"Mbah Tjiliwoeng ngamuk ... serius ini ... ngamuukk!!" pesan bertubi2 datang di telepon genggam. Belum lagi beberapa temen yang pada ribut di telinga. Kontan aku lompat, beres2 komputer dan langsung meluncur ... lho? Meluncur ke mana? Setelah sedikit mikir, akhirnya ketemu juga jawabannya. Tujuan pertama adalah Saung Tepian Ciliwung di Jl. Sempur Kaler Kav 111. Mudah2an sekretariat KPC ini gak cilaka. Begitu nyampe ... alhamdulillah ternyata masih aman2 aja sekretariat kita.
Ehh tapi gimana kabar lokasi2 mulung KPC yaa?
Akhirnya dengan ditemani Kapiten de Kikuk, Biksu Tong dan 2 kru Kotahujan.com aku pun mulai menelusuri bantaran Ciliwung ke hilir. Soale ngeri juga karena sepanjang Lebak Kantin air Ciliwung seperti gelombang besar, tinggi sekali hampir ke jalan, dan bergemuruh hebat.
Berikut hasil laporan pandangan mata tim buser air bah KPC:
- Kampung Rambutan: kondisi Ciliwung mirip dengan Lebak Kantin. Airnya ngeriiii ....
- Lebak Pilar, Bantarjati Bawah, Bendungan Cibagoloh: wiiih tambah ngeri airnya. Lampu mati, warga pada keluar rumah. Satu rumah di tepi Ciliwung hancur, rata dengan tanah. Kolam2 pancing pada bubar semua diterjang air bah.
- Pabaton: air bah sempat memenuhi jembatan Pabaton dan membawa sampah anakonda dsb serta lumpur. Akhirnya sebuah gudang toko bangunan juga hancur. Lumpur memenuhi lembah itu.
- Pasar Warung Jambu: paraaaahhh ... pelataran parkir di belakang Mal Jambu Dua dipenuhi lumpur, apalagi daerah pasar di seberang jembatan. Pedagang2 di pasar pada ngamuk akibat permintaan mereka ke Pemkot utk bangun tembok penghalang banjir gak dipenuhi. Walhasil pasar jadi seperti sawah yang penuh lumpur.
- Kedung Halang - Perumahan Graha Indah: saluran air di tepi jalan jebol diterjang air bah. Jalanan di tepi Ciliwung dipenuhi lumpur setebal 20 cm. Rumah2 warga di tepi jalan juga terkena lumpur. Eduuun!!!
- Kedung Halang - Pangkalan 1: parah bangeet. Jalanan dipenuhi lumpur tebal. Sebuah rumah di tepi sungai hancur. Intake PDAM Kabupaten Bogor jadi ikut rusak diterjang air bah.
- Kedung Halang - Pangkalan 2: ampuuun banget parahnya!!! Enam rumah hancur. Tembok SDN Kedung Halang V roboh. Halaman SD dipenuhi lumpur. Air terjun kecil di lokasi mulung KPC telah hilang. Air sungai rata bergelombang dan mengalir deras ke hilir.
Gile bener emang. Tapi mau bilang apa lha wong ini bencana. Walau bencana ini pastinya disebabkan karena ulah manusia2 juga di wilayah hulu dan sepanjang bantaran sungai. Hulu sungai sudah banyak berubah fungsi. Daerah tangkapan air berubah jadi villa dan kebun teh. Sementara tepi sungai di Bogor sendiri juga pada berubah jadi real estate. .... hhhh (geram) manusia2 lain akhirnya harus menanggung akibatnya.
????Lipoetan Berita:
Read more
Hari Rabu tanggal 04/11/2009 tanggul instalasi proyek percontohan pengolahan air bersih yang dibangun disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Parigi daerah perumahan Indraprasta Bogor tepatnya di jalan Astrajingga longsor karena dihajar derasnya aliran air sungai.
Menurut Maman salah seorang warga yang longsor tersebut dikarenakan pondasi instalasi tersebut terlalu tegak, dan kurang menyerap air. Selain itu pengaspalan jalan yang dilakukan di pinggir aliran sungai tersebut kurang tebal, sehingga mengakibatkan pondasi bangunan instalasi pananganan air limbah tersebut longsor. Longsor tersebut terjadi pada sore hari kira-kira pukul 15:00 WIB.
Akibat kejadian tersebut bangunan rumah Usman (19 th) warga Rt 02/01 Kawungluwuk kelurahan Tegal Gundil kebanjiran bila aliran kali parigi tersebut semakin deras akibat hujan. Akibat kejadian tersebut Usman kehilangan 10 pasang brung merpati seharga kira-kira Rp 250.000.
Masyarakat meminta agar dinas terkait, terutama dinas Cipta Karya dan Tata Ruang dan pihak terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Sudah hampir dua minggu dari kejadian longsor tersebut belum terdapat pihak-pihak atau instansi yang terkait yang berussaha menyelesaikan permasalahan tersebut. Apalagi kejadian longsor tersebut merusak instalasi milik Pemerintah Kota Bogor.
Banyaknya bangunan hunian tempat tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) mengancam keselematan jiwa penghuninya serta mengancam masyarakat yang tinggal di daerah hilir sungai. Selain mengancam keselamatan jiwa, keluarnya IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) terhadap hunian tempat tinggal di sepanjang aliran sungai tentunya sangat bertolak belakang dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor). (seperti dituturkan oleh Rita Murtikasari/ turis jepang)
Read more
"Semoga mereka yg buang sampah dengan enteng ke sungai nantinya diterjang sama banjir. Rumah ne keblebeg banjir. Wong dho njukuki sampah nang ngarepane kok dho mbuang sampah seenak e dhewe... as** (sensor-red)..."Itulah status di Facebook saya yang saya buat kemaren setelah mulung yang ke-27 di Lebak Kantin, Sempur. Status itu tak buat sebagai ungkapan rasa kekesalan plus kejengkelan saya ketika mulung disana. Untuk kesekian kali-nya saya melihat beberapa orang tetap saja membuang sampah di sungai ketika kita sedang mulung disana. Dengan enteng dan tanpa rasa berdosa mereka membuang sampah ke sungai.
"Kejadian ini mungkin sudah kesekian kalinya didepan mataku di titik yang sama yaitu jembatan lebak kantin, sempur. Waktu itu pernah kena kepala temanku sampahnya ketika mereka buang sampah dari jembatan itu. Aku bener-bener ngga tahaaannn, mana panas, puasa. Iki wong kok iso yo ora sadar-sadar..." Ungkapku dalam hati dengan penuh esmosi eh salah.. emosi.
Sampai sekarang saya bener-bener bingung, bagaimana sebenarnya pikiran yang ada dikepala mereka tentang sungai dan kebersihan. Sungai hanya sebagai tempat sampah sajakah?? Ketika kita sedang asyik mulungin sampah yang ada disungai tiba-tiba terdengar suara "bluk...". Saya kaget dan menoleh kebelakang. Ternyata ada dua orang perempuan muda yang membuang 2 kantong besar penuh sampah ke sungai dari atas jembatan lebak kantin. Huuuhh... saya hanya mencoba menarik nafas panjang.
Lima menit setelah kejadian itu, ada satu anak laki-laki (umurnya sekitar 10 tahun) membawa kotak sampah yang sudah berisi penuh sampah turun ke sungai. Mulanya ketika sampai ditepian sungai dia hanya berdiri sambil memegang kontak sampahnya memperhatikan kami yang sedang memungut sampah yang ada di sungai. Saya menatap tajam mata anak itu, dia jadi takut dan bengong. Tapi dengan cepat saya sadar, tidak ada alasan saya marah ke anak tersebut. Saya bukan pemilik sungai ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya sosok manusia kecil yang punya mimpi besar. Bermimpi sungai di Indoesia ini bisa bersih. Akhirnya saya mengalihkan pandangan saya kembali ke sampah-sampah yang ada didepan saya dan memungutnya. Seketika itu juga anak tersebut membuang sampahnya ke sungai dan pergi. Huuhhh.. saya menarik nafas dalam untuk kedua kalinya.
Pengalaman kemaren membuat saya seolah-olah menjadi manusia yang paling bener didunia ini. Sudah puasa, ngambilin sampah orang lain, berharap sungai bisa bersih. Pokoknya lengkaplah. Cuma itu yang bisa dilakukan untuk menangkan hati. Mencoba ikut menjadi manusia yang egois seperti mereka.
"Nanti... pas kena banjir, kena musibah... teriak-teriak minta bantuan. Minta pertolongan. Mengaku hidup sengsara, butuh bantuan, butuh perhatian dan menyatakan kita hidup harus tolong-menolong. Tapi kesadaran untuk menjaga lingkungan, menjaga keberadaan sungai ngga ada. Masa bodo dengan lingkungan. Masa bodo dengan sungai. Sungai hanya tempat sampah tok.
Wes kena musibah aja, baru deh mengeluh. Baru deh menyesal. Dasar manusia ngga tahu diri!!!"
Silahkan kalian berkomentar atas kemarahan dan kejengkelanku. Berikut saya lampirkan komentar beberapa teman-teman di Facebook saya:
*Dang Mardan: Maafkanlah mereka krn mereka tidak mengerti.
*Ade Adhitia Prihantoro: Betul..pak cik, mumpung bulan puasa...doain mereka..tapi kasi doa yang baik2 ya bos..
salut buat lo bozzz...
btw, gaya ngomong pak cik kok dah kayak wong jawi...??? jangan ... jangan ... hehehehe
*Herminatun Nikmah: Sabarr....sabarrr kang tarjo....(numpang lewat)
*Sari Nurmawanti: Berbuat baik dan ikhlas emang bnyak godaannya,godaan marah,godaan males..dan godaan2 lainnya yg menodai niat baik..sayang kl kebaikan yg sdh dibuat mas een hilang dan berkurang hnya krn marah..sayang kan?
*Anggit Mime: Pecahkan saja gelasnya biar ramai
*Gladi Hardiyanto: Hus gak usah misuh2,nek banjir sing misuh2 biasane melu kebebleg banjir
Salam,
Een Irawan Putra
Foto diatas dicuplik dari sini
Read more
Kebanjiraaan ??? Setelah sekian lamanya akhir hari itu datang juga,,, sungguh tak diduga sebelumnya. Kali ini banjir yang di alami Mbah Tjiliwoeng bukan seperti yang sering terjadi di Jakarta. Namun, Minggu 19/04 2009 Pulo Geulis "dibanjiri" Tim Riset. Senang sekali rasanya, jadi semangat nyemplung di air.
Hari ini Tim Riset bertambah anggotanya, dari minggu kemarin. Berkat Wildan (Ketua HIMASPER) yang berhasil mengajak anggotanya untuk melakukan pengamatan Kualitas Air di Pulo Geulis. 10 orang dari Tim Riset (Aan, Rubi, Romi, Firin, Upil LAWALATA, Wildan dan 5 anggota HIMASPER) seperti biasa kumpul di depan BNI IPB Darmaga. Setelah dihitung-hitung, Tim memutuskan untuk menyewa Angkot 03.
"Dah siap nas? kita mau berangkat neh" isi sms dari Rubi. "Ok, Tapi aku nunggu di Lampu Merah Bubulak aja ya?" balasku.
Sekian lama menunggu akhirnya HPku berbunyi "Nas lo dimana? kita dah di Lampu Merah Bubulak neh". "Dibawah tulisan CIFOR Bos" Jawabku. "Wah kayaknya, lo salah deh Nas, itu Lampu Merah Laladon, kita tunggu di Lampu Merah Bubulak ya? Lo cepetan naik angkot 32" Lanjut Aan. "Ok Bos, Segera. Maaf salah tempat:) hehehehe" Malu aku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung naik angkot 32. Tak lama angkot berjalan, terlihat Aan, rubi dan Firin yang berdiri di samping Angkot 03, "kiri pak" kataku pada supir seraya bergerak turun.
"Oalah dasar orang Kubu, ngrepotin aja. Katanya nunggu di Bubulak, kok malah nunggu di Laladon" Ejek Firin dibarengi tawa dari teman-teman yang lain. "Sory bos, aku kira Lampu merah yang sana itu Bubulak, :) hehehe" Elakku. Kamipun langsung naik angkot 03 menuju sungai. Selama perjalanan kami bercanda ria. Hari ini aku yang jadi bahan ejekan si Firin. Ngak papalah Rin, Yang penting semuanya bisa ketawa di sempit dan panasnya Angkot 03.
Sampai di tempat tujuan, Tim langsung menuju lokasi pengamatan. Tak disangka, di sungai telah menunggu Keluarga Muslich dan Mas Bowie LATIN yang duduk2 di bebatuan. Menurut Suami Widi, Guru Besar Bowie menunggu sejak jam 7 pagi. Ampuuun "Suhu" bukannya kurang ajar, tapi kami memang telat :) wkwkwkwk.
Sekitar pukul 8 an, Koordinator Riset, Muslich, langsung merapatkan pasukannya untuk memberikan arahan. Dari briefing diputuskan untuk membagi Tim menjadi 3 yaitu; Tim 1 di pimpin Aan melakukan pengamatan kualitas air di Titik 1 dan 2 (kiri sungai), Tim 2 dipimpin Rubi melakukan pengamatan kualitas air di Titik 3 dan 4 (kanan sungai), dan Tim 3 dipimpin Firin melakukan wawancara sosial dan budaya masyarakat di Kampung Pulo Geulis.
4 jam berlalu tak terasa pengamatan Tim 1 selesai. Kamipun menuju "Jembatan Pemuda" berharap Tim yang lain sudah berada di sana. Sesampainya di tempat yang telah disepakati, kami melihat Tim 2 belum selesai mengkur Arus di titik yang lokasinya dibawah kami berdiri. Arus di titik 3 ini memang besar, jadi wajar saja mereka lama, pikirku. Tim 1 pun turun ke sungai untuk membantu Tim 2. "Disini tinggal Bioindikatornya doank, tapi Titik 4 belum. Bantu ya" kata muslih. "Ya udah kita keroyok aja, biar cepet kelar", Aan meng"iya"kan.
Menyingkat waktu, setelah selesai di Titik 3, Kamipun beranjak menuju Titik terakhir. Perjalanan menuju lokasi kami bertemu dengan Tim yang melakukan wawancara. Widi menyarankan untuk singgah dahulu di Vihara yang ada di tengah Kampung. Penasaran, kamipun sepakat untuk menerima tawaran itu.

Vihara yang menyimpan sejarah Kampung Geulis ini bersih terawat. Didalamnya terdapat banyak patung2 khas budaya Cina. Aroma dupa menyengat hidung ketika memasuki ruangan. Di sebelah kiri, ada rak buku yang berisi buku2 tentang budaya seperti ajaran hidup, pengobatan, mantra2 dll. Di belakang ada sebuah makam. Yang tak kalah menariknya, ada sebuah batu besar yang ditutup kain putih. Konon, menurut "kuncen" Vihara, jika ada yang bisa merangkul batu tersebut akan mudah mendapatkan Jodoh (Yang pengen cepet nikah,,, datang aja Bos, siapa tahu beruntung:) hehehe).
Samping kanan ada sebuah patung Macan dan di bawahnya ada patung kura-kura. Masyarakat percaya bahwa Pulo Geulis tidak akan tenggelam karena Patung tersebut menjaga Kampung ini. Kami pun berfoto-foto untuk mengakhiri kunjungan ini.
Dari Vihara kamipun bergerak menuju sungai untuk menuntaskan pekerjaan. Karena "dikeroyok" pengamatan di Titik 5 ini pun berakhir dengan cepat. Piuuuh selesai juga pengamatan di Pulo Geulis ini. Seperti biasa Riset diakhiri dengan evaluasi yang dipandu oleh Koordinator Tim Riset Tjiliwoeng.
Terimakasih teman-teman yang tergabung dalam Tim Riset atas kerjasamanya. Ditempat lain Laskar Karung juga membanjiri sungai Ciliwung. Smoga minggu-minggu mendatang sungai Ciliwung selalu di banjiri oleh orang-orang yang ingin mewujudkan mimpi-mimpi Mbah Tjiliwoeng.
(Tim Riset Tjiliwoeng)
Read more