Memang tak ada yang mengira hal ini bakal terjadi. Tapi juga tak satu pun orang yang bisa memastikan hal ini akan gagal. Seperti sebuah mimpi hal tersebut selalu terbayang sejak setahun lalu. Kapan yaa ...? Mungkin gak sih? Mau gak dia?
Hingga akhirnya semua itu menjadi semakin nyata sejak 2 minggu belakangan. Dan kenyataannya ... pada Sabtu pagi, 5 Februari 2011, yang dinantikan akhirnya datang juga. Seperti mimpi saja rasanya. Adalah
Dede Yusuf, seorang
public figur yang pernah dikenal luas dalam drama seri tayangan TVRI di tahun 1990 "Jendela Rumah Kita” yang hadir di Kota Bogor. Dede Yusuf bukan hanya orang terkenal di tahun 90-an, tapi ia juga terkenal di seantero Tanah Sunda karena posisinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.
Kembali ke mimpi, ternyata Oom Dede ini tanpa malu dan sungkan langsung menceburkan dirinya ke Sungai Ciliwung yang kotor. Oom Dede mulung sampah bersama para laskar karung KPC di Pangkalan Satu, Kelurahan Kedung Halang, Bogor. Berpakaian kaos polo lengan panjang corak loreng warna coklat muda, plus topi dan rompi Oom Dede datang dalam acara mulung rutin KPC. Rupanya Oom Dede sudah siap basah dan kotor, seperti yang diungkapkannya saat saya berjumpa beliau di
Gedung Sate 5 hari sebelumnya. Penampilannya saat di Gedung Sate sangat jauh berbeda dengan saat di Ciliwung. Saat itu ia nampak necis dan berwibawa layaknya seorang pejabat pemerintah.
Mulung kali ini memang agak spesial karena KPC tidak menyiapkannya sendiri. Teman lama KPC dari Bandung juga ikut memeras otak dan keringat. Mereka tak lain adalah teman2 Greeneration Indonesia dan Balad Kuring. Kalau bukan karena mereka, rasanya belum tentu KPC bisa menghadirkan seorang Dede Yusuf untuk turun langsung ke sungai. Jempol empat diangkat semua dehh buat barudak Bandung pengusung program “Diet Kantong Plastik” itu!! “Ooh ini yang namanya Anaconda Ciliwung. Wahh saya dapet banyak sekali tuh Anaconda-nya!!”
Oom Dede tak hanya mulung di Ciliwung. Ia juga mengajak semua rombongannya dan para undangan lain untuk turun ke sungai membersihkan sampah2 Ciliwung. Bahkan para pengawalnya yang berbadan tegap dan bertampang seram pun terpaksa ikutan basah ... hehehe. Demikian pula halnya dengan para anggota Pramuka yang diajak serta untuk hadir di acara mulung ini. Kalau dihitung semua, mungkin lebih dari seratus orang yang ikut serta dalam kegiatan mulung ini. Saya jadi ingat pada beberapa petinggi pemerintah di Bogor yang pernah pula hadir di acara KPC. Rasanya tak ada satu pun dari mereka yang rela berbasah diri dan berkotor ria dengan sampah Ciliwung. Kasihan yaa mereka itu ... (gak malu dengan Oom Dede).
Sungguh sebuah kejadian yang membanggakan kedatangan tamu seperti Oom Dede ini. Tak cukup baginya hanya mengajak semua orang untuk memperhatikan dan menjaga kelestarian sungai. Dia juga meminta agar gerakan sukarela seperti yang dilakukan KPC bisa menjadi contoh bagi sungai-sungai lain di Jawa Barat. Ahh ... jadi malu rasanya dijadikan contoh. Semoga ungkapan Oom Dede tak membuat para laskar karung KPC menjadi riya’ dan sombong ....
Hatur nuhun pisan buat Oom Dede, para barudak Bandung, teman2 JakartaGLUE, teman2 Printing Community, teman2 TGC, teman2 Kotahujan.com, teman2 Telapak, dan tentu saja para laskar karung KPC semua. Terima kasih karena telah mendongkrak semangat KPC untuk tetap meneruskan tugas berat menjaga Sungai Ciliwung tercinta ini.
gambar Oom Dede diambil dari hasil jepretannya Oom Sano di sini
Read more
Bagi orang Bogor, istilah "ngabuburit" mungkin terdengar sangat akrab. Ini adalah istilah dalam bahasa Sunda yang artinya menghabiskan waktu sebelum saatnya berbuka puasa. Ada banyak cara yang dilakukan, ada yang jalan2 sore putar2 kota, ada yang duduk2 santai sambil berbincang ringan, ada yang menghadiri acara pengajian di mesjid2 atau majlis ta'lim, dsb. Begitu akrabnya istilah ini hingga terkadang juga diplesetkan menjadi ... menunggu saat buka puasa sambil minum kopi dan merokok. Plesetan bentuk lain juga ada, walau terasa jadi guyonan hambar seperti "ngabuburit = ngabubur beurit" alias menyantap bubur daging tikus ... hehehe.
Sejak setahun lalu, sekelompok warga Bogor penghobi kegiatan memulung sampah di Ciliwung telah memulai sebuah cara baru mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka. Bukan dengan berbincang2, bukan sambil menikmati makanan kecil, bukan juga mendengar ceramah. Caranya sangat sederhana, yakni dengan melakukan aktivitas memungut sampah2 anorganik (mulung) di Sungai Ciliwung. Bagi yang belum pernah melakukannya pastilah yang terbayang adalah suasana yang sangat tidak nyaman dan menguras tenaga. Namun kenyataannya tentu tidak seburuk yang dibayangkan. Kelompok warga Bogor yang menamakan dirinya sebagai Laskar Karung KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini menganggap bahwa ngabuburit di Ciliwung adalah kegiatan yang asyik.
"Kalau tidak percaya, coba saja dulu," demikian komentar mereka sambil menambahkan sebuah pepatah "ala bisa karena biasa".
Hari Sabtu sore tanggal 14 Agustus 2010 lalu seakan menguatkan komentar para laskar karung tersebut. Sejak pukul 15.30 sudah ada seorang peserta yang hadir. Ia adalah warga Sukasari yang tertarik ingin ikut serta mulung. Ia duduk di atas sebuah batu kali besar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Saya sudah di bawah jembatan Jalak Harupat, di mana mulungnya Mas?" demikian SMS yang ia kirimkan kepada para laskar karung KPC. Beberapa menit kemudian para laskar itu pun berdatangan satu per satu dan bergabung dengannya di bawah Jembatan Jalak Harupat, Sempur.
Spanduk besar bertuliskan "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" segera dibuka lebar sebagai penandaaksi mulung mingguan ini. Beberapa detik kemudian 10 orang sudah aktif memungut sampah anorganik dan memasukkannya dalam karung2 plastik. Semuanya berjalan dengan otomatis. Tidak ada yang mengeluh, semua melakukan kegiatan ini dengan gembira, walau tanpa adanya seteguk air minum atau segigit makanan ringan apa pun karena sedang berpuasa. Menit2 selanjutnya, para laskar karung pun bertambah jumlahnya. Hampir 20 orang yang kemudian sibuk memungut sampah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa saat berbuka sudah semakin dekat. Kondisi alam pun seakan turut memberi tanda agar para laskar karung segera menghentikan kegiatannya. Hujan gerimis mulai mengguyur para laskar karung. Dan akhirnya aksi mulung ini pun berhenti. Waktu tersisa beberapa menit sebelum saat berbuka pun dimanfaatkan untuk berkemas dan mulai mencari makanan dan minuman pembuka.
"Allahuma lakasumtu wa bika aamantu ... dst" pun terucap di hati masing2 laskar karung, saat terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid terdekat di Lebak Kantin dan Sempur. Selesai lah sudah sebuah kegiatan ngabuburit di bawah jembatan. Alhamdulillaah ... it's a lovely ngabuburit time under the bridge ...
Read more
Ramadhan sudah tiba, sudah saatnya para umat Islam menjalankan kewajibannya untuk berpuasa dan menambah amal ibadahnya. Sebab bulan ini adalah bulan yang penuh berkah.
Bagi para laskar karung, ramadhan adalah bulan dimana kegiatan mulung terasa agak berbeda. Bukan ... kegiatan mulung bukan dihentikan. Sayang rasanya kalau kegiatan mulung ini harus terhenti hanya karena puasa ramadhan. Kondisi fisik memang melemah, tapi tak berarti kita tidak mampu membersihkan Ciliwung. Perut memang lapar dan tenggorokan juga kering. Tapi hal itu semestinya tidak dijadikan alasan untuk menghindar dari tumpukan sampah di Ciliwung. Bedanya ada pada waktu mulungnya. Jika pada hari2 biasa mulung dilakukan pagi hari, maka pada bulan puasa ini mulung dilakukan sore hari, selepas waktu Ashar. Aksi mulung kemudian diakhiri saat menjelang berbuka puasa atau menjelang waktu Maghrib.
Dalam bulan puasa tahun ini, diperkirakan kita akan memiliki sekitar 4 kali aktivitas mulung. Dari hasil urun-rembug sesama laskar karung dan konsultasi dengan Mbah Tjiliwoeng, maka aksi mulung ini akan dipusatkan di 4 titik di Kelurahan Sempur saja. Alasan utamanya karena kemudahan akses menuju lokasi. Berikut adalah lokasi dan tanggal aksi mulung selama bulan puasa tahun ini:
SEMPUR (JEMBATAN JALAK HARUPAT), Sabtu, 14 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK KANTIN), Sabtu, 21 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN KAMPUNG RAMBUTAN), Sabtu, 28 Agustus 2010
SEMPUR (JEMBATAN LEBAK PILAR) Sabtu, 4 September 2010
Aksi mulung ini bisa juga dianggap sebagai kegiatan "ngabuburit", sebuah budaya di Bogor untuk menunggu datangnya saat berbuka puasa. Ngabuburit kali ini bukan sambil jalan2 sore dan beli makanan utk buka puasa, tapi ngabuburitnya di Sungai Ciliwung sambil membersihkan sampah2 yang menumpuk di sana.
Jadi ... jangan lupa diingat2 lokasi2 mulung di atas, dan waktunya adalah pukul 15.30 - menjelang buka puasa (Maghrib)!!
Selamat berpuasa ... dan selamat membersihkan Ciliwung, semoga berkah ... amiiin!!!
terima kasih buat Oom Aleco buat editnya, dan buat Oom Ejhon utk sumber fotonya.
Read more
Setelah hampir sebulan tidak ada kabar di blog ini, Mbah Tjiliwoeng banyak dapat pertanyaan dari para pecinta dan pemerhati Ciliwung. Apa sebab? Ada apa gerangan? Apa sudah tidak ada lagi yang mau mulung membersihkan sampah di sana? dst dst ... Mbah Tjiliwoeng terus terang agak keteteran menjawab pertanyaan bertubi-tubi dan datang silih berganti ini. Akhirnya memang Mbah Tjiliwoeng memilih diam karena sebelum sempat menjawab sudah datang lagi pertanyaan selanjutnya. Inti pertanyaan itu semua sama. Mana nih kabarnya?
Naah ... karena kebetulan sudah agak longgar, maka Mbah Tjiliwoeng coba mau jawab. Jawabannya sebenarnya gampang saja. Tidak koq masih ada para laskar karung itu. Mereka masih rajin datang tiap Sabtu untuk mulung. Jadi otomatis kegiatan mulung tiap Sabtu masih ada. Kalo gak percaya coba saja hadir dalam kegiatan mulung Sabtu ini ....
Harinya: tetap hari Sabtu, tanggal 24 Juli 2010.
Lokasinya: Pulogeulis, di bawah Jembatan Pemuda, sisi sungai sebelah kiri (jika kita menghadap ke hulu).
Kumpulnya: jam 07.30, eks-Kantor Depag ujung Jembatan Pemuda, Jalan Riau-Bangka, Kelurahan Baranangsiang, Bogor.
Dijamin bagi para laskar karung tidak akan tersesat untuk mencapai lokasi itu.
Jadi ... usahakan terus untuk bisa datang yaa ... bantu2 Mbah Tjiliwoeng untuk membersihkan sampah kotor yang masih saja datang bertubi2 ini.
gambar asli di atas diunduh dari
laman ini.
Read more
Tahukah anda di mana Bendungan Cibagoloh berada?
Itu adalah nama sebuah bendungan kecil di aliran Sungai Ciliwung di Bogor. Letaknya di bagian hilir, ujung utara Kelurahan Sempur. Jadi kalau dari Lapangan Sempur, silakan jalan menyusur tepi sungai menuju hilirnya. Di sana akan dijumpai sebuah bendungan kecil ... itu lah Cibagoloh. Kalau dari sisi Jalan Sudirman, maka lokasinya berada tepat di bawah Air Mancur.
Jika sudah tahu lokasinya, ada apa di sana?
Selain air, sampah, ikan, dan pemukiman di tepiannya, ... para laskar karung KPC juga akan melakukan aktivitas mulung mingguannya di sana. Silakan lihat banner pengumuman di bawah ini ...

Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more
Rasanya masih terasa otot2 di badan yang meregang karena pertempuran melawan Anakonda Katulampa minggu lalu. Siapa sangka coba ... kalau aliran Ciliwung di Griya Katulampa menjadi sarang para ular sampah itu. Aksi mulung hari Sabtu lalu memang penuh kejutan.
Di sela air sungai yang (lumayan) segar di wilayah hulu Kota Bogor, ternyata adalah tempat yang nyaman bagi anakonda Ciliwung. Mereka dengan lihai sengaja bersembunyi di sela tebing2 batu yang tergerus dahsyatnya air Ciliwung. Rupanya mereka malu kalau terlihat nyata. Mungkin juga takut dianggap jadi pengikut para warga kota yang senang mengotori sungai.
Wahai para laskar karung KPC ....
Tak perlu menunggu lama. Sabtu lalu kita telah buktikan bahwa Anakonda Ciliwung tak akan mampu bersembunyi terus hingga ke Katulampa. Sebagai para
trashbuster, sudah menjadi kewajiban kita utk memindahkan para anakonda itu ke habitat sebenarnya. Di mana lagi kalau bukan di TPA Galuga. Jangan biarkan anakonda sampah itu terus mengotori Ciliwung.
Bagaimana dengan Sabtu ini?
Jelas ... kita semua harus serang Griya Katulampa kembali

Read more
Hari Sabtu lalu KPC mulung di Sukamulya. Trus sabtu ini ke mana lagi yaa KPC harus mulung???
Ahh gak usah bingung deh, lihat aja pengalaman dan kebiasaan mulung kita selama ini. Seperti biasa kita mulung 2 kali berturut2 di satu lokasi. Jadi ... Sabtu ini yaa para laskar karung akan kembali mulung di Sukamulya lagi ....
Sabtu lalu ... KPC mulung bareng sama temen2 pecinta alam Regina Pacis, Bogor (RECIPALA). Kalo Sabtu ini KPC dibantu siapa lagi yaa mulungnya?
Sudah lahh ... mulung harus terus berlanjut. Siapa pun yang akan menemani mulung. Ada yang ikutan atau tidak. Berikut adalah pengumumannya ...
Read more

Adalah sebuah tempat di seputaran Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Bogor. Entah apa makna sebenarnya dari nama tempat itu. Kata seorang kawan (Sunda),
"beunghar" itu artinya kaya. Namun sayangnya ia tidak tahu soal arti kata
padang. Ia curiga ini bukan istilah dalam bahasa Sunda. Yaa sudah lah ... mungkin saat ini kita tak perlu mencari artinya. Tapi (kadang) benak saya ingin mengartikannya secara bebas ... mungkin itu artinya tempat luas yang pernah dihuni orang kaya, mungkin juga dulu di tempat itu pernah tinggal seorang berdarah Minang yang kaya raya.
Baiklah ... saya tak akan meneruskan pembahasan soal arti kata pada nama tempat itu. Lalu kenapa dengan tempat itu? Ada apa di sana? Mengapa saya mencoba membahas kata
"padang beunghar"?
Jawaban saya singkat saja ...
Soalnya hari Minggu ini, 11 Oktober 2009, para laskar karung KPC dijadwalkan untuk melakukan kegiatan rutin mulungnya di Padang Beunghar, kawasan Pulo Geulis. Ini adalah tempat mulung yang sama dengan yang dilakukan hari minggu lalu. Lokasi tepatnya berada di ujung hulu, sisi Barat Pulo Geulis. Untuk menuju ke sana dapat dilakukan dari Jalan Roda (masuk gang 2), langsung menuju ke RW 9 .... atau ... bisa juga dari Jalan Bangka-Riau, melalui jembatan Pemuda menuju Pulo Geulis, menyusur gang2 kecil di pulau padat tersebut, melintasi jembatan menuju ke jalan roda di RW 9.
Mari ... kita ramaikan acara rutin mulung kita semua, demi terwujudnya Ciliwung yang bersih dan indah, plus (tentu saja) Kota Bogor tercinta yang nyaman. Ini penting, mengingat semestinya membersihkan Ciliwung di Bogor itu menjadi tanggung jawab setiap kepala manusia yang berada di Kota Bogor. Mari ....
Read more

Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.
Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.
Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.
Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.
Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.
Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.
Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.
Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.
Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.
Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.
Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?
Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!
Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?
cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
Read more
Akhirnya ..... berhasil juga para laskar karung menuntaskan niatnya utk tetap mulung (walau) di bulan puasa. Sekarang, bulan puasa sudah mau habis ... tinggal beberapa hari lagi lho. Sebentar lagi kita yang muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1430 H.
Kalau kita coba hitung tanggal dalam almanak (kalender), maka Idul Fitri akan jatuh pada hari Minggu atau Senin. Pas sekali dengan hari di mana kita biasa melakukan ritual "mulung" di Ciliwung. Namun, rasanya ada yang kurang jika kita masih juga mulung saat perayaan Idul Fitri. Maka itu, kepada segenap laskar karung KPC di seantero Nusantara, ... kami umumkan bahwa
Kegiatan "mulung" pada hari
Minggu, 20 September 2009 DILIBURKANSelanjutnya .... tak lupa kami ingin mengucapkan ...

thanks to
Ejhonski atas foto anak2 telanjang ini.
Read more
Lebaran sebentar lagi. Bulan puasa sudah mau habis. Tidak terasa kegiatan mulung di bulan suci Ramadhan ini sudah masuk di minggu ke-4 (empat). Tiga hari minggu yang lalu, para laskar karung masih tetap bersemangat untuk mulung. Semoga semangat mereka tak mengendur. Sayang kalau semangat utk berbuat baik demi lingkungan dan orang lain ini harus kendur karena berada di minggu ke-4 puasa.
Menurut seorang kawan yang gemar pergi mengaji .... minggu terakhir puasa adalah minggu yang banyak dinanti orang. Itulah minggu dimana umat Muslim selayaknya memperbanyak ibadah. Karena akan ada pengampunan dosa ... tentunya dengan catatan jika puasa dan ibadah di minggu2 sebelumnya dilakukan dengan penuh keimanan.
Jangan ... jangan sampai anda menyamakan antara kegiatan mulung dengan puasa. Secara jelas mulung itu memang tidak sama dengan puasa. Puasa dilakukan oleh manusia untuk Penciptanya, yaitu Allah SWT. Sementara mulung hanya dilakukan oleh para laskar karung untuk warga Bogor. Jelas kan perbedaan levelnya ... hehehe. Tapi mulung di saat2 biasa dengan mulung saat berpuasa, tentu rasanya beda. Ketika berpuasa terasa berat untuk dilakukan karena tenggorokan yang kering dan lambung yang kosong. Namun, juga ada rasa sejuk di hati saat memungut sampah2 plastik di sela batu Ciliwung.
Nahh mulung ke -27 kali ini adalah mulung terakhir di bulan puasa tahun ini. Jika anda merasa tertantang ingin merasakan ujian berpuasa sambil mulung ... silakan hadir tanpa ragu2. Sebab, minggu depan belum tentu ada acara mulung .... Kenapa? karena minggu depan waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin para laskar karung juga ingin beristirahat dan menikmati libur lebaran.
Di mana lokasi mulung ke-27? ... silakan lihat pengumuman di atas. Di sana tertulis Kampung Rambutan, Kelurahan Sempur, Bogor. Okay, be there yaa ....!
Read more
Angka 25 ternyata hampir sama dengan angka 2. Siapa bilang?
Yaa jelas yang bilang cuman orang gila atau aneh. Jelas2 kesamaan keduanya hanya di angka pertama, yaitu 2. Selebihnya pasti lah beda.
Tapi ... jangan2 memang hampir sama, terutama kalo yang menganggapnya adalah orang2 yang punya niat dan semangat tinggi demi cita2 yang tinggi pula. Biasanya adalah orang2 yang selalu tuma'ninah, presisten dan yakin pada apa yang ia percaya adalah baik.
Begini ceritanya ...
Angka 25 itu adalah angka dari pemulungan sampah di Ciliwung yang ke-25 kalinya oleh KPC. Sedang angka 2 itu adalah puasa minggu kedua bagi semua umat Islam tak terkecuali para laskar karung KPC. Keduanya sama2 berat untuk dilakukan dan penuh tantangan. Namanya puasa pasti lelah. Namanya juga sudah mulung 25 kali pasti juga lelah ...
Tapi saya yakin para laskar karung KPC bukanlah laskar karung biasa yang dengan gampang menyerah pada tantangan. Mereka pastinya siap sedia utk terus melanjutnya nadzar mulung setiap minggu. Apalagi ini dilakukan sembari beribadah puasa ... insya Allah akan berkah.
Atas permintaan para laskar karung juga, maka pemulungan hari minggu ini dan selama bulan puasa ini dilakukan di seputaran Kelurahan Sempur. Untuk jelasnya silakan lihat pengumuman di samping ini.
Read more
Sungguh ini bukan sebuah upaya main2. Ini mungkin bisa dikategorikan sebagai upaya yg lumayan serius. Betapa tidak nadzar mulung rutin setiap hari minggu harus dijalankan tanpa reserve, walau suasananya terasa kurang mendukung. Ketahanan mental dan fisik para laskar karung memang sedang diuji.
Pemulungan minggu lalu (23 Agustus 2009) bertepatan dengan hari kedua puasa ramadhan. Tak ayal mental pun terasa menciut. Walau terik matahari tak lagi terasa menyengat di sore itu, namun tubuh rasanya berat untuk melakukan pemulungan sampah. Tenaga rasanya sudah habis dari sejak awal turun ke sungai. Tenggorokan makin kering. Sementara bau sampah busuk masih saja memenuhi oksigen yang berputar di depan hidung para laskar. Saya jadi teringat cerita suasana di gurun pasir. Dimana onta2 pun berjalan lamban di bawah sengatan matahari. Melelahkan ... melelahkan ... dan melelahkan.
Di saat semua orang masih menikmati libur pada hari-hari awal puasa, para laskar karung berjuang mati2an dengan anakonda di Lebak Kantin. Ciliwung memang sebuah tempat yang sangat menantang. Tumpukan sampah seakan tak pernah ada habisnya. Syukurlah para laskar karung yang lelah masih menyimpan semangat membara demi memenuhi janji pada Ciliwung. Tercatat sembilan laskar karung berjibaku dengan tenaga yang tersisa di sore itu. Ada Kapiten Nono, Mas Kikuk, Ruby sang biksu Tong, Indri yang selalu riang, Kang Hendi dan Awey yang bersemangat bak petualang sejati, Hapsoro yang berusaha tampil segar, Andrew sang bule Inggris dari DTE, dan seorang ibu asal Tanah Sareal di sana.
Segala jenis sampah anorganik dipungut untuk kemudian masuk dalam karung2 plastik. Lumayan juga dalam kondisi lemah ini para laskar karung berhasil menangkap beberapa anakonda di sana. Saya tak sempat menghitung berapa jumlah karungnya. Namun, setidaknya mata kami semua melihat ada lebih dari 20 karung yang terkumpul. Saya rasa ini adalah sebuah prestasi.
Memang para warga sekitar tak ada yang turun membantu. Namun, saya sempat melihat seorang ibu yang memasang tulisan di atas kertas pada jembatan gantung di atas kami. Kertas itu bertuliskan "jangan buang sampah ke sungai". Ibu itu menjelaskan pada saya bahwa ia prihatin dengan sikap warga sekitar yang masih saja membuang sampah ke sungai. Memang ketika kami 'mulung' sempat kami menjumpai beberapa warga yang melemparkan kantong2 plasting berisi sampah langsung ke badan sungai.
Akhirnya ketika saat sholat maghrib sudah diambang pintu, para laskar karung memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya. Kami semua beranjak dari sungai dengan perasaan lega. Saat berbuka tinggal sebentar lagi. Mulung hari tersebut telah diselesaikan dengan sukses.
Semoga tiga hari minggu ke depan, para laskar karung KPC masih setia melakukan aktivitasnya. Sekalipun ini dilakukan di bulan puasa. Amiiin ....
gambar onta di atas diunduh dari laman ini, dan gambar animasi kelelahan diunduh dari laman yang ini.
Read more
Setelah minggu lalu para laskar karung mencoba segala ilmu kanuragan dalam penaklukan anaconda di Lebak Kanting, Sempur. Hari minggu ini pendekar2 sakti mandraguna tersebut kembali menyatroni sarang anaconda yang sama.
Kenapa mereka kembali? Rupanya tugas mulia mereka belum lagi tuntas. Sekawanan anaconda berumur puluhan tahun masih juga bercokol di balik2 batu Ciliwung. Rupanya selama ini kawanan anaconda itu tidak tampak karena tertutup air. Begitu Ciliwung surut airnya, maka menyembul-lah kepala2 meraka diantara bebatuan sungai.
Maka, tak perlu diragukan lagi, wahai pendekar laskar karung. Mari taklukan anaconda yang bercokol di wilayah Lebak-Kanting Sempur. Seperti juga minggu lalu, lokasi kita masih sama. Jangan lupa agar datang tepat waktu, sebab kawanan anaconda sudah menunggu untuk kita taklukan ...
Mau tahu lokasinya di mana?
Silakan baca terus (klik selengkapnya)

Read more
Bagi temen2 jang soeda sering ikoet moeloeng sedjak pertama, tamtoenja masie inget. Kita doeloe soeda moeloeng di Sempoer. Troes kita moeloeng pindah2 sampe hoeloe en hilier Tjiliwoeng di Buitenzorg ini. Njaris semoea titiek soeda kita poeloeng poen. Laloe di mana lagie kita moeloeng?
Ndhak perloe bingoeng sama itoe pertanjaan. Moedah sadja ... menoeroet wangsit van Mbah Tjiliwoeng, locatie moeloeng ke 21 nanti tak laen dan tak boekan ijaitoe balik koecing ke Sempoer lagie. Soeda ada jang tindjou itoe locatie maimang tjotjok dan lekker poen. Kiri dan kanan sungeij pastinja tedoeh. Aernja deres dan sueger (oekoeran para lasjkar karoeng) ditambah djoega dengan potency van Anaconda jang banjak.
Djahadi ... mari kita toeroen lagie tanpa reserve. Ndhak oesah ragoe2 lagie. Langsoeng sadja njeboer dan kedjar itoe anaconda van tjiliwoeng. Koemendan moeloeng kita djoega soeda ditoendjoek ijaitoe "Kapiten Aboe Meridian van Lampoeng". Sang Kapiten soeda pasti toenggoe kita di locatie.
Maoe tahoe locatie koempoelnja? Silaken dilijat pada pengoemoeman di bawah ...

Read more
Ini kejadiannya hari minggu yang lalu.
Kelihatannya sih biasa2 saja. Yang kasat mata hanyalah 9 (sembilan) orang yang sibuk melakukan rutinitas
‘mulung’ di Sungai Ciliwung. Sejak pagi hari kedelapan laskar karung KPC ini terus saja berkutat dengan sampah plastik,
styrofoam, sepatu rusak, celana dalam butut, sendal jepit putus,
anakonda, dan sampah2 lainnya. Salah seorang dari kedelapan laskar tersebut sesekali mengeluarkan kameranya dari dalam tas. Lalu dengan tekun memotret seluruh
moment indah, lucu, maupun serius selama aksi mulung ini.
Tak ada yang aneh dan tak ada yang spesial. Tapi kalo kita coba identifikasi siapa2 saja para laskar karung tsb, mungkin akan sedikit menarik. Dua orang laskar karung yang hadir hari itu adalah Ira (utusan dari Jakarta Barat) dan Takur (utusan dari tukang foto keliling). Keduanya ternyata adalah pasangan muda yang baru saja menikah beberapa hari sebelumnya.

Hmmm … makin menarik nih. Seminggu sebelum keduanya menikah, mereka juga hadir mulung di Kedung Badak. Sekarang, hanya beberapa hari setelah menikah, keduanya hadir kembali di Ciliwung. Hadir mulung di Griya Katulampa. Kalo saja saya yang menjadi Oom Takur, maka pastilah saya menganggap bahwa aksi mulung ini menjadi bagian dari ‘boelan madoe’ yang romantis. Betapa tidak, lokasinya sangat mendukung. Suara aliran air hulu Ciliwung seolah mendendangkan irama cinta mereka berdua. Pohon bambu dan sebatang durian di tepinya bergoyang-goyang erotis mengiringi irama tersebut. Sinar matahari pagi yang lembut pun turut menghangatkan gelora cinta mereka. Terlebih lagi, ketujuh kambing congek dan rabun di sekitar mereka yang tak mau peduli kecuali pada sampah. Sungguh sebuah perpaduan antara lokasi dan suasana yang romantis persembahan Mbah Tjiliwoeng buat mereka berdua.
Alhamdulillaah … ternyata masih ada tempat romantis di Ciliwung. Tumpukan sampah di sela batu dan tepian sungai ternyata tak mampu menghapus suasana romantis. Ketulusan cinta keduanya telah menyihir ketujuh kambing congek dan rabun merasa nyaman di aksi mulung ke-16 di pinggiran Perumahan Griya Katulampa, Bogor.
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU KAWAN ... terima kasih atas kesejukan suasana ‘boelan madoe’ yang kalian berdua persembahkan buat Tjiliwoeng. Sekali lagi selamat buat Ira dan Takur!!
Read more
Rasa-rasanya agak kurang adil memang kalo setiap mulung selalu dihadiri oleh puluhan bahkan mungkin ratusan orang laskar karung. Kesannya koq hebat banget setiap minggu banyak banget pemulung gratisannya. Mungkin sekali-sekali kita perlu juga mencoba model baru dalam mulung.
Lho lho lho ... jangan kecewa dulu. Coba dulu deh rasanya kalau mulung hanya diikuti oleh laskar karung dalam jumlah sangat minimal. Saya bisa kasih contoh saat mulung ke-14 yang lalu di Sukamulya.
Gak kalah seru koq kejadiannya. Bahkan produktivitas mulungnya bisa tinggi banget. Keempat laskar karung sampai bisa kumpulin 30-an karung sampah. Sendiri aja tuh? Kuat banget ...?
Ahh gak sehebat itu juga ... para laskar dapat bantuan tenaga muda (pemuda kampung) yang super semangat dari warga RT 02. Makanya hasilnya bisa 30-an karung.
Berikut adalah cuplikan kejadian beberapa saat setelah pemulungan di Sukamulya. Silakan menikmati ....



Read more
Para laskar karung KPC memang sudah biasa dengan malu. Kalo tidak pastilah mereka tak akan berani turun ke Ciliwung untuk ambil sampahnya. Setiap hari minggu mereka pun jadi bahan tontonan, bahkan mungkin ejekan dari warga sekitar. Ngapain coba berkotor dan berbasah ria di Ciliwung yang bau dan keruh itu.
"Koq gak malu sih?" begitu kira2 komentar mereka.
Tapi dasar laskar karung, tak ada kamus malu dalam menegakkan kebenaran ... [hehehe kaya komentar superhero aja]. Yaa begitulah ... mereka dengan sukarela mencoba membersihkan sungai kotor sambil mengajak serta setiap warga kota yang bersedia ikut. Semua dilakukan dengan tulus ikhlas laksana turun berperang melawan penjajah kumpeni. Mulung terus-menerus tanpa henti setiap hari minggu.
Ada kalanya badan terasa capek, otot2 meregang dan perlu dilemaskan. Bila timbul gejala ini, maka obatnya pun tak perlu mahal. Bukan di apotik atau toko obat mencarinya. Untunglah KPC selalu siap sedia melayani ... tak hanya warga bantaran Ciliwung, namun juga para anggota laskar karung. Solusinya adalah bergoyang dangdut. Tak perlu lagi malu untuk bergoyang. Mulung aja gak malu.
Berikut dua buah foto untuk menambah illustrasi suasana para laskar karung yang sedang mengobati rasa capek karena mulung. Mereka bergoyang dangdut tadi malam di Pasar Warung Jambu.


Read more