(malu..malu..maluin..)Aksi ketiga ini,
sangat..sangat...memalukan, sebab di saat kita pungutin sampah, datanglah seorang warga, yang ngaku dia adalah petugas kebersihan di pasar. Dia merasa
“malu..malu ..karena ngga tahu... malunya” para LASKAR KARUNG mo ambilin sampah di lokasi dia. Menurut bapak ini sampah-sampah itu adalah jatah dia dan warga yang akan ambil.
“Malu..malu..sekali saya pak”? katanya sambil memperhatikan para Pemulung Tjiliwoeng ini yang berada di tengah sungai ciliwung sambil tenteng-tenteng karung dan sok jago berenang di tengah arus Ciliwung yang lumanyan deras. Malah seorang LASKAR KARUNG ini, dengan sok sekali, berendam mulu kerjanya.
Kami punya kegiatan bersih-bersih er te, “Setiap Jum'at dan memang ini sudah disepakati oleh warga, ada pembersihan lingkungan sekitar rumah dan di tepi Ciliwung, atau yang disebut JUM'AT BERSIH” kata beliau kepadaku.
“Kenapa ngga ada yang mo ikut bersih2?" kutanyakan kepada beliau. Warga juga malu..malu...sampai ngga ada yang mo datang dan ikut nyemplung ke Ciliwung. Karena malu sama komunitas ini, juga karena malu ngga punya karung dan malu kalo kaki dan tangannya kotor karena sampah yang mereka buang sendiri ke Ciliwung.
Dan aku pikir-pikir, jangan2 spanduk yang dipasang oleh teman kita itu juga, diambil warga karena malu. Sebab spanduk kok ngajak mulung bukan ngajak pilih caleg. Karena malunya juga, bapak ini ikut angkatin sampah, dan dia udah datang dengan bawa 3 orang yang pake golok untuk babatin semak-semak di tepi Ciliwung. Tapi lagi..lagi... bapak-bapak ini malu...malu ngeluarin goloknya dan malu untuk gabung dengan para pemulung yang juga malu kalo ngaku sebagai pemulung benaran. Jadi ngakunya dari komunitas Ciliwung bersih.
Jadi aksi ini, menjadi aksi paling memalukan....!!!
Read more
Di sela acara pemulungan ketiga kemarin, mata saya sempat terpaku beberapa saat pada seorang teman volunteer. Dia tampak modis, bergaya keren layaknya barudak Bogor nu garaul kitu. Saya mendadak jadi seperti pengamat mode yaa ... hehehe. Saat itu, dalam hati saya sempat berpikir ... gile bener nih orang mau ikut mulung sampah pake baju putih nan keren macam itu. Namun saya buru2, menghapus tuduhan2 berlebih yang bisa menjurus pada pikiran negatif. Saya langsung konsentrasi penuh pada tugas saya untuk "memulung dan memulung sampah" di Ciliwung.
Selepas waktu istirahat, saya kembali lihat teman volunteer itu. Waduuh koq saya jadi seperti jatuh cinta yaa sama dia. Gak mungkin ... haram hukumnya ... saya gak mau jatuh cinta sama sesama jenis. Dia itu cowok boo!!
Bukan, saya bukan napsu sama dia sebagai laki2. Saya hanya senang dan merasa bangga karena dia menjadi volunteer Komunitas Peduli Ciliwung ini. Kebanggaan saya begitu hebat hingga saya pun tertarik untuk memotretnya. Ediaan ... gilee ... begitu kamera saya jepretkan ke dia, dianya malah bergaya bak foto model ibukota. Top banget dahh!

Tapi kehebatan sang volunteer itu, setelah saya pikir2 bukan karena dia ganteng, modis atau keren. Tapi karena dia memakai kaos panjang putih sederhana (tanpa corak) bertuliskan "Sungai Bukan Tempat Sampah". Hebat sekali pesan yang dituliskan di kaos itu. Setelah sempat ngobrol dengan dia. Saya jadi tahu namanya Yudha. Dan dia sengaja memakai kaos itu untuk mencoba memakai dirinya sendiri sebagai papan reklame. Betuull sekali ... ia jualan kaos. Menurutnya kaos tsb diproduksi oleh ia dan teman2nya untuk mendukung komunitas kita ini. Makin bangga rasanya saya ketika mendengar cerita itu.
Selamat dehh Yudha!! Semoga upayamu dan teman2 utk mendukung Komunitas Peduli Ciliwung diberkahi Allah. Semoga kaosmu banyak yang beli. Paling tidak, aku juga mau beli. Lha wong bagus, keren dan modis .... pesannya juga hebat. Lihat aja pada foto Yudha di samping. "Ngomong2, kaos eta dijual sabaraha Yud? Mun arek meuli, kontak ka saha?"
Read more

Sejumlah fasilitator dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor secara rutin, setiap Sabtu, melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Dasar Negeri Kampung Rambutan, Kelurahan Sempur, Kota Bogor. PLH dimaksudkan untuk memberikan penyadaran dan kecintaan lingkungan kepada anak-anak, khususnya yang langsung berinteraksi dengan Ciliwung.
Saya, yang jadi guru dadakan pada kesempatan ini, tidak ambil pusing untuk memulai belajar lingkungan pada Sabtu ini. Pada intinya metode pengajaran yang kita terapkan adalah bermain sambil belajar sehingga tidak membebani murid. Sabtu ini kami belajar mengenai pentingnya air dan sungai Ciliwung. Murid-murid antusias saat diminta untuk menggambarkan letak rumah mereka terhadap sungai Ciliwung. Ternyata sebagaian besar murid bertempat tinggal dekat dengan Ciliwung. Mereka kemudian menyampaikan pendapatnya mengenai fungsi Ciliwung dalam kehidupan sehari-hari.
"Coba sebutkan manfaat Sungai Ciliwung buat kehidupan sehari-hari?" Aku melempar pertanyaan dan memancing murid-murid untuk berpendapat. Tidak lama mereka berebut menjawab pertanyaanku. "Buat mandi dan cuci pakaian, Kak", kata Iis dari pojok kelas. "Tempat buang air besar", jawab Sugih dan murid laki-laki lainnya dari bagian kanan kelas. Mereka memang menjadi saksi keseharian bagi aktivitas sejumlah warga yang menggunakan Ciliwung untuk mandi, cuci, dan kakus.
Berbeda dengan Novi, dia berpendapat kalau Ciliwung adalah tempat buang sampah. "Buat buang sampah ke sungai!" seru Novi polos. Jawaban Novi sontak membuat murid-murid lainnya tidak sependapat. Menurut mereka, kita tidak boleh membuang sampah ke dalam sungai. "Nanti banjir, Kak", Sugih menimpali. Akhirnya diskusi singkat terjadi diantara mereka, murid-murid pun berjanji untuk tidak membuang sampah ke dalam sungai.
Kami berharap murid-murid dapat menjadi penyampai pesan, setidaknya kepada ayah, ibu, dan keluarga di sekitarnya untuk peduli lingkungan. Oleh karena itu kesabaran dan ketekunan fasilitator merupakan faktor penting dalam keberhasilan memberikan penyadaran lingkungan sejak dini.
Pengirim:
M. Muslich
Read more

Kepada semua teman2 volunteer Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak,
Kepada seluruh warga Bogor di mana pun Anda berada,
Kepada semua orang yang merasa perlu ikut serta membantu upaya membersihkan Ciliwung,
dan Kepada siapa saja yang membaca pesan ini,
Komunitas Peduli Ciliwung kembali menggelar acara "mulung sampah Ciliwung" setiap hari Minggu. Berikut penjelasannya di samping ini ...
Silakan datang, silakan lihat, dan silakan ikutan mulung!!
Jangan ragu2, jangan bimbang, tapi boleh saja malu ... karena malu itu adalah sebagian dari iman ... hehehe. Bila Anda malu, maka tak usah khawatir, Anda pasti akan turut serta ...
Read more

Kemarin, kami (di sekretariat) mendapat sebuah surat pendek dari seorang kawan. Kawan tersebut adalah seorang Ketua RT di Kelurahan Tegal Gundil, Bogor. Kebetulan beliau sedang berada di lokasi pemulungan sampah Ciliwung hari Minggu lalu. Berikut isi suratnya ....
Setelah kegiatan pertama nggak nengok aksi Ciliwung, ada kesempatan pada aksi ke dua mampir ke Ciliwung.
Niat awal memang nggak bantu-bantu bersihin kali Ciliwung, wong kali Ciparigi depan rumahku saja masih kotor koq. Minggu depan aku mau nyontek aksi Ciliwung ah untuk bersih-bersih Ciparigi bareng warga RT-ku.
Karena nganggur, duduklah aku di tukang lotek dan ngobrol ngalor-ngidul dengan penduduk Lebak Kantin ngomongin orang-orang yang 'nggak punya kerjaan'. Ternyata aksi Ciliwung memalukan ... membuat malu mereka sebagai penduduk setempat, terjadi saling tunjuk diantara mereka tentang perilaku mereka yang selalu buang sampah ke Ciliwung.
Pulangnya ibu tukang lotek membungkus sampahnya dan membungkusnya dengan kertas koran. Mari kita perbesar aksi yang memalukan ini.
Pak RT, jadi maksudnya aksi ini memalukan, atau membuat malu??? heheheheee ....
Read more
Ssssst, ... mau coba ah, ...
tapi nggak sekarang ya.
Catatan=
- Film ini didokumentasikan pada hari Minggu, 22 Maret 2009. Bersamaan dengan Aksi Bersih Ciliwung yang kedua kalinya.
- Saksikan film singkat ini di
Youtube.
- Saksikan film singkat ini di
Facebook.
- Saksikan film singkat ini di Videoku.
Read more
Sub title: Sampah dan Kantor Kelurahan Baranangsiang
Sambil mengamati dan meng-overview lingkungan perumahan di sekitar sungai Tjiliwoeng aku berjalan sendiri menyusul tim menyusuri jalan Bangka. Siang itu kira-kira pukul 10.23 WIB tanggal 22 Maret 2009, sedari rencana pertemuaan jam 7 pagi di lapangan sempur. Akhirnya aku bertemu dengan Tim Sosek dan Pemetaan “Tjiliwoeng Dream dari arah berlawanan. Tim ini berjalan dari jembatan Saras, Padjajaran hingga tembus ke jalan Bangka. Sedangkan aku menyisir dari arah kebun raya menuju jalan Bangka. Tim yang bertujuan memetakkan titik-titik tumpukan sampah yang berserakan di bibir-pinggir sungai Tjiliwoeng pada sebelah kanan jika mengikuti aliran sungai Tjilioweng.
Dengan berbekal alat pendeteksi koordinat geograpis bumi, GPS dan sebuah kamera SLR Digital tim memetakkan dan mendokumentasikan semua temuan-temuan hasil observasi lapangan. Berhubung tim kali ini lebih memfokuskan pada pemetaan titik-titik sampah sepanjang bantaran sungai Tjiliwoeng keterlambatanku bersama rombongan tidak terlalu berpengaruh pada tujuan utama pergerakan tim kali ini, yang sebelumnya aku didaulat untuk membantu dalam assessment sosial budaya masyarakat bantaran-sempadan Tjiliwoeng.
Sekitar lima meter dari kantor kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Pemerintahan Kota Bogor, sungguh sangat disayangkan dan bagiku sangat memalukan sekali terdapat penumpukan sampah yang berserakan di pinggir sungai pinggir jalan Bangka. Kantor kelurahan yang berdiri kokoh menghadap ke selatan dengan hiasan panorama Gunung Salak, yang tampak menjulang tinggi dan anggun dari kejauhan. Namun hiasan itu tak sebanding dengan hiasan tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalan Bangka di bibir sungai Tjiliwoeng. Sebuah perkantoran dengan lokasi eksotis dan strategis. Tidak dijaga dengan cara yang bersih dan elegan pula. Pikirku apa kerjaan pak lurah Baranangsiang? Sungguh dilematis.
Banyaknya sampah ini menunjukkan betapa cueknya dan ketidakpedulian pamong parja (elit local) Baranangsiang dalam mengelola sampah. Peran public awaraness pamong paraja sejatinya seharusnya menjadi superordinat goal (tujuan mulia) dan senantiasa menjadi peran yang terus menerus dijalankan. Namun tidak demikian. Kondisi real itu mengisyaratkan betapa rendahnyanya tingkat kesadaran yang dimiliki oleh para pamong praja kelurahan. Sumpah serapah pun mengalir sendirinya dari pikiranku melihat kelalaian dan ketidakbecusan dalam menjaga kebersihan dan keindahan yang jauh dari sampah. Ohh...Kelurahan Baranangsiang. Aku yakin kalo sumber pendanaan yang dimiliki kelurahan ini cukup untuk memberikan proses edukasi dan penyadaran arti penting kebersihan dan keindahan. Begitu juga untuk penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang cukup memadai. Ternyata peran ini belum maksimal dilakukan.
Anehnya lagi adalah, perumahan di kanan kiri kelurahan Baranang Siang sepertinya adalah perumahan yang lumayan mapan dan elit. Bukan perumahan kumuh. Terus pertanyaannya apa sampah ini sampah para pejalan kaki? Tapi kenyataannya sampah ini berserahkan pada titik-titik tertentu. Inilah sketsa kompleksitas masalah yang nantinya akan kita hadapi bersama dalam mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”. Tjiliwoeng Bogor.
Salam
Firin
Read more