Kalau kata Tukul Arwana, mulung minggu lalu memang "luar biasa dan spektakuler". Betapa tidak, para laskar karung akhirnya bisa menghabiskan tumpukan styrofoam yang mengambang di sudut Ciliwung di daerah Lebak Kantin, Sempur. Dengan hanya bermodalkan kurang dari sepuluh orang laskar, 90% styrofoam langsung terangkat dalam waktu kurang dari 3 jam. Hasil pemulungan juga gila-gilaan. Semuanya berjumlah 36 buah karung plastik.
Sayangnya 10% tumpukan styrofoam sisanya tak mampu dibersihkan dari badan sungai. Alasan resiko keselamatan menghalangi niat utk membersihkannya. Jika melihat situasinya di lapangan, memang hal tersebut termasuk kategori sulit dilakukan. Tumpukan styrofoam yang tersisa berada di bibir tebing batu curam yg basah. Istilahnya ... orang gila aja takut jalan di situ ... hehehe.
Tapi, sebenarnya ada hal lain yg lebih spektakuler bagi para laskar karung KPC. Hal ini tentunya sangat membanggakan. Pemulungan kali ini terasa berbeda karena juga dihadiri oleh para pembesar (baca: pejabat atau pemimpin) dari 2 LSM terkenal di negeri ini. Apalagi kedua organisasi tersebut dikenal luas sebagai organisasi pembela lingkungan. Hmmm ... siapa saja sih mereka?
Mereka2 itu adalah Berry N. Furqan (Direktur Eksekutif Nasional WALHI), Mukri Friatna (Manajer Penguatan Kelembagaan Regional Sumatera), Christian "Bob" Purba (Wakil Presiden Perkumpulan Telapak), dan Rina Agustine (Ketua Badan Teritorial Telapak Jawa Bagian Barat). Saya sendiri, sebagai seorang laskar karung KPC tentu patut berbangga. Ternyata upaya para laskar karung ini didukung penuh oleh petinggi2 LSM lingkungan tingkat nasional.
Para petinggi itu pun tak segan2 mencelupkan tangan2 mereka ke dalam genangan air kotor yang penuh sampah di Ciliwung. Bau ... sudah pasti, capek ... apa lagi. Semua giat dan semua aktif bekerja keras layaknya pemulung sesungguhnya. Kalau anda tidak percaya ... silakan lihat foto2 yang saya abadikan saat mereka beraktivitas dan lelah diantara tumpukan karung di tepi sungai Ciliwung.
Read more
Minggu lalu, para laskar karung KPC disibukkan dengan bejibun sampah anorganik yang terkonsentrasi diantara 2 jembatan gantung yg menghubungkan Kampung Lebak Kantin dengan pemukiman asri Sempur. Dengan personil beberapa gelintir orang, laskar karung telah mengangkat puluhan karung sampah2 tsb. Bentuknya pun bermacam2, bahkan para laskar karung juga berhasil mengangkat sebuah sofa bekas dari permukaan air.
Aksi spektakuler tsb ternyata masih belum mampu membersihkan seluruh sampah di titik itu. Walau sebagian besar anakonda berhasil ditaklukkan, namun styrofoam belum juga habis. Sampah mengambang yang ringan, menghabiskan ruang (voluminus) dan sangat sulit terurai ini masih menguasai titik pemulungan tsb.
Maka ... mau tak mau para laskar karung memang harus kembali menyatroni titik tersebut. Perjuangan tak boleh berhenti. Styrofoam masih berkuasa di sana ....

Read more
Minggu lalu, secara tidak sengaja para laskar karung KPC melintasi kawasan rindang di Jalan Sempur Kaler sepulang aksi mulung. Betapa terkejutnya kami ternyata tumpukan sampah berbentuk anakonda dan sampah styrofoam mengambang masih saja menumpuk di bagian hilir Kampung Lebak Kantin. Lokasinya tepat berada di depan sebuah kantor LSM di Jl. Sempur Kaler.
Saat itu terbayang sebuah rencana ...
Sepertinya para laskar karung KPC masih harus berkutat melawan sampah sungai di seputaran Sempur. Warga yang tidak peduli dan masih saja ada yg buang sampah langsung ke sungai masih jadi tantangan.
Maka ... tak ada salahnya memang jika aksi mulung ke-52 ini dipusatkan di wilayah tepian Jl. Sempur Kaler, di seberang Kampung Lebak Kantin. Berikut pengumumannya mulung hari Sabtu ini (3 April 2010) ...

Read more
Minggu, 14 Maret 2010 berlokasi di Lapangan Lebak Kantin, Sempur Bogor, acara peringatan setahun Komunitas Peduli Ciliwung diadakan. Salah satu kegiatan dari rangkaian acara ini adalah lomba gambar anak-anak tingkat SD se-Bogor dengan tema lomba “Anak Bogor Cinta Sungai Ciliwung”. Perlombaan dibagi menjadi 2 kategori yaitu kategori umur 7-9 tahun dan 10-12 tahun. Sekitar 50 anak-anak dari berbagai sekolah dasar di Kota Bogor dan sekitarnya ikut ambil bagian dalam lomba ini. Sebagian dari peserta adalah anak-anak Lebak Kantin yang memang sangat akrab dengan Ciliwung.

Lomba ini diselerenggarakan dalam rangka menanamkan sikap mencintai lingkungan khususnya Sungai Ciliwung pada anak-anak. Dalam lomba ini diperebutkan 6 piala KPC masing-masing untuk juara 1,2,3 pada masing-masing kategori.
Dengan dipandu Kak Zoel , anak-anak menggambar kesan masing-masing terhadap Sungai Ciliwung. Dengan menggunakan krayon warna-warni anak-anak peserta lomba mulai menggambar di selembar karton putih ukuran A3. Selain menggambar Kak Zoel juga menerangkan pada anak-anak tentang pentingnya sungai untuk kehidupan manusia dan upaya untuk memeliharanya. Anak-anak terlihat antusias sekali mengikuti penjelasan dari Kak Zoel.
Setelah usai lomba anak-anak diajak berjalan dan melihat tepian Sungai Ciliwung dan mengikuti rangkaian kegiatan lain yaitu pentas seni. Meski siang itu sangat panas, namun rasa lelah tidak tampak di wajah anak-anak itu.
Lomba berlangsung selama 2 jam, sejak jam 9 sampai jam 11. Dalam waktu itu para peserta lomba berhasil membuat gambar-gambar Sungai Ciliwung yang ekspresif. Misalnya Vania, Siswi SDN Pengadilan 2 Bogor ini menggambar kondisi Ciliwung yang penuh dengan sampah dan bau, sehingga di dalam gambar itu terlihat orang yang memakai masker untuk membersihkan sungai. Gambar inilah yang mengantarkan Vania menjadi Juara 1 lomba gambar ini untuk kategori umur 7-9 tahun.
Pengumuman pemenang dilangsungkan pada pukul 2 siang menjelang sore. Sebelum akhirnya hujan deras mengguyur Kota Bogor dan lokasi kegiatan ini. Namun demikian rangkaian acara yang diselenggarakan tetap berlangsung dengan lancar.
Pengirim=
Nonet / Sudiyah Istichomah (nonette262@gmail.com)
Read more
Minggu, 28 Maret 2010
SMS kali ini tertulis berbeda dari sms yang biasa diterima tiap jum'at sore. isinya berbunyi: "Mohon Konfirmasi untuk keterlibatan anggota KPC dalam mulung bersama Rimpala di Cangkurawok"
Deket dari rumah tuh,
Walaupun mata mengantuk dan agak letih dari aktifitas siang, coba untuk membalas sms tersebut via Puji. Balasan sms-pun datang kembali. "untuk koordinasi, bisa ke Dinda 0857-1139-3741(Anggota Rimpala yang menjadi penanggung jawab "Mulung Perdana Rimpala").
Minggu, jam 7 pagi, sms balasan dari dinda datang. Setelah mempersiapkan diri, berangkatlah kami ke TKP. ditengah perjalanan tampak barisan mahasiswa menenteng "kantong plastik hitam ukuran 50kg".
"emangnya kuat ya kalo pake kantong plastik" tanyaku tenang. pertanyaan ini cuma dijawab dengan senyum.
Tak ketinggalan 4 orang pemulung cilik juga memeriahkan minggu pagi itu. Untuk perhelatan pertama, yang dapat melibatkan 30 mahasiswa, kita harus acungkan jempol untuk mereka.
Ternyata plastik tersebut kuat, tapi untuk menampung sampah yang ada di sisi atau tepi sungai. Plastik pertama sobek dengan sukses begitu di isi oleh anakonda cangkurawok.
"Ternyata menyenangkan ya melepaskan anakonda" kata Ilham, salah seorang anakonda yang rela berenang bersama seorang anak kecil warga sekitar.
"Itu sih karena sungai di kota lu udah pada tercemar aja, jadi lu pake kesempatan buat berenang" celetuk dinda
Mahasiswa ini berharap bahwa melalui kegiatan yang sama, juga muncul kesadaran dari penduduk sekitar untuk menjaga kelestarian sungai di sekitarnya. Yang jelas perjalanan baru saja dimulai, dukungan dari institusi (Fakultas Kehutanan dan IPB) sangat dibutuhkan oleh para pemulung muda ini.
Untuk sinergitas aktifitas, Rimpala juga berencana untuk terus ikut dalam kegiatan KPC ke depannya. Sebuah pembelajaran bagi kami, bahwa ternyata dari sesuatu yang kecil yang bisa kami lakukan bisa melakukan perubahan.
Sukses buat Teman2 Rimpala di Sungai Cikarawang.
Read more
Sebulan ini, sepertinya memang para laskar karung KPC harus terus menyatroni Lebak Kantin, tepatnya di kolong jembatan Jl. Jalak Harupat, Kelurahan Sempur, Bogor. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-satu pasti tak akan cukup halaman posting blog ini memenuhinya. Namun dari ribuan alasan yang mungkin, setidaknya Lebak Kantin adalah tempat yang cukup istimewa bagi sejarah KPC. Bayangkan saja, mulung perdana dilakukan di tempat ini setahun yang lalu. Lalu 2 minggu lalu KPC bersama para warga plus Ibu Lurah Sempur juga mulung di tempat ini. Belum lagi keberagaman suasana seperti kegigihan para pemancing beunter, kegiatan cuci baju dan celana para tunawisma, sampai kumpulan warga di warung kecil tepi Ciliwung bisa kita saksikan di sana. Kalau mujur, kita juga dapat bertemu dengan orang2 "hilang ingatan" yang asik menghitung uang monopoli.
Selanjutnya ...
Bagi anda semua, juga para laskar karung, mari ... buktikan sendiri kehebatan tempat itu dan bantu sama2 membersihkan sampah2 yg mengotorinya. Bergabung bersama KPC dalam aksi mulung ke-51.
Sampai bertemu di Lebak Kantin ...

Read more

Sejenak tercenung melihat riak Sungai Ciliwung yg tertahan batu-batu besar di bawah kolong Jembatan Jalak Harupat. Buih-buih putihnya terurai mengalir terbawa arus. Apa yg membedakan sungai ini dengan beberapa sungai yg baru kulihat di Pulau Bali beberapa hari lalu?
Hanya ada satu atau dua sungai besar yg mengalir di pulau itu. Selebihnya hanya kutemui beberapa sungai kecil yg berukuran pendek. Kebanyakan sungai ini kering, tidak ada air mengalir, hanya bebatuan yg terlihat kering terkena terik matahari. Hanya di bagian hulu sungai dimana mata air mengalir, terlihat ada aliran air.
Karakteristik pulau ini memang unik. Ada satu istilah yg mengungkapkan bahwa gunung dan pantai bisa ditemukan dalam satu kesempatan. Bukit-bukit yg terhampar membentuk sungai-sungai kecil yg jumlahnya puluhan dan mungkin ratusan.
Sang KPC 001 kembali memberi komando agar kita melanjutkan mulung tahap kedua. Aliran Sungai Ciliwung seperti ini adalah kondisi yg biasa kita temui pada setiap minggunya. Begitu juga jenis sampah yg kita pulung. Beberapa anakonda yg nyangkut di batu-batu dan di kaki jembatan berhasil kita angkut keluar sungai. Tentu saja tidak semuanya. Susah payah 5 orang laki-laki menggotong anakonda naik ke pinggiran sungai.
Hal sampah seperti ini juga yg membedakan dengan kondisi sungai di Bali. Beberapa sungai kecil yg kulihat mengalir di beberapa desa yg kulalui, tidak kutemukan sampah plastik bececeran. Apalagi jenis anakonda. Hanya bebatuan berwarna abu kecil dan besar. Tidak ada sampah plastik mengambang. Di beberapa sungai besar yg mengalir ada airnya, terlihat penambangan pasir dan tentu saja beberapa kelompok pemancing. Itu saja. Tentunya ini pengamatan singkat saja. Silakan jika ada yg mau melengkapi.
--
Rita Mustikasari
Perkumpulan Telapak
Gedung Alumni IPB
Jalan Pajajaran No 54 Bogor
Tel 62 251 393 245
ritamustikasari@telapak.org
www.telapak.org
Read more