Ramadhan sudah tiba, sudah saatnya para umat Islam menjalankan kewajibannya untuk berpuasa dan menambah amal ibadahnya. Sebab bulan ini adalah bulan yang penuh berkah.
Bagi para laskar karung, ramadhan adalah bulan dimana kegiatan mulung terasa agak berbeda. Bukan ... kegiatan mulung bukan dihentikan. Sayang rasanya kalau kegiatan mulung ini harus terhenti hanya karena puasa ramadhan. Kondisi fisik memang melemah, tapi tak berarti kita tidak mampu membersihkan Ciliwung. Perut memang lapar dan tenggorokan juga kering. Tapi hal itu semestinya tidak dijadikan alasan untuk menghindar dari tumpukan sampah di Ciliwung. Bedanya ada pada waktu mulungnya. Jika pada hari2 biasa mulung dilakukan pagi hari, maka pada bulan puasa ini mulung dilakukan sore hari, selepas waktu Ashar. Aksi mulung kemudian diakhiri saat menjelang berbuka puasa atau menjelang waktu Maghrib.
Dalam bulan puasa tahun ini, diperkirakan kita akan memiliki sekitar 4 kali aktivitas mulung. Dari hasil urun-rembug sesama laskar karung dan konsultasi dengan Mbah Tjiliwoeng, maka aksi mulung ini akan dipusatkan di 4 titik di Kelurahan Sempur saja. Alasan utamanya karena kemudahan akses menuju lokasi. Berikut adalah lokasi dan tanggal aksi mulung selama bulan puasa tahun ini:
SEMPUR (JEMBATAN JALAK HARUPAT), Sabtu, 14 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK KANTIN), Sabtu, 21 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN KAMPUNG RAMBUTAN), Sabtu, 28 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK PILAR) Sabtu, 4 September 2010
Aksi mulung ini bisa juga dianggap sebagai kegiatan "ngabuburit", sebuah budaya di Bogor untuk menunggu datangnya saat berbuka puasa. Ngabuburit kali ini bukan sambil jalan2 sore dan beli makanan utk buka puasa, tapi ngabuburitnya di Sungai Ciliwung sambil membersihkan sampah2 yang menumpuk di sana.
Jadi ... jangan lupa diingat2 lokasi2 mulung di atas, dan waktunya adalah pukul 15.30 - menjelang buka puasa (Maghrib)!!
Selamat berpuasa ... dan selamat membersihkan Ciliwung, semoga berkah ... amiiin!!!
terima kasih buat Oom Aleco buat editnya, dan buat Oom Ejhon utk sumber fotonya.
Read more
Minggu lalu, secara tidak sengaja para laskar karung KPC melintasi kawasan rindang di Jalan Sempur Kaler sepulang aksi mulung. Betapa terkejutnya kami ternyata tumpukan sampah berbentuk anakonda dan sampah styrofoam mengambang masih saja menumpuk di bagian hilir Kampung Lebak Kantin. Lokasinya tepat berada di depan sebuah kantor LSM di Jl. Sempur Kaler.
Saat itu terbayang sebuah rencana ...
Sepertinya para laskar karung KPC masih harus berkutat melawan sampah sungai di seputaran Sempur. Warga yang tidak peduli dan masih saja ada yg buang sampah langsung ke sungai masih jadi tantangan.
Maka ... tak ada salahnya memang jika aksi mulung ke-52 ini dipusatkan di wilayah tepian Jl. Sempur Kaler, di seberang Kampung Lebak Kantin. Berikut pengumumannya mulung hari Sabtu ini (3 April 2010) ...

Read more
"Mbah Tjiliwoeng ngamuk ... serius ini ... ngamuukk!!" pesan bertubi2 datang di telepon genggam. Belum lagi beberapa temen yang pada ribut di telinga. Kontan aku lompat, beres2 komputer dan langsung meluncur ... lho? Meluncur ke mana? Setelah sedikit mikir, akhirnya ketemu juga jawabannya. Tujuan pertama adalah Saung Tepian Ciliwung di Jl. Sempur Kaler Kav 111. Mudah2an sekretariat KPC ini gak cilaka. Begitu nyampe ... alhamdulillah ternyata masih aman2 aja sekretariat kita.
Ehh tapi gimana kabar lokasi2 mulung KPC yaa?
Akhirnya dengan ditemani Kapiten de Kikuk, Biksu Tong dan 2 kru Kotahujan.com aku pun mulai menelusuri bantaran Ciliwung ke hilir. Soale ngeri juga karena sepanjang Lebak Kantin air Ciliwung seperti gelombang besar, tinggi sekali hampir ke jalan, dan bergemuruh hebat.
Berikut hasil laporan pandangan mata tim buser air bah KPC:
- Kampung Rambutan: kondisi Ciliwung mirip dengan Lebak Kantin. Airnya ngeriiii ....
- Lebak Pilar, Bantarjati Bawah, Bendungan Cibagoloh: wiiih tambah ngeri airnya. Lampu mati, warga pada keluar rumah. Satu rumah di tepi Ciliwung hancur, rata dengan tanah. Kolam2 pancing pada bubar semua diterjang air bah.
- Pabaton: air bah sempat memenuhi jembatan Pabaton dan membawa sampah anakonda dsb serta lumpur. Akhirnya sebuah gudang toko bangunan juga hancur. Lumpur memenuhi lembah itu.
- Pasar Warung Jambu: paraaaahhh ... pelataran parkir di belakang Mal Jambu Dua dipenuhi lumpur, apalagi daerah pasar di seberang jembatan. Pedagang2 di pasar pada ngamuk akibat permintaan mereka ke Pemkot utk bangun tembok penghalang banjir gak dipenuhi. Walhasil pasar jadi seperti sawah yang penuh lumpur.
- Kedung Halang - Perumahan Graha Indah: saluran air di tepi jalan jebol diterjang air bah. Jalanan di tepi Ciliwung dipenuhi lumpur setebal 20 cm. Rumah2 warga di tepi jalan juga terkena lumpur. Eduuun!!!
- Kedung Halang - Pangkalan 1: parah bangeet. Jalanan dipenuhi lumpur tebal. Sebuah rumah di tepi sungai hancur. Intake PDAM Kabupaten Bogor jadi ikut rusak diterjang air bah.
- Kedung Halang - Pangkalan 2: ampuuun banget parahnya!!! Enam rumah hancur. Tembok SDN Kedung Halang V roboh. Halaman SD dipenuhi lumpur. Air terjun kecil di lokasi mulung KPC telah hilang. Air sungai rata bergelombang dan mengalir deras ke hilir.
Gile bener emang. Tapi mau bilang apa lha wong ini bencana. Walau bencana ini pastinya disebabkan karena ulah manusia2 juga di wilayah hulu dan sepanjang bantaran sungai. Hulu sungai sudah banyak berubah fungsi. Daerah tangkapan air berubah jadi villa dan kebun teh. Sementara tepi sungai di Bogor sendiri juga pada berubah jadi real estate. .... hhhh (geram) manusia2 lain akhirnya harus menanggung akibatnya.
????Lipoetan Berita:
Read more
Betul sekali ... musim rambutan masih belum selesai. Kita masih saja menjumpai tumpukan buah rambutan yang dijual di pasar2 dan tepi2 jalan. Artinya, kita masih bisa menikmati kesegaran dan kenikmatan buah itu, asalkan (tentu saja) mau beli.
Kalau buah rambutan masih ada dan bisa dinikmati, gimana dengan kampung rambutan? Masihkah gerombolan laskar karung KPC beraktivitas di sana? Jawabnya tentu saja. Bantaran sungai Ciliwung di Kampung Rambutan, Bogor masih jadi tempat menumpuknya sampah. Tak perlu khawatir tidak menemukan sampah. Sebab minggu lalu para laskar karung masih belum mampu menghabiskan tumpukan sampah di sana. Jika anda turut serta untuk mulung, dijamin anda akan dengan mudah menemukan pakaian robek, kantong plastik (kresek), popok bayi (
diapers) berisi kotoran manusia, bungkus mie instan, bungkus sabun cuci, bungkus produk2 kebutuhan rumah tangga buatan Uni**v*r, dsb dsb.
Maka dari itu mari kita beramai2 turun mulung sampah di Kampung Rambutan. Sungguh, Ciliwung menunggu kerelaan hati dan kepedulian kita semua untuk membersihkannya. Apalagi buat warga Bogor ... rasanya kurang afdol jika kita membiarkan aliran sungai Ciliwung yang pernah kita banggakan ini jadi kotor.

Read more
Jika kita ngomongin soal rambutan, biasanya yang terbayang cuma ada 2. Yang satu adalah nama buah yang saat ini sedang musimnya. Buah segar "juicy", kulitnya berambut, digemari banyak orang, tapi juga dihindari jika sedang batuk. Yang lain, adalah nama sebuah terminal bus antarkota besar di bagian timur Kota Jakarta. Namanya terminal Kampung Rambutan.
Naah ... di Bogor ini, nama rambutan saat ini juga pastinya bisa dikonotasikan serupa dengan kedua hal di atas. Sebab sekarang ini Bogor masih mengalami musim buah rambutan. Dan ... sebuah perkampungan di Kota Bogor dikenal dengan nama Kampung Rambutan (juga). Letaknya berada tepat di bantaran Sungai Ciliwung, di daerah lembah Sempur. Mungkin nama ini dipakai karena dulu tempat ini pernah jadi sebuah perkampungan yang jadi penghasil buah rambutan. Bagaimana sekarang? Sepintas kampung ini adalah sebuah perkampungan padat rumah seperti umumnya perkampungan di bantaran Ciliwung. Rasa2nya jika pun ada pohon rambutan di sini, maka jumlahnya tak cukup banyak sehingga dapat mewakili sebutan nama kampungnya.
Entah apa sebabnya, tapi minggu ini Kampung Rambutan di Bogor jadi spesial bagi para laskar karung KPC. Mungkin bukan karena buah rambutan. Mungkin karena tempat itu menyimpan potensi tumpukan sampah di sungainya. Wajar saja jika KPC mengajak setiap orang untuk hadir melakukan ritual mingguan memungut sampah dari Sungai Ciliwung di kampung ini. Yaa ... siapa tahu upaya ini membatalkan rencana perubahan nama kampung menjadi "kampung sampah sungai"

Read more
Ditemui di kegiatan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) di daerah perumahan Katulampa Bogor Sabtu 14 November 2009, Cindy yang juga merupakan anggota RECIPALA (Pecinta Alam Regina Pacis) menyatakan siap untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya banyak mamfaat yang diperolehnya dengan aktivitas seperti yang dia lakukan saat itu, yaitu memungut sampah non-organik dari sungai.Dengan memungut sampah dirinya terlatih untuk tidak merasa jijik lagi. Cindy sebagai generasi muda mengajak generasi muda yang lain untuk turut menjaga lingkungan, terutama sumberdaya air.
Menurut Hendi, salah satu pembina RECIPLA yang ditemui sedang melakukan pendampingan
setelah ulangan umum pada bulan Desember mendatang, SMA Regina Pacis Bogor akan kembali turun ke sungai Ciliwung untuk membersihkan sungai. Menurutnya lagi, kegiatan ini tentunya akan dilakukan setelah mendapat restu dari kepala sekolah.
Read more

Selain Yus Rusila Noor menceritakan tentang gambut, Obrolan Kamis Sore, 10 September 2009 lalu, diisi oleh Hapsoro dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Ia menceritakan tentang kondisi Sungai Ciliwung di Bogor, dengan tagline
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak” sebagai motto kegiatannya.
Kegiatan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah inisiatif dari warga Bogor untuk Kota Bogor. Inisiatif ini berawal dari mimpi-mimpi Hapsoro dan beberapa temannya. Ia bermimpi bisa memancing dengan enak di Sungai Ciliwung dan anaknya sibuk bermain air di situ. Padahal Ciliwung kini tidak hanya terancam oleh sampah, tapi juga oleh banyaknya pembangunan yang dilakukan di badan sungainya. Walaupun logat Jawa Hapsoro masih kental, KTP Bogornya seakan menyentil dirinya. Dia tidak ingin tinggal di Bogor hanya untuk makan dan buang hajat saja.
Setelah mulai menelusuri dan memetakan titik-titik pembuangan sampah di tepi dan badan Sungai Ciliwung, akhirnya sejak Februari 2009, ia mengajak teman-temannya melakukan bersih Ciliwung, terutama untuk sampah anorganik. Bagi pria berkulit gelap ini, saat ini diperlukan tindakan aksi dalam menyelamatkan Ciliwung.
“Kami adalah segelintir orang yang mau bertindak, dengan memberikan contoh langsung.”
Sejak mulung perdana tanggal 15 Maret 2009 dan diikuti oleh 80 orang, kegiatan ini berlangsung teratur setiap minggu walau pesertanya selalu menurun. Hapsoro menafsirkan bahwa orang Indonesia masih senang melakukan kegiatan berdasarkan momentum hari-hari besar lingkungan. Aksi mulung sampah ini bersifat voluntary, tidak ada paksaan. Makan dan minum pun membawa dari rumah masing-masing. Bahkan, Hapsoro juga menyediakan kotak sumbangan untuk membeli karung yang diedarkan ke peserta mulung.
KPC juga melakukan kegiatan lainnya, seperti pendidikan lingkungan hidup untuk SD di Kp. Rambutan; penelitian tentang kualitas air, herpeto fauna, biota air dan sosial ekonomi; pemutaran film layar tancap (tentang sampah Ciliwung) dan road show ke kampung-kampung; Orkes melayu gerobak dorong, untuk menghubur masyarakat yang tinggal di pinggir sungai; penyebar luasan info melalui radio; dan bahkan penyelenggaraan Lomba Mulung Sampah yang diikuti oleh 10 kelurahan di Kota Bogor dalam rangka perayaan 17 Agustus 2009 lalu.
Untuk kegiatan ini KPC mendapat bantuan dari Dinas Kebersihan kota Bogor dalam pembuangan sampahnya. Saat ini sampah buangan masih dibuang ke TPA Galuga. Di saat-saat awal KPC masih melakukan pemilahan sampahnya, tapi kini kegiatan tersebut sulit dilakukan mengingat diperlukan waktu dan tempat penampungan yang tidak sedikit. KPC masih mencari pihak yang mau menangani pemilahan sampah ini.
Hapsoro juga mengakui bahwa saat ini masih sulit untuk merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Karenanya dengan melakukan pemulungan secara intensif, diharapkan masyarakat bisa berpartisipasi dan malu bila masih membuang sampah ke sungai. Mereka tidak perlu dimarahi bila masih membuang sampah, tetapi perlu pendekatan bagaimana membuat mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai. Juga melakukan pendekatan kepada warga yang memiliki kepentingan dalam menjaga sungai, misalnya pemilik keramba ikan, mereka secara teratur tiap hari membersihkan sampah yang menyangkut di kerambanya.
Setiap hari Sabtu pula, pria pengendara sepeda onthel ini rajin mengirimkan SMS mengajak teman-temannya untuk melakukan mulung sampah di Ciliwung pada hari Minggu. Ketersediaan dana masih merupakan kendala, dan masih belum bisa optimal untuk melakukan komunikasi dan mengajak lebih banyak lagi orang yang peduli. Jika Anda tertarik untuk bergabung membersihkan Sungai Ciliwung, silahkan klik: www.tjiliwoeng.co.cc laman ini memuat semua perkembangan tentang Komunitas Peduli Ciliwung. [irma dana - irma.dana@gmail.com-]
Read more
Masalah klasik dan kesadaran warga
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah

Permasalahan sampah hampir dalam tiga minggu kemarin telah kembali menjadi buah bibir di kalangan warga Bogor. Bagaimana tidak? Akibat pemblokiran jalan masuk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) oleh warga RT 08/05, Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, sejak tanggal 11 hingga 27 Agustus lalu, telah menghambat proses pengangkutan dan pembuangan sampah di wilayah Bogor. Truk-truk pengangkut sampah baik dari kota maupun kabupaten tidak dapat beroperasi secara optimal seperti biasanya. Akibatnya, sampah-sampah pun menumpuk bahkan menggunung di tempat pembuangan sementara (TPS) serta menimbulkan bau tak sedap karena busuk setelah beberapa hari tak diangkut. Di kota Bogor, sampah yang menumpuk di TPS ini meluber hingga ke jalan-jalan utama.
Selain sampah hasil pungutan di darat, pemblokiran ini juga berimbas pada pembuangan sampah hasil “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor” yang diadakan oleh KPC bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor (Minggu, 16/08/09). Sampah Ciliwung sebanyak 815 karung yang berhasil dikumpulkan warga dari setiap kelurahan, sementara waktu ditampung di kantor Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Paledang, kota Bogor, lalu kemudian dibuang bersama sampah lainnya ke TPA Curug Sukabumi dan Bantar Gebang Bekasi.
Setelah 16 hari berlangsung, menginjak tanggal 27 Agustus, pengangkutan sampah ke TPA Galuga pun barulah dapat kembali dilakukan secara normal. Namun, kini justru muncul pertanyaan di kepala saya, benarkah permasalahan ini telah selesai sampai disini? Menurut informasi yang diberitakan Jurnal Bogor (24/08/09), peristiwa ini merupakan kali kedua dalam tiga bulan terakhir ini. Bulan Juli yang lalu dilaporkan aksi serupa pernah terjadi. Lalu bagaimana untuk waktu ke depan nanti? Apakah benar-benar tidak akan terulang lagi…???
Dari kejadian ini, sudah saatnya bahkan menjadi suatu keharusan bagi seluruh warga Bogor untuk mulai menyadari dan memikirkan alternatif pengelolaan sampah yang tepat. Warga harus bisa mengambil pelajaran sebaik-baiknya dari peristiwa ini, karena ternyata kita tak hanya bisa mengandalkan segala sesuatunya pada “pihak tertentu” saja. Semua pihak harus terlibat dan diperlukan peran serta aktif dari seluruh warga untuk mengatasi “masalah klasik” ini. Minimal setiap individu harus berpikir bagaimana cara mengurangi sampah yang dihasilkan diri sendiri. Budaya membuang sampah pada tempatnya pun harus benar-benar kembali ditegakkan. Setidaknya kini kita harus menanamkan pemikiran bahwa “tas dan kantung baju/celana kita adalah tempat sampah pertama kita” jika tak menemukan tempat sampah terdekat. Terakhir, juga perlu diusahakan oleh kita untuk dapat memilah sampah mana yang harus dibuang dan sampah mana yang bisa didaur ulang atau diberdayagunakan kembali (sampah plastik, kertas, dan organik) agar dapat mengurangi beban sampah yang dihasilkan semaksimal mungkin.
Dalam kalimat sederhana kira-kira dapat saya tuliskan sebagai berikut:
“Semua upaya yang dilakukan sekarang merupakan "cara kita" menyediakan tempat terbaik dan aman untuk generasi mendatang”
Reference:
Email teman-teman KPC
Jurnal Bogor
Gambar diunduh dari sini
Read more
Upaya KPCDitulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Sampah sungai merupakan

perhatian utama di kalangan warga Bogor yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Kalau bisa dibilang,
“karena sampah sungai dan “perilaku menyeleweng” dari masyarakat inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan komunitas ini”. Sejak terbentuk bulan Maret 2009 lalu, KPC telah gencar melakukan kampanye sebagai upaya penyadaran masyarakat atas sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung. Setiap hari minggu kegiatan mulung rutin dilakukan untuk mengajak seluruh warga Bogor agar tidak menjadikan sungai Ciliwung sebagai “tempat sampah besar”. Tak hanya itu, kegiatan lainnya dalam rangka memperingati berbagai
event, baik lokal, nasional, bahkan internasional sekalipun, pernah diselenggarakan dan diikuti oleh KPC, mulai dari diskusi, talkshow, kampanye dengan cara “dangdutan”, hingga kegiatan yang “paling anyar” adalah “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor”. Untuk mendukung aksinya, riset terhadap sungai dan masyarakat sekitar sungai pun dilakukan oleh KPC.
11–27 Agustus. Terjadinya “krisis pembuangan sampah” yang memakan waktu selama hampir tiga pekan, kembali mengundang keprihatinan di kalangan para
volunteer KPC. Email yang beredar di kalangan teman-teman KPC-pun fokus membahas permasalahan ini serta berusaha aktif mencari solusi tepat untuk mengatasinya. Ide pengelolaan sampah-pun kembali “muncul ke permukaan” dari salah seorang teman saya. Namun, ajakan yang kini muncul adalah justru untuk memikirkan bersama bagaimana melengkapi dan menyempurnakan ide tersebut? Maksudnya adalah… agar penyelesaian atas “masalah klasik” ini dapat segera dituntaskan!!! Titik!!! Tidak bisa ditunda-tunda lagi!!!
No Comment lagi pokoknya!!!.
Tak hanya memikirkan solusi, berbagai respon dari masyarakat pun kami diskusikan bersama dalam email sebagai bahan masukan, motivasi, serta evaluasi bagi pelaksanaan aksi KPC ke depan. Salah satu respon yang cukup menarik perhatian saya adalah komen salah seorang warga yang dikirimkan ke Facebook teman saya. Menurut email yang dikirimkan teman saya ini, kegiatan kompetisi bersih Ciliwung yang kami (KPC) selenggarakan 16 Agustus lalu mendapat komen sebagai berikut:
"kok sampah yang disungai aja yang diangkut. Itu mah sampah yang ngga keliatan. Sampah di pasar anyar tuh numpuk banget dan bau yang seharusnya diangkut"
Saya kurang begitu paham dengan komen teman kita yang satu ini. Apakah teman kita ini menganggap KPC itu sebagai sekumpulan orang yang hanya bekerja untuk mengambili sampah saja??? Atau bagaimana??? Tapi semua itu bukanlah suatu masalah besar untuk diperdebatkan, kami anggap sebagai kritik membangun yang mungkin kami lupa akan hal itu.
Pertama-tama saya mewakili teman saya yang bersangkutan mengucapkan terimakasih atas komen yang saudara berikan. Dengan adanya komen berupa saran ataupun kritik, berarti setidaknya masih ada warga yang peduli dan terus memantau “tumbuh kembang” Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) untuk jangka waktu hingga ke depan nanti. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, ternyata masalah sampah ini kini bukan hanya menjadi tanggung jawab “pihak tertentu” saja. Bukan hanya Dinas, KPC, ataupun perseorangan saja, tapi semua pihak harus ikut andil dan terlibat dalam mengatasinya. “Lha wong setiap orang itu ngasilin sampah tiap harinya kok! Tul gak?”. Jika hanya membebankan pada “pihak tertentu” saja maka hasilnya akan sama seperti yang pernah kita rasakan bersama baru-baru ini. “Iya toh?”. Buktinya pun sudah bisa dilihat dari komen saudara di atas. Untuk itu, marilah bahu-membahu mengatasi permasalahan ini.
Untuk memperjelas saja, KPC bukan bekerja sebagai pemulung (pengumpul) sampah, tapi lebih bertujuan pada upaya penyadaran masyarakat dan pemberian solusi untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja kami (KPC) tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri saja. Perlu bantuan dan dukungan dari seluruh pihak terutama warga Bogor secara keseluruhan. Seperti halnya yang telah saya tuliskan pada artikel sebelumnya, ”Kami hanyalah sekumpulan orang biasa yang optimis dan berusaha bangkit mewujudkan mimpi-mimpi itu?”. Seoptimis-optimisnya kami, kami tetaplah sekumpulan orang biasa. Tanpa bantuan dan dukungan dari seluruh pihak maka mimpi atas penyelesaian “masalah klasik” ini dapat dipastikan tidak akan pernah terwujud.
Sekian, semoga bisa menjadi bahan renungan bersama…
Gambar diatas diunduh dari sini
Read more
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Lagi musim judul pakai kata “mimpi-mimpian” nih… Bagai tak mau kalah, saya pun ikut mencoba pakai "kata sakti" itu juga...hehe
Mungkin itulah yang terbayang dalam benak Dayang Sumbi ketika menyuruh Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga dalam waktu satu malam dengan cara membendung aliran sungai Citarum. Mungkin pula itulah yang juga dibanyangkan oleh Roro Jonggrang ketika menyuruh Bandung Bondowoso untuk membuatkan seribu candi dan dua buah sumur yang dalam dengan batas waktu hanya satu malam. Keduanya berpikir semua itu hanyalah mimpi belaka, dan yang namanya mimpi, tentu saja hal tersebut sangat mustahil untuk diwujudkan. Kalaupun memang bisa diwujudkan, kemungkinannya sangat… sangat... sangat… keciiiiiiiiiiiillll sekali. Itulah pemikiran sempit yang terlintas dalam kecilnya daya tampung kepala mereka. Nyatanya, dengan kesaktian yang dimiliki, Sangkuriang dan Bandung Bondowoso pun mampu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Nah, semua kejadian tadi memang hanya ada dalam dongeng rakyat saja, lalu pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung)? Mampukah KPC mewujudkan “kemungkinan kecil” dalam mengatasi “masalah klasik” warga Bogor? Dalam perkara sampah tentunya.
Tulisan ini sekedar catatan kecil dari saya sebagai sebuah motivasi pribadi sekaligus respon atas “permasalahan klasik” yang selalu berulang dan berulang lagi…
“…bagai putaran roda, titik itu kembali berada tepat di tempat yang sama berkali-kali…”
Kalau guru saya pernah bilang pada saya, "...hanya "orang bodoh" (maaf sedikit kasar) yang melakukan kesalahan untuk kedua kalinya...". Saya rasa kita bukanlah orang-orang yang termasuk dalam golongan itu. Oleh karena itu, "Mari bersama perbaiki "kesalahan" itu!!!"
Read more
Berita Radar Bogor 23-08-2009
Sempur Juarai Kompetisi Ciliwung BersihBOGOR - Setelah menyelenggarakan kompetisi Ciliwung Bersih antarkelurahan se-Kota Bogor pada 16 Agustus lalu, Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyerahkan trofi juara kompetisi Ciliwung Bersih di tepi Sungai Ciliwung RW 06, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Jumat(21/8).
Kelurahan Sempur tercatat sebagai pengumpul sampah Sungai Ciliwung terbanyak dan menjadi juara umum dalam kompetisi tersebut. “Saya bangga dengan kekompakan dan kepedulian warga akan kebersihan Ciliwung,” kata Lurah Sempur Yeti Sumiati. Juara dua dinobatkan kepada Kelurahan Kedungbadak, sedangkan juara ketiga diraih Kelurahan Kedunghalang.
Pada kesempatan tersebut, hadir Wakil Walikota Bogor Achmad Ru’yat untuk menyerahkan piala bergilir yang disediakan Walikota Bogor Diani Budiarto kepada wakil dari Kelurahan Sempur. Kehadiran Ahmad Ru’yat dalam acara tersebut merupakan perwujudan niat baik Pemkot Bogor dalam mendukung kepedulian warga menjaga kebersihan Sungai Ciliwung.
“Saya senang dan bangga pada warga Kota Bogor yang aware terhadap lingkungannya,” ujar Ru’yat. Ru’yat juga berharap acara tersebut (Kompetisi Ciliwung Bersih, red) dapat menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Kota Bogor untuk terus menjaga lingkungan sekitarnya.
Saat ini, kondisi Sungai Ciliwung semakin tercemar akibat tindakan masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Tak ayal, kondisi tersebut kerap memicu terjadinya banjir dan menjadi sumber berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, KPC sebagai penyelenggara kompetisi Ciliwung Bersih berharap kompetisi tersebut dapat menjadi titik awal terciptanya kepedulian warga terhadap sungai-sungai yang melintasi Kota Bogor.
Melihat tingginya animo masyarakat yang berpartisipasi dalam lomba, KPC berencana untuk menjadikan acara kompetisi Ciliwung Bersih sebagai agenda tahunan demi terciptanya Sungai Ciliwung yang bersih. “Kami berharap kompetisi ini dapat menjadi even tahunan di Kota Bogor. Bila kegiatan ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin sungai bersih di Bogor tak lagi sekadar mimpi,” jelas Koordinator Acara Kompetisi Ciliwung Bersih Een Irawan Putra.(pkl28)
(Redaksi)
Sumber=
http://radar-bogor.co.id/?ar_id=MzU5NjQ=&click=MjE=
Read more

Melepas lelah dengan berolahraga adalah suatu panduan gaya hidup sehat yang baik...(katanya melepas stress)...
Pada kota Bogor berolahraga merupakan salah satu kebutuhan sekunder yang diperlukan..lumayan untuk melepas ketegangan dengan ber-olahraga..
Setelah menegangkan otot-otot yang telah kaku dan keras, dan meringankan beban pekerjaan dan olahraga yang telah rutin dan terjadwal, tidak akan sempurna bila tidak ditambah dengan relaksasi. Relaksasi adalah penurunan kadar ketegangan yang telah di-push sedemikian rupa hingga tegang. Releksasi diperlukan guna menyiapkan kondisi fisik dan psikis untuk kegiatan selanjutnya.
Komunitas yang setiap minggunya mempunyai kegiatan "olahraga" dengan memulung sampah di sungai Ciliwung yang merupakan salah satu sungai kebanggaan kota Bogor (KPC/ Komunitas Peduli Ciliwung). Menggelar dankdutaan di 5 lokasi (maunya seeh 7 kalee, tapi hari ke-enam dan ke-tujuh, hujan deres banget..gagal deeh) selama tujuh malam pada daerah sepadan sungai Ciliwung di daerah kota Bogor. Untuk menghibur (relaksasi treatment) para sukarelawan pemulung sungai ciliwung lainnya serta dalam upaya mengenalkan diri & mengajak keterlibatan/ peran serta masyarakat untuk mendukung kegiatan KPC.
Orkes Melayu Gerobak Dorong..atau "Om Gondrong" sengaja didatangkan dari daerah Ciheuleut..untuk menghibur masyarakat sepanjang sepadan Ciliwung wilayah kota Bogor.
Kegiatan ini juga dalam rangka menyambut ulang tahun Bogor yang ke 527 yang jatuh pada tanggal 4 Juni 2009 dan hari lingkungan hidup. hampir setiap malam selama seminggu bersama dinas Cipta karya dan tata ruang kota Bogor turut serta mendukung kegiatan ini.
Tujuan besar KPC adalah mengajak bersama-sama seluruh masyarakat untuk bersama merawat dan menjaga sungai Ciliwung dari ancaman kerusakan sungai menjadi semakin parah di kemudian hari..dengan kegiatan pemulungan sampah setiap minggu-nya dengan lokasi yang telah ditetapkan bersama terlebih dahulu.
Upaya untuk mendorong, dan mengajak bersama masyarakat sekitar sungai ciliwung untuk turut serta membersihkan lingkungan nya dan mengajak mereka turut serta untuk membersihkan sungai Ciliwung perlu di tempuh dengan cara-cara yang mereka sukai dan merasa dekat....goyang mang...
Read more
- 11:21 AM
-
bogor 527,
dangdut,
Komunitas peduli ciliwung,
KPC,
lokasi,
masyarakat,
olahraga,
Om Gondrong,
pemulung,
sekunder,
stress

Warga Sukamulya tercengang dengan kehadiran KPC bersama "om gondrong" (orkes melayu gerobak dorong) nya..dengan tema "Tjiliwoeng Bergoyang" pada Rabu, 9 Juni 2009, yang sangat mendadak
..Sungguh Antusias...

"Kami sangat berterima kasih atas hiburan dankdut, yang di gelar..kalau bisa sering-sering diadakan disini, kecuali kamis malam, warga kami banyak yang khusyuk ibadah di malam jumat itu. jadi jangan bikin acara di malam jumat yaa" ucap pak Jejen yang merupakan RW lingkungan setempat..
Kang Ruby yang merupakan koordinator acara dan lapangan pada hari itu menjelaskan, " kami KPC menggelar acara ini, dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Jadi Bogor ke 527 serta hari Linkungan hidup, semoga hiburan ini dapat memunculkan bakat terpendam daerah ini akan potensi artis dankdut". Tak lama beberapa orang warga langsung menyumbang beberapa lagu dankdut yang cukup menghibur kalangan 'dankdut`ers" Sukamulya..
Beberapa saat kemudian ' datanglah Rahma, biduanita artis lokal sukamulya bertanya, A besok dimana lagi, saya ikut donk!" ucapnya sambil menggerak-gerakkan bokongnya mengikuti irama lagu yang sedang berdengdang. Sayakan sudah latihan berpuluh kali,..nanti kalo ada acara lagi saya yang di tanggep (di ajak ) yaaa..
Read more