
Kemarin, kami (di sekretariat) mendapat sebuah surat pendek dari seorang kawan. Kawan tersebut adalah seorang Ketua RT di Kelurahan Tegal Gundil, Bogor. Kebetulan beliau sedang berada di lokasi pemulungan sampah Ciliwung hari Minggu lalu. Berikut isi suratnya ....
Setelah kegiatan pertama nggak nengok aksi Ciliwung, ada kesempatan pada aksi ke dua mampir ke Ciliwung.
Niat awal memang nggak bantu-bantu bersihin kali Ciliwung, wong kali Ciparigi depan rumahku saja masih kotor koq. Minggu depan aku mau nyontek aksi Ciliwung ah untuk bersih-bersih Ciparigi bareng warga RT-ku.
Karena nganggur, duduklah aku di tukang lotek dan ngobrol ngalor-ngidul dengan penduduk Lebak Kantin ngomongin orang-orang yang 'nggak punya kerjaan'. Ternyata aksi Ciliwung memalukan ... membuat malu mereka sebagai penduduk setempat, terjadi saling tunjuk diantara mereka tentang perilaku mereka yang selalu buang sampah ke Ciliwung.
Pulangnya ibu tukang lotek membungkus sampahnya dan membungkusnya dengan kertas koran. Mari kita perbesar aksi yang memalukan ini.
Pak RT, jadi maksudnya aksi ini memalukan, atau membuat malu??? heheheheee ....
Read more
Ssssst, ... mau coba ah, ...
tapi nggak sekarang ya.
Catatan=
- Film ini didokumentasikan pada hari Minggu, 22 Maret 2009. Bersamaan dengan Aksi Bersih Ciliwung yang kedua kalinya.
- Saksikan film singkat ini di
Youtube.
- Saksikan film singkat ini di
Facebook.
- Saksikan film singkat ini di Videoku.
Read more
Sub title: Sampah dan Kantor Kelurahan Baranangsiang
Sambil mengamati dan meng-overview lingkungan perumahan di sekitar sungai Tjiliwoeng aku berjalan sendiri menyusul tim menyusuri jalan Bangka. Siang itu kira-kira pukul 10.23 WIB tanggal 22 Maret 2009, sedari rencana pertemuaan jam 7 pagi di lapangan sempur. Akhirnya aku bertemu dengan Tim Sosek dan Pemetaan “Tjiliwoeng Dream dari arah berlawanan. Tim ini berjalan dari jembatan Saras, Padjajaran hingga tembus ke jalan Bangka. Sedangkan aku menyisir dari arah kebun raya menuju jalan Bangka. Tim yang bertujuan memetakkan titik-titik tumpukan sampah yang berserakan di bibir-pinggir sungai Tjiliwoeng pada sebelah kanan jika mengikuti aliran sungai Tjilioweng.
Dengan berbekal alat pendeteksi koordinat geograpis bumi, GPS dan sebuah kamera SLR Digital tim memetakkan dan mendokumentasikan semua temuan-temuan hasil observasi lapangan. Berhubung tim kali ini lebih memfokuskan pada pemetaan titik-titik sampah sepanjang bantaran sungai Tjiliwoeng keterlambatanku bersama rombongan tidak terlalu berpengaruh pada tujuan utama pergerakan tim kali ini, yang sebelumnya aku didaulat untuk membantu dalam assessment sosial budaya masyarakat bantaran-sempadan Tjiliwoeng.
Sekitar lima meter dari kantor kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Pemerintahan Kota Bogor, sungguh sangat disayangkan dan bagiku sangat memalukan sekali terdapat penumpukan sampah yang berserakan di pinggir sungai pinggir jalan Bangka. Kantor kelurahan yang berdiri kokoh menghadap ke selatan dengan hiasan panorama Gunung Salak, yang tampak menjulang tinggi dan anggun dari kejauhan. Namun hiasan itu tak sebanding dengan hiasan tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalan Bangka di bibir sungai Tjiliwoeng. Sebuah perkantoran dengan lokasi eksotis dan strategis. Tidak dijaga dengan cara yang bersih dan elegan pula. Pikirku apa kerjaan pak lurah Baranangsiang? Sungguh dilematis.
Banyaknya sampah ini menunjukkan betapa cueknya dan ketidakpedulian pamong parja (elit local) Baranangsiang dalam mengelola sampah. Peran public awaraness pamong paraja sejatinya seharusnya menjadi superordinat goal (tujuan mulia) dan senantiasa menjadi peran yang terus menerus dijalankan. Namun tidak demikian. Kondisi real itu mengisyaratkan betapa rendahnyanya tingkat kesadaran yang dimiliki oleh para pamong praja kelurahan. Sumpah serapah pun mengalir sendirinya dari pikiranku melihat kelalaian dan ketidakbecusan dalam menjaga kebersihan dan keindahan yang jauh dari sampah. Ohh...Kelurahan Baranangsiang. Aku yakin kalo sumber pendanaan yang dimiliki kelurahan ini cukup untuk memberikan proses edukasi dan penyadaran arti penting kebersihan dan keindahan. Begitu juga untuk penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang cukup memadai. Ternyata peran ini belum maksimal dilakukan.
Anehnya lagi adalah, perumahan di kanan kiri kelurahan Baranang Siang sepertinya adalah perumahan yang lumayan mapan dan elit. Bukan perumahan kumuh. Terus pertanyaannya apa sampah ini sampah para pejalan kaki? Tapi kenyataannya sampah ini berserahkan pada titik-titik tertentu. Inilah sketsa kompleksitas masalah yang nantinya akan kita hadapi bersama dalam mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”. Tjiliwoeng Bogor.
Salam
Firin
Read more
Air mengalir sampai jauhhhhh .... sebait lagu dari Bengawan Solo oleh Gesang
Mungkin itu yang cocok juga kita dendangkan bagi Ciliwung yang membelah kota Bogor, Jakarta, dan berujung di Muara Angke sono
[hehehe ... kalo ngga salah].
“Dingin, kotor, bau dengan warna kaya susu coklat” serta penuh batu-batu segede kerbau, memenuhi beberapa bagian sungai Ciliwung. Di beberapa batu-batu lainnya, sampah juga ngga mau kalah gedenya, ada yang “segede gaban”.
Rendamlah kaki, tangan serta badan..mungkin itu bisa menghilangkan keruwetan dan penuhnya otak di kepala kita selama enam (6) hari sekali untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hanya beberapa menit kita melonggarkan sendi dan gerakan tungkai-tungkai tangan dan kaki untuk mencoba celupkan diri di air Ciliwung.

Dua kali sudah, aku dengan teman-teman (yang sok jago ini) yang menamakan diri Komunitas Ciliwung, pamer dan unjuk kekuatan dengan merendamkan kaki dan tangan di Ciliwung. Orang mungkin mikir, ini orang-orang sinting ato ngga punya kerjaan, masa mungut sampah aja ngajak-ngajak dan sok jago lagi, tiap minggu dan bawa-bawa spanduk dan ngajak-ngajak orang lagi.
“Kenapa ngga ajak pemerintah aja yang turun ke sungai Ciliwung, dengan segala fasilitas dan kemudahan yang mereka miliki, kenapa juga mesti masyarakat atawa orang susah yang bersih-bersih atawa ambil sampah di Ciliwung, bah ... kaya orang ngga ada kerjaan aja!!” kira-kira begitu kometar orang terhadap aku dengan konco-konco yang melakukan terapi air di Ciliwung ini.
Tapi banyak orang ngga nyadar kali, bahwa meluangkan waktu dengan sedikit menyentuh dan nyelupin air di Ciliwung membuat rasa kebersamaan dan rasa kesadaran kita menjadi lebih peka. Coba tengok, ada teman2 ku yang membawa anak bininya dan ada juga yang mbawa pacar dan ada juga yang mbawa isterinya ..... karena mereka tahu, air merupakan tempat paling bagus untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan kepedulian.
Dan coba kita liat, air juga mengisi kehidupan kita ini. Kalo kita dulu belajar biologi di masa-masa ES DE, kita dikasih tau ama guru bahwa 70 persen bumi ini merupakan air. Naah coba bayangkan kalo kita ngga ada air. Bagi yang suka ngopi dan begadang, ngga kebayang deh .... Coba tengok anak2 baru lahir juga udah dimandiin, malah sekarang ada yang ngelahirin dalam air. Pokoknya air merupakan obat penyembuh yang paling ampuh dan murah meriah yang telah disediakan oleh alam kepada kita. Manusia aja tanpa air mati lebih cepat daripada ngga makan ... gimana? gerindra ... ehh maksudnya ngeri ngga?????
Sebetulnya “Terapi Air”, merupakan obat ampuh untuk mengembalikan kesadaran kita, kesadaran tuk tidak membuang sesuatu ke dalam aliran Ciliwung. Tuk membuang sumpah-serapah kepada yang peduli kepada Ciliwung. Tuk sadar kepada yang memiliki niat baik terhadap Ciliwung. Dan tuk selalu menyadarkan kita untuk saling menyadari dan saling mengingatkan bahwa Ciliwung perlu untuk kepedulian kita kepada sesama.
Dan tidak pernah bosan-bosannya seperti air yang mengalir di Ciliwung, kami orang-orang yang sok jago ini, mengajak kepada siapa saja yang peduli atao yang tidak peduli untuk turun bareng dan bergandengan tangan kita melakukan terapi air di Tjiliwoeng nan Ampoeh Aernja. Ini adalah bagian dari rasa kepedulian dan kesadaran kita terhadap alam. Mari bergabung dengan kami Komunitas Ciliwung.
Salam sayang, Ejhonski
Read more
Sungguh indah bisa meluangkan waktu, walau hanya beberapa saat, mengotori diri kita dari pagi hingga siang. Hanya ini lah yang dapat kami lakukan, melihat yang terjadi dan mencoba turut menganyunkan lengan, membuka jemari kita, dan meraih apa yang telah kita buang tuk tempatkan kembali ke tempatnya dengan baik.
Rekan-rekanku, ...
Mari kita luangkan waktu untuk membantu diri sendiri dengan melihat sekeliling kita. Sudahkah kita memberi apa yang telah diberikan oleh sungai, hutan, air, dan segala isinya tuk hidup ini.
Selamat Hari Air Sedunia
Read more
Para teman2
volunteer pemulung sampah Ciliwung, para warga Bogor, dan para pembaca blog yang budiman,
Jangan lupa ... kita akan segera melakukan pemulungan sampah kedua di Ciliwung. Catat tanggal dan waktunya:
Hari: Minggu, 22 Maret 2009
Waktu: ... dimulai sekitar jam 07.30 s/d 11.00
Lokasi kumpul: ... lapangan Sempur, Kota Bogor
Bagi yang tertarik untuk ikutan, silakan bergabung langsung dengan kami di lapangan. Jangan lupa, karena Anda akan basah dan kotor, mohon gunakan pakaian yang sesuai (jangan pake baju pesta ... hehehe). Baik sekali jika Anda juga melengkapi diri dengan sepatu bot.

Hanya inilah Aksi yang dapat kami lakukan dalam memperingati
Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret ini. Kawan-kawanku sebangsa dan tanah air, mari kita gabung dalam aksi nyata ini, kalau tidak sempat, silahkan boeat di tempat masing-masing.
Untuk-Mu Dunia Kita, Hidup dan Kehidupan.
Read more