Taman Keaneka ragaman Hayati Sungai Ciliwung CondetMany Species, One Planet, One Future [dituliskan oleh
Sudirman Asun/JakartaGLUE]
Hijau dan asri, itulah yg pertama kita rasakan ketika kita berkunjung ke tempat
Komunitas Ciliwung Condet, selain slogan diatas yg ditulis diatas foto besar daerah tersebut hancur luluh lantak ketika banjir besar siklus 5 tahunan.
Hamparan kebun salak salak Condet berhimpit dengan rimbunan aneka ragam tanaman keras, mulai dari pohon Pucung, Duku, Nangka, Rambutan, Melinjo dan tanaman lokal lainnya.
Disambut ramah oleh Bang Kodir dan Bang Dudung, rombongan terdiri dari Bu Niniek, Bu Ade, Mba Augustina,
Bang Jumari Ciliwung Tanjungan juga hadir tmn2 dari
Jakarta Green Monster yaitu Anjar Titoyo dan Haris Utsman.
Di tengah rimbunnya kebun, lahan dengan tutupan atap kanopi yg sekaligus dijadikan ruang tamu terbuka menambah teduh suasana bincang2 dan sharing dengan bang Kodir dan teman2.

Dalam perbincangan itu Bang Kodir menuturkan kondisi lingkungan bantaran sungai Condet dengan komunitas2 masyarakat seperti Kelompok Tani BalaiKambang dan kendala2 yg mereka hadapi seraya dengan perkembangan jaman dan laju pertumbuhan penduduk yg signifikan.
Selain perubahan ahli fungsi lahan menjadi pemukiman padat, kendala ekonomi juga kerap menjadi ganjaran bagi mereka, belum lagi pengakuaan administrasi dan kepastiaan hukum atas pengelolaan bantaran sungai yg carut marut dari PEMDA harus mereka hadapi.
Dalam bantaran sungai di sepanjang Condet, Komunitas ini dengan teman2 lain seperti Bang Jumari dari Ciliwung Tanjungan Cililitan telah berhasil merehabilitasi hampir sepanjang 10 km mulai dari TB Simatupang- Kalibata dengan menanam kembali bantaran yg pernah tersapu bersih banjir besar siklus 5 tahunan. Bang Kodir juga berharap banyak adanya bantuaan dari badan riset tertentu dengan sentuhan teknologi dan penelitian bisa mengembangbiakan perbanyak varietas unggul salak Condet yg menjadi maskot dari kota Jakarta.
Acara bincang2 berakhir jam 6 sore, dan didapat kesepakatan akan diupayakan penggalangan dan penyatuan dari komunitas2 sekitar sungai menjadi satu visi dan misi yg akan dilakukan rencana pada tgl 20 Maret pada Hari Kehutanaan.
logo KCC (Komunitas Ciliwung Condet) diambil dari laman ini, sedangkan foto Bang Kodir diambil dari laman yang ini
Read more


Penggunaan Prinsip Ownership Lahan Pinggiran Sungai dan Konsekuensi Enclosure (penembokan) di Hulu DAS Ciliwung.
Kenapa publik harus terlibat ke dalam pengelolaan air di Indonesia ini? Aku jawab dengan lantang karena publik pengguna air adalah pemilik langsung sungai, apalagi kalau para pengguna air ini benar-benar tinggal di sepanjang sungai dan menggantungkan nafkah hidupnya di sana. Ayo kita periksa apa konsekuensi dari berpikir dengan cara ini.
Seorang kawan mengoreksi. Hati-hati dia menjelaskan bahanya berpikir dengan prinsip ownership seperti itu. Enclosure itu yg akan terjadi. Kepemilikan pribadi akan memagari kawasan yg dirasa menjadi hak pribadinya. Mereka akan membuat tembok tinggi agar batas satu kawasan dengan kawasan tetangganya menjadi jelas. Mereka akan membatasi orang yg bukan hak nya untuk masuk dan menutup akses jalan atau fungsi lingkungan lainnya. Oalah pantas saja sepanjang nyusur Ciliwung kemarin yg kami temukan hanya tembok dan tembok melulu! Akhirnya kami harus malang-melintang melintasi sungai dan merasakan dingin dan arus deras Ciliwung, agar kami bisa melanjutkan nyusur.
Lahan pinggiran sungai berubah fungsi menjadi hanya komoditi semata. Lahan itu bisa diperjualbelikan, apalagi setelah diurus sertifikat tanah. Dengan mudah lahan bersertifikat itu dijual ke orang luar umumnya orang dari kota yg datang dengan kapital (baca: orang kaya atau pengusaha hotel atau pejabat yg punya duit segunung). Mereka membeli lahan pinggir sungai dan membangun vila di atasnya, baik untuk rekreasi keluarga di akhir pekan, disewakan ke tetangga dan handai taulan, atau secara serius dikelola menjadi hotel baik berbintang atau berbulan (nggak ada yah kategori hotel berbulan).
‘Tuh yg ngerusak sungai vila XXX (saya kurang nangkep nama vila yg dimaksud)’ dan lapangan golf (sambil menunjuk baliho besar tepat di pinggir jalan), kata seorang ‘pak ogah polisi cepek’ di perapatan Gadog. Waktu setengah jam karena terjebak buka-tutup arus searah hari Sabtu sore itu kupakai untuk ngobrol soal sungai. Bahayanya nongkrong di perapatan sambil ngobrol ngalor-ngidul seperti ini adalah keasyikan lupa diri. Ooo ibu tuh seperti dosen yg suka meneliti, ‘Kenapa atuh belum jadi dosen juga?’ Sempat-sempatnya lagi tuh preman nanyain begini: ‘Ibu tuh perempuan atau laki-laki?’
Mungkin tidak ada dalam memori di kepalanya konsep seorang perempuan yg bicara langsung melihat ke mata lawan bicaranya, nyaman saat digodain, dan bertanya sesuatu yg membuat dia bercerita yg sesungguhnya ingin dia ungkapkan. Nggak kebayang juga bagaimana dan kemana seseorang seperti dia yg pekerjaan sehari-harinya saja tidak tercatat di BPS (biro pusat statistik), tapi punya perhatian terhadap sungai dan perubahan alih fungsi-lahan seperti yg terjadi di tempat dia tinggal.
Saya pernah ngumpulin warga yg keberatan karena air sumur jadi berkurang dan mengering setelah sebuah vila nyedot air tanah untuk keperluan kolam renang water boom-nya. Akhirnya saya dan dua teman saya dipanggil ke kantor polisi dan dipertemukan dengan si pemilik vila. Dua orang teman saya jadi diam setelah mereka mendapat amplop. Saya sendiri yg akhirnya berurusan dengan polisi.
Ah nyaris menangis mendengar cerita orang ini. Dan beberapa menit setelah pukul 1500 arus naik ditutup, gantian arus turun yg dibuka. Giliran angkot yg kutumpangi melaju turun membawaku ke kota Bogor tercinta. Cukup lengkaplah petualangan hari ini. Melihat langsung bagaimana teori dan praktek pembangunan yg diterapkan pemerintah sesungguhnya terjadi di DAS Ciliwung.
Read more
Menyusur sungai memang memberi banyak pengalaman dan pengetahuan. Kita tak hanya akan merasakan basah, dingin, panas terik, kotor, dan lelah karenanya. Tapi segala hal yang kita temui juga memberikan banyak sekali informasi yang tadinya tak pernah terbayangkan.
Hal itu lah kira2 yang saya alami ketika menjadi peserta Soesoer Tjiliwoeng 12 Februari 2011 lalu. Sebuah papan peringatan sempat membuat kening saya berkerut2. Jika sepintas kita lihat, maka papan peringatan itu tampak seperti sebuah peringatan biasa saja. Sama seperti umumnya papan peringatan milik Pemerintah yang berisi banyak sekali kata-kata. Namun ketika saya memperhatikannya lekat2, rasanya saya menemukan kejanggalan. Janggal karena menurut pemahaman dangkal saya, ternyata membuang sampah ke sungai itu dilarang, KECUALI jika hal tersebut mendapatkan ijin dari pihak yang berwenang. Lhoo?? Berarti sebenarnya kita semua bisa mendapatkan ijin untuk membuang sampah ke sungai dong? ...
Untunglah saya tdk mampu menganalisa lebih jauh tentang makna dari tulisan2 itu. Saya hanya mampu merekamnya dengan kamera, siapa tahu ada gunanya kelak.
Sepanjang perjalanan ternyata lebih banyak yang saya temui di jalur Taman Wisata Matahari hingga Jembatan Gadog dalam susur ini. Kami bersepuluh melintasi berbagai kawasan dalam ragam peruntukkan hingga kepemilikannya. Kalau perkampungan warga atau villa orang kaya atau hotel, rasanya sudah wajar deh di daerah itu. Gak usah ditanya jumlahnya ... buanyaaaak banget. Gak tahu juga kenapa rata2 bangunan hotel atau villa itu berada berdekatan, bahkan berimpit atau mengambil lahan sungai.
Soal kepemilikan lahan di wilayah hulu bantaran Ciliwung ini ternyata tidak hanya oleh perorangan ataupun Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Tak dinyana ternyata Pemerintah DKI Jakarta juga memiliki lahan di kawasan itu. Setidaknya kami menemukan 2 lahan milik Pemerintah Jakarta tsb. Sebuah lahan ratusan meter persegi di tepi Ciliwung yang ditanami dengan tanaman penghijauan jenis Jabon (Anthocephalus cadamba) kami jumpai tepat di depan muara Sungai Cisarua. Lebih ke hilir, ternyata ada lagi lahan milik Pemda DKI yang dikelola oleh Wisma Jaya Raya. Lokasinya berada di daerah Cipayung, di sekitar Kampung Cijulang. Tidak tanggung2, bukan hanya seluas ratusan meter persegi lahan tepat di bibir sungai, tapi juga termasuk sebuah delta sungai. Di delta sungai itu bahkan terpampang 2 buah papan penanda kepemilikan lahan.

Melihat hal itu kontan dahi saya kembali berkerut2. Jadi ... Jakarta tak hanya memiliki aliran Ciliwung di hilirnya. Ternyata sejak dari hulunya kita dapat menjumpai lahan milik Jakarta .... ckckckckckkkk. Wajar saja jika sungai ini banjir, airnya juga menerjang deras hingga ke Jakarta.
Read more
“Emang Ciliwung ada ikannya?”, mungkin itulah pertanyaan yang berulangkali harus kami (KPC) jawab saat akan melakukan pengoleksian ikan. Bagi kebanyakan orang, kalimat tanya ini mungkin terdengar sangat biasa atau bahkan tak bermakna apa-apa. Tak ada yang spesial, tak juga ada teka teki yang harus ditebak. Hanya sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban saja. Cuma itu.
Biasa bagi kebanyakan orang, bukan juga berarti biasa bagi yang lainnya. Bagi Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) sendiri, pertanyaan yang dibangun dari empat kata ini telah memberikan makna lain berupa semangat. Semangat luar biasa yang kemudian diterjemahkan menjadi suatu keharusan. Bagai sebuah “pecut” yang mencambuk seluruh bagian tubuh, pertanyaan ini seakan telah menemukan caranya sendiri untuk memaksa KPC agar berusaha lebih keras melakukan sebuah pembuktian. Suatu upaya untuk menjawab pertanyaan serta mencari informasi tentang sesuatu yang bernilai benar.
Tantangan yang semakin menarik.
Susur Ciliwung yang digagas KPC merupakan kesempatan baik untuk mengenal Ciliwung lebih jauh serta menggali berbagai informasi yang ada, termasuk ikan-ikan yang menjadi penghuninya. Dengan penyusuran yang dilakukan mulai dari hulu sungai maka diharapkan banyak lokasi yang bisa digunakan untuk mengoleksi berbagai jenis ikan Ciliwung.
Dalam derasnya arus sungai, di balik sampah-sampah yang mengotori Ciliwung, serta di belakang bebatuan yang menahan laju aliran sungai, ikan-ikan itu akhirnya bisa ditemukan dan ditangkap untuk dijadikan koleksi. Dari dua titik lokasi penangkapan di Desa Tugu Utara, Puncak, Bogor, total ikan yang berhasil diperoleh adalah sebanyak 26 ekor yang berasal dari 6 spesies (3 spesies lokal/native; 3 spesies asing/introduksi). Spesimen berupa ikan-ikan mati ataupun hidup selanjutnya menjadi koleksi 
Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) yang kemudian dibawa ke Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Selain ikan-ikan yang diperoleh saat Susur Sungai, sebelumnya, KPC juga pernah mengoleksi beberapa spesies ikan penghuni Ciliwung lainnya di Lebak Kantin, Sempur; Kebun Raya Bogor; Bendungan Cibagoloh; serta Pangkalan Satu, Kedung Badak. Ikan-ikan tersebut antara lain adalah: sili, arelot, senggal, paray, …bersambung
RUBY VIDIA KUSUMAH
BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jl. Perikanan No. 13 Rt 1/ RW 2
Pancoran Mas, Kota Depok
JAWA BARAT, INDONESIA 16436
Telp. 62 21 75 20 48 2
Cell. 62 87 87 87 57 20 5
Email: kusumah_rv@yahoo.com
Read more
- 11:58 PM
-
beunteur,
Ciliwung,
Glyptothorax,
guppy liar,
ikan,
jeler,
kehkel,
Nemacheilus,
nila,
Oreochromis,
platy pedang,
Poecilia,
Puntius binotatus,
riset,
spesies,
susur,
susur sungai,
Xiphoporus
Bogor, 15 Januari 2011
Ditulis oleh Rita Mustika sari
Kita pikir demokratis itu adalah sebuah kebaikan. Tidak peduli bagaimana pun bentuknya. Ternyata kehidupan demokratis dalam pengelolaan air tidak sepenuhnya indah. Setelah jaman otoriter hilang dan pelibatan publik didengungkan, banjir terjadi dimana-mana. Cek saja halaman koran. Banjir dalam negeri atau luar negeri, lengkap ada dalam berita seminggu ini. Tidak tanggung-tanggung, dari mulai kota-kota di Jawa, Australia yg semi-tropis sampai Brasil yg tropis. Apa artinya ini.
Apa sih yg dimaksud pelibatan publik ke dalam pengelolaan air. Pelibatan seperti apa yg dimaksud itu. Publik yg mana yg harus terlibat dan dalam bentuk pelibatan seperti apa. Membentuk lembaga-lembaga wadah koordinasi terdengar sangat baik. Tapi itu belum bisa disebut pelibatan publik. Wong kehidupan petani tetap saja kok seperti itu.
Full control. Salah satu ciri demokratisasi dan pelibatan publik terjadi dalam pengelolaan air adalah saat publik memiliki kesempatan memegang kuasa penuh untuk suatu kasus khusus. Bayangkan seorang anak yg bermain puas dengan boneka atau berbagai mainan miliknya. Dia bisa lempar, bisa dia bongkar, bisa apapun yg dia mau.
Di satu sisi, itu hal yg perlu ada. Di sisi lain, kita tidak terbiasa mendapat jatah bicara. Kita jarang berlatih bagaimana seharusnya demokratisasi dalam pengelolaan air itu terjadi. Semuanya sangat teoritis dan formalitas saja. Terlalu banyak tabu dibuat. Takut salah atau apalah. Padahal yg namanya berlatih wajar kalau terjadi salah.
Sepanjang berjalan melakukan Susur Ciliwung, pertanyaan tentang partisipasi publik terus mengiang di telinga. Hanya di tempat seperti Danau Talaga Warna masih tersisa situ dan secuil hutan tempat resapan air. Keluar dari gerbang kawasan dilindungi itu, kehidupan hedonisme manusia menganga menawarkan segala kemolekannya. Puncak Pass gitu lho. Hamparan pegunungan teh, hawa dingin dan segar untuk tea walk dan berbagai rekreasi lainnya, vila-vila mewah atau hanya rumah penduduk biasa yg pada weekend disewakan jam-jam an, dsb.
Aksi kolektif. Orang udah tidak peduli kok. Kata seorang kawan, aksi kolektif kita sudah direduksi sampai di titik ketika ada kematian. Selebihnya kita menjadi manusia individualis saja. Padahal yg namanya pengelolaan sungai musti integrated, katanya. Di tempat yg sudah mraktekin integrated juga tetep ada banjir tuh. Kota Brisbane di Negara Bagian Queensland, Australia Timur yg baru-baru ini menjadi tempat training IWRM karena ada organisasi gabungan antara pemerintah, swasta, universitas, berbagai masyarakat pengguna air (www.healthywaterways.org) saja tergenang banjir yg tingginya ampun-ampunan. Bedanya sama banjir Jakarta jenis sampahnya aja. Tidak terlihat sampah plastik atau kasur bekas mengapung.

Perpipaan desa. Itu masuk dalam areal kerja Dirjen Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum, kata seorang kawan yg kerja di Bappenas. Pipa pvc diameter 2 cm berjajar teratur. Setiap pipa diberi nomor, pastinya menunjukkan ke rumah siapa pipa itu mengalir. Walau di dusun yg sama, kami menemukan tumpukan sampah yg dibuang begitu saja di pinggiran sungai, asli tanpa perlakuan apapun. Sepertinya sa-kampung itu melakukan aksi kolektif membung sampah di kali SEKALIGUS mengelola diri dalam pembagian air bersih. Kok bisa yah baik dan buruk berjalan dalam satu desa. Jadi pengen tahu siapa penggagas itu pembagian perpipaan desa. Penasaran apakah dia juga membuang sampah di pinggir sungai.
Jadi apa maunya? Mending tidak usah mikirin bagaimana publik harus terlibat dalam ngurusin sungai? Biarkan saja terjadi apa adanya. Mungkin enak juga. Bisa tidur nyenyak sampai suatu saat kita terbangun, menyadari kalau kita adalah bangsa buruh saja. Bahwa masuknya konsep-konsep pengelolaan sumber daya alam dikuasai oleh mereka yg berani berpikir saja. Terus mencari bentuk seperti apa yg paling pas buat bangsa ini.
Read more
Karena gak ada teman perjalanan dari Jakarta, saya memutuskan berangkat sendiri dengan kereta malam, dan menginap di kantor Telapak mengingat kegiatan susur Ciliwung dimulai dari pagi sekali yaitu Sabtu berangkat jam 5 pagi. Perjalanan saya mulai Jumat malam dari Jakarta dengan Kereta Api Stasiun Kota- Bogor yang berangkat jam 9 Malam.
Sampai di Stasiun Bogor jam 10 malam, saya langsung dipandu Mas Hari Kikuk
melalui telepon menuju kantor Telapak di Baranangsiang. Jam 4 pagi bangun, beres2 tunggu rombongan lengkap berjumlah 15 peserta terdiri dari teman2 Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Telapak, Kantor Berita Kotahujan.com, pengamat Burung Indonesia , jam 5:45 rombongan langsung meluncur ke Cagar Alam Telaga Warna Puncak Pass.
Perjalanan menuju Puncak lancar memakan waktu 1 jam sampai di Telaga Warna. Setelah mengumpulkan informasi dari petugas Telaga Warna dan pengamatan, pengambiran gambar. Cagar Alam Telaga Warna cukup bagus kondisi hutannya, dan mata air cukup banyak membentuk satu aliran kecil yang makin membesar. Penelusuran dipinpin oleh Mas Hapsoro Telapak dan Mas Hari Kikuk dibantu dengan alat GPS, mengingat aliran air sering buntu untuk dilalui karena sulitnya medan atau ketutupan rumah penduduk serta pagar beton Villa.
1 Km dari mata air Telaga Warna, aliran air masih melewati kebun teh hijau sebelah kiri dan hutan sebelah kanan, lepas dari itu, kita mulai temui pemukiman penduduk dan ladang sayur. Makin bergerak ke hilir makin banyak kita temui pemukiman padat penduduk layaknya kota Jakarta dengan gang2 sempit, di aliran melewati pemukiman sungai Ciliwung makin kami sering temui sampah rumah tangga berupa kantongan plastik, kemasan makanan STYROFOAM, bungkus plastik kemasan mie instan dan kemasan sabun. Perjalanan makin sulit ketika kami terbentur oleh tembok pagar Villa2 warga Jakarta, serta aliran yang tiba2 hilang ketutupan bagunan rumah penduduk, untuk lahan2 kosong bantaran sungai sekitar kampung banyak kami temui digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh penduduk setempat, tetapi juga oleh pemilik Villa mewah dan mereka sempat melarang kami mengambil gambar tumpukan sampah di bantaran sungai yg mereka pakai sebagai tempat pembuangan sampah. Mereka kaget kenapa kami bisa tiba2 muncul di area privasi mereka yg tertutup rapat oleh pagar beton. Hal ini sangat membuat kita miris, ternyata tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran lingkungan yg bersih dan sehat, hal ini tercermin dari pengelola villa yg saya yakin memiliki pendidikan dan tingkat ekonomi yg cukup mapan.
Perjalanan juga sambil dilakukan pengambilan sampel ikan dan biota sungai, juga pengamatan burung oleh teman dari Burung Indonesia dengan panduan buku dan teropong. Jam 1 siang kami keluar dari jalur sungai menuju jalanan puncak Cisarua untuk makan siang. Setelah selesai makan siang Team lgsg melanjutkan penelusuran lagi dari Desa Tugu Utara, dari sini aliran dikelilingi oleh pematang sawah, disini aliran cukup bersih dan jernih airnya disebabkan sekitar aliran adalah sawah bukan pemukiman , jadinya kami sempat berhenti istirahat menikmati sungai indah, sejuk dan bermain air dan mengambil kembali sampel ikan di titik kedua ini (Ciburial). Perjalanan berakhir jam 4 sore di daerah Cibeureum dan kembali ke kota Bogor.
Dari perjalanan ini, kami sayangkan banyaknya pembangunan Villa oleh warga Jakarta dan padatnya bangunan pemukiman penduduk di puncak (+/- 50 %hampir mengambil lahan hijau di daerah puncak) yang jelas merusak aliran sungai apalagi ketika diikuti dengan menjadikan bantaran sungai sebagai tempat sampah, kurangnya daerah hijau ini mengakibatkan gampangnya pengikisan lapisan tanah terbawa oleh hujan dan mengakibatkan pendangkalan sungai. Belum lagi pembangunan yg melanggar IMB dengan membuat bangunan di bantaran dan badan sungai.
Untuk penelusuran gambar silakan kunjungi laman Tjiliwoeng Dreams dan BIOTIFUL Sungai Jakartaku di facebook.
Read more
- 9:33 PM
-
cibeureum,
ciburial,
Ciliwung,
cisarua,
Jakarta GLUE,
Komunitas Peduli Ciliwung Bogor,
perjalanan,
puncak pass,
riset,
styrofoam,
Sudirman Asun,
susur,
susur sungai,
telaga warna,
villa
Entahlah dari mana asal mula ide ini. Bisa jadi ini cuma sekedar ide lepas saja karena pengaruh suasana libur akhir tahun kemarin dan hasrat berkelana yang belum terlaksana. Bisa juga ide ini muncul karena ikut-ikutan orang lain. Bisa pula munculnya ide ini karena keinginan yang kuat untuk memahami lebih dekat bagaimana Ciliwung mengalir dari mata air utamanya. Namun kuatnya keinginan membuat beberapa laskar karung berani memutuskan untuk melakukannya.
Apa pun alasannya, apa pun tujuannya, apa pun sebabnya, jelas minumnya yaa air ... masa sih minumnya nasi? (hehehe) Begitulah kira2 niat yang kuat dari para laskar karung yang ingin "berjalan kaki" (bukan berenang lho) untuk menyusuri aliran Sungai Ciliwung.
Kapan kah itu akan dilakukan? Tidak perlu menunggu waktu lama ... para laskar karung akan melakukannya akhir minggu ini. Yaa ... akhir minggu ini pada tanggal 8 dan 9 Januari 2011. Rupanya mereka ingin membuka lembaran tahun 2011 ini dengan melihat dan merasakan langsung aliran sungai ini dari hulunya. Mereka ingin memulai kegiatan jalan kaki ini dari kawasan Cagar Alam Telaga Warna di daerah Puncak sana.
Lalu apa yang akan dilakukan selama berjalan kaki? Jawabnya bisa macam2 tergantung dari berapa banyak keinginan dari masing2 laskar karung yang ikut serta. Ada yang ingin melakukan riset sederhana dengan mengidentifikasi ikan dan serangga air dari hulunya. Ada yang sekedar ingin mencari tempat-tempat yang cocok untuk memancing di sungai. Ada yang ingin memotret apa saja yang ada di Ciliwung dari mulai hulunya. Dan pastinya ada pula yang hanya sekedar ingin basah karena keringat dan air sungai ini.
Naahh bagi para pembaca setia blog ini ... jika Anda ingin ikut serta berbasah ria sambil berwisata mengikuti aliran air Ciliwung, silakan saja bergabung bersama para laskar karung tersebut. Kabarnya mereka akan memulai perjalanan dengan berangkat bersama2 dari Bogor. Mereka akan kumpul di Terminal Bus DAMRI (samping Botani Square) pada hari Sabtu (8 Januari) pukul 04.30 pagi atau setelah waktu sholat Subuh, karena rombongan ini akan berangkat ke Telaga Warna pukul 05.00 pagi.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk turut serta??
Bagi yang tertarik, silakan menghubungi Hari Kikuk (telp. 0856 123 52 98)
Read more
Hari Sabtu lalu, beberapa orang laskar karung ciliwung terlihat sibuk di halaman sebuah kantor di kompleks Gedung Alumni IPB – Baranangsiang, Bogor. Tangan mereka kotor karena mengaduk2 tanah. Sekarung lebih tanah dibongkar untuk kemudian dimasukkan dalam kantong2 plastik kecil berwarna hitam.
“Kata orang kantong ini disebut polybag, Mas”, jelas Ririn, salah seorang dari mereka.
“Semaian pohon beringin ini kita kumpulkan untuk selanjutnya nanti ditanam di tepian sungai Ciliwung”, kata Ririn kemudian. KPC memang beruntung memiliki laskar karung seperti Ririn. Sebab ia menjadi inspirator bahkan guru dalam hal tanam-menanam pohon. Ririn adalah seorang anggota sebuah organisasi kampus Fakultas Kehutanan IPB yang bernama TGC (Tree Growers Community).
Kegiatan hari itu ternyata tidak hanya sekali dilakukan. Selama sebulan ini (Desember 2010) para laskar karung sengaja meliburkan aktivitas mulung sampahnya. Mereka menggantinya dengan kegiatan penyiapan bibit2 pohon untuk ditanam di tepi Ciliwung. Entah apa sebabnya, mungkin ini bagian dari cerita2 wangsit dari Mbah Tjiliwung yang mereka dapat dari tepian sungai di Kelurahan Kedung Halang lalu.
Kegiatan penyiapan bibit pohon ini terlihat sedikit berbeda dengan kegiatan serupa yang umumnya dilakukan untuk meyiapkan penanaman pohon. Bibit2 pohon yang mereka siapkan jumlahnya tidak banyak. Hingga posting ini dituliskan jumlahnya masih sebanyak 106 kantong, dengan 5 kantong diantaranya yang siap tanam. Salah seorang dari mereka, Hari Kikuk mengatakan,”Jumlahnya memang gak banyak sih. Kami mengumpulkannya dari semai2 beringin yang tumbuh alami dari indukan pohon beringin yang kami jumpai. Kadang kami menemukannya di pinggir jalan atau di sudut2 pemukiman masyarakat”.
Ini memang sebuah upaya mandiri. Para laskar karung tak hanya secara mandiri berusaha membersihkan sungai dari sampah. Mereka bahkan juga secara mandiri berusaha menanami tepian sungai Ciliwung dengan pohon.
Read more
Setelah sukses dengan penyelenggaraan Kompetisi Mulung Antar Kelurahan II, para laskar karung kini memiliki kegiatan baru. Ide ini pertama kali muncul ketika beberapa orang laskar karung melakukan kegiatan rutinnya di Kelurahan Kedung Halang.
Di tepian sungai Ciliwung yang telah banyak berubah bentuk dan fungsi, beberapa orang laskar karung mendadak dapat wangsit dari Mbah Tjiliwoeng.
“Hey para lasjkar ... Simbah soenggoeh senang dengan soemangat dari kalijan semoea. Namoen kalijan djoega haroes inget bahoewasanja moeloeng sadja beloen temtoe tjoekoep. Kalijan perloe djoega kasie tjonto laennja. Kiranja Simbah anggep jang paling bagoes itoe kalijan moeloeng sambil djoega nanem di tepijan-tepijan Tjiliwoeng. Tjiliwoeng perloe dihijas pake pohon-pohon jang rimboen dan mengasilken moentjoelnja aer jang banjak, tjontonja pohon beringin, njamploeng, trembesi, dan roempoen-roempoen bamboe. Itoe semoea adalah pohon-pohon kehidoepan, boewat jang kasat mata maoepoen jang ghoib”
Walhasil para laskar karung itu pun segera mendiskusikan wangsit yang didapat bersama teman-teman lain. Maka mulai bulan Desember 2010 ini, para laskar karung pun menghentikan sementara aktivitas mulungnya. Bukan berhenti selamanya. Waktu mulung diganti dengan waktu perburuan bibit pohon2 yang diwangsitkan oleh Mbah Tjiliwoeng. Bibit2 pohon tsb lalu dikumpulkan di sebuah lokasi pembibitan sederhana, sebelum nantinya ditanam di tepian2 sungai Ciliwung.
Di awal tahun 2011 nanti, para laskar berharap bibit2 pohon tersebut telah siap ditanam. Dan kegiatan penanaman pohon tsb akan dikombinasikan dengan kegiatan mulung. Maka ... Jika Anda ke Ciliwung, maka pungutlah sampahnya dan tanamlah pohon di tepiannya
gambar di atas diunduh dari laman ini
Read more

Keseriusan upaya, keteguhan hati dan semangat tinggi memang selalu berbuah manis. Setelah (mungkin) ratusan liter peluh dikeluarkan, berpuluh bungkus sabun cuci, sabun mandi, beratus liter air minum, berbungkus2 nasi dan kue dikonsumsi ... akhirnya warga Kelurahan Bantarjati dapat merebut Piala Bergilir Kompetisi Mulung antar kelurahan se-kota Bogor tahun 2010 ini.
Bentuk pengorbanan itu memang masih belum seberapa, mereka punya berbagai cara lain (yang tentu saja sportif) sejak persiapan hingga saat kompetisi ini. Pak Lurah beserta jajarannya sudah jauh2 hari mengumpulkan para ketua RW utk bersatu memeriahkan kompetisi ini. Ada berkali-kali rapat yg telah diselenggarakan di kantor kelurahan sebelum kompetisi berlangsung. BABINSA kelurahan, TAGANA (Taruna Siaga Bencana) tingkat kelurahan, MUI kelurahan, LPM, kelompok2 SAR banjir pemuda, karang taruna, dan ibu2 PKK ternyata juga diikutsertakan. Ini adalah bentuk keseriusan dan kepedulian yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Keseriusan ini pun terjadi tak hanya saat persiapan. Saat kompetisi seluruh warga dan kelompok2 warga tersebut dengan semangat turut terlibat dalam mensukseskannya. Titik pemulungan sampah Ciliwung tak hanya berada di satu lokasi. Warga Bantarjati menyebar merata di tujuh wilayah RW yang dilintasi Sungai Ciliwung, dari mulai Bendungan Cibagoloh hingga depan Pasar Warung Jambu. Pada setiap titik setidaknya dijumpai lebih dari 20-an orang.
Sang Lurah pun turun ke sungai untuk memungut sampah dan menanam pohon. Demikian pula halnya dengan petugas kelurahan, BABINSA, Ketua RW, Ketua RT, MUI Kelurahan dan LPM. Para petinggi kelurahan ini ternyata tak hanya pandai memerintah dan mengintruksikan, tapi juga mengotori tangan mereka dengan sampah dan bermandi keringat.
Pada salah satu titik pemulungan yang berdinding tanggul terjal, para pemuda bahkan membersihkan sampah dengan bersemangat sekalipun harus menempuh resiko tinggi. Mereka bergantungan pada seutas tali plastik sembari membersihkan sampah-sampah yang terserak di dinding sungai itu.
Ibu-ibu PKK dan para warga perempuan tak tinggal diam. Mereka selalu siap sedia menyediakan minuman dan makanan ringan di setiap titik pemulungan sampah, walau tak harus dengan harga mahal. Pada beberapa titik pemulungan mereka hanya menyediakan sekedar air putih dan pisang. Namun apapun bentuknya, dukungan penuh kaum perempuan ini telah memompa semangat yang luar biasa bagi seluruh warga untuk bebersih runtah Ciliwung.
Sementara kelompok pemuda SAR sungai dan TAGANA bersiap dan waspada di titik2 rawan resiko bencana sepanjang sungai. Sehingga jika terjadi kecelakaan atau banjir bandang tiba-tiba, mereka dapat memberi peringatan bahaya ataupun melakukan evakuasi cepat.
Berbeda dengan kelurahan lain, Bantarjati melengkapi kreativitas keikutsertaan kompetisi ini dengan menanam pohon. Bukan sembarang pohon dan bukan sekedar menanam satu dua batang. Kelurahan Bantarjati berhasil memperoleh dukungan dari Kodim berupa 70 batang bibit pohon trembesi yg berguna sebagai peneduh dan penguat tepian sungai Ciliwung. Ketujuh puluh bibit tersebut pun langsung ditanam di sepanjang tepian Ciliwung pada 7 wilayah RW di kelurahan ini.
Rasanya tak ada kata yang paling tepat utk mengungkap apresiasi buat seluruh warga dan jajaran pemerintahan Kelurahan Bantarjati, kecuali ....
LUAR BIASA, SPEKTAKULER, MENAKJUBKAN, dan TOP MARKOTOP!!
Read more

Dimulai dari janji dan komitmen tahun 2009 lalu. Akankah Kompetisi Mulung Sampah Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor II di tahun 2010 ini dapat terlaksana? Memang tak mudah untuk memenuhinya. Jerih payah otak dan otot ditambah doa harus dicurahkan hingga yang direncanakan dapat terlaksana.
Dengan slogan "Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak", alhamdulillah semua itu akhirnya dapat menampakkan hasilnya. Kompetisi ini berhasil terlaksana dengan baik. Hari Sabtu lalu, 30 Oktober 2010, sepuluh kelurahan, dari 11 yang diundang menurunkan warganya sebagai peserta kompetisi ini. Ada ratusan orang yang berkumpul di tepi Ciliwung. Situasi ini terlihat dari mulai Katulampa, Baranangsiang, Sukasari, Babakan Pasar, Sempur, Bantarjati, Tanah Sareal, Kedung Badak, Kedung Halang, dan Sukaresmi.
Tak sekedar berkumpul tanpa hasil. Dengan penuh semangat mereka mengotori tangan, kaki, dan baju mereka karena tumpukan sampah Ciliwung perlu dibersihkan. Sampah plastik, besi, karet, kaca, dan kain yang sebagian besar menyebarkan aroma busuk tak menghambat warga untuk membersihkannya. Wajah mereka lelah, sebagian lagi tampak menyeringai mencoba menghindari sergapan uap busuk sampah itu. Mereka kotor, mereka juga basah kuyup karena air sungai bercampur lumpur.
Tak hanya warga yg turut serta dalam hiruk-pikuk keaktifan dan kepedulian akan sampah Ciliwung. Hari itu hampir di tiap kelurahan didukung langsung dengan kehadiran para lurahnya. Pada beberapa kelurahan bahkan peserta mulung dibantu oleh para ketua RW, ketua RT, LPM, MUI, Babinsa, Babinkamtibmas, karang taruna, penggerak PKK, dan TAGANA. Pihak dinas LH, dinas kebersihan, Polmas, bahkan RRI Bogor pun turut membantu acara kompetisi ini dengan menurunkan sejumlah stafnya.
Lalu ke mana para laskar karung yang biasanya setiap Sabtu mulung sampah di Ciliwung? Apakah mereka sudah bosan mulung? Tidak kawan ... mereka masih ada koq. Kompetisi ini penyelenggara utamanya adalah teman2 laskar karung KPC. Para laskar karung bertugas jadi panitianya. Sehingga pada hari H kompetisi, KPC yang tadinya hanya terdiri atas para laskar karung, kini jadi lebih banyak anggotanya hingga ratusan orang dari 10 kelurahan yang ada di Bogor.
Maka hari Sabtu itu, sampah di sepanjang bantaran Ciliwung di Kota Bogor dibersihkan oleh ratusan warga Bogor. Dibersihkan selama 3 jam sejak pukul 08.00 hingga 11.00. Usai acara, semua peserta dan panitia tampak lelah. Mereka pun beranjak meninggalkan lokasi dengan lega dan puas. Kompetisi telah berakhir. Tinggal menunggu saat2 diumumkannya kelurahan mana yg akan jadi pemenangnya. Dan Ciliwung pun menjadi sedikit lebih bersih dibandingkan sebelumnya.
Beberapa jam setelah kompetisi ini seorang ibu penjual minuman di Lapangan Sempur berseru, ”Mas ... itu Ciliwung yang tadi jadi tempat mulung banjiiirr!”. Saya bergegas menuju ke tepian sungai dan mendapati air bah Ciliwung yang mengamuk menutupi tiga per empat tinggi tebing sungai. Kejadiannya begitu cepat. Syukurlah kompetisi ini telah berakhir hingga kekhawatiran akan bahaya air bah saat kompetisi pun sedikit berkurang.
"Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak"
Read more
Bagi orang Bogor, istilah "ngabuburit" mungkin terdengar sangat akrab. Ini adalah istilah dalam bahasa Sunda yang artinya menghabiskan waktu sebelum saatnya berbuka puasa. Ada banyak cara yang dilakukan, ada yang jalan2 sore putar2 kota, ada yang duduk2 santai sambil berbincang ringan, ada yang menghadiri acara pengajian di mesjid2 atau majlis ta'lim, dsb. Begitu akrabnya istilah ini hingga terkadang juga diplesetkan menjadi ... menunggu saat buka puasa sambil minum kopi dan merokok. Plesetan bentuk lain juga ada, walau terasa jadi guyonan hambar seperti "ngabuburit = ngabubur beurit" alias menyantap bubur daging tikus ... hehehe.
Sejak setahun lalu, sekelompok warga Bogor penghobi kegiatan memulung sampah di Ciliwung telah memulai sebuah cara baru mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka. Bukan dengan berbincang2, bukan sambil menikmati makanan kecil, bukan juga mendengar ceramah. Caranya sangat sederhana, yakni dengan melakukan aktivitas memungut sampah2 anorganik (mulung) di Sungai Ciliwung. Bagi yang belum pernah melakukannya pastilah yang terbayang adalah suasana yang sangat tidak nyaman dan menguras tenaga. Namun kenyataannya tentu tidak seburuk yang dibayangkan. Kelompok warga Bogor yang menamakan dirinya sebagai Laskar Karung KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini menganggap bahwa ngabuburit di Ciliwung adalah kegiatan yang asyik.
"Kalau tidak percaya, coba saja dulu," demikian komentar mereka sambil menambahkan sebuah pepatah "ala bisa karena biasa".
Hari Sabtu sore tanggal 14 Agustus 2010 lalu seakan menguatkan komentar para laskar karung tersebut. Sejak pukul 15.30 sudah ada seorang peserta yang hadir. Ia adalah warga Sukasari yang tertarik ingin ikut serta mulung. Ia duduk di atas sebuah batu kali besar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Saya sudah di bawah jembatan Jalak Harupat, di mana mulungnya Mas?" demikian SMS yang ia kirimkan kepada para laskar karung KPC. Beberapa menit kemudian para laskar itu pun berdatangan satu per satu dan bergabung dengannya di bawah Jembatan Jalak Harupat, Sempur.
Spanduk besar bertuliskan "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" segera dibuka lebar sebagai penandaaksi mulung mingguan ini. Beberapa detik kemudian 10 orang sudah aktif memungut sampah anorganik dan memasukkannya dalam karung2 plastik. Semuanya berjalan dengan otomatis. Tidak ada yang mengeluh, semua melakukan kegiatan ini dengan gembira, walau tanpa adanya seteguk air minum atau segigit makanan ringan apa pun karena sedang berpuasa. Menit2 selanjutnya, para laskar karung pun bertambah jumlahnya. Hampir 20 orang yang kemudian sibuk memungut sampah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa saat berbuka sudah semakin dekat. Kondisi alam pun seakan turut memberi tanda agar para laskar karung segera menghentikan kegiatannya. Hujan gerimis mulai mengguyur para laskar karung. Dan akhirnya aksi mulung ini pun berhenti. Waktu tersisa beberapa menit sebelum saat berbuka pun dimanfaatkan untuk berkemas dan mulai mencari makanan dan minuman pembuka.
"Allahuma lakasumtu wa bika aamantu ... dst" pun terucap di hati masing2 laskar karung, saat terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid terdekat di Lebak Kantin dan Sempur. Selesai lah sudah sebuah kegiatan ngabuburit di bawah jembatan. Alhamdulillaah ... it's a lovely ngabuburit time under the bridge ...
Read more
Komunitas Peduli CiliwungSekretariat: Jl. Sempur Kaler No. 111 PAV, Bogor 16129,
Setahun Membersihkan Ciliwung, KPC Ajak Pemerintah dan Warga Bertindak Serius
Bogor, 14 Maret 2010 –
Hari ini, Komunitas Peduli Ciliwung menggelar sebuah acara di tepian Sungai Ciliwung. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati setahun aktivitas pembersihan sampah di Sungai Ciliwung dan sekaligus setahun usia komunitas ini. Berbagai kalangan warga dan seniman berkumpul bersama memeriahkan acara tersebut. Dalam acara ini Komunitas Peduli Ciliwung mengajak semua orang untuk lebih peduli pada kondisi Sungai Ciliwung.
Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah kumpulan warga yang sejak tahun 2009 melakukan serangkaian kegiatan penyelamatan Sungai Ciliwung di Bogor. Sejak berdirinya, secara sukarela para anggota KPC telah melakukan aktivitas bersih sungai dengan memungut sampah‐sampah anorganik dari Sungai Ciliwung setiap minggu.
Untuk menandai setahun upayanya melakukan penyelamatan Ciliwung, KPC menggelar acara Peringatan Setahun KPC di Bogor. Acara ini bertemakan “Menyatukan Gerak Langkah Warga untuk Ciliwung”. Dalam acara ini KPC juga mengajak berbagai kalangan masyarakat, terutama warga Bogor untuk hadir dan memeriahkannya. Acara dimulai dengan lomba menggambar dan mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor. Pada saat yang sama KPC mengajak para undangan dan warga Bogor untuk bersama‐sama melakukan pemungutan sampah anorganik di Sungai Ciliwung. Masih dalam rangkaian kegiatan ini, KPC juga mengundang para pemerhati dan pegiat Ciliwung untuk bertukar pikiran mencari solusi bersama penyelamatan Sungai Ciliwung dalam sebuah sarasehan. Para seniman muda dari Jakarta, Bogor, dan Bandung turut memeriahkan acara ini dengan menampilkan karya‐karya mereka. Selain itu para seniman sunda klasik dari Bogor juga turut mengisi acara dengan menampilkan musik kecapi suling dan gendang pencak.
“Kepedulian pada Sungai Ciliwung seharusnya menjadi kepedulian lintas usia, lintas budaya, agama dan profesi. Kami ingin mengajak semua orang untuk peduli. Itulah yang mendasari digelarnya acara ini“, tutur Nino (Sutrisno), Ketua Panitia Peringatan Setahun KPC.
Selama setahun ini, KPC telah melakukan 48 kali aksi mulung di Sungai Ciliwung di Bogor. Tumpukan sampah sungai Ciliwung di Bogor ternyata tidak kalah dengan di daerah hilirnya. Sungai Ciliwung telah menjadi tempat sampah raksasa sejak dari wilayah hulu dan tengahnya di Bogor. Aksi mulung KPC selama setahun telah membuktikan hal ini.
Namun demikian penanganan masalah ini seringkali dibayangkan sebagai upaya yang pelik dan tidak mudah. Hal ini telah menjadi hambatan psikologis bagi upaya penyelamatan sungai ini. Dibutuhkan adanya tindakan nyata yang jelas dari berbagai pihak. KPC telah memulainya dengan hanya 2‐3 jam setiap minggunya, setidaknya KPC telah berhasil mengumpulkan puluhan ribu karung sampah yang beratnya hampir setara dengan ratusan ton sampah anorganik dari Sungai Ciliwung.
“Ciliwung milik kita semua. Warga masyarakat harus mulai bertindak. Pemerintah pun harus mengambil perannya. Kondisi Ciliwung akan semakin buruk jika kita hanya tinggal diam dan menunggu!” pungkas Hapsoro, Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung.
CATATAN UNTUK EDITOR:
• Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Propinsi DKI Jakarta.
• Kegiatan Peringatan Setahun KPC diselenggarakan pada Hari Minggu, 14 Maret 2010, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WIB. Kegiatan dipusatkan di Lapangan Kampung Lebak Kantin, Kelurahan Sempur, Kota Bogor. Kegiatan ini diisi dengan berbagai acara, yaitu 1) lomba menggambar/mewarnai tingkat sekolah dasar se‐Bogor, 2) aksi mulung sampah bersama di Sungai Ciliwung, 3) sarasehan para pemerhati Ciliwung, serta 4) pentas seni dan budaya.
• Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah komunitas warga yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung. Komunitas ini berbasis di Bogor. Informasi lebih detil tentang kegiatan komunitas ini dapat diperoleh di situs web www.tjiliwoeng.co.cc
Kontak
Sutrisno, Koordinator Peringatan Setahun KPC mobile phone: 0815 851 69977, e‐mail: djreinhart@gmail.com
Hapsoro, Koordinator KPC. mobile phone: 0815 857 19872, e‐mail: hapsoro@telapak.org
Unduh file selengkapnya di
https://docs.google.com/fileview?id=0B-5rpj5pNxPEOWU5MzhlM2YtNDRmYS00OTA5LWJkMGEtYjFmZTQ2ZDBmZTg2&hl=en
Read more

Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more
Seekor burung raja udang terbang tergopoh2 mendatangiku pagi ini. Hampir saja ia terjungkal saat mendarat di ranting pohon Sempur di depan rumah.
"Kawan, tahu enggak, teman2ku di tepian Ciliwung sedang heboh sekarang!" katanya dengan nafas masih terengah2. Ahh paling2 para burung dan satwa itu heboh karena melihat porak-porandanya tepian Ciliwung karena air bah. Maklum sekarang kan hujan datang bertubi2 di kota ini. Hujan juga mengguyur tempat2 di hulu Ciliwung yang mulai botak tak berpohon. Namun ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Dengan mata berbinar si raja udang melanjutkan,
"Pasti kamu kira ini soal korban air bah yaa? Salah kawan ... teman2ku heboh karena mereka menyaksikan segerombolan orang2 yang memulung sampah di Ciliwung".
Wah wah waaah ... berita baru ini. Kenapa juga orang2 itu memungut sampah di sana. Apa mereka sudah gila? Bukankah Ciliwung sedang banjir? Kalaupun tidak banjir, bukankah sampah di sungai itu sudah biasa? Hampir semua orang di kota ini saja tidak ada yang peduli. Para pemimpin kota ini pun hanya pintar bercuap2 untuk meminta orang peduli padahal dirinya sendiri pun tak mau melakukannya. Kota ini memang menyimpan banyak sekali ahli dan pemikir. Namun rasanya tak ada satu pun yang berusaha mengerahkan kemampuannya untuk membuat bersih sungai.
Kabar sang burung itu jadi wajar. Wajar jika para satwa itu heboh. Heboh karena mereka melihat orang bodoh dan gila di Ciliwung. Sungguh kejadian yang langka. Terlebih hal tsb dilakukan setiap minggu, bahkan saat air Ciliwung sedang tinggi dan beresiko.
Cerita di atas adalah kabar burung. Jadi itu adalah cerita fiksi dan bukan cerita sesungguhnya. Mau tahu cerita sesungguhnya? Mari bergabung bersama Komunitas Peduli Ciliwung hari Sabtu ini .... Aksi mulung ini dilakukan karena seminggu sebelumnya (12 Februari 2010) wilayah itu dilanda air bah.

Read more
Sekarang mumpung di awal tahun ... ehh sekarang bukan tahun 2009 lagi lho. Sekarang sudah tahun 2010. Kalo dihitung2 sejak awal, kita sudah mulung sejumlah 41 kali. Hmmm ... adalah jumlah yang cukup mencengangkan, karena para laskar karung KPC sudah hampir setahun mulung.
Nahh ... mendekati saat pemulungan yang setahun itu, mari ... ayo ... hayu ... urang mulungan di Ciliwung deui. Dimana atuh mulungna? Biasa laah ... abis dari Sempur, ke mana lagi kalo bukan ke tetangganya.
Ke Kebun Raya yuuuk ...

Read more
Saya datang pagi2 ke lokasi kumpul. Di samping jembatan Kedung Badak, Jalan Baru tepatnya. Karena masih pagi, lumayan lah saya habiskan waktu menunggu teman2 lain dengan menikmati kopi dan buras di warung rokok terdekat. Sembari juga memperhatikan kesibukan kendaraan yang melintas. Memperhatikan orang2 di kendaraan yang sibuk mengisi acara akhir minggu. Ada yang berolahraga sepeda. Ada yang siap berwisata. Ada yang berangkat kerja. Dan tak ketinggalan serombongan kendaraan yang berisi mereka2 berpakaian batik yang akan menghadiri acara pernikahan.

Waktu mulung tiba … saya langsung menuju lokasi mulung tepat di bawah jembatan itu. Hari Kikuk datang tergopoh2 dengan motornya. Seperti biasa motornya memuat karung2 plastik dan
banner besar KPC.
“Maaf pak … aku gak enak badan, jadi terlambat nih“, kata si Kikuk berusaha memberikan penjelasan.
Memang … sepertinya sekarang sedang musim flu. Saya pun merasakan badan meriang dan hidung tersumbat saat bangun tidur tadi pagi. Beruntung gejala flu tersebut berangsur menghilang seiring semakin tingginya matahari pagi.
“Jadi kita berdua aja nih mulungnya …”, ucap saya pada Kikuk.
“Kayaknya sih begitu pak … biasa lah mungkin teman2 saat ini sedang punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan“, timpal Kikuk berusaha menjelaskan.
Dalam menit2 awal, kami berdua sempat memperhatikan beberapa aktivitas orang sekitar dari bawah jembatan. Di seberang ada 2 orang yang sibuk mengambil pasir. Di badan air ada orang yang sibuk menebar jalanya, berharap dapat ikan selain jenis sapu-sapu. Sementara tak jauh dari lokasi kami berdiri seorang pengamen “topeng monyet” mempersiapkan peralatan dan monyetnya. Ia bersiap untuk mengamen berkeliling di perumahan2 terdekat.
Beberapa saat kemudian kami berdua pun sudah tenggelam dalam keasikan mulung di Ciliwung. Saya memilih berbasah ria menaklukan beberapa anakonda yang tersangkut pada kawat2 pondasi jembatan. Sementara Kikuk memilih tepian sungai yang kering. Di sela aktivitas kami, seorang warga setempat mengajak kami bercakap2. Ia menyalahkan warga yang masih saja membuang sampah ke sungai. Ia juga berharap Pemerintah Kota bisa membantu membersihkan sungai. Semuanya berisi keluh kesah serta opini pribadinya. Ia terus saja mengajak bicara di tengah kesibukan kami memungut sampah. Sayang semuanya hanya pembicaraan belaka. Ia tak hendak membantu mengotori tangannya dengan sampah. Ia hanya berkata-kata. Sementara kami berdua kotor dan bau karena sampah di sana.
Selama 2 jam mulung, beberapa kali kami melihat kantong2 plastik berisi sampah yang jatuh (dilemparkan) dari atas jembatan. Kantong2 tersebut mendarat dengan keras di permukaan air Ciliwung. “Paaaaakkk …!!!” Rupanya tempat ini tak hanya menjadi tempat tersangkutnya sampah dari daerah hulu. Tapi juga menjadi tempat pembuangan sampah langsung. Rasanya kami berdua tidak melihat plang apapun di sekitar sungai dan jembatan yang bertuliskan “Tempat Pembuangan Sampah”.

Selain kejadian itu, kami berdua ternyata menjumpai kejadian yang serupa tapi tak sama. Kali ini sampahnya bukan dilemparkan. Kami melihat seorang ibu yang dengan ringan menumpahkan isi keranjang sampahnya ke aliran Ciliwung. Tidak ada efek suara yang keras, namun hasilnya sama saja … Ciliwung dianggap tempat sampah. Tak ada rasa malu apalagi was-was. Pembuangan sampah dilakukan tanpa beban. Ibu itu pun tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Ia melakukannya dengan nyaman sekali. Bahkan sampai ketika saya memotretnya [lihat gambar].
Mungkin dunia sudah berubah. Budaya bersih hanya diterapkan pada ruang sempit di dalam rumah atau kamar. Yang penting kamar atau rumah bersih dari sampah, di luar batas itu wallahu ‘alam. Sementara jika sungai terlanjur penuh sampah, tanggung jawab untuk membersihkannya bukan lah pada semua orang yang memiliki sungai. Petugas kebersihan dan pemerintah lah yang harus membersihkan. Selain itu … mungkin hanya orang gila dan aneh yang punya minat dan mau melakukannya. Karena sungai memang “tempat pembuangan sampah”, walau tak ada plang atau papan pengumumannya.
Read more
Sewaktu aku kecil aku sering dilarang melakukan kegiatan ‘ngawangkong sisi susukan’. Kurang lebih karena alasan kegiatan ini hanya menghabiskan waktu dan sesuatu yg tidak berguna. Walau ada benarnya, karena melihat air yg beriak mengalir terus menerus memang melelahkan mata. Tapi kurasa ngawangkong pagi ini di sungai Ciliwung ada juga gunanya .
Pagi ini (5/12/09) kami duduk di tangga semen yg biasa dipakai penduduk pinggiran pasar warung jambu untuk mencuci baju dan keperluan lainnya. Ada Rizki dan temannya dari SMK Tridarma 2. Mereka lagi belajar jurnalistik sama Agung. Beberapa pengarahan dilaksanakan santai sambil mengobrol menunggu petugas kebersihan mengangkut sampah. Mereka berharap bisa mengambil gambar video orang yg sedang buang sampah ke sungai.
Ada beberapa yg berhasil kami saksikan. Baik sampah organik (buangan manusia) atau an-organik (plastik dsb). Baik langsung dari tubuh manusia ataupun sudah dibungkus plastik keresek. Kami melihat beberapa bagian tubuh manusia dibuka agar si buangan itu bisa keluar. Tapi kami juga melihat orang2 yg dengan santai tanpa rasa bersalah membuang ke sungai beberapa keresek sampah pasar dan buangan rumah tangga.
Minggu lalu aku bertemu dua ibu rumah tangga yg dengan sopan melempar sampahnya ke sungai. Puntennya, katanya sambil plung aja sekeranjang sampah dilempar ke sungai. Seorang ibu yg lain sempat kutahan dan kuminta agar dia memasukkan sampahnya ke dalam karung yg sudah kami siapkan untuk mulung.
Hari yg sempat ngobrol dengan seorang penduduk mengatakan bahwa sempat ada tanda plang besi bertuliskan larangan untuk tidak membuang sampah ke sungai. Apa dikata, seseorang mencabut plang besi itu dan melemparkannya ke sungai.
Bapak itu juga menitipkan pesan. Sebuah harapan yg diharap sampai ke Pemda setempat. Katanya kenapa pinggiran sungai di tempat dimana rumahnya dan beberapa rumah penduduk lainnya berada, tidak ditembok. Sedangkan sisi dimana pasar dan mal jambu dua berada, diperkuat dengan tembok. Dia tidak tahu kepada siapa pertanyaan dan harapan itu harus diajukan.
Ngawangkong di sisi susukan pagi ini memberi kami tambahan informasi. Bagaimana masyarakat sepanjang pinggiran sungai Ciliwung bersikap terhadap sungai yg mengalir tepat di pinggiran rumahnya. (seperti dituturkan oleh Rita Mustikasari)
Read more
Ditemui di kegiatan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) di daerah perumahan Katulampa Bogor Sabtu 14 November 2009, Cindy yang juga merupakan anggota RECIPALA (Pecinta Alam Regina Pacis) menyatakan siap untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya banyak mamfaat yang diperolehnya dengan aktivitas seperti yang dia lakukan saat itu, yaitu memungut sampah non-organik dari sungai.Dengan memungut sampah dirinya terlatih untuk tidak merasa jijik lagi. Cindy sebagai generasi muda mengajak generasi muda yang lain untuk turut menjaga lingkungan, terutama sumberdaya air.
Menurut Hendi, salah satu pembina RECIPLA yang ditemui sedang melakukan pendampingan
setelah ulangan umum pada bulan Desember mendatang, SMA Regina Pacis Bogor akan kembali turun ke sungai Ciliwung untuk membersihkan sungai. Menurutnya lagi, kegiatan ini tentunya akan dilakukan setelah mendapat restu dari kepala sekolah.
Read more
Pernah dengar nama Katulampa? Pernah dengar nama Tajur? Rasa-rasanya kedua tempat ini cukup terkenal dan sering disebut2 orang. Keduanya adalah nama tempat di Bogor yang letaknya berdekatan.
Setiap musim hujan tiba, maka Katulampa menjadi sering disebut-sebut. Katulampa adalah nama sebuah kampung di ujung tenggara Kota Bogor. Di kampung ini terdapat sebuah bendungan tua yang dibangun sejak di jaman penjajahan Belanda (1887) dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1911. Menurut sejarahnya, bendungan ini dibangun untuk mengatasi limpahan air sungai Ciliwung sehingga tidak membanjiri Jakarta. Kini, bendungan tersebut menjadi barometer (ukuran) bagi penentuan terjadinya banjir dari Ciliwung di wilayah Jakarta.
Tajur, adalah nama sebuah kampung yang letaknya berseberangan dengan kampung Katulampa. Kampung ini menjadi pintu masuk umumnya jika kita ingin ke bendungan Katulampa. Tak ada yang aneh memang. Namun ... tahukah teman2 bahwa lokasi penjualan "Tas Tajur" yang terkenal itu letaknya bukan di Tajur, namun di Katulampa. Kalau tidak salah namanya adalah SKI Tas Tajur. SKI itu sepertinya adalah nama perusahaan pembuat tasnya, yaitu Sumber Karya Indah. Alamatnya di Jl. Raya Katulampa No. 6 – Bogor, Telp. 0251.8353685. Bagi para penggemar wisata belanja, tempat tersebut tidak hanya menyediakan tas berbagai ukuran dan model, namun juga beragam makanan serta arena bermain anak2.
Katulampa dan Tajur memang tempat yang terkenal. Namun, apakah anda pernah tahu apa lagi yang bisa ditemukan di seputaran kedua daerah tersebut? Apakah anda pernah tahu apa yang terjadi pada sungai yang membelah kedua tempat tersebut?
Jika anda belum tahu, anda tak usah ragu ...
Komunitas Peduli Ciliwung dengan bangga siap menemani anda untuk mencari tahu hal2 lain tersebut. Caranya gampang ... datang saja ke tepian Sungai Ciliwung di seputaran tempat tersebut. Jika ingin lebih pasti, silakan langsung menuju tepian sungai di Perumahan Griya Katulampa, Bogor. Letaknya berada diantara lokasi SKI Tas Tajur Katulampa dan Bendungan Katulampa. Apa yang bisa anda lakukan di sana, silakan lihat pengumuman berikut ini ...
Read more