
Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more

Hamas dan Billah, itulah sapaan akrab 2 bocah yang tergabung dalam
“PASUKAN KECIL” Mas Bowie LATIN. Dua bocah ini sudah 2 kali terlibat dalam aksi Riset kami di Kebun Raya Bogor, Minggu, 3 Mei 2009, dan di Kedung Badak, Minggu, 10 Mei 2009. Kepolosan tampang dari kedua bocah ini telah menyamarkan besarnya potensi pengetahuan dan rasa ingin tahu yang ada pada diri mereka. Bila Anda termasuk orang-orang yang bermulut besar, maka janganlah sekali-kali Anda berbicara omong kosong pada mereka. Dengan bakat dan pengetahuan yang luas yang diwarisi dari kedua orangtuanya, akan membuat Anda seolah tampak bodoh dan orang lain dapat dengan mudah menilai bahwa isi kepala Anda sebenarnya adalah kosong. Apalagi bila Anda membahas pengetahuan di bidang Sains dan Teknologi. Lebih baik Anda menutup mulut lebar-lebar atau mungkin perlu menimba banyak ilmu dari kedua bocah ini. (Saran penulis: Cobalah Anda bertanya!).
Muh Hamas Fathani, itulah nama lengkap anak tertua Mas Bowie. Kalau ditanya umur, umurnya hampir mencapai 11 tahun. Hamas tercatat sebagai siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Kalau Anda tanya hobbi, maka Hamas akan menjawab, menggambar, komputer, baca komik, sampai ngerusak HP Om-nya. Kalau ditanya soal pengetahuan, Beuh!, T.O.P.B.G.T deh! Ga usah ditanya lagi. Itulah sedikit sosok Hamas. Lalu bagaimana dengan sosok Billah?
M Mu'tashim Billah, umurnya baru 8 tahun. Sedangkan tuk sekolahnya, Billah baru menginjak kelas 2 Sekolah Dasar. Keingintahuan dan kemauannya sangat besar. Wajar saja kalau waktu di Kedung Badak, bocah ini “keukeuh” pengen nyebrang sungai padahal Mas Bowie dan Aku bilang arusnya deras sekali.
Kehadiran mereka dalam Tim Riset Tjiliwoeng telah membawa angin segar serta semangat baru bagi kami agar terus berusaha tuk menggali pengetahuan sedalam-dalamnya dan bisa mentransfer ilmu sebaik-baiknya pada banyak orang, khususnya generasi penerus kami, Komunitas Peduli Ciliwung, termasuk Hamas, Billah, serta Asep dan Hilman di Pulo Geulis.
Semoga untuk waktu ke depan nanti, Mbah Tjiliwoeng bisa bernafas lega karena bangsa ini memang terus belajar dan mencetak banyak generasi baru yang bermutu, peduli akan sesama, serta lingkungan alam sekitar, sehingga bisa diharapkan untuk dapat menggantikan generasi KORUPTOR perusak kemajuan bangsa. AMIN.
-Tim Riset Tjiliwoeng-
Read more

Sejumlah fasilitator dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor secara rutin, setiap Sabtu, melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Dasar Negeri Kampung Rambutan, Kelurahan Sempur, Kota Bogor. PLH dimaksudkan untuk memberikan penyadaran dan kecintaan lingkungan kepada anak-anak, khususnya yang langsung berinteraksi dengan Ciliwung.
Saya, yang jadi guru dadakan pada kesempatan ini, tidak ambil pusing untuk memulai belajar lingkungan pada Sabtu ini. Pada intinya metode pengajaran yang kita terapkan adalah bermain sambil belajar sehingga tidak membebani murid. Sabtu ini kami belajar mengenai pentingnya air dan sungai Ciliwung. Murid-murid antusias saat diminta untuk menggambarkan letak rumah mereka terhadap sungai Ciliwung. Ternyata sebagaian besar murid bertempat tinggal dekat dengan Ciliwung. Mereka kemudian menyampaikan pendapatnya mengenai fungsi Ciliwung dalam kehidupan sehari-hari.
"Coba sebutkan manfaat Sungai Ciliwung buat kehidupan sehari-hari?" Aku melempar pertanyaan dan memancing murid-murid untuk berpendapat. Tidak lama mereka berebut menjawab pertanyaanku. "Buat mandi dan cuci pakaian, Kak", kata Iis dari pojok kelas. "Tempat buang air besar", jawab Sugih dan murid laki-laki lainnya dari bagian kanan kelas. Mereka memang menjadi saksi keseharian bagi aktivitas sejumlah warga yang menggunakan Ciliwung untuk mandi, cuci, dan kakus.
Berbeda dengan Novi, dia berpendapat kalau Ciliwung adalah tempat buang sampah. "Buat buang sampah ke sungai!" seru Novi polos. Jawaban Novi sontak membuat murid-murid lainnya tidak sependapat. Menurut mereka, kita tidak boleh membuang sampah ke dalam sungai. "Nanti banjir, Kak", Sugih menimpali. Akhirnya diskusi singkat terjadi diantara mereka, murid-murid pun berjanji untuk tidak membuang sampah ke dalam sungai.
Kami berharap murid-murid dapat menjadi penyampai pesan, setidaknya kepada ayah, ibu, dan keluarga di sekitarnya untuk peduli lingkungan. Oleh karena itu kesabaran dan ketekunan fasilitator merupakan faktor penting dalam keberhasilan memberikan penyadaran lingkungan sejak dini.
Pengirim:
M. Muslich
Read more