Bogor, 9 Oktober 2009
Tiga orang penggiat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Bukit Duri Jakarta, Kamis 17/09/ 2009 mengunjungi Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di daerah Kecamatan Sempur Bogor untuk bersilahturami dan bertukar pengalaman kegiatan seputar isu penyelamatan Sungai Ciliwung.
Menurut Ken salah satu penggiat Ciliwung Merdeka - Jakarta, kegiatan yang sangat sederhana tapi sengat menyentuh yang dilakukan oleh Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC) diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh buat komunitas dan LSM lain serta masyarakat luas untuk lebih peduli kepada sungai Ciliwung.
Komunitas Ciliwung Merdeka yang awal didirikan-nya untuk pendidikan masyarakat. Hingga 2009 ini Komunitas Ciliwung Merdeka mempunyai tiga program kegiatan yang sedang dilakukan yaitu pendidikan masyarakat; pengolahan sampah serta kesehatan.
Read more

Adalah sebuah tempat di seputaran Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Bogor. Entah apa makna sebenarnya dari nama tempat itu. Kata seorang kawan (Sunda),
"beunghar" itu artinya kaya. Namun sayangnya ia tidak tahu soal arti kata
padang. Ia curiga ini bukan istilah dalam bahasa Sunda. Yaa sudah lah ... mungkin saat ini kita tak perlu mencari artinya. Tapi (kadang) benak saya ingin mengartikannya secara bebas ... mungkin itu artinya tempat luas yang pernah dihuni orang kaya, mungkin juga dulu di tempat itu pernah tinggal seorang berdarah Minang yang kaya raya.
Baiklah ... saya tak akan meneruskan pembahasan soal arti kata pada nama tempat itu. Lalu kenapa dengan tempat itu? Ada apa di sana? Mengapa saya mencoba membahas kata
"padang beunghar"?
Jawaban saya singkat saja ...
Soalnya hari Minggu ini, 11 Oktober 2009, para laskar karung KPC dijadwalkan untuk melakukan kegiatan rutin mulungnya di Padang Beunghar, kawasan Pulo Geulis. Ini adalah tempat mulung yang sama dengan yang dilakukan hari minggu lalu. Lokasi tepatnya berada di ujung hulu, sisi Barat Pulo Geulis. Untuk menuju ke sana dapat dilakukan dari Jalan Roda (masuk gang 2), langsung menuju ke RW 9 .... atau ... bisa juga dari Jalan Bangka-Riau, melalui jembatan Pemuda menuju Pulo Geulis, menyusur gang2 kecil di pulau padat tersebut, melintasi jembatan menuju ke jalan roda di RW 9.
Mari ... kita ramaikan acara rutin mulung kita semua, demi terwujudnya Ciliwung yang bersih dan indah, plus (tentu saja) Kota Bogor tercinta yang nyaman. Ini penting, mengingat semestinya membersihkan Ciliwung di Bogor itu menjadi tanggung jawab setiap kepala manusia yang berada di Kota Bogor. Mari ....
Read more

Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.
Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.
Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.
Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.
Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.
Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.
Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.
Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.
Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.
Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.
Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?
Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!
Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?
cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
Read more
Secara Integratif-Partisipatif Berbasis KomunitasMempertanyakan keberadaan sungai Tjiliwoeng (Ciliwung) mengarahkan kita semua untuk berpikir sejenak bagaimana kondisinya saat ini. Selama beberapa tahun berselang, sungai ini sepertinya hanya menyisakan kecemasan bagi penghuni di bantaran sungai dan sebagian warga ibukota Jakarta. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya kita semua mempunyai kewajiban untuk menelusuri segala bentuk permasalahan (
object matters) menyangkut DAS ini khususnya mengenai sumber-sumber ancaman (
hazard potency), yang mengakibatkan menurunnya fungsi ekologi dan rusaknya lingkungan DAS Tjiliwoeng seperti akibat tingginya sedimentasi dan sampah serta perubahan fungsi sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik dan industri. Padahal DAS ini seharusnya memberikan kemanfaatan yang berlebih. Sebaliknya DAS ini kini menjadi salah satu sumber ancaman utama bencana bagi warga ibukota. Oleh karena itu tidak berlebihan bilamana sungai ini dikatakan hanya menyisakan bencana di setiap tahunnya saat musim hujan tiba. Keasrian dan keelokan sungai ini berangsur-angsur menghilang. Sampah kini menjadi penghias bebatuan diantara jeram sungai Tjiliwoeng.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partipatif berbasis komuniti
Sementara itu, sejarah mencatat bahwa Tjiliwoeng memiliki sejarah panjang peradaban manusia yang mengusahakannya mulai dari manusia purba hingga manusia modern. Kehidupan manusia dulu sangat bergantung dari keberadaannya. Peran dan fungsi sungai ini seharusnya memberikan hikmah dan i’tibhar (baca: pelajaran) bagi kita semua untuk selalu mengupayakan kelestariannya. Proses interaksi alamiah, yang didorong tingginya nilai kemanfaatan, antara manusia dan alam menjadikan sungai ini sangat penting kala itu untuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan manusia dan sumber kelangsungan hidup manusia serta sebagai rumah bagi hidupan liar yang ada. Seyogyanya DAS ini memberikan kemasalahan hidup manusia secara luas, baik manusia sekarang maupun yang akan datang serta menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan (sustainability) masa depan makhluk hidup yang secara terus menerus memanfaatkan keberadaannya. Namun sayangnya, saat ini fungsi itu mulai perlahan-lahan terkikis yang kemungkinan sebagai akibat sikap oknum yang tak selaras dan tak mengindahkan kelestarian lingkungan DAS seperti tindakan membuang sampah secara serampangan ke badan sungai. Padahal sungai ini menjadi bagian hidup mereka sendiri- yang membangun sebuah kebudayaan tersendiri. Sayang sekali, kebudayaan itu juga tergeser oleh dinamika perkembangan jaman. Namun nilai-nilai budaya itu masih ada meskipun hanya dalam tutur lisan saja-yang sebagian besar masih tersimpan dalam memori sebagian penduduk kampung Pulo Geulis.
Kampung Pulo Geulis, sebuah perkampungan tua. Benteng terakhir rekam jejak interaksi antara manusia dan lingkungan Ciliwung yang tersisa. Perkampungan yang berada di selatan terminal Baranangsiang. Lokasi perkampungan ini tepat berada di atas sebuah delta yang terbentuk dalam badan sungai Ciliwung. Menurut beberapa informasi yang ada perkampungan ini memiliki sejarah panjang keterkaitan-interaksi (interaksianisme) dengan sungai Ciliwung. Keberadaan benda budaya (cultural artifact) berupa vihara Mahabrahma atau kelenteng Bio Pongkoh. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sebuah sistem religi-budaya yang berkembang antara penghuni-pemukim dan sungai Ciliwung sejak dahulu. Keberadaan sistem religi-budaya memungkinkan adanya sinergisitas dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan yang lestari yang bermuara pada praktek kearifan lokal (local wisdom) masyarakat yang mendiami kampung ini pada awalnya.
Belum adanya pendayagunaan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengelolaan partisipatif berbasis komuniti sepertinya menjadikan permasalahan sungai ini tidak ada habisnya. Keberadaan modal sosial menjadi sangat penting untuk menjalin kebersamaan dalam pengelolaan khususnya dalam menjaga kebersihan sungai dari sampah. Minimnya informasi mengenai kondisi sosial budaya masyarakat, karakteristik masyarakat, dan modal sosial menjadikan proses pengelolaan hanya bertumpu pada pemerintah saja, padahal kesemua hal tersebut sangat berperan dalam menciptakan sebuah sistem dan struktur pengelolaan DAS Tjiliwoeng yang holistik dan integratif-partisipatif demi terciptanya sebuah sungai yang bersih, sejuk, elok, dan asri. Pulo Geulis perlu menjadi areal pilot project dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Karena Pulo Geulis adalah lokasi strategis untuk mengembalikan kembali keasrian-keelokan Tjiliwoeng dengan mengembalikan sistem budaya-religi yang sebelumnya pernah ada. Sistem budaya-religi mampu mengikat individu-individu dalam komunitas untuk bertindak dan bertingkah laku secara arif sesuai dengan kesepakatan yang ada. Dengan begitu sampah berangsur-angsur akan menghilang (berkurang) bilamana ada penghargaan pada lingkungan oleh kelompok penerima manfaat (beneficiary group) yang didukung oleh tata kelola lokal yang baik dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang mengatur antar individu-individu dalam komunitas masyarakat ini.
Penulis: Firin
Read more
Telah meninggal dunia bapak Dudi Suhardi Kepala Bidang Kebersihan Kota Bogor pada hari Rabu 23/09/2009 pukul 11:00 WIB di kediaman almarhum di daerah perumahan Ciomas Permai Blok D20, Ciomas Bogor.
Beliau meninggal dunia setelah sebelumnya menderita sesak nafas, dan dilarikan ke RS PMI Bogor. Namum dalam perjalanan, beliau tidak tertolong.
Kantor Berita ASTEKI Bogor, www.kotahujan.com dan komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengucapkan turut belasungkawa kepada keluarga, sanak saudara serta rekan kerja yang ditinggalkan. Almarhumah meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Read more
Akhirnya ..... berhasil juga para laskar karung menuntaskan niatnya utk tetap mulung (walau) di bulan puasa. Sekarang, bulan puasa sudah mau habis ... tinggal beberapa hari lagi lho. Sebentar lagi kita yang muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1430 H.
Kalau kita coba hitung tanggal dalam almanak (kalender), maka Idul Fitri akan jatuh pada hari Minggu atau Senin. Pas sekali dengan hari di mana kita biasa melakukan ritual "mulung" di Ciliwung. Namun, rasanya ada yang kurang jika kita masih juga mulung saat perayaan Idul Fitri. Maka itu, kepada segenap laskar karung KPC di seantero Nusantara, ... kami umumkan bahwa
Kegiatan "mulung" pada hari
Minggu, 20 September 2009 DILIBURKANSelanjutnya .... tak lupa kami ingin mengucapkan ...

thanks to
Ejhonski atas foto anak2 telanjang ini.
Read more

Selain Yus Rusila Noor menceritakan tentang gambut, Obrolan Kamis Sore, 10 September 2009 lalu, diisi oleh Hapsoro dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Ia menceritakan tentang kondisi Sungai Ciliwung di Bogor, dengan tagline
“Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak” sebagai motto kegiatannya.
Kegiatan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) adalah sebuah inisiatif dari warga Bogor untuk Kota Bogor. Inisiatif ini berawal dari mimpi-mimpi Hapsoro dan beberapa temannya. Ia bermimpi bisa memancing dengan enak di Sungai Ciliwung dan anaknya sibuk bermain air di situ. Padahal Ciliwung kini tidak hanya terancam oleh sampah, tapi juga oleh banyaknya pembangunan yang dilakukan di badan sungainya. Walaupun logat Jawa Hapsoro masih kental, KTP Bogornya seakan menyentil dirinya. Dia tidak ingin tinggal di Bogor hanya untuk makan dan buang hajat saja.
Setelah mulai menelusuri dan memetakan titik-titik pembuangan sampah di tepi dan badan Sungai Ciliwung, akhirnya sejak Februari 2009, ia mengajak teman-temannya melakukan bersih Ciliwung, terutama untuk sampah anorganik. Bagi pria berkulit gelap ini, saat ini diperlukan tindakan aksi dalam menyelamatkan Ciliwung.
“Kami adalah segelintir orang yang mau bertindak, dengan memberikan contoh langsung.”
Sejak mulung perdana tanggal 15 Maret 2009 dan diikuti oleh 80 orang, kegiatan ini berlangsung teratur setiap minggu walau pesertanya selalu menurun. Hapsoro menafsirkan bahwa orang Indonesia masih senang melakukan kegiatan berdasarkan momentum hari-hari besar lingkungan. Aksi mulung sampah ini bersifat voluntary, tidak ada paksaan. Makan dan minum pun membawa dari rumah masing-masing. Bahkan, Hapsoro juga menyediakan kotak sumbangan untuk membeli karung yang diedarkan ke peserta mulung.
KPC juga melakukan kegiatan lainnya, seperti pendidikan lingkungan hidup untuk SD di Kp. Rambutan; penelitian tentang kualitas air, herpeto fauna, biota air dan sosial ekonomi; pemutaran film layar tancap (tentang sampah Ciliwung) dan road show ke kampung-kampung; Orkes melayu gerobak dorong, untuk menghubur masyarakat yang tinggal di pinggir sungai; penyebar luasan info melalui radio; dan bahkan penyelenggaraan Lomba Mulung Sampah yang diikuti oleh 10 kelurahan di Kota Bogor dalam rangka perayaan 17 Agustus 2009 lalu.
Untuk kegiatan ini KPC mendapat bantuan dari Dinas Kebersihan kota Bogor dalam pembuangan sampahnya. Saat ini sampah buangan masih dibuang ke TPA Galuga. Di saat-saat awal KPC masih melakukan pemilahan sampahnya, tapi kini kegiatan tersebut sulit dilakukan mengingat diperlukan waktu dan tempat penampungan yang tidak sedikit. KPC masih mencari pihak yang mau menangani pemilahan sampah ini.
Hapsoro juga mengakui bahwa saat ini masih sulit untuk merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Karenanya dengan melakukan pemulungan secara intensif, diharapkan masyarakat bisa berpartisipasi dan malu bila masih membuang sampah ke sungai. Mereka tidak perlu dimarahi bila masih membuang sampah, tetapi perlu pendekatan bagaimana membuat mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai. Juga melakukan pendekatan kepada warga yang memiliki kepentingan dalam menjaga sungai, misalnya pemilik keramba ikan, mereka secara teratur tiap hari membersihkan sampah yang menyangkut di kerambanya.
Setiap hari Sabtu pula, pria pengendara sepeda onthel ini rajin mengirimkan SMS mengajak teman-temannya untuk melakukan mulung sampah di Ciliwung pada hari Minggu. Ketersediaan dana masih merupakan kendala, dan masih belum bisa optimal untuk melakukan komunikasi dan mengajak lebih banyak lagi orang yang peduli. Jika Anda tertarik untuk bergabung membersihkan Sungai Ciliwung, silahkan klik: www.tjiliwoeng.co.cc laman ini memuat semua perkembangan tentang Komunitas Peduli Ciliwung. [irma dana - irma.dana@gmail.com-]
Read more