Bagi orang Bogor, istilah "ngabuburit" mungkin terdengar sangat akrab. Ini adalah istilah dalam bahasa Sunda yang artinya menghabiskan waktu sebelum saatnya berbuka puasa. Ada banyak cara yang dilakukan, ada yang jalan2 sore putar2 kota, ada yang duduk2 santai sambil berbincang ringan, ada yang menghadiri acara pengajian di mesjid2 atau majlis ta'lim, dsb. Begitu akrabnya istilah ini hingga terkadang juga diplesetkan menjadi ... menunggu saat buka puasa sambil minum kopi dan merokok. Plesetan bentuk lain juga ada, walau terasa jadi guyonan hambar seperti "ngabuburit = ngabubur beurit" alias menyantap bubur daging tikus ... hehehe.
Sejak setahun lalu, sekelompok warga Bogor penghobi kegiatan memulung sampah di Ciliwung telah memulai sebuah cara baru mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka. Bukan dengan berbincang2, bukan sambil menikmati makanan kecil, bukan juga mendengar ceramah. Caranya sangat sederhana, yakni dengan melakukan aktivitas memungut sampah2 anorganik (mulung) di Sungai Ciliwung. Bagi yang belum pernah melakukannya pastilah yang terbayang adalah suasana yang sangat tidak nyaman dan menguras tenaga. Namun kenyataannya tentu tidak seburuk yang dibayangkan. Kelompok warga Bogor yang menamakan dirinya sebagai Laskar Karung KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini menganggap bahwa ngabuburit di Ciliwung adalah kegiatan yang asyik.
"Kalau tidak percaya, coba saja dulu," demikian komentar mereka sambil menambahkan sebuah pepatah "ala bisa karena biasa".
Hari Sabtu sore tanggal 14 Agustus 2010 lalu seakan menguatkan komentar para laskar karung tersebut. Sejak pukul 15.30 sudah ada seorang peserta yang hadir. Ia adalah warga Sukasari yang tertarik ingin ikut serta mulung. Ia duduk di atas sebuah batu kali besar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Saya sudah di bawah jembatan Jalak Harupat, di mana mulungnya Mas?" demikian SMS yang ia kirimkan kepada para laskar karung KPC. Beberapa menit kemudian para laskar itu pun berdatangan satu per satu dan bergabung dengannya di bawah Jembatan Jalak Harupat, Sempur.
Spanduk besar bertuliskan "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" segera dibuka lebar sebagai penandaaksi mulung mingguan ini. Beberapa detik kemudian 10 orang sudah aktif memungut sampah anorganik dan memasukkannya dalam karung2 plastik. Semuanya berjalan dengan otomatis. Tidak ada yang mengeluh, semua melakukan kegiatan ini dengan gembira, walau tanpa adanya seteguk air minum atau segigit makanan ringan apa pun karena sedang berpuasa. Menit2 selanjutnya, para laskar karung pun bertambah jumlahnya. Hampir 20 orang yang kemudian sibuk memungut sampah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa saat berbuka sudah semakin dekat. Kondisi alam pun seakan turut memberi tanda agar para laskar karung segera menghentikan kegiatannya. Hujan gerimis mulai mengguyur para laskar karung. Dan akhirnya aksi mulung ini pun berhenti. Waktu tersisa beberapa menit sebelum saat berbuka pun dimanfaatkan untuk berkemas dan mulai mencari makanan dan minuman pembuka.
"Allahuma lakasumtu wa bika aamantu ... dst" pun terucap di hati masing2 laskar karung, saat terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid terdekat di Lebak Kantin dan Sempur. Selesai lah sudah sebuah kegiatan ngabuburit di bawah jembatan. Alhamdulillaah ... it's a lovely ngabuburit time under the bridge ...
Read more
Kalau kata Tukul Arwana, mulung minggu lalu memang "luar biasa dan spektakuler". Betapa tidak, para laskar karung akhirnya bisa menghabiskan tumpukan styrofoam yang mengambang di sudut Ciliwung di daerah Lebak Kantin, Sempur. Dengan hanya bermodalkan kurang dari sepuluh orang laskar, 90% styrofoam langsung terangkat dalam waktu kurang dari 3 jam. Hasil pemulungan juga gila-gilaan. Semuanya berjumlah 36 buah karung plastik.
Sayangnya 10% tumpukan styrofoam sisanya tak mampu dibersihkan dari badan sungai. Alasan resiko keselamatan menghalangi niat utk membersihkannya. Jika melihat situasinya di lapangan, memang hal tersebut termasuk kategori sulit dilakukan. Tumpukan styrofoam yang tersisa berada di bibir tebing batu curam yg basah. Istilahnya ... orang gila aja takut jalan di situ ... hehehe.
Tapi, sebenarnya ada hal lain yg lebih spektakuler bagi para laskar karung KPC. Hal ini tentunya sangat membanggakan. Pemulungan kali ini terasa berbeda karena juga dihadiri oleh para pembesar (baca: pejabat atau pemimpin) dari 2 LSM terkenal di negeri ini. Apalagi kedua organisasi tersebut dikenal luas sebagai organisasi pembela lingkungan. Hmmm ... siapa saja sih mereka?
Mereka2 itu adalah Berry N. Furqan (Direktur Eksekutif Nasional WALHI), Mukri Friatna (Manajer Penguatan Kelembagaan Regional Sumatera), Christian "Bob" Purba (Wakil Presiden Perkumpulan Telapak), dan Rina Agustine (Ketua Badan Teritorial Telapak Jawa Bagian Barat). Saya sendiri, sebagai seorang laskar karung KPC tentu patut berbangga. Ternyata upaya para laskar karung ini didukung penuh oleh petinggi2 LSM lingkungan tingkat nasional.
Para petinggi itu pun tak segan2 mencelupkan tangan2 mereka ke dalam genangan air kotor yang penuh sampah di Ciliwung. Bau ... sudah pasti, capek ... apa lagi. Semua giat dan semua aktif bekerja keras layaknya pemulung sesungguhnya. Kalau anda tidak percaya ... silakan lihat foto2 yang saya abadikan saat mereka beraktivitas dan lelah diantara tumpukan karung di tepi sungai Ciliwung.
Read more
Minggu lalu, para laskar karung KPC disibukkan dengan bejibun sampah anorganik yang terkonsentrasi diantara 2 jembatan gantung yg menghubungkan Kampung Lebak Kantin dengan pemukiman asri Sempur. Dengan personil beberapa gelintir orang, laskar karung telah mengangkat puluhan karung sampah2 tsb. Bentuknya pun bermacam2, bahkan para laskar karung juga berhasil mengangkat sebuah sofa bekas dari permukaan air.
Aksi spektakuler tsb ternyata masih belum mampu membersihkan seluruh sampah di titik itu. Walau sebagian besar anakonda berhasil ditaklukkan, namun styrofoam belum juga habis. Sampah mengambang yang ringan, menghabiskan ruang (voluminus) dan sangat sulit terurai ini masih menguasai titik pemulungan tsb.
Maka ... mau tak mau para laskar karung memang harus kembali menyatroni titik tersebut. Perjuangan tak boleh berhenti. Styrofoam masih berkuasa di sana ....

Read more
Minggu lalu, secara tidak sengaja para laskar karung KPC melintasi kawasan rindang di Jalan Sempur Kaler sepulang aksi mulung. Betapa terkejutnya kami ternyata tumpukan sampah berbentuk anakonda dan sampah styrofoam mengambang masih saja menumpuk di bagian hilir Kampung Lebak Kantin. Lokasinya tepat berada di depan sebuah kantor LSM di Jl. Sempur Kaler.
Saat itu terbayang sebuah rencana ...
Sepertinya para laskar karung KPC masih harus berkutat melawan sampah sungai di seputaran Sempur. Warga yang tidak peduli dan masih saja ada yg buang sampah langsung ke sungai masih jadi tantangan.
Maka ... tak ada salahnya memang jika aksi mulung ke-52 ini dipusatkan di wilayah tepian Jl. Sempur Kaler, di seberang Kampung Lebak Kantin. Berikut pengumumannya mulung hari Sabtu ini (3 April 2010) ...

Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more
Seekor burung raja udang terbang tergopoh2 mendatangiku pagi ini. Hampir saja ia terjungkal saat mendarat di ranting pohon Sempur di depan rumah.
"Kawan, tahu enggak, teman2ku di tepian Ciliwung sedang heboh sekarang!" katanya dengan nafas masih terengah2. Ahh paling2 para burung dan satwa itu heboh karena melihat porak-porandanya tepian Ciliwung karena air bah. Maklum sekarang kan hujan datang bertubi2 di kota ini. Hujan juga mengguyur tempat2 di hulu Ciliwung yang mulai botak tak berpohon. Namun ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Dengan mata berbinar si raja udang melanjutkan,
"Pasti kamu kira ini soal korban air bah yaa? Salah kawan ... teman2ku heboh karena mereka menyaksikan segerombolan orang2 yang memulung sampah di Ciliwung".
Wah wah waaah ... berita baru ini. Kenapa juga orang2 itu memungut sampah di sana. Apa mereka sudah gila? Bukankah Ciliwung sedang banjir? Kalaupun tidak banjir, bukankah sampah di sungai itu sudah biasa? Hampir semua orang di kota ini saja tidak ada yang peduli. Para pemimpin kota ini pun hanya pintar bercuap2 untuk meminta orang peduli padahal dirinya sendiri pun tak mau melakukannya. Kota ini memang menyimpan banyak sekali ahli dan pemikir. Namun rasanya tak ada satu pun yang berusaha mengerahkan kemampuannya untuk membuat bersih sungai.
Kabar sang burung itu jadi wajar. Wajar jika para satwa itu heboh. Heboh karena mereka melihat orang bodoh dan gila di Ciliwung. Sungguh kejadian yang langka. Terlebih hal tsb dilakukan setiap minggu, bahkan saat air Ciliwung sedang tinggi dan beresiko.
Cerita di atas adalah kabar burung. Jadi itu adalah cerita fiksi dan bukan cerita sesungguhnya. Mau tahu cerita sesungguhnya? Mari bergabung bersama Komunitas Peduli Ciliwung hari Sabtu ini .... Aksi mulung ini dilakukan karena seminggu sebelumnya (12 Februari 2010) wilayah itu dilanda air bah.

Read more
posting ini dituliskan oleh Rita MustikasariSetelah beberapa kali absen, baru pagi ini lagi ikutan mulung. Memutus
mata rantai kebiasaan memang tidak mudah. Segala sesuatunya memang
berdasar pada ‘kebiasaan’ yg kemudian membentuk satu ‘pola hidup’.
Kalau udah biasa mulung, rasanya tidak enak kalo absen terus-menerus.
Tapi kalau biasa absen, juga tidak enak untuk kembali memulai lagi
mulung. Ah ini hanya catatan kecil di satu Sabtu pagi, yg berisi
kerinduan untuk melihat bagaimana penggunaan barang publik terjadi di
negeri ini.

Surprise-surprise melihat ada sekelompok manusia yg ‘menempati’ kolong
Jembatan Sempur (Jl Jalak Harupat). Mereka membuat beberapa paku untuk
menggantungkan baju di sepanjang kolong jembatan. Ada sebuah cermin
berbingkai plastik berwarna emas mencolok diantara kekumuhan bebatuan
penyusun dinding kolong. Ada beberapa perempuan muda usia duduk-duduk
di pinggiran sungai. Beberapa laki-laki sudah berumur agak menjauh
dari kerumunan. Mereka bersigap mengawasi kehadiran kami yg asik
memulung sampah plastik. Beberapa pemancing asik masyik di pinggiran
sungai pinggir lapangan sempur, serius menunggui umpannya dimakan
ikan.
Kata Agung, itu kelompok gipsi. Walau aku menyangsikan melihat
tampilan mereka, utamanya 2 atau 3 orang perempuan yg cukup resik. Si
Teh Titi yg memang asli rumahnya di Lebak Kantin memberi informasi
lebih mengejutkan. Biasanya itu orang-orang nakal. Kalau malam tiba,
beberapa perempuan akan keluar ‘herang’ (mengkilap) dari kolong
jembatan itu. Memang lokasi yg murah untuk ‘begituan’. Sering juga
saat transaksi terjadi, digerebek sama Satpol PP. Tapi tetap aja balik
lagi ke situ. Seorang Bapak dari Lebak Kantin juga, yg baru bersiap
turun kali untuk mancing, tidak peduli dengan kehadiran kelompok gipsi
atau juga KPC. Tatap matanya menyelidik dan tidak banyak yg diucapkan.
Sepertinya dia baru pertama kali juga bertemua orang KPC dan sempat
sedikit tersipu sewaktu kita beritahu soal kemenangan kelompok Lebak
Kantin saat lomba mulung Piala Walikota.
Ada lebih daru 15 karung yg berhasil kami kumpulkan hari ini. Beberapa
kali poto narsis, lebih karena menyenangkan hati Jhonski yg sedang
bergiat dengan keahlian potografinya. Dan beberapa diskusi kecil;
ruwatan untuk Ultah KPC tgl 15 Maret, perubahan jenis aktivitas
setelah setahun penuh mulung, Rubi-Aan-Harun dan Anas dari kelompok
MSP, dan tentang Ajun dari Rangkas Bitung yg bantuin Teh Titi.
Mungkin memang benar, aktivitas mulung seperti ini bermanfaat lebih
untuk komunitas KPC saja. Sampah di kolong Jembatan Sempur masih tetap
banyak saja. Orang datang hilir mudik dengan kepentingannya sendiri.
Para pelajar berseragam pramuka melewati jembatan dengan gagahnya. Dan
air Sungai Ciliwung pun tetap coklat mengalir membawa sampah plastik
jauh sampai ke hilir sana. Bagaimana caranya memutus rantai kebiasaan
manusia Indonesia agar tidak membuang sampah ke sungai?
Read more
"Semoga mereka yg buang sampah dengan enteng ke sungai nantinya diterjang sama banjir. Rumah ne keblebeg banjir. Wong dho njukuki sampah nang ngarepane kok dho mbuang sampah seenak e dhewe... as** (sensor-red)..."Itulah status di Facebook saya yang saya buat kemaren setelah mulung yang ke-27 di Lebak Kantin, Sempur. Status itu tak buat sebagai ungkapan rasa kekesalan plus kejengkelan saya ketika mulung disana. Untuk kesekian kali-nya saya melihat beberapa orang tetap saja membuang sampah di sungai ketika kita sedang mulung disana. Dengan enteng dan tanpa rasa berdosa mereka membuang sampah ke sungai.
"Kejadian ini mungkin sudah kesekian kalinya didepan mataku di titik yang sama yaitu jembatan lebak kantin, sempur. Waktu itu pernah kena kepala temanku sampahnya ketika mereka buang sampah dari jembatan itu. Aku bener-bener ngga tahaaannn, mana panas, puasa. Iki wong kok iso yo ora sadar-sadar..." Ungkapku dalam hati dengan penuh esmosi eh salah.. emosi.
Sampai sekarang saya bener-bener bingung, bagaimana sebenarnya pikiran yang ada dikepala mereka tentang sungai dan kebersihan. Sungai hanya sebagai tempat sampah sajakah?? Ketika kita sedang asyik mulungin sampah yang ada disungai tiba-tiba terdengar suara "bluk...". Saya kaget dan menoleh kebelakang. Ternyata ada dua orang perempuan muda yang membuang 2 kantong besar penuh sampah ke sungai dari atas jembatan lebak kantin. Huuuhh... saya hanya mencoba menarik nafas panjang.
Lima menit setelah kejadian itu, ada satu anak laki-laki (umurnya sekitar 10 tahun) membawa kotak sampah yang sudah berisi penuh sampah turun ke sungai. Mulanya ketika sampai ditepian sungai dia hanya berdiri sambil memegang kontak sampahnya memperhatikan kami yang sedang memungut sampah yang ada di sungai. Saya menatap tajam mata anak itu, dia jadi takut dan bengong. Tapi dengan cepat saya sadar, tidak ada alasan saya marah ke anak tersebut. Saya bukan pemilik sungai ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya sosok manusia kecil yang punya mimpi besar. Bermimpi sungai di Indoesia ini bisa bersih. Akhirnya saya mengalihkan pandangan saya kembali ke sampah-sampah yang ada didepan saya dan memungutnya. Seketika itu juga anak tersebut membuang sampahnya ke sungai dan pergi. Huuhhh.. saya menarik nafas dalam untuk kedua kalinya.
Pengalaman kemaren membuat saya seolah-olah menjadi manusia yang paling bener didunia ini. Sudah puasa, ngambilin sampah orang lain, berharap sungai bisa bersih. Pokoknya lengkaplah. Cuma itu yang bisa dilakukan untuk menangkan hati. Mencoba ikut menjadi manusia yang egois seperti mereka.
"Nanti... pas kena banjir, kena musibah... teriak-teriak minta bantuan. Minta pertolongan. Mengaku hidup sengsara, butuh bantuan, butuh perhatian dan menyatakan kita hidup harus tolong-menolong. Tapi kesadaran untuk menjaga lingkungan, menjaga keberadaan sungai ngga ada. Masa bodo dengan lingkungan. Masa bodo dengan sungai. Sungai hanya tempat sampah tok.
Wes kena musibah aja, baru deh mengeluh. Baru deh menyesal. Dasar manusia ngga tahu diri!!!"
Silahkan kalian berkomentar atas kemarahan dan kejengkelanku. Berikut saya lampirkan komentar beberapa teman-teman di Facebook saya:
*Dang Mardan: Maafkanlah mereka krn mereka tidak mengerti.
*Ade Adhitia Prihantoro: Betul..pak cik, mumpung bulan puasa...doain mereka..tapi kasi doa yang baik2 ya bos..
salut buat lo bozzz...
btw, gaya ngomong pak cik kok dah kayak wong jawi...??? jangan ... jangan ... hehehehe
*Herminatun Nikmah: Sabarr....sabarrr kang tarjo....(numpang lewat)
*Sari Nurmawanti: Berbuat baik dan ikhlas emang bnyak godaannya,godaan marah,godaan males..dan godaan2 lainnya yg menodai niat baik..sayang kl kebaikan yg sdh dibuat mas een hilang dan berkurang hnya krn marah..sayang kan?
*Anggit Mime: Pecahkan saja gelasnya biar ramai
*Gladi Hardiyanto: Hus gak usah misuh2,nek banjir sing misuh2 biasane melu kebebleg banjir
Salam,
Een Irawan Putra
Foto diatas dicuplik dari sini
Read more
Sungguh ini bukan sebuah upaya main2. Ini mungkin bisa dikategorikan sebagai upaya yg lumayan serius. Betapa tidak nadzar mulung rutin setiap hari minggu harus dijalankan tanpa reserve, walau suasananya terasa kurang mendukung. Ketahanan mental dan fisik para laskar karung memang sedang diuji.
Pemulungan minggu lalu (23 Agustus 2009) bertepatan dengan hari kedua puasa ramadhan. Tak ayal mental pun terasa menciut. Walau terik matahari tak lagi terasa menyengat di sore itu, namun tubuh rasanya berat untuk melakukan pemulungan sampah. Tenaga rasanya sudah habis dari sejak awal turun ke sungai. Tenggorokan makin kering. Sementara bau sampah busuk masih saja memenuhi oksigen yang berputar di depan hidung para laskar. Saya jadi teringat cerita suasana di gurun pasir. Dimana onta2 pun berjalan lamban di bawah sengatan matahari. Melelahkan ... melelahkan ... dan melelahkan.
Di saat semua orang masih menikmati libur pada hari-hari awal puasa, para laskar karung berjuang mati2an dengan anakonda di Lebak Kantin. Ciliwung memang sebuah tempat yang sangat menantang. Tumpukan sampah seakan tak pernah ada habisnya. Syukurlah para laskar karung yang lelah masih menyimpan semangat membara demi memenuhi janji pada Ciliwung. Tercatat sembilan laskar karung berjibaku dengan tenaga yang tersisa di sore itu. Ada Kapiten Nono, Mas Kikuk, Ruby sang biksu Tong, Indri yang selalu riang, Kang Hendi dan Awey yang bersemangat bak petualang sejati, Hapsoro yang berusaha tampil segar, Andrew sang bule Inggris dari DTE, dan seorang ibu asal Tanah Sareal di sana.
Segala jenis sampah anorganik dipungut untuk kemudian masuk dalam karung2 plastik. Lumayan juga dalam kondisi lemah ini para laskar karung berhasil menangkap beberapa anakonda di sana. Saya tak sempat menghitung berapa jumlah karungnya. Namun, setidaknya mata kami semua melihat ada lebih dari 20 karung yang terkumpul. Saya rasa ini adalah sebuah prestasi.
Memang para warga sekitar tak ada yang turun membantu. Namun, saya sempat melihat seorang ibu yang memasang tulisan di atas kertas pada jembatan gantung di atas kami. Kertas itu bertuliskan "jangan buang sampah ke sungai". Ibu itu menjelaskan pada saya bahwa ia prihatin dengan sikap warga sekitar yang masih saja membuang sampah ke sungai. Memang ketika kami 'mulung' sempat kami menjumpai beberapa warga yang melemparkan kantong2 plasting berisi sampah langsung ke badan sungai.
Akhirnya ketika saat sholat maghrib sudah diambang pintu, para laskar karung memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya. Kami semua beranjak dari sungai dengan perasaan lega. Saat berbuka tinggal sebentar lagi. Mulung hari tersebut telah diselesaikan dengan sukses.
Semoga tiga hari minggu ke depan, para laskar karung KPC masih setia melakukan aktivitasnya. Sekalipun ini dilakukan di bulan puasa. Amiiin ....
gambar onta di atas diunduh dari laman ini, dan gambar animasi kelelahan diunduh dari laman yang ini.
Read more

Bagi kita, tentu gambar di samping ini sudah sangat familiar. Saya yakin hampir semua orang di Indonesia kenal dengan tokoh satu ini. Uniknya di menjadi tokoh bukan karena punya sejarah ketokohan. Dia justru baru saja jadi tokoh. Dulunya dia (bisa dikatakan) bukan siapa2.
Mbah Surip memang top markotop. Terlebih dia punya slogan yang sedikit aneh ... "I love you full". Artinya tentu bisa macam2 tergantung bagaimana kita menafsirkannya. Karena sudah terlambat rasanya jika kita mau tahu arti dan maksud sebenarnya dari kata2 itu. Karena Mbah Surip juga sudah meninggal. Tapi bagi saya, arti slogan Mbah Surip itu adalah ... ungkapan rasa bangga dan senang yang tulus ikhlas dari seorang teman.
Nahh masih dengan bahasan tentang kebanggaan, saya ingin berbagi pada ungkapan serupa dari seorang teman kemarin siang. Uniknya ungkapan tersebut tidak disampaikan secara langsung, padahal kita semua baru saja bertemu dengan dia. Ia hadir saat kita para laskar karung menyelenggarakan acara Penganugerahan Piala Bergilir dan Hadiah bagi juara Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan. Ia berada bersama kita di Lebak Kantin. Ungkapan kebanggaannya justru disampaikan dalam bentuk pesan pendek (SMS) ke handphone saya. Berikut ungkapan teman tersebut: "sukses. cool banget acaranya. tinggal sedikit lagi tuh ke komunitas di pinggir ciliwungnya. hidup malu dan memalukan"
Menilik dari kata2 yang terakhir disebut, siapa lagi kalau bukan teman kita Ahmad Baehaqie. Kalau teman2 KPC tidak kenal siapa dia, tak apa juga. Sebab dia bukanlah siapa2. Dia hanyalah seorang Ketua RT di Kelurahan Tegal Gundil. Sebuah kelurahan di pinggiran Bogor Utara.
Tapi itu pun tidak (terlalu) penting dibahas. Yang paling penting adalah maksud dari isi SMS tersebut. Bagi saya ungkapannya berisi kebanggaan dan rasa senang yang tulus ikhlas dari teman kita. Ia bangga dan senang pada apa yang telah diperbuat oleh para laskar karung yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) ini. Serupa dengan ungkapan "I love you full" dari seorang Mbah Surip.
Hatur nuhun Kang Bae, atas SMSnya. Mudah2an ini bisa memompa semangat laskar karung KPC utk mewujudkan mimpi warga untuk ciliwung bersih. Sehingga harapan Pak Acmad Ru'yat yang wakil walikota Bogor itu juga bisa terwujud. Tak hanya jadi sebuah pernyataan politik seorang petinggi di pemerintahan Kota Bogor. Semoga ...
gambar Mbah Surip diramu dari gambar asli yang saya ambil dari sini
Read more
Ramadhan sudah dekat. Bagi umat Islam tentunya bulan ini adalah bulan penuh berkah. Bulan di mana umat Islam berpuasa di siang hari, bertarawih di malam hari, serta memenuhi harinya untuk beribadah. Itu semua dilakukan dengan tulus ikhlas dan ditujukan pada Sang Kuasa.
Saking tingginya nilai dan makna dari bulan ramadhan, maka segala hal yang menyangkut keutamaan beribadah diberi perhatian khusus. Salah satu perhatiannya adalah mensucikan diri secara fisik dan mental. Tak perlu menanyakan suci itu apa, karena semua orang dengan gampang akan menafsirkannya dengan sesuatu yang bersih. Bersih mental sudah pasti karena setiap umat Islam telah diajarkan untuk membersihkan segala hal yang dapat mengotori amal ibadahnya. Bersih fisik tak hanya pada diri masing2 manusia yang bersangkutan, namun juga pada lingkungan sekitarnya.
Maka tak ada salahnya pula jika setiap umat Islam mengutamakan kebersihan sungai yang mengalir di lingkungannya masing-masing. Tak terkecuali tentunya Sungai Ciliwung. Semua orang tahu, semua juga paham bahwa Ciliwung masih jauh dari istilah bersih. Marii … saudara2ku umat Islam di Bogor … mari kita bersihkan bersama2 Sungai Ciliwung yang membelah Kota Bogor tercinta ini! Dengan semangat ramadhan, mari kita terapkan sebuah hadist rasul yang mengatakan “Kerbersihan adalah sebagian dari iman”. Semoga iman kita semakin bertambah dengan membersihkan lingkungan kita Sungai Ciliwung. Amiiin.
Pada bulan ramadhan ini, karena kondisi fisik yang menurun pada sebagian besar dari umat Islam di Bogor, maka Komunitas Peduli Ciliwung memindahkan jam pemulungan sampah Ciliwung dari pagi hari menjadi sore hari. Waktu mulung sepanjang bulan ramadhan ini dimulai pukul 16.00 (BBWI) hingga menjelang berbuka.
Berikut ini adalah lokasi dan waktu pemulungan di hari Minggu, tanggal 23 Agustus 2009:

Read more