktu yang sama untuk turun ke ciliwung dan membersihkan ciliwung seperti yang kita lakukan selama ini? Sepertinya kita harus mencari cara untuk itu”.
Waktu berjalan tanpa terasa. Hari terus berganti seperti biasanya. Kegiatan komunitas ini tetap berjalan sewajarnya. Setiap minggu pagi kumpul ditempat yang berbeda-beda di pinggiran ciliwung untuk mencoba mengangkut sampah anorganik yang ada di sungai. Terkadang cukup ramai ada sekitar puluhan orang yang bergabung. Terkadang hanya berdua, bertiga dan tidak lebih dari enam orang. Tapi aktivitas ini memang diusahakan akan terus berjalan.
Agustus. Semua orang menyambut dengan antusias bulan Agustus. Dari pelajar, pegawai negeri, petani, tentara, warga di kelurahan, kampung dan pelosok desa. Mulai dari persiapan upacara bendera, berlatih gerak jalan agar kelompoknya menang nanti disaat lomba gerak jalan sampai dengan berbagai macam lomba yang biasanya diadakan pada bulan ini. Agustus membangkitkan jiwa kepatriotan di sanubari setiap orang yang merayakannya. 17 Agustus adalah hari perayaan kemerdekaan negara kita tercinta. Indonesia.
Akhir Juli 2009
Jam tangan menunjukkan pukul 15.00 WIB. Sambil duduk didepan komputer, saya memperhatikan beberapa email yang masuk. Email dari teman-teman komunitas peduli ciliwung masuk dengan topik membahas kegiatan dalam menyambut hari kemerdekaan. Ternyata orang-orang di komunitas saya juga sedang bangkit jiwa kepatriotannya. Kalau seandainya Negara Malaysia mengajak perang saat itu, mungkin mereka akan bergabung menjadi laskar jihad untuk melawan Negara Malaysia. Ini terlihat dari rangkain kata-kata yang mereka tulis di badan email dan di attachment.
Dari email yang ada, mereka ingin meramaikan hari kemerdekaan dengan mengadakan sebuah lomba. Tapi lomba ini berbeda dengan lomba-lomba yang ada. Lomba ini belum pernah diadakan oleh siapa pun. Bukan !. Bukan balap karung pakai rok, bukan pula panjat pinang yang hadiahnya merci. Lomba ini adalah lomba kebersihan. (ah, standar. Di RT gw juga sering). Kalo lomba kebersihan kali ciliwung? (waduh, apaan tuh?). Yup, ini adalah Lomba kebersihan kali Ciliwung atau nama kerennya “Kompetisi bersih ciliwung antar kelurahan se-Kota Bogor”. Gile, dahsyat gak tuh. Yang lebih kerennya lagi, mereka berencana untuk mengajak Walikota Bogor untuk membantu kegiatan ini dan membuat piala bagi kelurahan yang menang. Gagasan yang bagus. Pertanyaan selanjutnya adalah, Siapa yang akan menjadi komandannya?
Membaca email tersebut membuat saya termenung. Beberapa pertanyaan melintas. Akan seperti apa kompetisi ini dan bagaimana mewujudkannya. Ada berapa ya kelurahan disepanjang sungai ciliwung? Berapa orang yang akan diajak untuk ikut kompetisi. Sementara itu beberapa minggu lagi sudah memasuki bulan Agustus. “Dengan waktu yang sesempit itu bagaimana bisa mempersiapkan dan mengadakan event sebesar ini?” pikirku dalam hati.
Kata mbah, Impossible is impossible. Tidak ada yang tidak mungkin. Saya tidak mau menjadi orang yang pesimis. Saya yakin kegiatan ini dapat kita wujudkan bersama-sama. Secara tak sadar saya menggerakkan mouse ke tombol “reply all” dan meng-klik-nya. Perlahan dan pasti jari-jari saya menekan tombol-tombol yang ada di keyboard. Pikiran yang ada di otak seakan sudah kompak terhadap jari-jari saya. Dengan lancar membalas email tersebut. Seolah tidak memikirkan apa konsekuensi dari jawaban saya nanti.
Jawaban yang saya tulis adalah:
“Bagus sekali ide ini.. harus segera kita jalankan.
Klo memang tidak ada yang mau mengacungkan diri untuk koordinator acara ini, saya bersedia menggarap acara 17 an ini. Tentunya juga butuh support dari teman-teman lainnya untuk diajak jalan (manusia-manusia yang tidak normal dan pemikirannya luar standar). Saya ingin moment 17 an ini dan konsep yang sangat bagus ini bisa bermanfaat untuk warga bogor dan nama komunitas peduli ciliwung (ciliwung
community) bisa semakin dikenal orang-orang di Bogor dan Indonesia ini.”
Sent to all. KLIK!
Dalam beberapa jam kemudian semua orang-orang yang tidak normal dan pemikirannya tidak standar tersebut merespon email saya dan semua jawabannya hampir sama “Setuju… EN jadi koordinator.. Silahkan Komandan EN untuk menjalankan tugas mulia ini”
Saya hanya bengong membaca balasan-balasan email yang masuk. Hati saya protes kepada otak dan tangan saya. “Hey what are you doing? Do you know what the consequence for that?”
Bersambung…
Lukisan diatas dicuplik disini
Read more

Posting ini adalah sebuah terusan (forward) berita mengenai Kompetisi Bersih Ciliwung dalam
Portal Berita Lingkungan.
Bogor, BERLING- Warga Bogor punya cara tersendiri dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68, mereka memilih melakukan aksi pembersihan Sungai Ciliwung.
Acara tersebut dikemas sebagai sebuah kompetisi antar kelurahan dengan memperebutkan piala “bergengsi” dari Walikota Bogor berlangsung kemarin (16/8) di Sungai Ciliwung.
Ratusan warga masyarakat bantaran Sungai Ciliwung berjibaku membersihkan sampah yang menumpuk di bebatuan sungai dan tepiannya. Sampah-sampah yang tidak mudah terurai seperti bahan plastik, kain dan besi dipungut untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung plastik yang telah disediakan.
Tak jarang para pemulung dadakan ini harus berbasah-basah untuk mengangkat sampah plastik yang membelit di batu dan tersembunyi di dasar sungai. Selama tiga jam, mereka saling berlomba membela kelurahannya masing-masing untuk membersihkan lingkungannya. Mereka bak ksatria pembersih sungai dari sepuluh kelurahan di Bogor yang wilayahnya dilalui oleh aliran Sungai Ciliwung.
Kompetisi bersih sungai ini diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Ciliwung (KPC), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor. Kompetisi diselenggarakan untuk memeriahkan HUT RI ke-64.
KPC menyediakan sejumlah uang tunai sebagai hadiah bagi pemenangnya. Sementara itu, Walikota Bogor, Diani Budiarto, menyediakan Piala Bergilir Ciliwung Bersih yang akan diperebutkan setiap tahunnya.
Penilaian dalam kompetisi ini dilakukan dengan tiga kriteria, yaitu pertama jumlah karung sampah berukuran 25 kg yang dikumpulkan, kedua keterwakilan warga di setiap kelurahan (RT), dan terakhir dukungan dari warga masyarakat di setiap kelurahan (moril dan materiil) serta kreatifitas warga. Acara tersebut diikuti sekitar 450 orang warga dan berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 850 karung
Uniknya kegiatan ini menggunakan tema Ciliwung Bersih, Warga Merdeka.“Tema tersebut sengaja kami pilih karena sungai bersih, indah dan sehat seharusnya menjadi cita-cita kemerdekaan hidup warga Bogor, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung”, ungkap Een Irawan Putra, Koordinator Kompetisi dari KPC.
Menurut Een, panggilan akrab Een Irawan Putra, KPC sendiri selama ini telah melakukan kegiatan pembersihan Ciliwung secara rutin di hari minggu. Semua itu dilakukan sebagai wujud kepedulian komunitas ini terhadap Sungai Ciliwung. “Dengan penyelenggaraan kompetisi antar kelurahan ini, kami berharap dapat memperluas upaya yang telah dilakukan dan merangsang kepedulian warga pada kebersihan sungai Ciliwung di Bogor,”ujarnya saat dihubungi via telpon.
“Kami harap kompetisi ini dapat menjadi event tahunan di Bogor. Bila hal ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin sungai bersih di Bogor tak lagi menjadi mimpi”,tambahnya.
Ernan Rustiadi, seorang pengamat tata-ruang dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut baik kegiatan pembersihan massal ini. “Ini adalah hal baru yang menarik. Sebuah bentuk perubahan cara pandang warga Bogor di bantaran Ciliwung untuk memelihara sungai yang selama ini hanya dilihat sebagai tempat tak bertuan menjadi tempat publik yang harus dijaga (common property)”, paparnya. (Marwan Azis)
Foto: Asep Ridwan
Read more
Bogor, 16 Agustus 2009 – Hari ini, ratusan warga Bogor secara massal melakukan aksi pembersihan Sungai Ciliwung untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-64. Tidak sekedar menggelar aksi biasa, acara tersebut dikemas sebagai sebuah kompetisi antar kelurahan dengan memperebutkan piala “bergengsi” dari Walikota Bogor.
Ratusan warga masyarakat bantaran Sungai Ciliwung berjibaku membersihkan sampah yang menumpuk di bebatuan sungai dan tepiannya. Sampah-sampah yang tidak mudah terurai seperti bahan plastik, kain dan besi dipungut untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung plastik yang telah disediakan. Tak jarang para pemulung dadakan ini harus berbasah-basah untuk mengangkat sampah plastik yang membelit di batu dan tersembunyi di dasar sungai. Selama tiga jam, mereka saling berlomba membela kelurahannya masing-masing untuk membersihkan lingkungannya. Mereka bak ksatria pembersih sungai dari sepuluh kelurahan di Bogor yang wilayahnya dilalui oleh aliran Sungai Ciliwung.
Kompetisi bersih sungai ini diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Ciliwung (KPC), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor. Kompetisi diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-64. KPC menyediakan sejumlah uang tunai sebagai hadiah bagi pemenangnya. Sementara itu, Walikota Bogor, Diani Budiarto, menyediakan Piala Bergilir Ciliwung Bersih yang akan diperebutkan setiap tahunnya. Uniknya kegiatan ini menggunakan tema
Ciliwung Bersih, Warga Merdeka. “Tema tersebut sengaja kami pilih karena sungai bersih, indah dan sehat seharusnya menjadi cita-cita kemerdekaan hidup warga Bogor, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung”, ungkap Een Irawan Putra, Koordinator Kompetisi dari KPC.
KPC sendiri selama ini telah melakukan kegiatan pembersihan Ciliwung secara rutin di hari minggu. Semua itu dilakukan sebagai wujud kepedulian komunitas ini terhadap Sungai Ciliwung. Dengan penyelenggaraan kompetisi antar kelurahan ini, mereka berharap dapat memperluas upaya yang telah dilakukan dan merangsang kepedulian warga pada kebersihan sungai Ciliwung di Bogor.
Ernan Rustiadi, seorang pengamat tata-ruang dari Institut Pertanian Bogor menyambut baik kegiatan pembersihan massal ini. “Ini adalah hal baru yang menarik. Sebuah bentuk perubahan cara pandang warga Bogor di bantaran Ciliwung untuk memelihara sungai yang selama ini hanya dilihat sebagai tempat tak bertuan menjadi tempat publik yang harus dijaga (common property)”, paparnya.
KPC berharap kompetisi ini dapat menjadi titik awal bagi kepedulian warga terhadap sungai-sungai yang melintasi kota Bogor. Harapan ini tentunya tak akan menjadi kenyataan tanpa dukungan semua pihak, baik warga masyarakat, kalangan swasta, dan Pemerintah Kota Bogor. “Kami harap kompetisi ini dapat menjadi event tahunan di Bogor. Bila hal ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin sungai bersih di Bogor tak lagi menjadi mimpi”, pungkas Een Irawan Putra dengan mantap.
CATATAN UNTUK EDITOR:
- Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Propinsi DKI Jakarta.
- Sepuluh kelurahan yang menjadi peserta Kompetisi Bersih Ciliwung ini adalah Kelurahan Katulampa, Kelurahan Sukasari, Kelurahan Babakan Pasar, Kelurahan Baranangsiang, Kelurahan Sempur, Kelurahan Bantarjati, Kelurahan Tanah Sareal, Kelurahan Kedung Badak, Kelurahan Sukaresmi, dan Kelurahan Kedung Halang
- Kompetisi ini dimulai pada pukul 08.00 hingga pukul 11.00 BBWI.
- Penilaian dalam kompetisi ini dilakukan dengan tiga kriteria, yaitu (1) jumlah karung sampah berukuran 25 kg yang dikumpulkan, (2) keterwakilan warga di setiap kelurahan (RT), dan (3) dukungan dari warga masyarakat di setiap kelurahan (moril dan materiil) serta kreatifitas warga.
- Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah komunitas warga yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung. Komunitas ini berbasis di Bogor. Informasi lebih detil tentang kompetisi dan komunitas ini dapat diperoleh di situs web www.tjiliwoeng.co.cc
CONTACT PERSON
Een Irawan Putra, Koordinator Kompetisi Bersih Ciliwung
mobile phone: 0815 975 3580, e-mail: irawanputra@gmail.com
Ernan Rustiadi, Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) Institut Pertanian Bogor.
mobile phone: 0812 947 1939, e-mail: ernan@indo.net.id
Melly Nurmawati, media kontak
mobile phone: 0815 746 97 006, e-mail: mnurmawati@gmail.com
Read more
Mengubah pola aksi lewat kegiatan yang bersifat komunitas. Melebur jadi gaya hidup dari pinggiran Ciliwung, kaki Gunung Merapi, hingga di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya.
Pagi yang cerah, udara pun sejuk dan bersih. Belasan orang beriringan menuju pinggir Sungai Ciliwung di sisi Perumahan Cilebut Bumi Pertiwi, Bogor. Usia mereka beragam. Ada yang masih anak-anak, remaja, serta orang tua, lelaki dan perempuan.Jangan salah sangka, mereka tak hendak ke tempat rekreasi. Pada Minggu pagi, pertengahan Juni lalu, mereka siap membersihkan Sungai Ciliwung dari sampah rumah tangga.
Hariyono, warga Perumahan Cilebut Bumi Pertiwi, didaulat untuk memimpin ekspedisi pemulungan sampah kali itu. Mereka berkumpul di tempat lapang untuk sebuah ''ritual'' sebelum memulai aksi pemulungan. Hariyono memberikan pengarahan soal sampah yang mesti dikumpulkan. Setelah pengarahan, diawali doa bersama untuk memohon agar tak ada yang celaka, mereka berpencar sembari membawa sebuah karung plastik.
Untuk memulung sampah, kaki mesti menapaki bebatuan licin. Berbekal sebilah bambu, mereka mengukur kedangkalan air untuk mencari batu pijakan. Yang paling sulit pengambilannya adalah sampah yang melilit di bebatuan atau yang masuk ke ceruk bebatuan. ''Saya mesti menyelam untuk memulungnya,'' kata Hariyono.
Bapak dua anak yang juga anggota pencinta alam itu hampir selalu turun dalam pemulungan.Kalau tak ada kegiatan yang amat penting, ia tidak pernah absen. ''Ini kegiatan sederhana tapi sangat berarti,'' begitu alasannya. Kali itu, Hariyono cs berhasil mengumpulkan 40 karung sampah.
Para pemulung sampah sungai itu tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung(KPC). Sejak Maret lalu, mereka rutin memulung sampah di Ciliwung saban minggu. Kegiatan itu bermula dari keresahan Hapsoro, seorang anggota LSM lingkungan Telapak, Bogor. Ia prihatin atas kondisi Sungai Ciliwung yang dipenuhi berbagai sampah, terutama sampah rumah tangga. Dibantu teman-temannya di Telapak, Hapsoro bertekad mengajak masyarakat untuk memulung sampah tiap minggu.
Dari survei awal diketahui, ada sembilan titik kumpulan sampah. Mereka pun memulai dari yang paling dekat dengan permukiman di dekat kota agar terlihat banyak orang. ''Untuk menggugah kesadaran warga,'' ujar Hapsoro. Cara itu cukup jitu. Kalau di masa awal cuma berempat, berikutnya ada belasan yang bergabung. Hasilnya, jika semula cuma belasan karung plastik berukuran 50 kilogram, kini meningkat menjadi puluhan.
Sampah itu lantas dikumpulkan di lapak pengepul sampah hasil kerja pemulung profesional. Hapsoro memang menjalin kerja sama dengan si pengepul. Di lapak itu sampah dipilah-pilah. Sampah plastik yang bisa didaur ulang dikumpulkandan dijual. Hasilnya dibagi dua dengan pengepul. Sedangkan sampah lain ditempatkan di wadah tersendiri untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Dana bagi hasil dipakai untuk operasional pemulungan sampah. Misalnya membeli karung dan biaya pengangkutan. ''Kami juga iuran sukarela,'' kata Hapsoro. Tak begitu besar, sekadar Rp 2.000 hingga Rp 10.000.
Perhatian pemerintah pun mulai tampak. Setidaknya, Dinas KebersihanKota Bogormenyediakan truk pengangkut sampah. Karena jumlah sampah yang terkumpul kian berjibun, mencapai 50-an karung setiap kali pemulungan, sampah tak lagi dibawake lapak pengepul. Sampah itu langsung diangkut menggunakan truk menuju TPA.
Hapsoro yakin, suatu ketika nanti, masyarakat bakal menyadari pentingnya Ciliwung bersih. Jika sudah melakukan pemulungan sampah dua-tiga kali di lokasi yang sama, ia lantas mengajak warga sekitar untuk bergabung. ''Dengan begitu, mereka melihat kesungguhan komunitas ini dan mereka juga saling mengenal,'' tutur Hapsoro, yang juga aktivis Green Peace.
***
Komunitas Peduli Ciliwung di Bogor merupakan fenomena baru yang digalang para pencinta lingkungan. Mereka tak sekadar melakukan aksi pemulungan sampah, melainkan juga membudayakan sebuah gaya hidup. Aksi berbau lingkungan menjadi sarana untuk berinteraksi sesama anggota komunitas. Begitulah tren baru yang kini banyak dianut kalangan pencinta lingkungan se-Tanah Air.
Komunitas lain yang sedang digandrungi anak muda di wilayah Jawa Tengah adalah Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM). Markasnya di Dusun Gemer, Ngargomulyo, Dukun, Magelang. Dari jalan raya Magelang-Yogya di Muntilan, jaraknya sekitar 20 kilometer. Desa yang warganya pernah dievakuasi ketika Merapi bergejolak itu menjadi desa tertinggi dan terakhir sebelum masuk kawasan Merapi.
RBKM didirikan dan dikelola oleh Sukisno, dibantu dua kerabatnya. Sukisno asli Gemer, kelahiran 30 April 1974. Ia hanya tamatan SD dan bekerja mencari rumput untuk ternak orang lain dengan keuntungan bagi hasil. Sukisno punya sawah setengah kesuk, atau sekitar seperdelapan hektare. ''Dua kali panen terakhir gagal,'' ujar suami Tarmiyati, 29 tahun, dan ayah Dedi Setiawan, siswa kelas II SD Kanisius, itu.
Suatu hari, Sukisno mendengar cerita anaknya. Karena kurang guru, Dedi dan teman-temannya kerap diberi catatan, lantas ditinggal sang guru mengajar di kelas lain. ''Saya prihatin, apa anak bisa mudeng,'' katanya, dengan logat Jawa yang kental, kepada Arif Koes Hernawan dari Gatra. Rasa prihatin itu akhirnya membuahkan tekad untuk mendirikan perpustakaan di kaki Gunung Merapi.
Dibantu Stevi Sundah, pendiri Rumah Baca Rumbia di Wonosobo, pada akhir 2008 Sukisno merelakan pekarangannya seluas 8 x 3 meter dipakai untuk membangun perpustakaan sederhana dengan biaya Rp 4 juta dari kocek pribadi Sukisno. ''Ini cara ngamal saya, wong nggak bisa mulang (mengajar),'' katanya.
Pada Januari 2009, RBKM dibuka untuk umum. Motonya: membaca adalah ibu pengetahuan. Terdapat bermacam-macam buku di sana yang bisa dipinjam secara gratis dalam waktu seminggu. ''Tak usah pakai daftar,'' tutur Sukisno. Kini RBKM punya sekitar 600 koleksi buku sumbangan pribadi dan lembaga, seperti Komunitas Merapi dan beberapa lembaga lain, termasuk dari Jerman. Semua itu berkat adik Sukisno yang sedang kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Selain untuk rumah baca, RBKM juga menyajikan perspektif lain bagi anak-anak dan remaja untuk mencintai lingkungan. Misalnya, lewat acara "Ngelmu Pring" yang digelar awal Mei lalu. Kegiatannya berupa dongeng, sulap, dan membaca bersama cerpenis lokal. Semua materinya tak jauh dari cinta lingkungan. Pada Agustus nanti, RBKM berencana menggelar hiking ke Merapi. ''Anak-anak diajak menjelajah Gunung Merapi dan menulis apa yang mereka temui dalam perjalanan,'' ujar Sukisno.
***
Bila di kaki Gunung Merapi bercokol Rumah Baca Komunitas Merapi, di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya berkumpul kelompok kecil yang tergabung dalam wadah Rumah Komunitas Lingkungan. Komunitas yang disingkat Rokum itu dilahirkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur.
Aksi yang dilakukan kelompok ini cukup unik. Mereka menggelar pelbagai festival lingkungan dan tiap minggu menonton bareng film-film bertema lingkungan. Menurut pendiri Rokum, Bambang Catur Nusantra, program pemutaran film itu dimaksudkan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup.
Komunitas itu berdiri pada akhir 2005. Ketika itu, kata Catur, yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur, kesadaran masyarakat akan lingkungan sangat minim. Masyakarat yang peduli lingkungan tidak bisa berbuat banyak karena kekuatannya terpencar. ''Akhirnya kami mendirikan wadah ini sebagai wilayah bersama bagi para pemerhati lingkungan," katanya kepada M. Nur Cholish Zaein dari Gatra.
Rokum ibarat ''tong sampah'' yang menampung perbagai jenis komunitas, baik petani, pelaut, seni, mahasiswa, dan lain-lain. Catur dan kawan-kawannya kerap mengundangpara petani di Surabaya dan sekitarnya, nelayan Kenjeran, dan beberapa eleman mahasiswa pencinta lingkungan di Surabaya untuk berdiskusi di markas Rokum, di Jalan Ngagel Dadi I Nomor 1, Surabaya.
Agar menarik, para relawan itu diajak menonton film, yang kemudian didiskusikan bersama. Sesekali mereka menggelar pelbagai festival, seperti festival seni lukis, budaya, hasil produk pertanian, dan kelautan. ''Semuanya bertema lingkungan,'' ujar Catur. Menurut dia, Rokum yang kini markasnya berada di tujuh tempat sekitar Jawa Timur, juga melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Begitulah cara aktivis lingkungan bersosialisasi. Mereka berupaya meleburkan rasa peduli lingkungan ke dalam gaya hidup untuk melawan hedonisme yang kian menjalari kehidupan masyarakat negeri ini.
Heru Pamuji dan Syamsul Hidayat - Majalah Mingguan Gatra Edisi 6-12 Agustus 2009
Download=
- word (.doc)
- portable document (.pdf)
Sumber=
http://www.gatra.com/majalah/rubrik.php?id=53
Read more

Sebuah pesan singkat melalui "hape" saya terima dari seorang teman. Pesan ini sudah lama, namun sekarang menjadi lebih bermakna. Pesannya berisikan pemberitahuan bahwa ia tidak dapat terlibat aktif ikutan "mulung" di tempatnya Mbah Tjiliwoeng. Ada apa gerangan? Ternyata ia harus tergolek beberapa hari menjadi korban dari serangan malaria. Ooops ... pantas saja teman itu lama tidak beredar di seputaran Ciliwung. Bahkan ia pun jarang terlihat online. Teman itu mendapatkan cubitan mesra dari nyamuk malaria bukan di Bogor, tapi di luar Jawa. Lalu kenapa saya harus merasa perlu berkomentar dalam blog tercinta
the Tjiliwoeng Dreams? Emangnya sekarang Komunitas Pedul Ciliwung sudah kebelet ingin melakukan kegiatan di luar Jawa? Emangnya ada invasi besar2an nyamuk malaria yang di luar Jawa ke Ciliwung?
Penjelasan (mudah2an bisa) singkat saya begini.
Malaria terjadi karena adanya gigitan nyamuk. Biasanya ini terjadi pada daerah2 endemik malaria seperti Ujung Kulon, hutan-hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Menilik cerita sejarah masa lampau, Jawa juga pernah menjadi daearah penyebaran malaria. Korbannya ketika itu (yang diberitakan) adalah para meneer dan mevrouw berkebangsaan Eropa yang datang ke Jawa. Mungkin kala itu sebagian besar Pulau Jawa masih berhutan-hutan. Sekarang tentu saja kondisinya tidak demikian. Sebagian besar Pulau Jawa kini telah terbebas dari malaria.
Masih dengan cerita soal penyebabnya, ada juga sebuah penyakit hebat (bisa membunuh) yang disebabkan oleh sang nyamuk nakal. Dan ini masih terjadi di Jawa, bahkan juga di Bogor. Tak usah lah main tebak2an, semua juga tahu bahwa Bogor setiap tahunnya selalu punya kasus demam berdarah dengue (DBD), kaki gajah, dan chikungunya. Ketiganya terjadi karena nyamuk. Ketiga biasanya dihubungkan dengan tempat2 pemukiman yang berupa lembah, kurang banyak angin, dan dekat dengan genangan air.
Naah ... sekarang ini Bogor sedang "jarang" hujan. Angin pun kadang malas untuk berhembus menyejukkan para warganya. Air sungai juga surut. Demikian pula halnya dengan Ciliwung. Air yang surut dengan debit rendah berpotensi menjadi genangan. Karena tumpukan sampah dan penyempitan sungai masih saja terjadi. Ini terlihat saat saya dan teman2 "mulung" di Kelurahan Kedung Halang, tepatnya di Pangkalan II, RT 02/RW 02. Air sungai yang biasanya mengalir deras tampak tergenang. Begitu tenangnya sehingga itik pun dengan santai bermain di sana. Terlebih banyak tumpukan sampah pasar dan rumah tangga dengan bau menyengat hidung.
Warga Bogor (rasanya) masih belum banyak yang mempedulikan kaitan antara debit air yang rendah dan tumpukan sampah yang terkendali. Bila kondisi tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin kota Bogor dan sekitarnya akan kembali dijangkiti oleh wabah penyakit van nyamuk tersebut. Siap2 saja, soalnya saat ini pun (rasanya) jumlah nyamuk sudah makin banyak saat malam hari.
Sudah seminggu belakangan nyamuk rasanya mulai muncul di kediaman saya. Seorang teman yang tinggal di bantaran Ciliwung (Perumahan Kedung Badak Baru) juga menyampaikan hal yang sama. Memang sih biasanya kita suka berseloroh, "nyamuknya sih cuman satu, tapi dia bawa temen2nya sekampung!"
Kita masih belum putus hubungan dengan nyamuk di Bogor ini. Maka sudah sewajarnya jika kita berupaya membersihkan sampah2 yang menyumbat aliran air di sekitar kita. Wajar jika kita menghilangkan genangan air di tumpukan sampah itu. Ayoo ... bersihkan sampah di sungai, ayoo ... kita mulung di Ciliwung!!!
Semoga teman2 kita Itok sudah pulih kesehatannya dari serangan malaria. Semoga para warga Bogor dapat terbebas dari serangan demam berdarah, kaki gajah dan chikungunya.
gambar nyamuk penyebab demam berdarah (Aedes aegypti) di atas saya unduh dari sini.
Read more