
Indahnya Tjiliwoeng di mata anak
Pengen tahu bagaimana anak usia 7-12 tahun mengekspresikan diri dalam bentuk seni tentang sungai ciliwung?
Apakah goretan tangan mereka mampu menggerakkan hati kita?
Apakah anak anda ingin jadi salah satu anak peduli ciliwung?
daftarkan segera disini
Read more
Masalah klasik dan kesadaran warga
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah

Permasalahan sampah hampir dalam tiga minggu kemarin telah kembali menjadi buah bibir di kalangan warga Bogor. Bagaimana tidak? Akibat pemblokiran jalan masuk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) oleh warga RT 08/05, Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, sejak tanggal 11 hingga 27 Agustus lalu, telah menghambat proses pengangkutan dan pembuangan sampah di wilayah Bogor. Truk-truk pengangkut sampah baik dari kota maupun kabupaten tidak dapat beroperasi secara optimal seperti biasanya. Akibatnya, sampah-sampah pun menumpuk bahkan menggunung di tempat pembuangan sementara (TPS) serta menimbulkan bau tak sedap karena busuk setelah beberapa hari tak diangkut. Di kota Bogor, sampah yang menumpuk di TPS ini meluber hingga ke jalan-jalan utama.
Selain sampah hasil pungutan di darat, pemblokiran ini juga berimbas pada pembuangan sampah hasil “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor” yang diadakan oleh KPC bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor (Minggu, 16/08/09). Sampah Ciliwung sebanyak 815 karung yang berhasil dikumpulkan warga dari setiap kelurahan, sementara waktu ditampung di kantor Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Paledang, kota Bogor, lalu kemudian dibuang bersama sampah lainnya ke TPA Curug Sukabumi dan Bantar Gebang Bekasi.
Setelah 16 hari berlangsung, menginjak tanggal 27 Agustus, pengangkutan sampah ke TPA Galuga pun barulah dapat kembali dilakukan secara normal. Namun, kini justru muncul pertanyaan di kepala saya, benarkah permasalahan ini telah selesai sampai disini? Menurut informasi yang diberitakan Jurnal Bogor (24/08/09), peristiwa ini merupakan kali kedua dalam tiga bulan terakhir ini. Bulan Juli yang lalu dilaporkan aksi serupa pernah terjadi. Lalu bagaimana untuk waktu ke depan nanti? Apakah benar-benar tidak akan terulang lagi…???
Dari kejadian ini, sudah saatnya bahkan menjadi suatu keharusan bagi seluruh warga Bogor untuk mulai menyadari dan memikirkan alternatif pengelolaan sampah yang tepat. Warga harus bisa mengambil pelajaran sebaik-baiknya dari peristiwa ini, karena ternyata kita tak hanya bisa mengandalkan segala sesuatunya pada “pihak tertentu” saja. Semua pihak harus terlibat dan diperlukan peran serta aktif dari seluruh warga untuk mengatasi “masalah klasik” ini. Minimal setiap individu harus berpikir bagaimana cara mengurangi sampah yang dihasilkan diri sendiri. Budaya membuang sampah pada tempatnya pun harus benar-benar kembali ditegakkan. Setidaknya kini kita harus menanamkan pemikiran bahwa “tas dan kantung baju/celana kita adalah tempat sampah pertama kita” jika tak menemukan tempat sampah terdekat. Terakhir, juga perlu diusahakan oleh kita untuk dapat memilah sampah mana yang harus dibuang dan sampah mana yang bisa didaur ulang atau diberdayagunakan kembali (sampah plastik, kertas, dan organik) agar dapat mengurangi beban sampah yang dihasilkan semaksimal mungkin.
Dalam kalimat sederhana kira-kira dapat saya tuliskan sebagai berikut:
“Semua upaya yang dilakukan sekarang merupakan "cara kita" menyediakan tempat terbaik dan aman untuk generasi mendatang”
Reference:
Email teman-teman KPC
Jurnal Bogor
Gambar diunduh dari sini
Read more
Upaya KPCDitulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Sampah sungai merupakan

perhatian utama di kalangan warga Bogor yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Kalau bisa dibilang,
“karena sampah sungai dan “perilaku menyeleweng” dari masyarakat inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan komunitas ini”. Sejak terbentuk bulan Maret 2009 lalu, KPC telah gencar melakukan kampanye sebagai upaya penyadaran masyarakat atas sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung. Setiap hari minggu kegiatan mulung rutin dilakukan untuk mengajak seluruh warga Bogor agar tidak menjadikan sungai Ciliwung sebagai “tempat sampah besar”. Tak hanya itu, kegiatan lainnya dalam rangka memperingati berbagai
event, baik lokal, nasional, bahkan internasional sekalipun, pernah diselenggarakan dan diikuti oleh KPC, mulai dari diskusi, talkshow, kampanye dengan cara “dangdutan”, hingga kegiatan yang “paling anyar” adalah “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor”. Untuk mendukung aksinya, riset terhadap sungai dan masyarakat sekitar sungai pun dilakukan oleh KPC.
11–27 Agustus. Terjadinya “krisis pembuangan sampah” yang memakan waktu selama hampir tiga pekan, kembali mengundang keprihatinan di kalangan para
volunteer KPC. Email yang beredar di kalangan teman-teman KPC-pun fokus membahas permasalahan ini serta berusaha aktif mencari solusi tepat untuk mengatasinya. Ide pengelolaan sampah-pun kembali “muncul ke permukaan” dari salah seorang teman saya. Namun, ajakan yang kini muncul adalah justru untuk memikirkan bersama bagaimana melengkapi dan menyempurnakan ide tersebut? Maksudnya adalah… agar penyelesaian atas “masalah klasik” ini dapat segera dituntaskan!!! Titik!!! Tidak bisa ditunda-tunda lagi!!!
No Comment lagi pokoknya!!!.
Tak hanya memikirkan solusi, berbagai respon dari masyarakat pun kami diskusikan bersama dalam email sebagai bahan masukan, motivasi, serta evaluasi bagi pelaksanaan aksi KPC ke depan. Salah satu respon yang cukup menarik perhatian saya adalah komen salah seorang warga yang dikirimkan ke Facebook teman saya. Menurut email yang dikirimkan teman saya ini, kegiatan kompetisi bersih Ciliwung yang kami (KPC) selenggarakan 16 Agustus lalu mendapat komen sebagai berikut:
"kok sampah yang disungai aja yang diangkut. Itu mah sampah yang ngga keliatan. Sampah di pasar anyar tuh numpuk banget dan bau yang seharusnya diangkut"
Saya kurang begitu paham dengan komen teman kita yang satu ini. Apakah teman kita ini menganggap KPC itu sebagai sekumpulan orang yang hanya bekerja untuk mengambili sampah saja??? Atau bagaimana??? Tapi semua itu bukanlah suatu masalah besar untuk diperdebatkan, kami anggap sebagai kritik membangun yang mungkin kami lupa akan hal itu.
Pertama-tama saya mewakili teman saya yang bersangkutan mengucapkan terimakasih atas komen yang saudara berikan. Dengan adanya komen berupa saran ataupun kritik, berarti setidaknya masih ada warga yang peduli dan terus memantau “tumbuh kembang” Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) untuk jangka waktu hingga ke depan nanti. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, ternyata masalah sampah ini kini bukan hanya menjadi tanggung jawab “pihak tertentu” saja. Bukan hanya Dinas, KPC, ataupun perseorangan saja, tapi semua pihak harus ikut andil dan terlibat dalam mengatasinya. “Lha wong setiap orang itu ngasilin sampah tiap harinya kok! Tul gak?”. Jika hanya membebankan pada “pihak tertentu” saja maka hasilnya akan sama seperti yang pernah kita rasakan bersama baru-baru ini. “Iya toh?”. Buktinya pun sudah bisa dilihat dari komen saudara di atas. Untuk itu, marilah bahu-membahu mengatasi permasalahan ini.
Untuk memperjelas saja, KPC bukan bekerja sebagai pemulung (pengumpul) sampah, tapi lebih bertujuan pada upaya penyadaran masyarakat dan pemberian solusi untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja kami (KPC) tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri saja. Perlu bantuan dan dukungan dari seluruh pihak terutama warga Bogor secara keseluruhan. Seperti halnya yang telah saya tuliskan pada artikel sebelumnya, ”Kami hanyalah sekumpulan orang biasa yang optimis dan berusaha bangkit mewujudkan mimpi-mimpi itu?”. Seoptimis-optimisnya kami, kami tetaplah sekumpulan orang biasa. Tanpa bantuan dan dukungan dari seluruh pihak maka mimpi atas penyelesaian “masalah klasik” ini dapat dipastikan tidak akan pernah terwujud.
Sekian, semoga bisa menjadi bahan renungan bersama…
Gambar diatas diunduh dari sini
Read more
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Lagi musim judul pakai kata “mimpi-mimpian” nih… Bagai tak mau kalah, saya pun ikut mencoba pakai "kata sakti" itu juga...hehe
Mungkin itulah yang terbayang dalam benak Dayang Sumbi ketika menyuruh Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga dalam waktu satu malam dengan cara membendung aliran sungai Citarum. Mungkin pula itulah yang juga dibanyangkan oleh Roro Jonggrang ketika menyuruh Bandung Bondowoso untuk membuatkan seribu candi dan dua buah sumur yang dalam dengan batas waktu hanya satu malam. Keduanya berpikir semua itu hanyalah mimpi belaka, dan yang namanya mimpi, tentu saja hal tersebut sangat mustahil untuk diwujudkan. Kalaupun memang bisa diwujudkan, kemungkinannya sangat… sangat... sangat… keciiiiiiiiiiiillll sekali. Itulah pemikiran sempit yang terlintas dalam kecilnya daya tampung kepala mereka. Nyatanya, dengan kesaktian yang dimiliki, Sangkuriang dan Bandung Bondowoso pun mampu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Nah, semua kejadian tadi memang hanya ada dalam dongeng rakyat saja, lalu pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung)? Mampukah KPC mewujudkan “kemungkinan kecil” dalam mengatasi “masalah klasik” warga Bogor? Dalam perkara sampah tentunya.
Tulisan ini sekedar catatan kecil dari saya sebagai sebuah motivasi pribadi sekaligus respon atas “permasalahan klasik” yang selalu berulang dan berulang lagi…
“…bagai putaran roda, titik itu kembali berada tepat di tempat yang sama berkali-kali…”
Kalau guru saya pernah bilang pada saya, "...hanya "orang bodoh" (maaf sedikit kasar) yang melakukan kesalahan untuk kedua kalinya...". Saya rasa kita bukanlah orang-orang yang termasuk dalam golongan itu. Oleh karena itu, "Mari bersama perbaiki "kesalahan" itu!!!"
Read more