Jarak perjalanan dari Talaga Warna sampai Taman Wisata Matahari (TWM) Cisarua dengan perkiraan kasar sekitar 8,2km (H-1) ditambah 7,6km (H-2) jarak datar. Jarak datar adalah jarak yang dihitung di atas peta. Jarak ini masih belum memperhitungkan jarak yang sebenarnya ditempuh ketika mendaki dan menurun.
Jika berdasarkan catatan GPS Komandan Hari Kikuk, perjalanan hari pertama menempuh jarak sekitar 15,9km dan hari kedua menempuh jarak sekitar 22,2km. Jarak berdasarkan GPS ini sudah termasuk meraba-raba mencari jalan memutar menyusur Tjiliwoeng bila bertemu pagar villa atau tebing, pun sudah termasuk jalur tatkala mabal atau salah jalan.
Ketinggian Talaga Warna adalah sekitar 1448 meter di atas permukaan laut (mdpl). Perjalanan menyusur alur air dari Talaga Warna menurun hingga ketinggian 683mdpl di sebelah utara TWM. Hitungannya, penyusuran sudah menuruni ketinggian 765m jarak tegak. Bayangkan kalau kita menuruni tangga, misalnya satu anak tangga berbeda tinggi 30cm dengan anak tangga di atasnya. Ternyata kita sudah menuruni 2550 anak tangga. Wow.. wajar jika betis dan paha serasa menggumpal karenanya.
Pagar tembok beton, jeruji besi atau kawat berduri mudah ditemukan di sepanjang alur Tjiliwoeng. Pagar yang dibangun oleh pemilik villa atau area privat lainnya, agar tidak dilalui oleh orang lain, bisa sampai ke bibir sungai. Wilayah publik bernama sungai ini nyaris mati aksesnya, sehingga penyusuran di tepian Tjiliwoeng menjadi sulit. Sementara arus sungai yang deras tidak memungkinkan penyusuran yang sederhana ini melewati jalan air. Jalan keluarnya adalah berjalan memutar untuk menemukan alur yang sama di sisi hilirnya, implikasinya jarak bertambah panjang dan makin berkeringat.
Sampah sudah ditemukan bahkan sejak di awal penyusuran (Talaga Warna), dan semakin menghilir ternyata semakin parah. Semakin tingginya tingkat ekonomi ternyata tidak juga menjamin perilaku yang semakin berkelas. Sampah plastik, styrofoam dan sebangsanya sangat banyak ditemukan di bibir sungai di tepi perkampungan, dalam kompleks villa dan area privat lainnya.
Sawah baru bisa ditemui setelah penyusuran tiba di daerah Kampung Ciburial, Tugu Selatan, Cisarua. Persawahan tersusun sebagai teras-teras pada lereng lembah yang cukup curam menghadap ke sungai.
Untuk mencapai sungai melalui persawahan ini, kita harus menuruni lembah sedalam 30 meteran. Persawahan di daerah ini berupa kompleks-kompleks kecil, yang semakin terdesak oleh pemukiman dan area privat lainnya. Lima tahun ke depan, kompleks persawahan mungkin sudah tidak bisa ditemukan di daerah ini.
Pembibitan tanaman berkayu bisa ditemui di Desa Tugu Selatan. Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor mendampingi kelompok tani di desa ini untuk membuat demplot pembibitan tanaman kayu.
Nantinya bibit pohon akan ditanamkan di lahan gundul. Sebuah prakarsa mulia untuk menghijaukan kembali daerah hulu sehingga menghindarkan hilir dari banjir dan longsor. Sayangnya, pembangunan dan alih guna lahan di daerah berhawa segar ini juga tak kalah galaknya.
Monyet di Taman Wisata Alam dan Kawasan Hutan Cagar Alam Telaga Warna betulkah masih liar? Cobalah berdiri diam saja, mereka hanya akan memandangi Anda, tapi coba juga membuka tas dan masukkan tangan ke dalam tas, mereka akan segera mendekat. Mereka menunggu sesuatu yang mungkin akan Anda ulurkan untuk mereka. Makanan. Sedemikian miskinkah di hutan itu dengan makanan,
hingga mereka mencari nafkah dari pengunjung telaga? Kawan saya malah menduga mereka meniru malasnya orang sekarang. Eh tapi, ngomong-ngomong siapa yang duluan malas ya, orang atau monyet?
Ikan Guppy sampai juga ke hulu Tjiliwoeng di ketinggian 1032mdpl. Ikan ini bukan asli Indonesia. Awalnya, ia adalah ikan hias yang didatangkan dari sekitaran Amerika Latin sana (Brazil, Venezuela, dsb) dengan nama ilmiah Poecilia reticulata Guppy. Mungkin karena ikan mungil ini berekor indah dan murah, untuk mengisi akuarium, maka penyebarannya menjadi sangat cepat di Indonesia. Di alam, Ikan Guppy memijah dalam 30 hari dengan anakan bisa sampai 100 ekor.
Beruntung ia bukan jenis ikan galak yang suka makan ikan lainnya, sehingga tidak terlalu menarik perhatian karena menghabisi ikan lokal macam benteur. Di tengah maraknya naturalisasi, ikan ini sudah melakukannya sambil berenang tanpa perlu disibukkan oleh kantor imigrasi.
gambar-gambar:
1. Treking Telaga Warna - Taman Wisata Matahari
2. Bukan jalan umum
3. Sampah buangan villa
4. Persawahan di lereng terjal
5. Demplot pembibitan pohon
6. Monyet Telaga Warna
7. Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Read more
- 11:05 PM
-
gps,
ikan,
monyet,
pagar,
riset,
sampah,
sawah,
susur,
susur sungai,
telaga warna,
Tjiliwoeng,
villa
Sudah lama kita tidak menyambangi Pulo Geulis. Seperti apa kondisi di sana yaa? Apa masih jadi tempat nongkrong para anakonda yaa? Atau sudah jadi bersih karena warganya sudah mulai sadar?
Banyak sekali pertanyaan yg mungkin ada di benak kita. Daripada penasaran, ada baik kita sambangi kembali Pulo Geulis. Ayooo .... serang!!!

Read more
Betul sekali ... musim rambutan masih belum selesai. Kita masih saja menjumpai tumpukan buah rambutan yang dijual di pasar2 dan tepi2 jalan. Artinya, kita masih bisa menikmati kesegaran dan kenikmatan buah itu, asalkan (tentu saja) mau beli.
Kalau buah rambutan masih ada dan bisa dinikmati, gimana dengan kampung rambutan? Masihkah gerombolan laskar karung KPC beraktivitas di sana? Jawabnya tentu saja. Bantaran sungai Ciliwung di Kampung Rambutan, Bogor masih jadi tempat menumpuknya sampah. Tak perlu khawatir tidak menemukan sampah. Sebab minggu lalu para laskar karung masih belum mampu menghabiskan tumpukan sampah di sana. Jika anda turut serta untuk mulung, dijamin anda akan dengan mudah menemukan pakaian robek, kantong plastik (kresek), popok bayi (
diapers) berisi kotoran manusia, bungkus mie instan, bungkus sabun cuci, bungkus produk2 kebutuhan rumah tangga buatan Uni**v*r, dsb dsb.
Maka dari itu mari kita beramai2 turun mulung sampah di Kampung Rambutan. Sungguh, Ciliwung menunggu kerelaan hati dan kepedulian kita semua untuk membersihkannya. Apalagi buat warga Bogor ... rasanya kurang afdol jika kita membiarkan aliran sungai Ciliwung yang pernah kita banggakan ini jadi kotor.

Read more
Jika kita ngomongin soal rambutan, biasanya yang terbayang cuma ada 2. Yang satu adalah nama buah yang saat ini sedang musimnya. Buah segar "juicy", kulitnya berambut, digemari banyak orang, tapi juga dihindari jika sedang batuk. Yang lain, adalah nama sebuah terminal bus antarkota besar di bagian timur Kota Jakarta. Namanya terminal Kampung Rambutan.
Naah ... di Bogor ini, nama rambutan saat ini juga pastinya bisa dikonotasikan serupa dengan kedua hal di atas. Sebab sekarang ini Bogor masih mengalami musim buah rambutan. Dan ... sebuah perkampungan di Kota Bogor dikenal dengan nama Kampung Rambutan (juga). Letaknya berada tepat di bantaran Sungai Ciliwung, di daerah lembah Sempur. Mungkin nama ini dipakai karena dulu tempat ini pernah jadi sebuah perkampungan yang jadi penghasil buah rambutan. Bagaimana sekarang? Sepintas kampung ini adalah sebuah perkampungan padat rumah seperti umumnya perkampungan di bantaran Ciliwung. Rasa2nya jika pun ada pohon rambutan di sini, maka jumlahnya tak cukup banyak sehingga dapat mewakili sebutan nama kampungnya.
Entah apa sebabnya, tapi minggu ini Kampung Rambutan di Bogor jadi spesial bagi para laskar karung KPC. Mungkin bukan karena buah rambutan. Mungkin karena tempat itu menyimpan potensi tumpukan sampah di sungainya. Wajar saja jika KPC mengajak setiap orang untuk hadir melakukan ritual mingguan memungut sampah dari Sungai Ciliwung di kampung ini. Yaa ... siapa tahu upaya ini membatalkan rencana perubahan nama kampung menjadi "kampung sampah sungai"

Read more
posting ini dituliskan oleh Rita MustikasariSetelah beberapa kali absen, baru pagi ini lagi ikutan mulung. Memutus
mata rantai kebiasaan memang tidak mudah. Segala sesuatunya memang
berdasar pada ‘kebiasaan’ yg kemudian membentuk satu ‘pola hidup’.
Kalau udah biasa mulung, rasanya tidak enak kalo absen terus-menerus.
Tapi kalau biasa absen, juga tidak enak untuk kembali memulai lagi
mulung. Ah ini hanya catatan kecil di satu Sabtu pagi, yg berisi
kerinduan untuk melihat bagaimana penggunaan barang publik terjadi di
negeri ini.

Surprise-surprise melihat ada sekelompok manusia yg ‘menempati’ kolong
Jembatan Sempur (Jl Jalak Harupat). Mereka membuat beberapa paku untuk
menggantungkan baju di sepanjang kolong jembatan. Ada sebuah cermin
berbingkai plastik berwarna emas mencolok diantara kekumuhan bebatuan
penyusun dinding kolong. Ada beberapa perempuan muda usia duduk-duduk
di pinggiran sungai. Beberapa laki-laki sudah berumur agak menjauh
dari kerumunan. Mereka bersigap mengawasi kehadiran kami yg asik
memulung sampah plastik. Beberapa pemancing asik masyik di pinggiran
sungai pinggir lapangan sempur, serius menunggui umpannya dimakan
ikan.
Kata Agung, itu kelompok gipsi. Walau aku menyangsikan melihat
tampilan mereka, utamanya 2 atau 3 orang perempuan yg cukup resik. Si
Teh Titi yg memang asli rumahnya di Lebak Kantin memberi informasi
lebih mengejutkan. Biasanya itu orang-orang nakal. Kalau malam tiba,
beberapa perempuan akan keluar ‘herang’ (mengkilap) dari kolong
jembatan itu. Memang lokasi yg murah untuk ‘begituan’. Sering juga
saat transaksi terjadi, digerebek sama Satpol PP. Tapi tetap aja balik
lagi ke situ. Seorang Bapak dari Lebak Kantin juga, yg baru bersiap
turun kali untuk mancing, tidak peduli dengan kehadiran kelompok gipsi
atau juga KPC. Tatap matanya menyelidik dan tidak banyak yg diucapkan.
Sepertinya dia baru pertama kali juga bertemua orang KPC dan sempat
sedikit tersipu sewaktu kita beritahu soal kemenangan kelompok Lebak
Kantin saat lomba mulung Piala Walikota.
Ada lebih daru 15 karung yg berhasil kami kumpulkan hari ini. Beberapa
kali poto narsis, lebih karena menyenangkan hati Jhonski yg sedang
bergiat dengan keahlian potografinya. Dan beberapa diskusi kecil;
ruwatan untuk Ultah KPC tgl 15 Maret, perubahan jenis aktivitas
setelah setahun penuh mulung, Rubi-Aan-Harun dan Anas dari kelompok
MSP, dan tentang Ajun dari Rangkas Bitung yg bantuin Teh Titi.
Mungkin memang benar, aktivitas mulung seperti ini bermanfaat lebih
untuk komunitas KPC saja. Sampah di kolong Jembatan Sempur masih tetap
banyak saja. Orang datang hilir mudik dengan kepentingannya sendiri.
Para pelajar berseragam pramuka melewati jembatan dengan gagahnya. Dan
air Sungai Ciliwung pun tetap coklat mengalir membawa sampah plastik
jauh sampai ke hilir sana. Bagaimana caranya memutus rantai kebiasaan
manusia Indonesia agar tidak membuang sampah ke sungai?
Read more
Ajman, atau Ujman (bahasa Arab) adalah emirat terkecil di Uni Emirat Arab. Ermirat sendiri adalah merupakan wilayah yang diperintah seorang Emir (pangeran, Gubernur, dan semacamnya. Penduduknya diperkirakan 135.000 jiwa dan kebanyakan di Ibu Kota, Kota Ajman. Ajman dipimpin emir Sheikh Humayd Ibn Rashid Al Nuaimi (sumber; Wikipedia). Terkait dengan sampah, di wilayah ini mempunyai kebijakan secara khusus untuk mengaturnya.
Ajman, Padek. Lingkungan bersih adalah keniscayaan. Maka berperilaku ramah lingkungan adalah langkah kecil agar impian itu menjadi nyata.
"Lalu, buat para si keras kepala alias pembangkang, sudah tersedia hukuman denda yang tak kepalang. Besarnya 50 ribu dirham Uni Emirat Arab (UEA) atau 13.612 dolla AS atau setara Rp 13,6 juta."
Nah, peraturan galak seperti inilah yang bakal diterapkan kepada warga di Ajman, salah satu kerajaan bagian dari UEA, pada 1 Juli 2010. Singkat kata berbelanja dengan tas plastic keresek “haram” adanya.
Adalah Sheikh Rashid bin Humaid Al Nuraimi yang menjadi orang nomor satu di Kepala Departemen Kota Praja dan Perencanaan Kerajaan Ajman yang mengemukakan hal itu, sebagaimana Warta Bernama, (21/1)
Sementara itu, Direktur Kesehatan dan Lingkungan Kota Praja Ajman Khalid al Hosani mengatakan dalam suatu kesempatan, tas belanja berbahan dasar kain atau goni menjadi pengganti.
Lalu, para importir tas plastic bakal wajib meneken perjanjian untuk pendaftaran ulang. “Mereka bahkan wajib menulis surat resmi kepada pemerintah untuk izin mengimpor tas belanja plastik. (jpnn)
(Dari Milist AMAN - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)
Read more
ditoelis oleh Itok, si turis Jepang
Jadwal mulung diubah jadi Sabtu.
Powas (baca: puas) kata
Hari mengungkapkan perasaannya saat banyak anggota Laskar Karung bertanya kenapa jadwal diubah. Kita ingin memfasilitasi teman2 semua atas kebutuhannya untuk menjadikan Hari Minggu sebagai hari keluarga. Atau agar teman2 kristiani bisa tidak terganggu dengan jadwal ibadahnya. Walau ada juga teman muslim yg biasa melakukan pengajian di Minggu pagi. Ndak ada cerita. Sabtu terdengar hari yg baik untuk bisa ikutan mulung.
Menjadi penting kenapa kita perlu dukungan dan kehadiran teman2 anggota Laskar Karung. Dalam salah satu diskusi nongkrong saat nunggu truk sampah dari Pemda menjemput karung2 hasil mulung, terungkap soal fungsi ‘starter’. Topiknya seputaran
Box Takakura pembuat kompos dari sampah organik berupa sisa sayuran yg dibuang oleh setiap rumah tangga setiap harinya. Starter yg biasa diberi merk dagang IM4 bisa didapat dengan mudah di Toko TRUBUS. 20 rb sebotolnya. Bisa juga dibuat sendiri. Campuran serbuk gergaji dengan potongan sampah sayuran, ditambah air gula jika perlu, kata
Mas Joem bersemangat. Starter berfungsi mempercepat proses pembusukan sampah organik. Sehingga segera bisa dihasilkan kompos yg kemudian bisa berguna untuk pupuk dan media tanaman.
Itulah bayangan ku tentang starter dan Laskar Karung. Bahwa kita-kita ini, anggota Laskar Karung perlu hadir setiap Sabtu nya pada acara mulung, karena diharapkan menjadi starter buat dunia. Mereka penduduk sekitaran bantaran sungai yg dengan nyantai membuang sampah ke sungai, penduduk kota Bogor yg masing2 kita punya kontribusi langsung atau tidak terhadap Ciliwung, para pejabat pemerintah yg punya otoritas dan amanat rakyat dalam pengelolaan sungai, mereka para pebisnis yg mungkin menggunakan sungai juga sebagai tempat buangan sampah limbahnya (aih teganya!). Kita tidak membuat mereka menjadi cepat busuk, tapi kita menjadi pegiat agar mereka bergerak ke arah hidup yg lebih baik, seimbang dengan alam.
Dan hari ini kita berduka karena salah satu starter itu telah sepenuhnya memfungsikan dirinya menjadi organik. Tapi aku yakin dia telah melahirkan starter-starter baru lainnya. Tinggal kita mengaduknya sehingga menjadikan proses ini berjalan lebih baik. Selamat jalan Bae...
Read more

Hari ini aku tidak berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang (walau ndak siang2 banget juga. Walau tidak pagi juga. hehe). Kedua merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita semua, merasa perlu
privacy dan ketenangan di pagi hari.
Lagi2 sepertinya aku salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human rights.
Orang2 itu juga malu2, larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg an-organik.
Nah justru di situ letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik. Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?
Ah kayaknya cuman elo doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.
pengakuan dari Rita Mustikasari, sang turis jepang.
gambar shin-chan diunduh dari sini.
Read more

Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.
Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.
Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.
Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.
Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.
Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.
Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.
Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.
Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.
Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.
Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?
Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!
Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?
cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
Read more
"Semoga mereka yg buang sampah dengan enteng ke sungai nantinya diterjang sama banjir. Rumah ne keblebeg banjir. Wong dho njukuki sampah nang ngarepane kok dho mbuang sampah seenak e dhewe... as** (sensor-red)..."Itulah status di Facebook saya yang saya buat kemaren setelah mulung yang ke-27 di Lebak Kantin, Sempur. Status itu tak buat sebagai ungkapan rasa kekesalan plus kejengkelan saya ketika mulung disana. Untuk kesekian kali-nya saya melihat beberapa orang tetap saja membuang sampah di sungai ketika kita sedang mulung disana. Dengan enteng dan tanpa rasa berdosa mereka membuang sampah ke sungai.
"Kejadian ini mungkin sudah kesekian kalinya didepan mataku di titik yang sama yaitu jembatan lebak kantin, sempur. Waktu itu pernah kena kepala temanku sampahnya ketika mereka buang sampah dari jembatan itu. Aku bener-bener ngga tahaaannn, mana panas, puasa. Iki wong kok iso yo ora sadar-sadar..." Ungkapku dalam hati dengan penuh esmosi eh salah.. emosi.
Sampai sekarang saya bener-bener bingung, bagaimana sebenarnya pikiran yang ada dikepala mereka tentang sungai dan kebersihan. Sungai hanya sebagai tempat sampah sajakah?? Ketika kita sedang asyik mulungin sampah yang ada disungai tiba-tiba terdengar suara "bluk...". Saya kaget dan menoleh kebelakang. Ternyata ada dua orang perempuan muda yang membuang 2 kantong besar penuh sampah ke sungai dari atas jembatan lebak kantin. Huuuhh... saya hanya mencoba menarik nafas panjang.
Lima menit setelah kejadian itu, ada satu anak laki-laki (umurnya sekitar 10 tahun) membawa kotak sampah yang sudah berisi penuh sampah turun ke sungai. Mulanya ketika sampai ditepian sungai dia hanya berdiri sambil memegang kontak sampahnya memperhatikan kami yang sedang memungut sampah yang ada di sungai. Saya menatap tajam mata anak itu, dia jadi takut dan bengong. Tapi dengan cepat saya sadar, tidak ada alasan saya marah ke anak tersebut. Saya bukan pemilik sungai ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya sosok manusia kecil yang punya mimpi besar. Bermimpi sungai di Indoesia ini bisa bersih. Akhirnya saya mengalihkan pandangan saya kembali ke sampah-sampah yang ada didepan saya dan memungutnya. Seketika itu juga anak tersebut membuang sampahnya ke sungai dan pergi. Huuhhh.. saya menarik nafas dalam untuk kedua kalinya.
Pengalaman kemaren membuat saya seolah-olah menjadi manusia yang paling bener didunia ini. Sudah puasa, ngambilin sampah orang lain, berharap sungai bisa bersih. Pokoknya lengkaplah. Cuma itu yang bisa dilakukan untuk menangkan hati. Mencoba ikut menjadi manusia yang egois seperti mereka.
"Nanti... pas kena banjir, kena musibah... teriak-teriak minta bantuan. Minta pertolongan. Mengaku hidup sengsara, butuh bantuan, butuh perhatian dan menyatakan kita hidup harus tolong-menolong. Tapi kesadaran untuk menjaga lingkungan, menjaga keberadaan sungai ngga ada. Masa bodo dengan lingkungan. Masa bodo dengan sungai. Sungai hanya tempat sampah tok.
Wes kena musibah aja, baru deh mengeluh. Baru deh menyesal. Dasar manusia ngga tahu diri!!!"
Silahkan kalian berkomentar atas kemarahan dan kejengkelanku. Berikut saya lampirkan komentar beberapa teman-teman di Facebook saya:
*Dang Mardan: Maafkanlah mereka krn mereka tidak mengerti.
*Ade Adhitia Prihantoro: Betul..pak cik, mumpung bulan puasa...doain mereka..tapi kasi doa yang baik2 ya bos..
salut buat lo bozzz...
btw, gaya ngomong pak cik kok dah kayak wong jawi...??? jangan ... jangan ... hehehehe
*Herminatun Nikmah: Sabarr....sabarrr kang tarjo....(numpang lewat)
*Sari Nurmawanti: Berbuat baik dan ikhlas emang bnyak godaannya,godaan marah,godaan males..dan godaan2 lainnya yg menodai niat baik..sayang kl kebaikan yg sdh dibuat mas een hilang dan berkurang hnya krn marah..sayang kan?
*Anggit Mime: Pecahkan saja gelasnya biar ramai
*Gladi Hardiyanto: Hus gak usah misuh2,nek banjir sing misuh2 biasane melu kebebleg banjir
Salam,
Een Irawan Putra
Foto diatas dicuplik dari sini
Read more
Masalah klasik dan kesadaran warga
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah

Permasalahan sampah hampir dalam tiga minggu kemarin telah kembali menjadi buah bibir di kalangan warga Bogor. Bagaimana tidak? Akibat pemblokiran jalan masuk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) oleh warga RT 08/05, Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, sejak tanggal 11 hingga 27 Agustus lalu, telah menghambat proses pengangkutan dan pembuangan sampah di wilayah Bogor. Truk-truk pengangkut sampah baik dari kota maupun kabupaten tidak dapat beroperasi secara optimal seperti biasanya. Akibatnya, sampah-sampah pun menumpuk bahkan menggunung di tempat pembuangan sementara (TPS) serta menimbulkan bau tak sedap karena busuk setelah beberapa hari tak diangkut. Di kota Bogor, sampah yang menumpuk di TPS ini meluber hingga ke jalan-jalan utama.
Selain sampah hasil pungutan di darat, pemblokiran ini juga berimbas pada pembuangan sampah hasil “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor” yang diadakan oleh KPC bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor (Minggu, 16/08/09). Sampah Ciliwung sebanyak 815 karung yang berhasil dikumpulkan warga dari setiap kelurahan, sementara waktu ditampung di kantor Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Paledang, kota Bogor, lalu kemudian dibuang bersama sampah lainnya ke TPA Curug Sukabumi dan Bantar Gebang Bekasi.
Setelah 16 hari berlangsung, menginjak tanggal 27 Agustus, pengangkutan sampah ke TPA Galuga pun barulah dapat kembali dilakukan secara normal. Namun, kini justru muncul pertanyaan di kepala saya, benarkah permasalahan ini telah selesai sampai disini? Menurut informasi yang diberitakan Jurnal Bogor (24/08/09), peristiwa ini merupakan kali kedua dalam tiga bulan terakhir ini. Bulan Juli yang lalu dilaporkan aksi serupa pernah terjadi. Lalu bagaimana untuk waktu ke depan nanti? Apakah benar-benar tidak akan terulang lagi…???
Dari kejadian ini, sudah saatnya bahkan menjadi suatu keharusan bagi seluruh warga Bogor untuk mulai menyadari dan memikirkan alternatif pengelolaan sampah yang tepat. Warga harus bisa mengambil pelajaran sebaik-baiknya dari peristiwa ini, karena ternyata kita tak hanya bisa mengandalkan segala sesuatunya pada “pihak tertentu” saja. Semua pihak harus terlibat dan diperlukan peran serta aktif dari seluruh warga untuk mengatasi “masalah klasik” ini. Minimal setiap individu harus berpikir bagaimana cara mengurangi sampah yang dihasilkan diri sendiri. Budaya membuang sampah pada tempatnya pun harus benar-benar kembali ditegakkan. Setidaknya kini kita harus menanamkan pemikiran bahwa “tas dan kantung baju/celana kita adalah tempat sampah pertama kita” jika tak menemukan tempat sampah terdekat. Terakhir, juga perlu diusahakan oleh kita untuk dapat memilah sampah mana yang harus dibuang dan sampah mana yang bisa didaur ulang atau diberdayagunakan kembali (sampah plastik, kertas, dan organik) agar dapat mengurangi beban sampah yang dihasilkan semaksimal mungkin.
Dalam kalimat sederhana kira-kira dapat saya tuliskan sebagai berikut:
“Semua upaya yang dilakukan sekarang merupakan "cara kita" menyediakan tempat terbaik dan aman untuk generasi mendatang”
Reference:
Email teman-teman KPC
Jurnal Bogor
Gambar diunduh dari sini
Read more
Upaya KPCDitulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Sampah sungai merupakan

perhatian utama di kalangan warga Bogor yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Kalau bisa dibilang,
“karena sampah sungai dan “perilaku menyeleweng” dari masyarakat inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan komunitas ini”. Sejak terbentuk bulan Maret 2009 lalu, KPC telah gencar melakukan kampanye sebagai upaya penyadaran masyarakat atas sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung. Setiap hari minggu kegiatan mulung rutin dilakukan untuk mengajak seluruh warga Bogor agar tidak menjadikan sungai Ciliwung sebagai “tempat sampah besar”. Tak hanya itu, kegiatan lainnya dalam rangka memperingati berbagai
event, baik lokal, nasional, bahkan internasional sekalipun, pernah diselenggarakan dan diikuti oleh KPC, mulai dari diskusi, talkshow, kampanye dengan cara “dangdutan”, hingga kegiatan yang “paling anyar” adalah “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor”. Untuk mendukung aksinya, riset terhadap sungai dan masyarakat sekitar sungai pun dilakukan oleh KPC.
11–27 Agustus. Terjadinya “krisis pembuangan sampah” yang memakan waktu selama hampir tiga pekan, kembali mengundang keprihatinan di kalangan para
volunteer KPC. Email yang beredar di kalangan teman-teman KPC-pun fokus membahas permasalahan ini serta berusaha aktif mencari solusi tepat untuk mengatasinya. Ide pengelolaan sampah-pun kembali “muncul ke permukaan” dari salah seorang teman saya. Namun, ajakan yang kini muncul adalah justru untuk memikirkan bersama bagaimana melengkapi dan menyempurnakan ide tersebut? Maksudnya adalah… agar penyelesaian atas “masalah klasik” ini dapat segera dituntaskan!!! Titik!!! Tidak bisa ditunda-tunda lagi!!!
No Comment lagi pokoknya!!!.
Tak hanya memikirkan solusi, berbagai respon dari masyarakat pun kami diskusikan bersama dalam email sebagai bahan masukan, motivasi, serta evaluasi bagi pelaksanaan aksi KPC ke depan. Salah satu respon yang cukup menarik perhatian saya adalah komen salah seorang warga yang dikirimkan ke Facebook teman saya. Menurut email yang dikirimkan teman saya ini, kegiatan kompetisi bersih Ciliwung yang kami (KPC) selenggarakan 16 Agustus lalu mendapat komen sebagai berikut:
"kok sampah yang disungai aja yang diangkut. Itu mah sampah yang ngga keliatan. Sampah di pasar anyar tuh numpuk banget dan bau yang seharusnya diangkut"
Saya kurang begitu paham dengan komen teman kita yang satu ini. Apakah teman kita ini menganggap KPC itu sebagai sekumpulan orang yang hanya bekerja untuk mengambili sampah saja??? Atau bagaimana??? Tapi semua itu bukanlah suatu masalah besar untuk diperdebatkan, kami anggap sebagai kritik membangun yang mungkin kami lupa akan hal itu.
Pertama-tama saya mewakili teman saya yang bersangkutan mengucapkan terimakasih atas komen yang saudara berikan. Dengan adanya komen berupa saran ataupun kritik, berarti setidaknya masih ada warga yang peduli dan terus memantau “tumbuh kembang” Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) untuk jangka waktu hingga ke depan nanti. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, ternyata masalah sampah ini kini bukan hanya menjadi tanggung jawab “pihak tertentu” saja. Bukan hanya Dinas, KPC, ataupun perseorangan saja, tapi semua pihak harus ikut andil dan terlibat dalam mengatasinya. “Lha wong setiap orang itu ngasilin sampah tiap harinya kok! Tul gak?”. Jika hanya membebankan pada “pihak tertentu” saja maka hasilnya akan sama seperti yang pernah kita rasakan bersama baru-baru ini. “Iya toh?”. Buktinya pun sudah bisa dilihat dari komen saudara di atas. Untuk itu, marilah bahu-membahu mengatasi permasalahan ini.
Untuk memperjelas saja, KPC bukan bekerja sebagai pemulung (pengumpul) sampah, tapi lebih bertujuan pada upaya penyadaran masyarakat dan pemberian solusi untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja kami (KPC) tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri saja. Perlu bantuan dan dukungan dari seluruh pihak terutama warga Bogor secara keseluruhan. Seperti halnya yang telah saya tuliskan pada artikel sebelumnya, ”Kami hanyalah sekumpulan orang biasa yang optimis dan berusaha bangkit mewujudkan mimpi-mimpi itu?”. Seoptimis-optimisnya kami, kami tetaplah sekumpulan orang biasa. Tanpa bantuan dan dukungan dari seluruh pihak maka mimpi atas penyelesaian “masalah klasik” ini dapat dipastikan tidak akan pernah terwujud.
Sekian, semoga bisa menjadi bahan renungan bersama…
Gambar diatas diunduh dari sini
Read more
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Lagi musim judul pakai kata “mimpi-mimpian” nih… Bagai tak mau kalah, saya pun ikut mencoba pakai "kata sakti" itu juga...hehe
Mungkin itulah yang terbayang dalam benak Dayang Sumbi ketika menyuruh Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga dalam waktu satu malam dengan cara membendung aliran sungai Citarum. Mungkin pula itulah yang juga dibanyangkan oleh Roro Jonggrang ketika menyuruh Bandung Bondowoso untuk membuatkan seribu candi dan dua buah sumur yang dalam dengan batas waktu hanya satu malam. Keduanya berpikir semua itu hanyalah mimpi belaka, dan yang namanya mimpi, tentu saja hal tersebut sangat mustahil untuk diwujudkan. Kalaupun memang bisa diwujudkan, kemungkinannya sangat… sangat... sangat… keciiiiiiiiiiiillll sekali. Itulah pemikiran sempit yang terlintas dalam kecilnya daya tampung kepala mereka. Nyatanya, dengan kesaktian yang dimiliki, Sangkuriang dan Bandung Bondowoso pun mampu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Nah, semua kejadian tadi memang hanya ada dalam dongeng rakyat saja, lalu pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung)? Mampukah KPC mewujudkan “kemungkinan kecil” dalam mengatasi “masalah klasik” warga Bogor? Dalam perkara sampah tentunya.
Tulisan ini sekedar catatan kecil dari saya sebagai sebuah motivasi pribadi sekaligus respon atas “permasalahan klasik” yang selalu berulang dan berulang lagi…
“…bagai putaran roda, titik itu kembali berada tepat di tempat yang sama berkali-kali…”
Kalau guru saya pernah bilang pada saya, "...hanya "orang bodoh" (maaf sedikit kasar) yang melakukan kesalahan untuk kedua kalinya...". Saya rasa kita bukanlah orang-orang yang termasuk dalam golongan itu. Oleh karena itu, "Mari bersama perbaiki "kesalahan" itu!!!"
Read more
Beberapa waktu lalu saya iseng2 mencoba menyusuri Ciliwung dari Katulampa sampai Pasar Bogor. Sebelumnya saya pernah bermimpi tentang
Tjiliwoeng Tempo Doeloe yang asri, indah, airnya bening, banyak anak kecil yang mandi dan bermain di sungai, serta ibu2 yang asik mencuci pakaian di tepiannya. Penyusuran yang saya lakukan kali ini bukanlah mimpi, namun kenyataan sesungguhnya yang saya temukan. Tujuan saya kala itu hanya satu, ingin tahu darimana asal tumpukan sampah di Ciliwung (Kota Bogor) dan apa penyebab sulitnya memancing ikan di sana.
Berikut hasil temuannya …
Air buangan atau limbah pabrik tekstil Unitex yang dialirkan ke Ciliwung. Konon katanya air limbah ini sudah disaring sedemikian rupa sebelum digelontorkan ke Ciliwung. Air yang dibuang ke Ciliwung (katanya) sudah bersih dan dapat diminum. Namun saya sendiri masih meragukannya. Jangan2 ini adalah cerita bohong belaka. Jika memang ini cerita betul, kenapa direktur pabrik tekstil tersebut atau managernya tidak coba minum air buangan tsb dan tunjukkan itu di depan publik ... berani atau tidak? Jangan2 mereka sendiri tidak berani.
Tempat pembuangan sampah di tepi Ciliwung. Sepertinya warga di sekitar tempat ini begitu gampang membuang sampah secara sembarangan. Tempat ini berbau busuk, lalat2 hijau beterbangan di atasnya, sangat menjijikkan. Kenapa tidak mencoba membuat lubang pembuangan sampah kemudian diurug dengan tanah? Jika itu dilakukan bukan tidak mungkin hasilnya bisa dijadikan pupuk.
Pembuangan sampah langsung di sungai. Tumpukannya lalu diaduk2 oleh kucing, itik dan ayam. Walhasil sampah jadi tercecer di mana-mana. Jika air tinggi Ciliwung meningkat saat musim hujan, saya yakin sampah2 tersebut pasti akan terbawa hingga Jakarta.
Ini memang bukan sampah yang umum. Ternyata bra juga dibuang di Ciliwung ... ckckckckck.
Di bagian lain Ciliwung, pada aliran air yang deras, sepertinya warga bantaran sungai tidak begitu mempedulikan kebersihan air. Seorang anak muda dengan santainya buang hajat di sungai ini. Setelahnya ia lalu melanjutkan ritualnya dengan mencuci muka dengan air Ciliwung dengan sabun pembersih muka. Mungkin maksudnya agar mukanya tidak berjerawat. Namun apa jaminannya? Mengingat air Ciliwung memang sudah kotor dari hulunya. Jangan2 muka anak muda itu justru bisa terkena penyakit kulit ....
Read more
Ada seorang kawan yang sering jadi pemberi inspirasi dalam perjalanan hidup saya beberapa bulan terakhir. Saya tidak tahu nama aslinya, namun panggilan formalnya adalah Hari. Sementara saya memanggilnya dengan sebutan Hari Kikuk. Panggilan yang aneh ini berawal dari sifatnya yang humoris dan ramah pada semua orang. Pada awal perkenalannya dengan saya beberapa tahun lalu, ia sering sekali menyebut dirinya “kikuk-kikuk”, entah kenapa. Semenjak itu saya memanggilnya Hari Kikuk.
Ia sebenarnya hanya orang biasa, bahkan orang kampung. Di kampungnya di Jawa Timur sana, ia ternyata berbisnis sampah bersama seluruh keluarga besarnya. Bisnisnya cukup berhasil karena sudah bisa mempekerjakan puluhan orang di kampung dia, yang rata-rata hidup miskin sebagai tukang becak, buruh, atau pengangguran. Berkat usahanya kini mereka menjalankan sebuah pabrik pengolah sampah plastik untuk selanjutnya dijual ke Surabaya.
Secara kebetulan kemarin, kawan saya ini memberi kabar dengan penuh semangat. Kabarnya (jelas) masih ada hubungannya dengan sampah, bersih-bersih, dan pengelolaannya. Dia dapat kabar itu dari koran Radar Bogor, Edisi Rabu 10 Desember 2008. Berarti ini beritanya masih hangat.
Pak, di Gunung Batu juga ada yang bersih-bersih sampah lho …. Mereka itu hebat
lho Pak!! Itu orang-orang kampung di RW 4 Gunung Batu. Mereka ngolah sampah-sampah dari rumah-rumah mereka. Rumah-rumah mereka itu kan mestinya dekat
dengan aliran Cisadane. Mestinya kalo mau bersihin sampah di sungai, sampeyan
bisa belajar dan (mungkin) kerjasama sama mereka. Ayoo … Pak!!!
Sebagai dewa inspirasi dan penyemangat, bagi saya berita dari Hari Kikuk ini perlu mendapat perhatian khusus. Saya begitu yakin bahwa ia sedang memberikan kabar yang baik. Sebagai seorang anggota Lawalata, saya rasa Hari Kikuk sedang menyemangati saya untuk segera bergiat membersihkan sungai di Bogor. Untuk menambah semangat, berikut saya tampilkan kliping berita tersebut di bawah ini …
Read more
More than 14,000 m3/day of household garbage place the Jakartan under threat. During the period 1999-2002, the fisheries production dropped significantly to 38%. If everything is already polluted… is the judgement day will come soon?
Read more