"Semoga mereka yg buang sampah dengan enteng ke sungai nantinya diterjang sama banjir. Rumah ne keblebeg banjir. Wong dho njukuki sampah nang ngarepane kok dho mbuang sampah seenak e dhewe... as** (sensor-red)..."Itulah status di Facebook saya yang saya buat kemaren setelah mulung yang ke-27 di Lebak Kantin, Sempur. Status itu tak buat sebagai ungkapan rasa kekesalan plus kejengkelan saya ketika mulung disana. Untuk kesekian kali-nya saya melihat beberapa orang tetap saja membuang sampah di sungai ketika kita sedang mulung disana. Dengan enteng dan tanpa rasa berdosa mereka membuang sampah ke sungai.
"Kejadian ini mungkin sudah kesekian kalinya didepan mataku di titik yang sama yaitu jembatan lebak kantin, sempur. Waktu itu pernah kena kepala temanku sampahnya ketika mereka buang sampah dari jembatan itu. Aku bener-bener ngga tahaaannn, mana panas, puasa. Iki wong kok iso yo ora sadar-sadar..." Ungkapku dalam hati dengan penuh esmosi eh salah.. emosi.
Sampai sekarang saya bener-bener bingung, bagaimana sebenarnya pikiran yang ada dikepala mereka tentang sungai dan kebersihan. Sungai hanya sebagai tempat sampah sajakah?? Ketika kita sedang asyik mulungin sampah yang ada disungai tiba-tiba terdengar suara "bluk...". Saya kaget dan menoleh kebelakang. Ternyata ada dua orang perempuan muda yang membuang 2 kantong besar penuh sampah ke sungai dari atas jembatan lebak kantin. Huuuhh... saya hanya mencoba menarik nafas panjang.
Lima menit setelah kejadian itu, ada satu anak laki-laki (umurnya sekitar 10 tahun) membawa kotak sampah yang sudah berisi penuh sampah turun ke sungai. Mulanya ketika sampai ditepian sungai dia hanya berdiri sambil memegang kontak sampahnya memperhatikan kami yang sedang memungut sampah yang ada di sungai. Saya menatap tajam mata anak itu, dia jadi takut dan bengong. Tapi dengan cepat saya sadar, tidak ada alasan saya marah ke anak tersebut. Saya bukan pemilik sungai ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya sosok manusia kecil yang punya mimpi besar. Bermimpi sungai di Indoesia ini bisa bersih. Akhirnya saya mengalihkan pandangan saya kembali ke sampah-sampah yang ada didepan saya dan memungutnya. Seketika itu juga anak tersebut membuang sampahnya ke sungai dan pergi. Huuhhh.. saya menarik nafas dalam untuk kedua kalinya.
Pengalaman kemaren membuat saya seolah-olah menjadi manusia yang paling bener didunia ini. Sudah puasa, ngambilin sampah orang lain, berharap sungai bisa bersih. Pokoknya lengkaplah. Cuma itu yang bisa dilakukan untuk menangkan hati. Mencoba ikut menjadi manusia yang egois seperti mereka.
"Nanti... pas kena banjir, kena musibah... teriak-teriak minta bantuan. Minta pertolongan. Mengaku hidup sengsara, butuh bantuan, butuh perhatian dan menyatakan kita hidup harus tolong-menolong. Tapi kesadaran untuk menjaga lingkungan, menjaga keberadaan sungai ngga ada. Masa bodo dengan lingkungan. Masa bodo dengan sungai. Sungai hanya tempat sampah tok.
Wes kena musibah aja, baru deh mengeluh. Baru deh menyesal. Dasar manusia ngga tahu diri!!!"
Silahkan kalian berkomentar atas kemarahan dan kejengkelanku. Berikut saya lampirkan komentar beberapa teman-teman di Facebook saya:
*Dang Mardan: Maafkanlah mereka krn mereka tidak mengerti.
*Ade Adhitia Prihantoro: Betul..pak cik, mumpung bulan puasa...doain mereka..tapi kasi doa yang baik2 ya bos..
salut buat lo bozzz...
btw, gaya ngomong pak cik kok dah kayak wong jawi...??? jangan ... jangan ... hehehehe
*Herminatun Nikmah: Sabarr....sabarrr kang tarjo....(numpang lewat)
*Sari Nurmawanti: Berbuat baik dan ikhlas emang bnyak godaannya,godaan marah,godaan males..dan godaan2 lainnya yg menodai niat baik..sayang kl kebaikan yg sdh dibuat mas een hilang dan berkurang hnya krn marah..sayang kan?
*Anggit Mime: Pecahkan saja gelasnya biar ramai
*Gladi Hardiyanto: Hus gak usah misuh2,nek banjir sing misuh2 biasane melu kebebleg banjir
Salam,
Een Irawan Putra
Foto diatas dicuplik dari sini
Read more
Lebaran sebentar lagi. Bulan puasa sudah mau habis. Tidak terasa kegiatan mulung di bulan suci Ramadhan ini sudah masuk di minggu ke-4 (empat). Tiga hari minggu yang lalu, para laskar karung masih tetap bersemangat untuk mulung. Semoga semangat mereka tak mengendur. Sayang kalau semangat utk berbuat baik demi lingkungan dan orang lain ini harus kendur karena berada di minggu ke-4 puasa.
Menurut seorang kawan yang gemar pergi mengaji .... minggu terakhir puasa adalah minggu yang banyak dinanti orang. Itulah minggu dimana umat Muslim selayaknya memperbanyak ibadah. Karena akan ada pengampunan dosa ... tentunya dengan catatan jika puasa dan ibadah di minggu2 sebelumnya dilakukan dengan penuh keimanan.
Jangan ... jangan sampai anda menyamakan antara kegiatan mulung dengan puasa. Secara jelas mulung itu memang tidak sama dengan puasa. Puasa dilakukan oleh manusia untuk Penciptanya, yaitu Allah SWT. Sementara mulung hanya dilakukan oleh para laskar karung untuk warga Bogor. Jelas kan perbedaan levelnya ... hehehe. Tapi mulung di saat2 biasa dengan mulung saat berpuasa, tentu rasanya beda. Ketika berpuasa terasa berat untuk dilakukan karena tenggorokan yang kering dan lambung yang kosong. Namun, juga ada rasa sejuk di hati saat memungut sampah2 plastik di sela batu Ciliwung.
Nahh mulung ke -27 kali ini adalah mulung terakhir di bulan puasa tahun ini. Jika anda merasa tertantang ingin merasakan ujian berpuasa sambil mulung ... silakan hadir tanpa ragu2. Sebab, minggu depan belum tentu ada acara mulung .... Kenapa? karena minggu depan waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin para laskar karung juga ingin beristirahat dan menikmati libur lebaran.
Di mana lokasi mulung ke-27? ... silakan lihat pengumuman di atas. Di sana tertulis Kampung Rambutan, Kelurahan Sempur, Bogor. Okay, be there yaa ....!
Read more

Aksi mulung yang ke 26 ini memang sedikit berbeda. Selain suasana masih bulan puasa yang membuat seluruh tubuh lemes, kita juga dibantu oleh satu teman yang berasal dari Wilayah Timur Indonesia, yaitu berasal dari Sorong, Papua Barat. Pria yang selalu senyum ramah ini sangat bersemangat membersihkan sungai ciliwung yang ada di Bogor. Tidak peduli siapa yang akan menikmati jika nantinya sungai ciliwung bisa bersih dan sehat, yang penting dia memang peduli terhadap lingkungan dan alam Indonesia.
Suasana hari minggu kemaren memang sangat panas dan terik. Dalam kondisi tubuh berpuasa seperti ini memang tidak hayal membuat seluruh tubuh lemes dan malas untuk melakukan aktivitas. Untuk menuju ketepian sungai ciliwung dan memang spanduk saja sepertinya tubuh sudah tidak sanggup. Tapi semua rasa lemes, males karena panes... Tapi semua itu harus dilawan. Mulung harus tetap dilakukan.
Awalnya kami hanya bertiga, tapi ketika sedang memasang spanduk satu orang teman lagi yaitu Indri datang dengan senyuman khasnya.
"Cuma kalian bertiga yang datang" tanya Indri ketika sampai di tepian ciliwung.
"Hehehe... iya" jawabku dengan rada-rada lemes tapi berusaha untuk selalu ceria.
Namun, yang cukup menakjubkan adalah perasaan lemes, suasana yang panas sekali dengan seketika hilang ketika kami turun ke sungai ciliwung. Ketika kami mulai memungut sampah dan memasukkan sampah tersebut kedalam karung angin berhembus perlahan disekitar sungai. Suasana yang terik menjadi lindung. Sinar terik matahari dihalangi oleh awan-awan yang ada dilangit. Subhanallah... Tuhan memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Niat baik dan perbuatan baik memang selalu diberkahi oleh-Nya. Puasa saya yang tadinya terasa berat menjadi enteng. Saya tidak lagi haus dan tenggorakan lagi kering. Indahnya Bulan Ramadhan. Indahnya berpuasa.
Saya yang merasa tidak percaya berkali-kali menanyakan tentang apa yang terjadi kepada Hari dan Indri. "Terasa sejuk ngga? kenapa pas kita jalan kesini dan ketika pasang spanduk panas sekali ya? Sekarang kok jadi sejuk dan damai begini" ungkapku kepada mereka yang masih terheran-heran. Dengan suasana yang seperti ini kami tambah bersemangat untuk mengambil sampah-sampah yang ada didepan kami.
Sambil memungutin sampah dan memasukkannya kedalam karung, Agus yang dari Sorong bercerita kepada saya. "Klo di kampung saya sungainya masih bersih dan jernih. Een juga sudah pernah mandi di sungai kita toh?" Ungkapnya. Dengan senyum dan rasa kangen ingin ke sungai itu lagi saya menjawab "Iya Agus, saya sudah merasakan mandi disana. Ketika kita tinggal disana setiap hari kita mandi di sungai yang jernih dan bersih. Papua memang sungainya masih bersih dan jernih. Semoga sungai-sungai di Papua tidak seperti di Ciliwung ini. Jorok dan banyak sampah". "Iyo, saya tidak ingin sungai di kampung saya seperti ini" ungkap Agus.
"Yaahh.. semoga saja Gus. Cukup ciliwung saja yang sungainya yang sampai dengan saat ini masih menjadi sungai yang jorok dan menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Jangan sampai sungai lainnya yang ada di Indonesia ini menjadi seperti ciliwung. Kita hanya bisa bermimpi sungai ciliwung ini bisa bersih dan sehat kembali. Anak-anak dan keluarga bisa menikmati sungai ini dengan perasaan ceria dan gembira. Orang-orang yang lewat dan melihat sungai ciliwung tidak lagi mengerenyitkan dahi karena melihat sungainya yang penuh sampah". Ucapku didalam hati sambil memasukkan sampah-sampah kedalam karung. Hari itu kami berempat berhasil mengumpulkan sebanyak 15 karung sampah.
Salam
Een Irawan Putra
Read more

Bali, 4 September 2009 - Ratusan orang berjalan memadati trotoar di sebuah jalan di depan Hotel Risata. Sekumpulan orang tersebut membawa
tras bag itu, mengenakan kaos seragam berwarna putih. Sembari bercanda, mereka memunguti sampah di sepanjang jalan yang dilewati.
Pagi itu saya sedang membeli baterai untuk kamera foto. Setelah mengganti baterainya, akupun mencoba mencari obyek. Di seberang jalan saya melihat sekumpulan orang dengan seragam kaos putih berjalan rapi di trotoar. Saya pun memutuskan untuk mengambil beberapa gambar dari orang kerja bakti ini.
Ingin rasanya bertanya pada peserta langsung. Namun karena mereka asik mengobrol satu sama lain sambil terus berjalan, terpaksa saya urungkan niat. Akhirnya saya tanya satpam yang kebetulan sedang jaga pos di Hotel Risata-Bali. "Ada apa ni pak, kok rame banget orangnya?" Tanyaku. "oh itu karyawan hotel sekitar sini sedang kerja bakti" jawab satpam dengan logat Balinya. "emang berapa kali diadakan pak acara ini?" ,,, "Kalo yang rame-rame itu diadakan sethaun sekali,tapi kalo hotel ini setiap minggu juga ada",,,"oooohhh!!!",,,
Saya perhatikan dari kaos peserta gerak jalan tersebut bertuliskan "Clean Up The World" dengan logo bergambar bumi di tengahnya. Tulisan serupa juga terlihat di pintu masuk Hotel. Karena pagi itu saya ada kegiatan, maka saya belum mendapatkan detail kegiatan ini. Yang terlintas hanya tulisan di Kaos dan spanduk itu, tanpa tau apa maksudnya???
Setelah dapat koneksi internet akhirnya saya menemukannya:),,,hehehe. Clean Up The World adalah sebuah kampanye lingkungan dari masyarakat yang mengajak dan memberdayakan komunitas dan setiap orang di penjuru dunia dalam upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman. Didirikan pada tahun 1993 setelah pencetus "Clean Up Australia" - Ian Kiernan mengusulkan ke UNEP (united nations environment Program), untuk menerapkan konsepnya untuk diterapkan skala global. Dengan dukungan dari UNEP akhirnya program ini diluncurkan pada 1993. Clean Up the World diadakan setiap minggu ke 3 pada bulan september setiap tahunya dengan partisipant lebih dari 35 juta orang yang berasal dari 120 negara.
Beberapa contoh kegiatan yang diadakan dalam Clean Up the World adalah sebagai berikut;
- Recycling and resource recovery
- Tree planting
- education campaigns
- Water reuse and conservation
(Lebih jelas dapat dilihat di sini ; http://en.wikipedia.org/wiki/Clean_Up_the_World )
Kalo diingat2 hari itu kan minggu pertama bulan september? Mungkin minggu ketiganya pada mau lebaran kalee ya. wkwkwkwkwkwkwkwkwk. V^-^
Read more
Tanya: KPC masih mulung di Ciliwung?
Jawab: Tentu doong ... KPC tetap mulung! Biar sekarang bulan puasa, KPC masih tetap akan mulung.
Tanya: Dimana lokasinya?Jawab: Masih sama seperti minggu lalu, yaitu di depan kantor RMI, Kelurahan Sempur.Tanya: Lho ... kenapa di situ lagi?Jawab: Berdasarkan pengalaman minggu lalu, ternyata di lokasi itu sampah dan anakondanya buanyaaak sekali. Sayang aja kalo KPC harus pindah lokasi lagi. Lagian lokasinya kan gampang dijangkau dari sekretariat KPC, tinggal jalan aja ...
Tanya: Trus ... waktu atawa jam-nya masih sama?Jawab: Betul boss ... waktu mulung selama bulan puasa ini masih dilakukan sore hari, yaitu mulai jam 16.00 s/d waktu menjelang buka puasa.
Tanya: .... apalagi yaa? Ya udah deh gak ada pertanyaan lagiJawab: .... sip kalo gitu. Pada datang ikutan mulung kan?
Pembicaraan (tanya-jawab) di atas itu mungkin dapat memberi penjelasan lebih lengkap tentang kegiatan mulung KPC di minggu ke-26. Tepatnya hari Minggu, tanggal 6 September 2009. Berikut ini adalah banner-nya ...
Read more
Masalah klasik dan kesadaran warga
Ditulis oleh Ruby Vidia Kusumah

Permasalahan sampah hampir dalam tiga minggu kemarin telah kembali menjadi buah bibir di kalangan warga Bogor. Bagaimana tidak? Akibat pemblokiran jalan masuk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) oleh warga RT 08/05, Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, sejak tanggal 11 hingga 27 Agustus lalu, telah menghambat proses pengangkutan dan pembuangan sampah di wilayah Bogor. Truk-truk pengangkut sampah baik dari kota maupun kabupaten tidak dapat beroperasi secara optimal seperti biasanya. Akibatnya, sampah-sampah pun menumpuk bahkan menggunung di tempat pembuangan sementara (TPS) serta menimbulkan bau tak sedap karena busuk setelah beberapa hari tak diangkut. Di kota Bogor, sampah yang menumpuk di TPS ini meluber hingga ke jalan-jalan utama.
Selain sampah hasil pungutan di darat, pemblokiran ini juga berimbas pada pembuangan sampah hasil “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor” yang diadakan oleh KPC bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor (Minggu, 16/08/09). Sampah Ciliwung sebanyak 815 karung yang berhasil dikumpulkan warga dari setiap kelurahan, sementara waktu ditampung di kantor Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Paledang, kota Bogor, lalu kemudian dibuang bersama sampah lainnya ke TPA Curug Sukabumi dan Bantar Gebang Bekasi.
Setelah 16 hari berlangsung, menginjak tanggal 27 Agustus, pengangkutan sampah ke TPA Galuga pun barulah dapat kembali dilakukan secara normal. Namun, kini justru muncul pertanyaan di kepala saya, benarkah permasalahan ini telah selesai sampai disini? Menurut informasi yang diberitakan Jurnal Bogor (24/08/09), peristiwa ini merupakan kali kedua dalam tiga bulan terakhir ini. Bulan Juli yang lalu dilaporkan aksi serupa pernah terjadi. Lalu bagaimana untuk waktu ke depan nanti? Apakah benar-benar tidak akan terulang lagi…???
Dari kejadian ini, sudah saatnya bahkan menjadi suatu keharusan bagi seluruh warga Bogor untuk mulai menyadari dan memikirkan alternatif pengelolaan sampah yang tepat. Warga harus bisa mengambil pelajaran sebaik-baiknya dari peristiwa ini, karena ternyata kita tak hanya bisa mengandalkan segala sesuatunya pada “pihak tertentu” saja. Semua pihak harus terlibat dan diperlukan peran serta aktif dari seluruh warga untuk mengatasi “masalah klasik” ini. Minimal setiap individu harus berpikir bagaimana cara mengurangi sampah yang dihasilkan diri sendiri. Budaya membuang sampah pada tempatnya pun harus benar-benar kembali ditegakkan. Setidaknya kini kita harus menanamkan pemikiran bahwa “tas dan kantung baju/celana kita adalah tempat sampah pertama kita” jika tak menemukan tempat sampah terdekat. Terakhir, juga perlu diusahakan oleh kita untuk dapat memilah sampah mana yang harus dibuang dan sampah mana yang bisa didaur ulang atau diberdayagunakan kembali (sampah plastik, kertas, dan organik) agar dapat mengurangi beban sampah yang dihasilkan semaksimal mungkin.
Dalam kalimat sederhana kira-kira dapat saya tuliskan sebagai berikut:
“Semua upaya yang dilakukan sekarang merupakan "cara kita" menyediakan tempat terbaik dan aman untuk generasi mendatang”
Reference:
Email teman-teman KPC
Jurnal Bogor
Gambar diunduh dari sini
Read more
Upaya KPCDitulis oleh Ruby Vidia Kusumah
Sampah sungai merupakan

perhatian utama di kalangan warga Bogor yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Kalau bisa dibilang,
“karena sampah sungai dan “perilaku menyeleweng” dari masyarakat inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan komunitas ini”. Sejak terbentuk bulan Maret 2009 lalu, KPC telah gencar melakukan kampanye sebagai upaya penyadaran masyarakat atas sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung. Setiap hari minggu kegiatan mulung rutin dilakukan untuk mengajak seluruh warga Bogor agar tidak menjadikan sungai Ciliwung sebagai “tempat sampah besar”. Tak hanya itu, kegiatan lainnya dalam rangka memperingati berbagai
event, baik lokal, nasional, bahkan internasional sekalipun, pernah diselenggarakan dan diikuti oleh KPC, mulai dari diskusi, talkshow, kampanye dengan cara “dangdutan”, hingga kegiatan yang “paling anyar” adalah “Kompetisi Bersih Ciliwung antar Kelurahan se-Kota Bogor”. Untuk mendukung aksinya, riset terhadap sungai dan masyarakat sekitar sungai pun dilakukan oleh KPC.
11–27 Agustus. Terjadinya “krisis pembuangan sampah” yang memakan waktu selama hampir tiga pekan, kembali mengundang keprihatinan di kalangan para
volunteer KPC. Email yang beredar di kalangan teman-teman KPC-pun fokus membahas permasalahan ini serta berusaha aktif mencari solusi tepat untuk mengatasinya. Ide pengelolaan sampah-pun kembali “muncul ke permukaan” dari salah seorang teman saya. Namun, ajakan yang kini muncul adalah justru untuk memikirkan bersama bagaimana melengkapi dan menyempurnakan ide tersebut? Maksudnya adalah… agar penyelesaian atas “masalah klasik” ini dapat segera dituntaskan!!! Titik!!! Tidak bisa ditunda-tunda lagi!!!
No Comment lagi pokoknya!!!.
Tak hanya memikirkan solusi, berbagai respon dari masyarakat pun kami diskusikan bersama dalam email sebagai bahan masukan, motivasi, serta evaluasi bagi pelaksanaan aksi KPC ke depan. Salah satu respon yang cukup menarik perhatian saya adalah komen salah seorang warga yang dikirimkan ke Facebook teman saya. Menurut email yang dikirimkan teman saya ini, kegiatan kompetisi bersih Ciliwung yang kami (KPC) selenggarakan 16 Agustus lalu mendapat komen sebagai berikut:
"kok sampah yang disungai aja yang diangkut. Itu mah sampah yang ngga keliatan. Sampah di pasar anyar tuh numpuk banget dan bau yang seharusnya diangkut"
Saya kurang begitu paham dengan komen teman kita yang satu ini. Apakah teman kita ini menganggap KPC itu sebagai sekumpulan orang yang hanya bekerja untuk mengambili sampah saja??? Atau bagaimana??? Tapi semua itu bukanlah suatu masalah besar untuk diperdebatkan, kami anggap sebagai kritik membangun yang mungkin kami lupa akan hal itu.
Pertama-tama saya mewakili teman saya yang bersangkutan mengucapkan terimakasih atas komen yang saudara berikan. Dengan adanya komen berupa saran ataupun kritik, berarti setidaknya masih ada warga yang peduli dan terus memantau “tumbuh kembang” Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) untuk jangka waktu hingga ke depan nanti. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, ternyata masalah sampah ini kini bukan hanya menjadi tanggung jawab “pihak tertentu” saja. Bukan hanya Dinas, KPC, ataupun perseorangan saja, tapi semua pihak harus ikut andil dan terlibat dalam mengatasinya. “Lha wong setiap orang itu ngasilin sampah tiap harinya kok! Tul gak?”. Jika hanya membebankan pada “pihak tertentu” saja maka hasilnya akan sama seperti yang pernah kita rasakan bersama baru-baru ini. “Iya toh?”. Buktinya pun sudah bisa dilihat dari komen saudara di atas. Untuk itu, marilah bahu-membahu mengatasi permasalahan ini.
Untuk memperjelas saja, KPC bukan bekerja sebagai pemulung (pengumpul) sampah, tapi lebih bertujuan pada upaya penyadaran masyarakat dan pemberian solusi untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja kami (KPC) tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri saja. Perlu bantuan dan dukungan dari seluruh pihak terutama warga Bogor secara keseluruhan. Seperti halnya yang telah saya tuliskan pada artikel sebelumnya, ”Kami hanyalah sekumpulan orang biasa yang optimis dan berusaha bangkit mewujudkan mimpi-mimpi itu?”. Seoptimis-optimisnya kami, kami tetaplah sekumpulan orang biasa. Tanpa bantuan dan dukungan dari seluruh pihak maka mimpi atas penyelesaian “masalah klasik” ini dapat dipastikan tidak akan pernah terwujud.
Sekian, semoga bisa menjadi bahan renungan bersama…
Gambar diatas diunduh dari sini
Read more