Menyusur sungai memang memberi banyak pengalaman dan pengetahuan. Kita tak hanya akan merasakan basah, dingin, panas terik, kotor, dan lelah karenanya. Tapi segala hal yang kita temui juga memberikan banyak sekali informasi yang tadinya tak pernah terbayangkan.
Hal itu lah kira2 yang saya alami ketika menjadi peserta Soesoer Tjiliwoeng 12 Februari 2011 lalu. Sebuah papan peringatan sempat membuat kening saya berkerut2. Jika sepintas kita lihat, maka papan peringatan itu tampak seperti sebuah peringatan biasa saja. Sama seperti umumnya papan peringatan milik Pemerintah yang berisi banyak sekali kata-kata. Namun ketika saya memperhatikannya lekat2, rasanya saya menemukan kejanggalan. Janggal karena menurut pemahaman dangkal saya, ternyata membuang sampah ke sungai itu dilarang, KECUALI jika hal tersebut mendapatkan ijin dari pihak yang berwenang. Lhoo?? Berarti sebenarnya kita semua bisa mendapatkan ijin untuk membuang sampah ke sungai dong? ...
Untunglah saya tdk mampu menganalisa lebih jauh tentang makna dari tulisan2 itu. Saya hanya mampu merekamnya dengan kamera, siapa tahu ada gunanya kelak.
Sepanjang perjalanan ternyata lebih banyak yang saya temui di jalur Taman Wisata Matahari hingga Jembatan Gadog dalam susur ini. Kami bersepuluh melintasi berbagai kawasan dalam ragam peruntukkan hingga kepemilikannya. Kalau perkampungan warga atau villa orang kaya atau hotel, rasanya sudah wajar deh di daerah itu. Gak usah ditanya jumlahnya ... buanyaaaak banget. Gak tahu juga kenapa rata2 bangunan hotel atau villa itu berada berdekatan, bahkan berimpit atau mengambil lahan sungai.
Soal kepemilikan lahan di wilayah hulu bantaran Ciliwung ini ternyata tidak hanya oleh perorangan ataupun Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Tak dinyana ternyata Pemerintah DKI Jakarta juga memiliki lahan di kawasan itu. Setidaknya kami menemukan 2 lahan milik Pemerintah Jakarta tsb. Sebuah lahan ratusan meter persegi di tepi Ciliwung yang ditanami dengan tanaman penghijauan jenis Jabon (Anthocephalus cadamba) kami jumpai tepat di depan muara Sungai Cisarua. Lebih ke hilir, ternyata ada lagi lahan milik Pemda DKI yang dikelola oleh Wisma Jaya Raya. Lokasinya berada di daerah Cipayung, di sekitar Kampung Cijulang. Tidak tanggung2, bukan hanya seluas ratusan meter persegi lahan tepat di bibir sungai, tapi juga termasuk sebuah delta sungai. Di delta sungai itu bahkan terpampang 2 buah papan penanda kepemilikan lahan.

Melihat hal itu kontan dahi saya kembali berkerut2. Jadi ... Jakarta tak hanya memiliki aliran Ciliwung di hilirnya. Ternyata sejak dari hulunya kita dapat menjumpai lahan milik Jakarta .... ckckckckckkkk. Wajar saja jika sungai ini banjir, airnya juga menerjang deras hingga ke Jakarta.
Read more


Dimana peran dan posisi KPC dalam pencapain IWRM (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu)?
Membaca headline di kompas pagi ini sempat membuatku heran beberapa jenak. Kok kerja KPC cepat sekali bisa masuk Kompas Minggu? artikel lengkap klik selanjutnya ... Owh ternyata komunitas ciliwung bukit duri yg dimaksud. Kalau mereka memang pantas lah disebut organisasi yg bercirikan komunitas. Mereka memang tinggal di pinggiran sungai dan benar-benar merasakan dampak banjir atau menghirup nafas bau sungai ciliwung. Saya membandingkan dengan KPC yg isinya khan kebanyakan orang-orang pegiat lingkungan yg rumahnya di kompleks, jauh dari bencana dan hiruk-pikuk banjir ciliwung. Kebanyakan, sembilan puluh lima persen lah kita kan bukan pengguna air (water user) langsung. Iyalah kita menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, tapi beda khan sama petani yg nafkah hidupnya (livelihood) tergantung atas keberadaan air. Atau pabrik misalnya yg mengambil air sungai dan membuang limbahnya kembali ke sungai. Kelompok seperti KPC ini unik dan kita musti menemukan sendiri peran dan posisi apa yg pas di dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (IWRM).
Yg membuatku tetap semangat ber-KPC karena sekecil apapun itu, kita berusaha untuk membuat berita sendiri. Bukan hanya pembaca, penikmat atau pendistribusi kata-kata semata. Berbagai usaha dilakukan. Dari yg mulai menjijikan (minimal buat ku) seperti mulung sampah plastik diantara pemakai MCK di pagi hari, berbagai acara panggung keria-an dan lomba gambar saat ulang tahun, pembibitan dan penanaman, ngundang pejabat, sampai ke acara jalan nyusur kali. Jelas itu bukan pekerjaan peneliti semata yg hobinya catat-mencatat, bertanya-tanya interview dan FGD, mengambil poto dan gambar-gambar indah, membuat video, koment-koment di pacebuk ato twitter dan ujungnya membuat proposal dikirim ke donor. Wah capek deh. Berbagai kegiatan KPC memang khas datang dari inisiatif anggota komunitas ini.
Mulung sampah misalnya. Memang beneran ada pemulung yg sebagian hidupnya tergantung dari kegiatan memulung. Yg mimpinya memang memiliki alat pengolah sampah plastik atau punya kawasan pemilah sampah. Yg kalau nemu botol atau sendok nyangkut di anakonda bisa membuat senyumnya berkembang lebar. Ada juga orang yg hobinya ngumpulin ikan, keong, bangkong atau mahluk hidup sungai lainnya. Sejumput plastik bening untuk mengumpulkan berbagai jenis biota air, persediaan kalau nemu ekosistem yg berbeda, sudah pasti menyempil di ranselnya. Atau orang yg hobinya ngeker burung melalui teropong Svarosvski yg pasti tidak murah. Sebuah buku tebal, bible burung terselip di ranselnya.
Jalan nyusurin kali misalnya lain lagi ceritanya. Kalau kita bertanya ke petani, tukang sapu penjaga vila, tukang mulung sampah, mereka akan sangat antusias memberi jawaban. Terus aja jalan. 'Aya tah jalanna, terus we mipir'. Walau tidak selalu benar ada jalan setapak di pinggiran sungai, atau mungkin kita tidak tahu aja dimana ada tembok vila yg udah bolong yg bisa dilalui orang kampung penduduk situ. Kalau nanya sama satpam, tukang jualan minuman, atau mereka yg merasa hidupnya sudah jadi orang kota, akan didapat kerutan di dahi. 'Ini dari mana yah', tanyanya penuh curiga.
Mereka sudah lupa keindahan berjalan bebas tanpa batas. Tidak ketinggalan orang yg hobinya mengambil titik koordinat memastikan bahwa kita tidak tersesat. You never get lost! Wong semua titik pijakan di bumi ini punya titik koordinat yg beda kok dan bisa dengan mudah terlihat di layar GPS. Hobi yg mungkin paling banyak peminatnya yah pasti fotografi. Dari mulai kamera dan lensa puluhan juta atau hanya crat-cret kamera poket, yg penting tetap eksis.
Apapun itu, color your world! What is your color?
Read more

AL HAMDULILLAH susur tjiliwoeng kali ini banyak temuanya. susur tjiliwoeng lanjutan yang di lakukan oleh KPC, dimulai dari TWM ( taman wisata matahari ) finisht di jembatan tjiliwoeng gadog. banyak sekali yang dapat di temukan berdasarkan komando komandan soesoer, komandan soesoer tjiliwoeng mengintruksikan pada orang-orang yang ikutan soesoer bahwasan nya soesoer tjiliwoeng yang di gagas oleh KPC bebas terngantung cara memandang nya dari masing2 orang yang ikutan soesoer.
eeeh...... kalau peneliti ya.... silakan neliti......
eeeeemmmmmm....... kalau profesi nya pemulung yyyya.... silakan mulung.
aeeeeeet....... kalau profesi nya petualangan yaaaa silakan terapkan dengan gaya petualangan nya.

kalau profesinya masyarakat kira kira apa komandan kontribusi nya terhadap tjiliwoeng? oooooh kalau profesi nya masyarakat yaaa paling tidak ngak merusak tjiliwoeng dan seharus nya tjiliwoeng di jaga dari kerusakan yang mengancam tjiliwoeng..... contoh nya apa kumendan? yaaaa tjiliwoeng jagan di jadikan tempat sampah !....... bukan tidak mungkin kalau tjiliwoeng di jadikan tempat sampah si mbaurekso tjiliwoeng menjadikan masyarakat itu nanti nya sampah sungai...... contoh nya ketika tjiliwoeng mengamuk mbanjirrrrr dimana-mana berjatuhan korban yang di sebabkan oleh masyarakat itu sendiri.

kumendan apa sih yang ditemukan atau yang di hasilkan dari soesoer tjiliwoeng kemaren?.....
emmm apa yaaaa .... tergantung yang memandang nya dan yang ikutan soesoer itu cara pandang nya seperti apa? yang jelas kalau intruksi si kumendan soesoer di bebas kan segi pandang nya yaaa tergantung yaang ikutan soesoer lahhhhhh ;;;;;;;.
kumendan tolong donk tjerietaken sedikit apa aja si yang di temukan di sela sela soesoer tjiliwoeng tanggal 12-02-2011?.....
kalau yang di pandang kumendang untuk saaat ini sih buanyak nya sampah dan buanyak nya mata air yang ada di tjiliwoeng....
kalau segi baik nya apa yang harus kita lakukan terhadap temuan itu kumendan...?
kalau menurutku si baik nya kita sebagai warga negara dan masyarakat yang baik jangan hanya saling menyalahkan.... dan jangan hanya mebahas nya apa dan ngimana kita akan melakukan kalau hanya sebatas obrolan si anak keciiiiil juga bisa. masak sih kumendan soesoer kemarin hanya itu aja yang di dapatkan?
sebenar nya banyak sih yang di temukan di sungai dan anak tjiliwoeng. misal nya mbaurekso kemaren bercerita ketika KPC melakukan soeoser tjiliwoeng dari TWM, warga dan pulisi di hulu tjiliwoeng menemukan mayat yang di bungkus di buang ke sungai. berbarengan dengan soesoer tjiliwoeng yang di lakukan oleh KPC, untung nya yang menemukan bukan yang melakukan soesoer..... kalau yang menemkan yang melakukan soesoer kejadian nya bisa repot. bisa jadi soesoer tjiliwoeng di berhentikan sejenak oleh kumendan soesoer.
wah lengkap dong kumendan isi tjiliwoeng?
kalau mau lengkap isi dan apa saja yang ditemukan oleh orang orang yang ikutan soesoer kemaren sih...... tongkrongin aja blog nya tjiliwoeng. WWW.TJILIWOENG DREAM.CO.CC kan nanti buanyak yang tjerieta.
kalau dari yang di temukan kumendan secara sudut padang kumendan kemaren kumendan dan yang ikutan soesoer menemukan tanaman air, anak ikan lele, anak ikan jeuller, anak ikan keukel. bahkan menemukan bogo'g ( jenis Gabus ), mata air berlimpah, buangan air limbah selokan berlimpah,delta sungai yang banyakdi manfaatkan dan saluran irigasi ke sawah warga.
kalau untuk villa dan perusahaan apa saja yang mengambil tanah sepadan sungai kumendan?
kalau untuk villa sih buanyak sekali contoh nya ada GG house, pramesthi, wisma jaya raya dan perusahaan negara PLN.
ooooom kalau peengen lengkap tunggu aja yyaaaa tjerita yang ikutan soesoer?
Read more
Oleh Rita Mustikasari. 1.38. 11 Februari 2011
Selamat dan apresiasi tinggi untuk Sandi ‘Asung (anak sungai) dan Curut ‘Azizah untuk presentasi Susur Cisadane di Pertemuan Bulanan BT Jabagbar di Studio Gekko Yasmin. Nana dan Tilla dari RMI hadir, selain beberapa teman anggota Telapak peminat air dan sungai.
Kegiatan Susur Cisadane dilakukan pada akhir Desember 2010 lalu. Tim ini hanya terdiri dari dua orang saja. Agak sedikit berbeda dengan kegiatan susur yg diadakan BT Telapak lainnya dimana ada beberapa lembaga dan individu ikut terlibat turun sungai (Susur Sail – Riau, Susur Way Seputih – Lampung, Susur Brantas – Jatim, Susur Konawehaa – Kendari). Tentunya setiap sungai punya karakteristik persoalan berbeda. Namanya juga integrasi! Harus bersiap menerima perbedaan.
Mendengarkan presentasi Susur Cisadane membuat saya terharu. Pertama karena Panduan AA/AL yg sedang kami susun berhasil diuji-cobakan di luar Projek CDP. Kedua menyadari keampuhan panduan ini dan membayangkan andai kita bisa mengambil manfaat optimal, mengemas hasil kegiatan AA/AL ke dalam sebuah laporan komprehensif yg bisa diakses banyak orang. Ketiga menantang kita semua untuk memikirkan intervensi apa yg mungkin kita lakukan. Sungguh sebuah jalan awal sebelum kita bisa bicara Pendekatan Negosiasi agar tercipta Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (IWRM NA).
Yg bikin haru juga karena mendengar kesuksesan kawan-kawan KPC. Mereka berhasil menjadi trendsetter dimana aktivitas KPC dijadikan contoh dan dicoba diikuti orang banyak. Sandi berbagi cerita saat dia menghadiri sebuah pertemuan Konservasi Cisadane yg diadakan PILI. Dalam usulan kegiatannya, mereka bermaksud mereplikasi pembentukan sebuah komunitas sungai, sebuah OTB (organisasi tanpa bentuk) yg punya minat terhadap isu sungai. Itu bukan hal yg mudah, kata Hari Kikuk sang Komandan KPC lantang. Tapi bukannya tidak mungkin juga khan Ri!
Yg namanya terpadu (integrated) memang begini. Pertama jelas ada banyak aktor dengan banyak interest BERBEDA (font nya dibuat CAPITAL karena memang poin ini yg paling seru!). Yg kedua ada kepentingan yg bertabrakan atau sekedar bersinggungan kecil. Yg ketiga jelas dibutuhkan sebuah wadah koordinasi apapun itu bentuknya (OTB, formal, informal, apalah) ajang berbagai aktor ini ngawangkong secara asik masyuk sebelum datang dengan kesepakatan bersama. Tidak mengagetkan juga semangatnya teman-teman RMI mendorong lahirnya Forum DAS Cisadane!
Jalan masih teramat jauh ..
Read more
Sebuah kota yang hidup dan selalu bergerak, pada suatu masa ketika dipotret pasti menampakkan kesenjangan. Jangan buru-buru diartikan sebagai ketidakadilan, karena sebagai sebuah potret, ia hanya penggalan keadaan ketika detak waktu dihentikan. Ia tidak bercerita tentang sebab atau keadan-keadaan lain yang dilewati sebelum terpotret.
Coba
sampeyan memanjat menara BTS setinggi.... Eh, jangan,
ding.. Jangan.., terlalu beresiko. Ini saja,
gunakan google-maps atau google-earth, arahkan dan perbesar di daerah pemukiman di Kota Bogor. Nampak rumah-rumah, ada yang besar ada yang kecil, ada yang reyot ada pula yang kokoh.
Potret yang dibuat oleh satelit itu tidak bercerita tentang bagaimana rumah-rumah itu dibangun, siapa yang membangun, atau apa yang dilakukan si pembangun ketika menyiapkan pembangunannya. Dengan potret sampeyan bisa melihat kesenjangannya, tetapi belum tentu bisa melihat keadilannya. Saya pandang adil jika wujud rumah itu dibangun sesuai dengan daya upaya pembangunnya, tanpa merugikan siapa pun atau apa pun di sekitarnya, sebelum maupun setelah rumah itu dibangun.
Setelah puas melihat potret rumah-rumah, coba juga melihat potret Sungai Ciliwung. Apakah sampeyan bisa menemukan perbedaan-perbedaan di sepanjang sungai itu?
Ya, betul sekali. Ada gerombolan pohon-pohon, ada petak-petak sawah dan kebun, ada bangunan besar dan kecil, ada tanah kosong berwarna coklat, ada jalan batu atau beraspal. Tentu ada banyak sekali kesenjangan.
Potret itu sama hakekatnya dengan rekaman indera penglihatan. Mata memotret satu kali, dua kali, terus sampai tak terhingga kali, lalu disimpan di dalam otak. Bedanya, otak mampu merangkai rombongan potret tadi ditambah rekaman indera yang lain, layaknya sebuah perangkat multimedia, bahkan lebih hebat lagi, ia sanggup menerjemahkan semuanya menjadi sebuah kesimpulan.
Sejenak saya akan ajak sampeyan kembali ke soal Ciliwung dan berandai-andai. Jika melihat potret Kali Ciliwung pada suatu waktu di bulan Maret, dalam keadaan air berlimpah melewati bibir sungai dan berwarna coklat tua, nampak membawa batang pohon, sampah, bahkan sofa dan pintu rumah, apa yang bisa segera sampeyan simpulkan?
Ya, mantap! Saya yakin sampeyan bisa menjawabnya dengan cepat.
Tetapi kalaupun ada di antara sampeyan belum bisa menyimpulkan apa-apa, saya lega. Syukurlah, ke’oon’an saya masih ada kawannya, wakakakakaka..... Dan kalaupun saya harus jaga imej, cukuplah dengan berkilah, “Ah, belum cukup kami melihat potret-potret yang lain. Mana bisa menyimpulkan...”.
Kawan saya yang sedari tadi sudah ngintip dari belakang, tiba-tiba nyeletuk, “Halah, kalo cuman ngayal, mah.....,” Komentarnya sengaja digantung sambil bergerak menjauh. Stop di depan pintu, dia lanjutkan, “Ntar Sabtu, kalo mau liat potret Ciliwung yang aseli... catat: DUA BELAS PEBRUARI DUA RIBU SEBELAS, baru tau adil apa enggak....”
Catatan:Anggaplah tulisan ini sebagai undangan alih-alih tantangan. Pada tanggal tersebut, hari Sabtu, berkumpul di Terminal Damri, pukul 06.00. Penyusuran akan dimulai dari Taman Wisata Matahari ke arah hilir. Bawalah bekal dan perlengkapan masing-masing secukupnya saja.
Read more
Memang tak ada yang mengira hal ini bakal terjadi. Tapi juga tak satu pun orang yang bisa memastikan hal ini akan gagal. Seperti sebuah mimpi hal tersebut selalu terbayang sejak setahun lalu. Kapan yaa ...? Mungkin gak sih? Mau gak dia?
Hingga akhirnya semua itu menjadi semakin nyata sejak 2 minggu belakangan. Dan kenyataannya ... pada Sabtu pagi, 5 Februari 2011, yang dinantikan akhirnya datang juga. Seperti mimpi saja rasanya. Adalah
Dede Yusuf, seorang
public figur yang pernah dikenal luas dalam drama seri tayangan TVRI di tahun 1990 "Jendela Rumah Kita” yang hadir di Kota Bogor. Dede Yusuf bukan hanya orang terkenal di tahun 90-an, tapi ia juga terkenal di seantero Tanah Sunda karena posisinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.
Kembali ke mimpi, ternyata Oom Dede ini tanpa malu dan sungkan langsung menceburkan dirinya ke Sungai Ciliwung yang kotor. Oom Dede mulung sampah bersama para laskar karung KPC di Pangkalan Satu, Kelurahan Kedung Halang, Bogor. Berpakaian kaos polo lengan panjang corak loreng warna coklat muda, plus topi dan rompi Oom Dede datang dalam acara mulung rutin KPC. Rupanya Oom Dede sudah siap basah dan kotor, seperti yang diungkapkannya saat saya berjumpa beliau di
Gedung Sate 5 hari sebelumnya. Penampilannya saat di Gedung Sate sangat jauh berbeda dengan saat di Ciliwung. Saat itu ia nampak necis dan berwibawa layaknya seorang pejabat pemerintah.
Mulung kali ini memang agak spesial karena KPC tidak menyiapkannya sendiri. Teman lama KPC dari Bandung juga ikut memeras otak dan keringat. Mereka tak lain adalah teman2 Greeneration Indonesia dan Balad Kuring. Kalau bukan karena mereka, rasanya belum tentu KPC bisa menghadirkan seorang Dede Yusuf untuk turun langsung ke sungai. Jempol empat diangkat semua dehh buat barudak Bandung pengusung program “Diet Kantong Plastik” itu!! “Ooh ini yang namanya Anaconda Ciliwung. Wahh saya dapet banyak sekali tuh Anaconda-nya!!”
Oom Dede tak hanya mulung di Ciliwung. Ia juga mengajak semua rombongannya dan para undangan lain untuk turun ke sungai membersihkan sampah2 Ciliwung. Bahkan para pengawalnya yang berbadan tegap dan bertampang seram pun terpaksa ikutan basah ... hehehe. Demikian pula halnya dengan para anggota Pramuka yang diajak serta untuk hadir di acara mulung ini. Kalau dihitung semua, mungkin lebih dari seratus orang yang ikut serta dalam kegiatan mulung ini. Saya jadi ingat pada beberapa petinggi pemerintah di Bogor yang pernah pula hadir di acara KPC. Rasanya tak ada satu pun dari mereka yang rela berbasah diri dan berkotor ria dengan sampah Ciliwung. Kasihan yaa mereka itu ... (gak malu dengan Oom Dede).
Sungguh sebuah kejadian yang membanggakan kedatangan tamu seperti Oom Dede ini. Tak cukup baginya hanya mengajak semua orang untuk memperhatikan dan menjaga kelestarian sungai. Dia juga meminta agar gerakan sukarela seperti yang dilakukan KPC bisa menjadi contoh bagi sungai-sungai lain di Jawa Barat. Ahh ... jadi malu rasanya dijadikan contoh. Semoga ungkapan Oom Dede tak membuat para laskar karung KPC menjadi riya’ dan sombong ....
Hatur nuhun pisan buat Oom Dede, para barudak Bandung, teman2 JakartaGLUE, teman2 Printing Community, teman2 TGC, teman2 Kotahujan.com, teman2 Telapak, dan tentu saja para laskar karung KPC semua. Terima kasih karena telah mendongkrak semangat KPC untuk tetap meneruskan tugas berat menjaga Sungai Ciliwung tercinta ini.
gambar Oom Dede diambil dari hasil jepretannya Oom Sano di sini
Read more

Lokasi Kegiatan Penyerahan Bibit Pohon dan Partisipasi Kegiatan “Bebersih Sampah Ciliwung” di Kelurahan Kedung Halang”, Sabtu 5 Februari 2011
Read more